
"Well we can see Elena." ucapnya dengan seringai iblis.
Satu yang dilupakan Altaf bahwa roda kehidupan akan terus berputar. Karena sejatinya antara benci dan cinta perbedaannya hanya setipis benang.
Akhir-akhir ini Elena merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Pasalnya kepalanya berdenyut tanpa sebab, padahal ia bukan tipe orang yang mudah stres. Meskipun tampak cuek Namun ia tetap khawatir, ia takut karena sesuatu yang diremehkan bisa berbalik menyerang hidupnya bagai sebuah bumerang.
Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi temannya yang berprofesi sebagai dokter.
Anne Rosalie salah satu temannya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter.
"Apa akhir-akhir ini yang kau rasakan El." tanya Anne sambil memeriksa Elena.
"Entahlah, aku tiba-tiba merasakan sakit kepala yang teramat sakit hingga rasanya mau pecah," ucap Elena pada Anne karena setahunya ia bukan tipe orang yang mudah stres dan jikalau pun sakit kepala paling hanya migrain.
"Ok aku sudah melakukan pemeriksaan dasar, nanti minggu depan kita bertemu lagi untuk membahas masalah ini," ujar Anna dengan tenang.
__ADS_1
"Apa ada masalah denganku?” intrupsi Elena dengan tidak sabaran.
"Kita belum bisa memastikan El, ini baru tes dasar makanya minggu depan kita bahas kembali dan tes ulang." Anne hanya berharap bahwa temannya ini hanya sakit kepala biasa, dia takut jika diagnosanya benar. Ia sampai merinding membayangkannya. Baginya sudah cukup Elena menderita.
Minggu yang dijanjikan pun telah datang. Kini Elena berada di ruangan Anne untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Elena, sekarang kita mulai tesnya ya." Anne mengintrupsi.
"Ok Ann." balas Elena.
Anne mulai melakukan serangkaian tes mulai dari Elektromiogram (EMG),
Tangan Anne bergetar hebat saat melihat hasilnya. Diagnosanya benar bahwa Elena mengidap penyakit dengan tingkat keganasan sedang. Namun, kabar buruknya belum ada obat untuk penyakit tersebut.
"Hasilnya akan keluar lima hari lagi El, nanti aku kirimkan hasilnya padamu lewat email." Anne berusaha menetralkan suaranya yang sempat bergetar tanpa menoleh pada Elena.
__ADS_1
"Ok Ann, lalu ekspresi macam apa itu, mengapa kau seolah enggan menatapku, dan ya Tuhan ada apa dengan suaramu, apa kau sedang sakit tenggorokan," ucap Elena penuh introgasi.
"Kau ini, aku hanya rindu padamu. Kau tau hanya kau teman terbaik yang kumiliki dalam hidupku, bagaimana pun aku sangat khawatir padamu, soal suara aku memang lagi sakit tenggorokan." elak Anne berbohong.
Namun, tidak sepenuhnya berbohong, ia memang sangat mengkhawatirkan kondisi Elena karena baginya Elena adalah sosok yang menjadi penerang dalam kehidupannya yang begitu suram.
"Kau ini bikin penasaran saja. Kau juga temanku yang terbaik dan kau tau itu jadi tidak perlu menghawatirkan aku Ann. Khawatirkan saja perjodohanmu minggu depan." ledek Elena sambil menggoda Anne.
"Kau benar-benar, mood ku jadi jelek gara-gara kau membicarakannya. Selamat El kau sangat ahli merusak moodku." rajuk Anne berpura-pura marah.
"Hentikan Ann, ok well selamat ya Ann." ucap Elena kembali menggoda Ann.
"Elena ...." teriak Ann geram.
Hasil pemeriksaan Elena tiga hari yang lalu sudah keluar dan hari ini Anne telah mengirimkannya melalui email. Elena membuka emailnya secara perlahan ia membaca kalimat demi kalimat hingga matanya melotot tak percaya pada satu tulisan asing mengenai kondisinya. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus.
__ADS_1
"Ya Tuhan cobaan apalagi ini." ucapnya gemetar.
------