LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 15 (S2)


__ADS_3

Zia dan Syeilla duduk di cafe yang ada di mall tempat mereka berbelanja, sedangkan Aiden memutuskan menyingkir dari sana untuk memberikan mereka waktu berbicara dari hati ke hati.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zia dengan wajah serius. Syeilla menatap Zia dengan tatapan tak kalah seriusnya juga sambil menarik napasnya dengan panjang. Ia tau lambat laun pertanyaan ini akan muncul dari bibir Zia.


"Ceritanya panjang Zia, dan aku belum bisa menceritakannya sekarang karena aku sungguh tidak berhak melakukannya karena da orang yang lebih berhak untuk memberitahukannya padamu.


Zia menarik napasnya panjang sambil menatap ke luar cafe, ia melihat banyak pasangan berlalu lalang dan terlihat sangat bahagia. Ia teringat pada Ariel yang sudah menghilang tanpa kabar selama dua tahun lamanya.


"Zia... Zia..." panggil Syeilla membuyarkan lamunannya tentang Ariel.


"Ah iya, ada apa?"


"Kamu sedang melamun?"


"Tidak Syei, hanya sedang teringat sesuatu saja barusan." ucapnya sambil tersenyum.


Syeilla tau betul siapa yang dimaksud oleh Zia karena itu ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya sebelum Ariel sendiri yang menemui Zia dan menceritakannya. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman di antara mereka.

__ADS_1


Setelah menghabiskan waktu berbincang selama satu jam akhirnya Syeilla pamit karena tidak kngin membuat suaminya menunggu terlalu lama.


"Zia, aku pergi dulu ya. Aiden sudah menungguku di bawah." ujar Syeilla yang langsung di angguki oleh Zia sambil melambaikan tangannya.


Zia menatap kepergian Syeilla dengan napas berat, sebenarnya apa umyang terjadi selama dua tahun terakhir Syei, apakah ini berkaitan dngan menghilangnya Ariel? Ia terus bertanya-tanya dalam hati.


""""


Dion menatap datar wanita yang kini sedang menatapnya dengan wajah sumringahnya.


"Ada apa?" tanya Dion tanpa minat.


"Apa mengenalimu itu penting?" Dion memutar matanya dengan jengah.


"Bukan begitu, hanya saja kita pernah berpapasan walaupin hanya aku yang menatapmu." ujar Auxillia dengan pelan.


"Poin pentingnya?"

__ADS_1


"Hanya itu saja." cicit Auxillia dengan pelan. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini karena menurut penuturan ibunya, ia banyak digilai oleh kaum adam tapi ada apa dengan pria yang ada di hadapannya, apa dia sungguh tidak tertarik? Auxillia mencoba berfikir keras, mungkin ibunya terlalu berlebihan namun semakin ia berusaha, rasa sakit di kepalanya kembali membuatnya pusing.


"Aww..." ringisnya pelan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut, awaknya Dion tampak tak peduli karena ia sangat paham betul dengan tipe wanita seperti ini hanya saja ringisan Auxillia sangat mengganggunya karena ia teringat dengan Syeilla.


"Berhentilah meringis." ujar Dion dengan tatapan tajamnya. Ia tidak suka mendengar suara ringisan dari siapapun.


"Bisakah kau mengantarku kembali ke rumah?" tanya Auxillia dengan wajah pucat namun tidak disadari oleh Dion.


"Kau punya dua tangan dan punya dua kaki, pulang saja sendiri." Dion segera pergi meninggalkan Auxillia yang masih menahan sakit di kepalanya yang semakin berdenyut hingga sebuah suara menghentikan langkah kaki Dion.


Brukk...


Tubuh Auxillia tergeletak tak berdaya di lantai dengan bibir pucatnya. Dion segera menghampirinya lalu membawa Auxillia ke rumah sakit sambil meminta tolong pada beberapa orang untuk membawakan tas milik Auxillia.


"Merepotkan!" desis Dion tanpa ia sadari air mata Auxillia jatuh setetes.


Sesampainya di rumah sakit Auxillia langsung diperiksa dan dokter mengatakan bahwa pusing yang di alami oleh Auxillia adalah hal yang wajar mengingat tidak ada riwayat penyakit apapun yang di deritanya.

__ADS_1


❤❤❤❤


Nanti kakak up lagi....


__ADS_2