
"Tapi, sebelumnya kita mampir ke rumah gue dulu, ya! Nanti Gabriella juga nyusulin ke rumah gue."
"Ya udah. Tapi gue tanya tante dulu, ya. Sebelum itu, gue pulang dulu, baru ke rumah lo lagi," sahut Vio.
"Okee, siipp!" Natha mengacungkan jempolnya.
Mereka tiba di kelas. Natha dan Vio segera mendaratkan bokong mereka ke kursi masing-masing. Natha mengambil boneka yang berukuran sedang dari laci meja belajarnya. Ia menaruh boneka itu ke atas meja, lalu merebahkan kepalanya ke atas boneka itu dan mulai terlelap.
Dua puluh lima menit kemudian.
Natha terbangun dari tidurnya, melihat ke sekeliling kelas. Tidak ada guru pengajar, seluruh siswa dan siswi di kelasnya juga masih asik dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang main hape. Ada yang tidur, ada yang ngobrol dan banyak lagi. Natha membuka layar ponselnya. Ia melihat jam yang digital yang menunjukkan pukul 11:56, yang berarti memasuki jam pelajaran ke-enam.
"Woi!" Vio memanggil Natha dari belakang.
"Hmm." Natha berdehem seraya membalikkan badannya ke arah Vio.
"Cuci muka gih, kek orang gak bersemangat idup aja, loh," ucap Vio, ketika melihat wajah Natha yang baru terbangun dari tidurnya.
"Temenin, ya!" ucap Natha. Ia berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan ke tempat duduk Niki, begitu pula dengan Vio. Gadis itu mengikuti langkah Natha dari belakang.
"Ki, gue mau cuci muka," ucap Natha kepada Niki, si ketua kelas.
"Hhh, perasaan dari tadi lo aja yang izin ke toilet," celetuk Niki.
Natha menekuk wajahnya kesal setelah mendengar jawaban Niki.
"Oh, jadi lo gak mau izinin gue ke toilet nih ceritanya? Oke, kalau gitu gue jongkok aja di sini," ucap Natha sembari berpura-pura menyingkap roknya lalu berjongkok di hadapan Niki.
Niki tersentak kaget. "Eh, mau ngapain loh? Ya udah-udah! Sono, pergi dah!"
Natha dan Vio terkekeh lalu pergi meninggalkan Niki yang masih terkejut. Kedua gadis itu keluar dari kelas. Natha dan Vio berjalan dengan santai dan kini mereka berada tepat di depan kelas Mecca dan Zeze. Hanya berjarak dua buah kelas saja dari kelas mereka.
"Mantan Aksa itu berada di kelas ini, kan?" tanya Vio kepada Natha yang tepat berada di samping tubuh Natha.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Vio balik dengan tatapan lurus ke depan.
"Gak. Cuma nanya doang, kok."
Kini keduanya sudah tiba di toilet. Natha bergegas menghampiri wastafel lalu mencuci mukanya di sana hingga rasa kantuknya menghilang.
"Gue males mau balik ke kelas, bosen!" ucap Natha yang sudah selesai mencuci mukanya.
"Gue juga sih sebenarnya," timpal Vio.
"Mendingan kita ke taman yang ada di belakang kelas aja, gimana? Dari pada bosan di dalam kelas," ucap Natha kemudian, yang tiba-tiba terlintas di pikirannya.
"Emang boleh, ya?"
"Ya, enggak si, tapi gue sering kok ke taman baca di saat jamkos," jelas Natha.
"Ya udah lah, ayo!"
Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga, melewati kantor, dan terakhir melewati koperasi sekolah. Akhirnya mereka berdua tiba di tempat yang mereka tuju, di taman baca. Mereka mendudukkan diri di sebuah batu yang berbentuk seperti pohon yang baru di tebang.
"Keknya gue betah deh kalo duduk di sini," ucap Vio yang merasakan ketenangan di taman baca tersebut. Ditambah dengan semilir angin yang lembut menerpa kulit wajahnya, membuat Vio semakin nyaman dan betah.
"Hmm, kalo jam istirahat gak bakal setenang ini. Semua tempat duduk sudah diduduki oleh siswa dan siswi lain. Sementara kita tidak akan kebagian tempat duduk," jelas Natha kepada Vio.
"Owalahhh, begitu." Vio menganggukkan kepalanya paham.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Balik, yuk!" ajak Natha sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ayo lah!" Vio pun menyetujui ajakan Natha.
"Takut nanti kena omel ketua kelas kalo kelamaan di sini," kata Natha lagi. Sementara Vio hanya terkekeh mendengarnya.
\*\*\*
Sesampainya di kelas.
"Dari mana aja lo berdua?" tanya Niki sambil menekuk wajahnya menatap Vio dan Natha.
"Toilet, lah!" jawab Natha, acuh tak acuh.
"Halah, pasti bo'ong!"
"Iya-iya, gue barusan dari taman," aku Natha sambil memasang wajah malas.
"Noh, dapet tugas matematika. Kerjain cepat!" titah Niki.
"Serius? Mana?"
__ADS_1
"Di grub kelas, udah dikirim," jawab Niki.
"Oke, thanks."
Natha dan Vio kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Membuka buku lalu mengerjakan tugas yang barusan diberikan oleh bu guru.
"Dari mana aja sih, lo? Lama bener," tanya Gabriella kepada Natha yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
"Taman. Dari pada di kelas, boring. Jadi ya, gue ke toilet terus sekalian ke taman sama Vio," jelas Natha.
"Eh, nanti malam jadi kan, ya?" tanya Gabriella lagi.
"Lo yang punya rencana, kok malah nanya ke gue, sih?" sahut Natha.
Gabriella tidak menimpali. Ia hanya tersenyum seperti kuda 'nyengir'.
"Ish, nyengir aja lo!"
Beberapa menit kemudian. Bel kembali berbunyi, pertanda istirahat ke dua sudah dimulai. Para siswa dan siswi pun bergegas keluar dan menuju tempat favorit mereka masing-masing. Ada yang ke taman sambil bersantai. Ada yang hanya duduk manis di dalam kelas sambil memainkan ponsel atau sekedar mendengarkan musik.
"Lau, lo ke kantin, gak?" tanya Gabriella kepada Laura yang sedang bersiap-siap.
"Enggak. Gue ada rapat OSIS sebentar. Duluan, ya!" ucap Laura sembari meninggalkan ketiga sahabatnya itu lalu menuju ruangan rapat OSIS.
"Kalo lo, Nat?"
"Gue ke taman aja," sahut Natha.
"Gue ikutan dah! Vio ayo ikut," ajak Gabriella.
"Ayo lah," sahut Vio.
Ketiga gadis itu berjalan keluar kelas menuju taman belakang sekolah. Di pertengahan jalan mereka bertiga bertemu dengan Aksa, Gibran serta Felix.
"Eh, lo-lo pada mau ke mana?" tanya Gibran kepada Natha dan teman-temannya.
"Ke taman belakang, memangnya kenapa?" sahut Natha.
"Boleh ikutan?"
"Ya udah, ikut aja!" sahut Natha lagi.
"Gimana cara confes ke cewek, ya?" tanya Gibran kepada teman-temannya.
"Mau confes ke siapa, sih?" tanya Felix penasaran.
"Ish, caranya gimana dulu?"
"Yaa, tinggal ucapin perasaan lo, terus kasih apa yang dia suka. Kalo ditolak itu urusan lo, gue gak ikutan" jawab Gabriella sambil terkekeh.
"Emang lo suka sama siapa, sih?" tanya Aksa.
"Udah lama gue suka sama dia, cuman gue ga berani ungkapin perasaan gue ke dia," jawab Gibran.
"Siapa sih, penasaran gue!" sela Felix lagi.
"Entar lo semua pasti tau, tunggu waktunya aja." Gibran tersenyum tipis.
"Sok, sok-an lo mau confes. Confes ke Nita, ya?" celetuk Gabriella, mencoba menebak siapa cewek yang disukai oleh Gibran.
"Dih, ogah banget!" jawab Gibran. Kelima temannya tertawa, menertawakan Gibran.
"Kalo ditolak? Bakal asing gak, ya?" tanya Gibran lagi.
"Emang satu sirkel sama kita, ya?" tanya Felix juga.
"Ehm, iya sih!" jawab Gibran dengan ragu-ragu.
"Eh, buset. Siapa? Laura?" tebak Gabriella lagi.
"Gak, lah. Bukan," sahut Gibran.
"Siapa si? Bikin penasaran aja." Kali ini Natha yang bertanya.
"Pokoknya nanti lo semua pasti tau kok."
"Ya udah, semoga diterima, deh!" kata Natha.
"Di antara Gabriella atau Natha gak si?" gumam Vio menyela percakapan mereka.
"Heh, gak!" sanggah Gibran dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ehh, go sah teriak-teriak, kali. Kami gak budek juga," sahut Felix sambil mengelus telinganya yang terasa sakit setelah mendengar pekikan Gibran.
"Btw, Laura di mana?" tanya Aksa kemudian yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Rapat OSIS," jawab Natha singkat lalu dibalas anggukan oleh Aksa.
"Cieee nyariin, suka ya?" goda Gabriella sambil tertawa pelan.
"Astaga! Gue cuman nanya doang kali." Aksa menggelengkan kepalanya.
"Halah, bilang aja kali. Ga usah malu-malu," celetuk Gabriella lagi yang berhasil membuat Aksa menekuk wajahnya.
"Ish, gak ya!"
"Iya deh, iya!"
"Hai, lagi ngobrolin apa nih? Keknya seru banget," ucap Laura yang baru tiba di tempat itu lalu berdiri di samping Gabriella.
"Eh, kek setan aja lo, tiba tiba nongol," kata Gabriella sambil mengelus dadanya perlahan. Terkejut karena tiba-tiba Laura ada di sana.
"Toh, barusan Aksa nyariin lo," kata Gibran.
"Apaan, sih? Orang nanya doang, kok!" elak Aksa sambil berdecih sebal.
"Kangen lo ya sama gue?" goda Laura sambil tertawa pelan.
"Ish, kepedean."
"Halah, bercanda doang. Lagian gue dah punya cowok, kok," ucap Laura lagi.
"Waittt, wahhh parahhh, gak bilang-bilang kalo udah punya cowok." Gabriella geleng-geleng kepala.
"Peje peje!" kata Natha menimpali.
"idih, bukan nya udah pada dikasih tau ya?" balas Laura.
"Kapan?" tanya Gabriella.
"Kemarin, yang gue bilang itu loh."
"Kapan si?"
"Masa lupa? Bukannya ada Natha sama Vio juga. Inget gak?" tanya Laura lagi.
"Oh, inget. Itu mah waktu ga ada Gabriella kali," sahut Vio.
"Apaa!! Ga ada gue?!!" pekik Gabriella dengan mata membulat sempurna. Tidak percaya bahwa ia ketinggalan berita sepenting itu. Semua orang yang ada di taman itu melihat ke arah gabriella.
"Ga usah teriak teriak napa? Ganggu aja," ucap salah satu siswi yang juga berada di tempat itu.
"Maaf." Gabriella tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bisa-bisanya, lo bilang tanpa ada gue?" sambung Gabriella yang masih kesal. Namun, dengan volume suara yang lebih rendah dari sebelumnya.
"Udah lah, masalah gitu doang, kok." Natha lalu berdiri dari posisi duduknya.
"Mau ke mana, loh?" tanya Aksa dan Gibran secara serempak.
"Ekhem, ekhem, ada apa nihh!" goda Gabriella sambil melirik Aksa dan Gibran secara bergantian.
"Gue mau balik ke kelas. Di sini banyak setannya." Natha lalu pergi meninggalkan semua teman-temannya.
"Ikut, Nat." Vio berlari kecil, menyusul langkah Natha dari belakang.
"Lah? Ini gue baru juga nyampe, dah pada bubar aja," gumam Laura, bermonolog.
"Ke kelas aja, bentar lagi juga bel." Kini Natha dan kelima temannya berjalan ke arah kelas. Aksa menyamakan langkahnya bersama Natha lalu berjalan di samping gadis itu.
"Ache," panggil Aksa dengan pelan.
"Hah?" Natha dengan raut wajah yang bingung.
"Lupa?" Aksa mengernyitkan dahi menatap Natha.
"Oh, lupa, maaf." Natha tersenyum setelah mengingatnya.
"Ga papa. Oh ya, nanti malam sibuk gak?" Tltanya Aksa.
"Entahlah. Tapi sepulang sekolah Gabriella dan Vio mau main ke rumahku," sahut Natha.
"Loh, ngapain mereka?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*