
Di lapangan sekolah.
"Nat!" panggil Vio sembari berlari kecil menghampiri gadis itu.
"Ya?"
"Itu, si Nita and the genk, gak usah diladeni lagi, kecuali dia kembali ngata-ngatain lo," ucap Vio kemudian.
"Hmm ...." balas Natha.
Vio memberi isyarat agar Natha membuka ponselnya. Natha mengerti, ia segera membuka benda pipihnya tersebut lalu membaca sebuah pesan yang sengaja dikirimkan oleh Vio.
[Noh, lihat Gabriella diem aja. Gak kayak biasanya. Kayaknya lagi badmood, deh?] Natha membaca pesan tersebut lalu melirik Gabriella yang berada tak jauh dari mereka. Benar saja, gadis itu hanya diam dengan bibir terkunci rapat. Tatapannya pun tampak kosong dan menerawang.
Perlahan Natha menghampiri Gabriella lalu berdiri di sampingnya. Gabriella bahkan tak sadar dengan keberadaan Natha. Ia terus melamun dengan tatapan kosong.
"Woy, jangan bengong aja. Nanti kesambet, baru tau." Natha menyenggol bahu Gabriella dan akhirnya gadis itu pun tersadar.
"Natha?"
"Gab, maafin gue, ya? Tadi gue udah bentak lo," ucap Natha dengan wajah sedih menatap Gabriella.
Gabriella tersenyum kecut. "Gak apa-apa, lagian gue juga yang keras kepala, udah dibilangin gak boleh ikut campur, malah ikut campur. Tapi, jangan berantem lagi ya, Nat? Gue tau lo belum bisa mengontrol emosi lo, tapi gue juga tidak ingin elo mendapatkan masalah lagi. Elo gak mau kan jadi artisnya ruang BK?" celetuknya.
Natha terkekeh mendengar penuturan Gabriella. " Iya-iya! Makasih, dan maaf ya?" ujar Natha lagi.
"Udah, ga usah minta maaf," sahut Gabriella.
***
"Ayo, anak-anak! Kita kumpul di sini!" panggil guru itu. Para siswa dan siswi pun berdatangan lalu berkumpul di sana.
"Ayo, teman-teman!" ajak Laura kepada Natha, Gabriella, dan Vio. Mereka pun segera melangkah dan menuju tempat itu. Di mana semua teman-teman sekelasnya sudah berkumpul.
"Woy, cepetan!" Guru pengajar PJOK yang rada-rada judes itu kembali memanggil mereka. Sorot matanya begitu tajam, setajam mata elang dan berhasil membuat Natha and the team ketakutan.
"Lo lihat matanya!"
"Serem!"
"Ish, padahal gue males banget," keluh Laura.
"Loh, tumben lo ngeluh," ucap Gabriella.
"Ya, iyalah. Gue emang gak pernah suka sama pelajaran PJOK, kalo praktek kayak gini," jelas Laura dengan raut wajah masam.
"Udah, paling bentar doang," bujuk Gabriella.
"Ehh, tumben lo gak ngeluh! Biasanya elo yang paling suka ngeluh," ujar Laura sambil terkekeh.
"Woy! Malah ngerumpi lagi! Ngerumpi tu di Mall, bukan di sini tempatnya. Kalian mau Bapak hukum keliling lapangan?" teriak Guru itu lagi.
"Jangan!" teriak mereka serempak. Natha and the team mempercepat langkah mereka lalu ikut bergabung bersama yang lainnya.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Akhirnya jam pelajaran PJOK berakhir. Saatnya seluruh siswa dan siswi di sekolah itu beristirahat. Tanpa mengganti pakaian olahraga, Natha and the team langsung ke kantin untuk membeli makanan dan minuman.
Kantin langganan Natha dan teman-temannya begitu ramai dengan para siswa dan siswi yang sedang berbelanja. Para penjaga kantin bahkan sampai kewalahan dibuatnya.
Natha dan teman-temannya terpaksa mengantre dan menunggu pesanan mereka dibuatkan. Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai memesan makanan lalu berjalan menuju meja kosong yang berada di salah satu pojok kanan kantin.
Merea duduk dengan posisi saling berhadap-hadapan. Natha berhadapan dengan Vio dan Gabriella berhadapan dengan Laura.
Tiba tiba Aksa, Cakra, Gibran, dan Felix datang lalu berdiri di samping mereka, lebih tepatnya di samping meja kantin. Mereka ikut bergabung dan duduk di kursi yang masih kosong. Aksa berada di samping Vio, dan di depannya ada Cakra yang duduk di samping Natha. Sedangkan Gibran berada di samping Aksa, dan felix di samping Cakra.
"Dih, baru juga dateng, udah nimbrung aja," celetuk Vio sambil mendorong badan Aksa pelan.
"Terserah gue, dong! Lagian, di sana rame banget. Jadi, ya mending gue duduk di sini aja gangguin elo," sela Gibran sambil terkekeh.
"Lah, kok elo yang nyaut?" ucap Laura.
"Biarin," sahut Gibran lagi.
"Eh, tadi lo pada kenapa? Gue baru datang tiba-tiba rame gitu di depan kelas lo," tanya Felix kepada keempat gadis itu.
"Biasa, Nita buat ulah lagi," sahut Gabriella sambil memutarkan bola matanya.
"Tu bocah gak ada capek-capeknya, ya? Ngurusin hidup orang mulu," ucap Felix sambil geleng-geleng kepala. Tidak mengerti dengan sikap Nita and the genk.
"Biasalah. Eh, tapi sadar gak?" lanjut Gabriella.
"Apa?" tanya mereka serempak.
"Nah, iya! Gue juga bingung. Gue pikir dia bakal ngebelain temennya, eh taunya ngilang," sambung Laura sambil terkekeh.
"Gue liat Raya sama Dera. Kan waktu Natha menjambak rambut Nita terus diseret keluar kelas, nah mereka berdua juga ikutan keluar. Terus gue pikir bakal ikut ngebelain si Nita, tapi mereka malah diem-diem aja dan akhirnya menghilang," jelas Vio.
"Tapi kalau gue perhatiin, mereka dari awal memang udah diem-diem aja. Mereka gak mau ikut-ikutan waktu Nita ngata-ngatain si Natha. Mereka berdua kayak lirik-lirikan gitu, kayak nge-isyarat gitu lah," timpal Laura
.
"Emang nita ngata-ngatain apa, sih?" tanya Cakra yang dari tadi hanya menyimak sambil menikmati makanan yang ia bawa sebelumnya.
"Ehm, sorry ya, Nat?" Gabriella meminta izin sebelum menceritakannya kepada Cakra. Natha hanya mengangguk dan ia tidak masalah soal itu.
"Dia ngatain Natha anak broken home, siapa yang gak marah, coba? Gue juga ikut kepancing emosi, loh," jawab Gabriella dengan begitu antusias.
"Parah, anjir tu anak! Emang dia cemara? Gue aja gak pernah tuh liat keluarga dia. Kalo ada acara orang tua datang ke sekolah, gue gak pernah liat nyokap atau bokap dia," kata Gibran.
"Gak mikir pake otak, mungkin otaknya pindah ke dengkul. Makanya gak mikirin perasaan orang," jelas Cakra juga.
"Eh, lo pada sadar gak, setiap ada acara ortu, seperti kata Gibran tadi, nyokap dia yang datang ke sini pasti beda-beda," timpal Felix kemudian.
"Hehe, gue pikir cuma gue doang yang sadar," kata Cakra sambil terkekeh pelan.
"Lo sadar jugar?"
__ADS_1
"Ya, iyalah," jawabnya.
"Abisin makanan, bentar lagi bel berbunyi," kata Natha menyela pembicaraan mereka.
"Ai ai, kapten!" sahut Gibran sambil tersenyum.
"Ekhem, cie cieee!" goda Gabriella.
"Apa'an, sih?" kata Gibran.
"Lama, gue duluan aja," ucap Natha, lalu pergi begitu saja meninggalkan meninggalkan teman-temannya yang masih menikmati makanan mereka. Vio bergegas menyusul Natha, lalu mensejajarkan langkah kaki mereka.
"Dih, malah ditinggalin!" gerutu Gabriella.
"Heyy, tungguin napa?" gumam Gabriella,, Gabriella juga mengejar Natha dengan sedikit berlari dan begitu juga Laura. Ia pun segera menyusul.
"Ini kita ditinggalin gitu aja?" kata Gibran.
"Udah, abisin cepet," ujar Aksa.
"Iya, bang, iya!" jawab Gibran.
Setelah selesai menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan, mereka pun bergegas kembali ke kelas untuk mengambil baju seragam sekolah yang mereka pakai tadi pagi. Mengganti pakaian olahraga dengan seragam putih abu-abu. Hal itu juga berlaku untuk Natha dan teman-temannya.
Setelah selesai mengganti pakaian, mereka duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Di kelas, Gabriella melihat ke sekeliling kelas, ia sedang mencari keberadaan Nita dan dua orang temannya..
"Mana Nita?" tanya Gabriella kepada Niki.
"Ga tau. Tadi pas udah selesai olahraga, mereka bertiga udah ga ada."
"Oh." Gabriella mengangguk.
"Gab!" panggil Laura kepada Gabriella, Gabriella berbalik lalu melihat ke arah Laura.
"Ngapain lo nyariin mereka?" tanya Laura kepada gadis itu.
"Ya, siapa tau dipanggil ke BK, atau dihukum gitu," ujar Gabriella sambil terkekeh.
"Kalo mereka dipanggil, otomatis Natha juga ikut kepanggil, donk! Gimana, sih!" jawab Laura.
"Lah, iya juga, ya!" Gabriella lalu kembali tertawa.
"Udah lah, ngapain lo mikirin mereka. Aneh-aneh aja, deh!" ucap Laura lagi.
Tak berapa lama setelah Laura berucap seperti itu, Nita dan dua orang temennya datang. Mereka menduduki tempat mereka masing-masing. Dera duduk di depan Gabriella, sedangkan Nita dan Raya duduk berdua di pojok kiri depan.
Tak berselang lama juga lonceng sekolah berbunyi yang tandanya mereka memasuki jam pelajaran ke-empat. Jadwal mata pelajaran kali ini adalah pelajaran sejarah. Guru pengajar sejarah juga sudah tiba dan segera memulai pelajaran mereka.
Di saat guru menjelaskan pelajaran, Natha diam-diam memperhatikan Dera yang dari tadi selalu menoleh ke arah Nita dan Raya. Sedangkan Nita dan raya hanya fokus ke depan, mendengarkan guru pengajar yang sedang menjelaskan materi pelajaran pada hari itu. Wajah Dera tampak panik dan berhasil membuat ia penasaran.
"Dera kenapa, ya? Dia tampak ketakutan, apa mungkin dia sedang diancam oleh Nita? Atau apa?" gumam Natha dalam hati.
"Nat, kenapa lo bengong aja, sih?" ucap Gabriella, sambil berbisik-bisik di samping Natha.
__ADS_1
...*****...