My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 142


__ADS_3

Natha melihat notif whatsapp dari grub temannya yang berdelapan. Di grub itu sudah jarang ada notif, karena mereka lagi tidak baik baik saja dalam masalah pertemanan.


[Natha, kalau udah di sekolah, samperin kami di rooftop.] - Rafa


[Natha doang?] - Gabriella


[Ya elu udah ada di rooftop bego.] - Rafa


[Oh, iya juga ya.] - Gabriella


[Bego] - Laura


[Ngapain ke rooftop? Bentar lagi bel.] - Natha


[Udah sini cepet. Banyak tanya lo, nanti kalah ke sini juga bakalan tau.] - Gabriella


[Ya. Sabar.] - Natha


Natha berjalan ke rooftop dengan sangat malas. Ia terpaksa, jika tidak di suruh oleh teman-temannya, mungkin ia tak ingin menghampiri mereka yang ada diatas sana. Entah ada siapa saja, yang pasti, dan yang Natha tebak, di sana ada Laura, Gabriella dan Rafa.


Natha tiba di rooftop, ia berdiri di depan pintu rooftop tanpa menghampiri teman-temannya yang ada di sana. Natha hanya berdiri di depan pintu, "Ck! Ngapain lo disitu bodo. Kesini!!" teriak Gabriella ke Natha.


"Udah si, disini aja. Ngapain juga ke sana? Ada kepentingan apa? Mau berantem? Jangan sekarang. Jangan bikin mood gue rusak di pagi hari." jawab Natha yang memalingkan badannya hendak kembali ke dalam kelas.


"Ke sini apa susahnya si, bego. Lo tinggal jalan beberapa langkah doang udah sampai ke sini. Lagi pula kalau gak ada yang di bicarakan, gak mungkin juga kami kesini." kali ini yang berucap adalah Laura. Natha memutarkan kembali badannya dan berjalan menghampiri teman-temannya yang ada di sana dengan raut wajah yang sedikit emosi.


Di atas rooftop tak hanya ada mereka berempat, di sana ada Aksa, Cakra, Rafa, Gibran, Saddam, Gabriella, Laura, Vio dan dirinya.


"Penghianat lo." ucap Laura di depan wajah Natha, Natha bingung. Apa? Penghianat? Apa maksud Laura? Sungguh, Natha tidak ingin berdebat di pagi hari, mereka merusak mood Natha saja.


"Apaan sih? Yang jelas kalau bicara. Jangan ngatain gue penghianat doang. Ngomong yang jelas biar gue tau, dari mananya gue munafik." tanya Natha datar, ia sudah di selimuti emosi. "Atau, kita bicarain ini, di ruang bk sekalian. Gue gak tau apa apa. Gue baru datang, dan lo, lo tiba-tiba ngatain gue penghianat. Dari mananya gue penghianat Anjin*" sambung Natha mengumpat.


Jikalau Natha mengumpat seperti itu, tandanya ia sangat marah. Susah untuk membujuknya kembali, lagi pula mereka aneh aneh aja, pagi pagi udah membikin masalah.


"Dapat berita dari siapa lagi lo? Sampai sampai berani bilang gue penghianat." ucap Natha lagi dengan nada datar dan dingin.


"Lo udah tau, kalau gue sama Rafa baru baru putus kan? Lalu, kenapa lo malah suka sama dia? Lo pernah bilang, kalau lo gak mau ngambil mantan pacar teman lo sendiri. Tapi ini? Lo malah tidur berdua. Lo jalan berdua, itu apa hah?! Gue masih suka sama Rafa. Gue putus, iya gue putus. Tapi gue masih chatan sama dia dan nyelesain masalahnya benar benar. Lo benar benar mau ngehancurin pertemanan kita ya? Oke, kalau itu mau lo. Jangan pernah anggap kita teman lagi, mulai sekarang." ucap Laura panjang lebar.

__ADS_1


"Apa sih anjin*? Lo pikir gue mau nikung temen gue sendiri? Lo pikir gue mau tidur berdua sama mantan pacar teman sendiri, yang bahkan dia hanya teman bagi gue, dan tidak ada hubungan apa apa. Ngapain juga gue tidur sama Rafa? Di rumah gue ada Keenan, Bibi, sama Mama gue, lo pikir gue gak dimarahin sama mereka kalau gue tidur sama cowok?" jawab Natha.


"Lagi pula, lo ada bukti kalau gue tidur berdua sama Rafa? Hari apa? Dan dimana?" tanya Natha.


"Ada. Lihat pakai mata kepala lo sendiri." jawab Laura menyerahkan Hpnya yang berisi foto cowok dan cewek yang tidur berdua.


"Lo tidur berdua, di malam minggu lalu, di rumah lo, di saat Keenan, Mama lo dan bibi lo gak ada di rumah." sambung Laura.


"Percaya lo yang kayak gini? Huh. Oke, gue lupa, malam minggu gue keluar atau enggak, tapi yang penting gue gak tidur sama cowok, apalagi itu Rafa. Dan jikalau ini bener, jadi gue gitu, yang salah? Cuman gue yang di salahin? Si Rafa enggak? T*l*l. Mending kata gue, lo lihat ke rumah gue, kita lihat CCTV di halaman rumah gue. Biar lo percaya kalau itu bukan gue. Udah, gue males berantem, sini lo. Kita bicarain di ruang bk, kalau kayak gini, sama aja lo kayak ngejelek-jelekin nama baik gue. Lagi pula, lo dapat foto ini dari siapa?" tanya Natha juga, ia masih bisa menahan amarahnya agar tidak main tangan ke temannga sendiri.


"Dan lo, kenapa lo diam doang? Lo gak mau jelasin itu bener atau enggak? Atau lo yang gak percaya? Karena terlalu menganggap percaya bahwa foto itu gue?" tanya Natha lagi sembari menunjukkan jarinya satu persatu ke arah Rafa dan Laura.


*Tok tok tok


*Tok!! Tok!! Tok!!!


"Natha!! Heh kebo! Bangun, lo mau telat?!" ucap Keenan, Natha bangun dari tidurnya, ia melihat ke sekitar ternyata yang tadi hanyalah mimpinya. Tapi itu sangat berasa nyata, huh, untung saja itu mimpi, bagus lah, ia tak ingin pertemanan mereka akan tambah rusak karena mimpinya tadi.


"Woi, malah bengong. Cuci muka sana, terus sarapan." ucap Keenan, Natha tersadar dari lamunannya, ia melihat kearah jam, ternyata jam sudah menunjukkan jam tujuh lewat lima belas. Natha dengan tergesa-gesa berjalan ke kamar mandi dan menyiapkan pakaian sekolahnya.


Natha sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sudah berada di halaman rumahnya, menunggu Mama Lian mengambil tasnya di dalam kamar. Keenan sudah berangkat ke kampusnya menggunakan motornya sendiri. Natha tidak ingin naik motor sendiri, jadi ia ingin ikut sama Mama Lian saja. Pulangnya nanti pak Harto yang akan menjemput dirinya.


Sesampainya Natha di depan gerbang sekolah, Natha bersalaman dengan mama Lian, ia keluar dari mobil lalu melambaikan tangannya ke arah mobil mama Lian yang sudah berlalu.


Natha langsung saja masuk ke dalam halaman sekolahnya. Ia berjalan melalui koridor sekolah untuk menuju ke arah kelasnya yang berada di lantai ke empat. Sesampainya Natha di kelas, ia meletakkan kotak yang berisi kue tadi di atas meja Jema, karena Jema adalah ketua kelompok, jadi nanti dia yang akan mengumpulkan ke depan.


Natha duduk ke tempatnya sendiri, ia menaruh tas dan mengeluarkan HPnya dari dalam tas sekolahnya yang berwarna hitam.


Natha bengong, ia masih memikirkan mimpinya tadi malam.


"Hayoloh! Mikirin apa lo? Mikirin Aksa ya? Ekhem!!" sorak Gabriella yang berada di sampingnya, ia bengong sampai sampai tidak menyadari teman-temannya yang ada di dekatnya.


"Dih? Paan sih, enggak lah." jawab Natha. 'Semoga mimpi gue tadi malam gak bakal terjadi. Gue gak mau pertemanan gue makin hancur parah.' batin Natha.


"Yeah? Ah lanjut bengong dia. Gini nih, pasti karna kesiangan bangun, biasanya sih gitu." ucap Gabriella yang sudah hafal dengan apa saja yang ada di Natha. Natha tersadar, ia melihat ke Sampingnya, di sana ada Laura yang duduk di samping kirinya, dan di samping kanannya ada Gabriella. Ia menghela nafasnya tenang, untung saja.


"Sakit ya, lo? Kenapa tiba-tiba senyum ke gue? Ih! Horor amat." ucap Laura yang memegang jidat Natha. Ia tidak sadar bahwa ia tersenyum ke arah Laura, setelah sadar ia langsung membuang mukanya.

__ADS_1


"Enggak kok. Hehe, lah bentar, HP gue mana?" tanya Natha ke teman temannya dan mencari hpnya ke bawah meja sampai ke dalam tas.


"Nah kan, akibt bengong. Di tangan gue ini HP siapa? HP Laura? Anjir lah." jawab Gabriella menyerahkan kedua HP Natha, tadi ia minjam untuk berfoto sebentar.


Bel berbunyi, Teman-teman Natha kembali ke kelas mereka masing-masing. Natha mendapatkan notif dari Vio, yang sudah di kirim dari lima menit lalu, ia baru saja menyalakan data seluler nya. Untung saja Gabriella tak tau, jika tau, sudah lah, mungkin dia akan marah-marah tidak jelas.


[Aku mau bicara, nanti istirahat, boleh?] - Vio


[Oh, boleh. Dimana?] - Natha


[Belakang sekolah.] - Vio


Natha membaca pesan itu, ia berbalik menatap vio yang ada di belakangnya. Vio tersenyum, Natha membalas senyumannya dengan sedikit ragu dan bingung.


Tak lama kemudian, ibu Fatma, pengajar di kelas mereka, karena pak prakarya ada di jam pertama selama tiga jam hingga istirahat nanti.


"Pagi. Semua kelompok sudah selesai? Kalau sudah selesai, silahkan kirim makalah videonya ke nomor ibu, dan makalah bukunya taruh di atas meja sini." ucap Ibu Fatma mendudukkan dirinya.


"Sudah bu, tapi ada dua kelompok lagi yang belum selesai membuat makalah video nya." ucap Jema selaku ketua kelas.


"Yang belum selesai, silahkan selesaikan terlebih dahulu." jawab Ibu Fatma.


"Siap, bu!" jawab murid di kelas itu. Mereka duduk sesuai kelompoknya, Natha, Cakra, Rifa, Saddam, Nana dan Jema duduk berhadapan. Mereka kelompok satu, pasti mereka akan maju terlebih dahulu, jadi mereka menyiapkan kue yang mereka bikin kemarin pagi.


"Oke, silahkan kelompok pertama, kelompoknya Jema. Silahkan presentasi kan hasil kerjasama kalian ber enam." ucap Ibu Fatma. Mereka ber enam maju ke depan kelas, membawa kue tadi yang di pegang oleh Jema, Natha mengambil makalah yang sudah di print itu.


Mereka mulai memutar rekaman yang di rekamkan oleh Rafa, di edit oleh Cakra dan Rifa.


Mereka mulai mempresentasikan, hingga lima belas menit, mereka selesai presentasi. Mereka kompak dan serius, tidak ada yang bercanda, jika bercanda, mungkin presentasi mereka tidak akan selesai. Mereka mulai membagikan brownies yang mereka buat, membagi ke Ibu Fatma lebih banyak dari pada potongan untuk teman-teman kelasnya.


Masih ada tersisa, sisanya untuk mereka makan.


"Sekian presentasi dari kelompok kami, terimakasih atas perhatiannya, jika ada salah kata dalam berbicara mohon di maafkan. Sekali lagi terimakasih, jangan lupa untuk rating kue kami!" ucap Natha menutup presentasi mereka.


Mereka kembali ke tempat duduk mereka, ada sisa kue tadi, mereka memakannya sambil mendengarkan presentasi dari kelompok lain.


Di kelompok ini, jika dapat rating yang paling banyak, mereka akan mendapatkan hadiah dari Ibu Fatma.

__ADS_1


...***...


__ADS_2