
"Oke," ujar Natha.
Mereka sekarang sudah berada di rumah besar miliknya. Natha berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, setelah selesai, Natha keluar kamar dengan pakaian dress pendek yang berwarna maroon dengan rambut nya berwarna kecoklatan yang dikuncir memakai jedai miliknya. Natha berjalan ke lantai bawah untuk mencari Lian.
"Maa, minta uang dong, uang Natha udah mau habis," ujar Natha yang meminta uang kepada Lian,
"Bentar, mama mau beresin berkas berkas dulu, kamu berangkat sekarang?" tanya Lian,
"Enggak, kok, nanti sekitar jam tujuh malam," jawab Natha,
"Ya udah nanti dulu ya, selesai mama beresin ini," ujar Lian sembari membereskan berkas berkas yang tertera di atas meja kerja nya yang terdapat di dalam ruang khusus kerjanya.
"Mau Natha bantuin gak?" tanya Natha,
"Gak perlu, kamu duduk aja deh, ya, tadi kan juga katanya capek," jawab Lian, Natha mengangguk lalu berjalan pergi ke arah ruang tamu. Mendudukkan dirinya di atas sofa yang empuk, lalu memainkan hp nya.
Beberapa jam kemudian.
Jam sudah menunjukkan ke arah jam tujuh malam, Natha mendapatkan notif chat dari Gabriella yang berisikan,
[Natha, gue otw kerumah lo, tungguin ya,] -Gabriella
[Iya] -Natha
Natha menunggu Gabriella menjemput dirinya, ia masih duduk di sofa ruang tamu, pintu rumah terbuka dengan Keenan yang masuk ke dalam rumah, Keenan baru pulang dari kampusnya. Pikir Natha yang membuka pintu itu ialah Gabriella, ternyata Keenan.
"Mau kemana?" tanya Keenan yang mendudukkan diri di samping Natha,
"Ke toko buku, nemenin Gabriella," jawab Natha, Keenan hanya mengangguk lalu pergi ke kamarnya.
Natha mendapat notif chat lagi, dari Gabriella, yang isi nya ia memberitahu kepada Natha bahwa dia sudah berada di depan pagar rumah Natha. Natha bergegas berjalan ke arah pintu rumah,
"Maa, Natha berangkat, yaa!!" teriak Natha meneriaki Lian, ia tak lupa menutup kembali pintu rumahnya dan berjalan ke depan pagar rumahnya.
"Ayo, naik" ujar Gabriella menyuruh Natha untuk menaiki motor miliknya. Natha pun menaiki motor milik Gabriella, Gabriella langsung saja menjalankan motornya ketoko buku.
Sesampainya mereka di toko buku.
Gabriella memarkirkan motornya, lalu mereka berdua masuk ke dalam toko buku itu,
"Lo, mau beli buku apa?" tanya Natha kepada Gabriella,
"Mau beli buku novel gue," jawab Gabriella, mereka berdua mencari cari buku yang di inginkan hingga saat nya mereka menemukan buku yang mereka inginkan. Mereka membayar bukunya lalu keluar dari toko buku itu untuk menuju ke parkiran.
"Mau santai dulu atau langsung pulang aja?" tanya Gabriella kepada Natha,
"Santai dulu aja gak sih? Tapi lo gak apa kalo larut malam?" tanya balik Natha,
"Gak apa lah, ke cafe aja gimana?" ujar Gabriella,
"Ayok aja," jawab Natha, mereka menaiki motor Gabriella lalu menjalankan motornya untuk pergi ke cafe. Sesampainya mereka di cafe, mereka masuk ke dalam cafe itu lalu memesan minuman dan makanan. Mereka duduk di meja yang bernomor tujuh.
"Nat, gue mau ngomong sesuatu sama lo, boleh?" tanya Gabriella, Natha mengerucut keningnya, bingung, mengapa Gabriella harus meminta izin dulu, biasanya langsung ngomong saja, pikir Natha.
__ADS_1
"Ngomong apa? Boleh lah," jawab Natha,
"Jangan ngomong sama siapa siapa, cuman lo yang tau selain gue sendiri," ujar Gabriella,
"Iya iya, apaan emang nya? Penting banget?" tanya Natha
"Gue, suka sama Gibran." jawab Gabriella, Natha terkejut dengan ucapan Gabriella,
"Really? Sejak kapan? Bukan nya lo punya cowok ya?" tanya Natha,
"Enggak punya cowok gue, pasti lo pikir gue beneran punya cowok cuman gara gara chat gue dulu. Udah lama, cuman gue gak berani bilang ke kalian semua, takut ngerusak pertemanan kita, ini juga gue berani bilang cuman ke lo doang, gue percaya sama lo bahwa lo bisa pegang rahasia, walau ini gak terlalu penting." jawab Gabriella, dengan wajah yang tak bisa di artikan.
"Dan gue juga masih mikirin dengan ucapan Gibran yang katanya mau ngungkapin perasaan sama seseorang, gue masih mikirin, siapa cewek yang dia suka?" ujar Gabriella lagi, Natha mendengarkan semua perkataan Gabriella.
"Ini mbak, pesanannya," ujar pelayan cafe yang menaruh pesanan mereka berdua ke atas meja yang mereka tempati.
"Makasih, mbak," jawab Natha. Natha mengambil es coklat dan kentang goreng miliknya. Sedangkan Gabriella mengambil es cappucino dan sandwich miliknya.
"Kenapa gak dari dulu lo bilang ke gue?" ujar Natha kembali membuka pembicaraan.
"Gue gak berani bilang, takut aja gitu," jawab Gabriella,
"Mending lo ungkapin dulu aja sama Gibran nya? Nanti lo bisa tau siapa cewek yang dia suka," saran Natha,
"Gak berani," geleng Gabriella,
"Aduhh, nih gini ya, mending di ungkapin dari pada ke duluan orang? Nanti kalo lo mau ngungkapin, gue bakal liatin deh, tapi dari jarak jauh, hehe" ujar Natha.
"Ya sudah kalo itu mau lo, tapi jikalau nanti lo tau siapa cewek yang dia suka, lo harus siap melupakannya kalo cewek yang dia maksud itu bukan lo, berani mencintai berani juga untuk mengikhlaskan nya." ucap Natha, Gabriella menganggukkan kepalanya mengerti.
"Udah, jangan sedih sedih dong, masa cuman gara gara cowok pertemanan kita hancur sih, jangan, ya?" ujar Natha sembari mengacungkan jari kelingkingnya, Gabriella menautkan jari kelingking nya dan jari kelingking Natha sambil tersenyum.
"Janji," jawab Gabriella.
"Udah, abisin ini, terus pulang, nanti kemalaman," ujar Natha lalu mereka berdua memakan dan meminum pesanan yang mereka pesan.
Setelah selesai mereka menghabiskan minuman dan makanannya, mereka membayar lalu keluar dari cafe ini. Mereka berdua berjalan ke arah dimana Gabriella memarkirkan motonya lalu menaikinya. Gabriella menjalankan motornya untuk mengantar Natha pulang ke rumah nya.
Sesampainya di rumah Natha,
"Makasih, ya, udah mau nemenin gue jalan," ujar Gabriella setelah Natha turun dari motornya.
"Seharusnya gue yang bilang makasih udah ngantar jemput gue," jawab Natha,
"Ya udah gue pulang dulu, ya," ujar Gabriella,
"Hati hatii," jawab Natha, Gabriella sudah menjauh dari rumah milik Natha, Natha segera masuk ke halaman rumahnya, lalu tak lupa menutup kembali pagar rumahnya.
Natha memencet bell rumah nya dan keluar lah bibi Mela yang membuka kan pintu rumah. Natha masuk dan langsung saja pergi kekamar miliknya untuk mengganti pakaian tidur.
Natha sudah menggantikan pakaiannya dengan baju tidur lengan pendem dan celana panjang yang berwarna hijau. Ia mendudukkan dirinya ke atas kasur lalu meraih hp nya yang ia taruh di atas nakas di saat dia mengganti pakaian tadi.
Natha mencari jadwal pelajaran yang berada di hpnya, lalu berdiri untuk menaruh jadwal buat besok ke dalam tas sekolahnya.
__ADS_1
Setelah selesai ia langsung saja berjalan untuk mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur saja, menaruh hpnya kembali ke atas nakas dan membaringkan badannya sampai ia tertidur lelap.
***
Jam alarm Natha berbunyi di jam enam pagi, Natha mematikan alarm nya, mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu bangun dari tidurnya dan duduk bersender di headboard. Mengumpulkan semua tenaganya, baru ia berdiri untuk berjalan ke kamar mandi, mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai Natha membersihkan dirinya, ia mengambil seragam sekolah miliknya yang berada di lemari yang bergantung. Mendudukkan dirinya di atas kursi meja rias untuk mengeringkan rambutnya setelah kering ia menyanggul simpel, dan memakai seragam sekolahnya. Mengambil tas, hp dan memakai sepatu sekolahnya lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi bersama.
"Pagi ma, bi," ujar Natha yang menyapa Lian yang duduk di meja makan dan Mela yang memasak sarapan.
"Pagii," jawab Mela dan Lian.
"Mana bang Keenan?" tanya Natha kepada Lian,
"Belum turun," jawab Lian, Natha mengangguk mengerti. Tak berselang lama, makanan yang dimasal oleh Mela sudah selesai dan Keenan pun juga sudah berada di samping kursi Natha.
Mereka memakan sarapan paginya, setelah selesai mereka berangkat ke sekolah. Natha melirik ke arah jam dinding, jam sekarang menunjukkan ke arah jam tujuh pagi.
"Ma, natha udah selesai, Natha berangkat, ya," ujar Natha dan bersalaman dengan Lian, Mela dan juga Keenan. Natha berjalan ke arah luar rumah untuk ke garasi lalu mengeluarkan motornya dan berangkat ke sekolahnya.
Sesampainya Natha di lingkungan sekolahnya, ia memarkirkan motornya dan langsung berjalan ke arah kelasnya.
"Nat," panggil seseorang dari belakang nya, Natha menengok kebelakang dan melihat seseorang yang memanggilnya.
"Ikut gue sini, tenang, gue gak akan cari ribut lagi," ujar Nita, ya, Nita lah yang memanggil Natha.
"Ngapain gue harus ikut lo? Gue gak mau ngikutin lo" jawab Natha, ia setiap melihat wajah Nita bawaan nya ingin marah terus.
"Tentang bokap lo," ujar Nita,
"Gak peduli, mau dia kek gimana kek, mau dia punya keluarga baru kek, gue gak akan peduli lagi. Jangan pernah ganggu gue lagi, Nita." jawab Natha lalu meninggalkan Nita sendirian.
Natha sudah berada di dalam kelasnya, terasa sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang berada di dalam kelas, bahkan Gabriella, Vio, dan Laura juga tidak ada di kelas. Natha menaruh tasnya di atas meja lalu mendudukkan dirinya di kursinya. Mengeluarkan hp yang berada di saku seragam sekolahnya dan mencari kontak yang bernama Gabriella.
[Lo udah berangkat? Ini gue ke pagian atau apaan anjir, kok lo bertiga gak ada dikelas, biasanya jam segini udah disini] -Natha
Lalu pesan Natha dibalas oleh Gabriella.
[Gue udah di sekolah kok, tapi kalo Laura dan Vio gue gak tau] - Gabriella.
[Lo dimana?] -Natha,
"Lah, di baca doang?" ujar Natha yang berbicara sendiri karena pesannya hanya dibaca oleh Gabriella, tak berselang lama datang lah Vio dan Aksa. Mereka mendudukkan dirinya di kursi masing masing.
"Lo tadi di bawah ada liat Gabriella?" tanya Natha kepada Vio, Vio menggeleng,
"Gue gak liat Gabriella, tadi cuman liat Laura yang masuk ke ruang osis," jawab Vio,
"Gue nanya cuman di baca doang, gak di balas, katanya dia udah di sekolah," ujar Natha,
"Kantin mungkin, mau nyari?" tanya Vio,
...*****...
__ADS_1