My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 11


__ADS_3

"Gue boleh ikut gabung, gak?" tanya Aksa.



"Entah lah, tanya Gabriella sama Vio aja."



"Lo yang punya rumah, kok nanya ke mereka?"



"Ga papa, tanya aja!"



"Nanti aja deh."



Mereka semua sudah berada di kelas. Bel juga sudah berbunyi pertanda sudah memasuki jam pelajaran berikutnya.



"Setelah ini mata pelajaran apa, ya?" tanya Aksa ke Natha yang berada di samping kirinya.



"Kimia," jawab Natha singkat.



"Oh." Aksa pun mulai mencari-cari buku kimia di dalam tasnya.



"Halah, modus banget! Kenapa gak nanya ke Gibran aja? Toh, dia juga di samping elo, kan?" kata Gabriella.



"Ish, emangnya kenapa sih?" jawab Aksa, acuh tak acuh.



"Untuk seluruh siswa dan siswi, dari kelas sepuluh hingga dua belas, segera ke lapangan, bawa tas dan barang-barang kalian," ucap guru yang tiba-tiba berada di depan pintu kelas, memerintahkan mereka untuk segera berkumpul di lapangan sekolah.



"Ngapain, Bu?" tanya Gabriella yang sudah beranjak dari tempat duduknya.



"Udah, ga usah banyak tanya. Sana, cepet ke lapangan!" titah guru tersebut, dengan sedikit memaksa. Mendorong Gabriella pelan agar segera bergerak ke lapangan sekolah.



"Lama gak, ya?" tanya Vio kepada Natha yang berada di sampingnya.



"Ga tau deh, mana disuruh bawa tas lagi," sahut Natha.



"Semoga disuruh pulang cepat," ucap Gabriella dan diamini oleh seluruh teman-temannya.



"Haduh, mana panas pula!" ucap Laura sambil mengibaskan-ngibaskan tangan ke leher, tubuh serta wajahnya. Berharap ada sedikit udara sejuk yang menerpa kulit mulusnya.



"Yang bilang ini dingin siapa, heh?" tanya Gabriella sambil terkekeh.



"Dih, diem lo!" Laura kesal lalu menekuk wajahnya.



"Emangnya ga ada pemberitahuan gitu di grub OSIS?" tanya Natha kepada Laura yang tampak bete dengan cuaca yang panas terik.



"Ga ada. Kalo ada, udeh gue kasih tau ke kalian," sahut Laura.



Seluruh siswa dan siswi di sekolah menengah itu sudah berada di lapangan dan mulai berbaris sesuai dengan barisan kelas mereka.



"Panas bener dah, gosong badan gue kek gini," gumam Gabriella sambil menyeka keringat yang sejak tadi terus mengucur tanpa bisa ia tahan.



"Ish, ngeluh mulu lo, Gab!" kata Laura kepada Gabriella.



"Habisnya gue kesel. Panas-panas gini, malah dikumpulin di tengah lapangan terbuka kek begini. Mending ngumpulnya di aula, biar lebih adem," sahut Gabriella.



"Udah deh, ini udah panas, kalian berdua ribut malah makin panas," ucap Natha yang berada di belakang Gabriella dan Laura.



"Emang ada hubungan nya gue sama cuaca?" tanya Laura.



"Ga ada, udah diem!"



"Bego," kata Laura. Natha hanya terkekeh pelan. Gabriella dan Laura berada di depan Natha dan Vio. Sedangkan di belakang Natha dan Vio, tampak Aksa dan Gibran tengah berdiri di sana.



"Oke anak-anak! Ini cuman pemberitahuan. Karena cuacanya panas, jadi kita tidak perlu berlama-lama di sini. Silahkan pak Adi," ucap Ibu guru di sana. Pak Adi adalah guru kepala sekolah di sekolah itu.

__ADS_1



"Siang anak-anak! Baik, bapak akan memberitahukan kepada kalian semua bahwa kalian akan dipulangkan lebih awal. Dikarenakan semua guru ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi, untuk hari ini kalian bisa melanjutkan pelajaran kalian di rumah," ucap Pak Kepsek.



"Horeee!" Seluruh siswa dan siswi di sekolah itu berteriak penuh suka cita. Mereka bahagia karena hari ini bisa pulang lebih awal dari biasanya.



"Sekarang, berbaris lah yang rapih! Bapak akan memilihkan barisan yang paling rapi, yang akan dipulangkan terlebih dahulu," lanjut Pak Kepsek.



Seluruh siswa dan siswi mulai merapikan barisan mereka. Termasuk kelas Natha dan kawan-kawan. Niki mulai mengatur barisan dan setelah selesai, ia pun kembali fokus ke arah depan. Di mana Pak Kepsek masih berdiri di sana.



Di antara seluruh barisan, Pak Kepsek malah memilih barisan kelas Natha dan kawan-kawan untuk pulang terlebih dahulu. Sementara kelas lainnya segera menyusul setelahnya.



\*\*\*



Semua siswa dan siswi sudah dipulangkan. Natha, Laura, Gabriella, Vio, Aksa, Gibran, dan Felix masih berada di parkiran sekolah.



"Gue pulang duluan, ya!" ucap Felix kemudian menaiki sepeda motornya.



"Ya, hati-hati di jalan!" sahut Natha.



"Yoi!" Felix lalu pergi dan memacu laju motornya menuju kediamannya.



"Ini ga ada yang mau ngumpul dulu, apa?" tanya Gibran kepada teman-temannya.



"Gue sama Vio sih pengen ke rumah Natha, soalnya di rumah gue ga ada siapa-siapa, bete!" jawab Gabriella.



"Parah kalian! Kenapa gue gak diajak?" ucap Laura dengan sedikit kesal.



"Ya udah, mau ikut gak?" tanya Gabriella.



"Ya, maulah! Mumpung pulang lebih awal."




"Gue ganti baju dulu, deh! Soalnya gue gak bawa baju ganti. Kalo Gabriella mah dia bawa baju ganti, jadi langsung ke rumah Natha," jelas Vio.



"Gue juga, gue pulang dulu! Soalnya baru kemarin gue main rumah lo," sahut Laura.



"Gue boleh ikut, gak?" tanya Gibran ke Natha.



"Boleh. Aksa?" tanya Natha kepada Aksa.



"Iya, nanti gue bareng Vio aja," jawab Aksa.



"Ya udah, gue balik dulu," ucap Natha.



Gabriella pulang bersama Natha. Aksa dan Vio dijemput oleh pak sopir pribadi yang bekerja di rumah Aksa. Sementara Laura pulang sendirian.



"Mama lo, ga ada di rumah ya, Nat?" tanya Gabriella kepada Natha.



"Keknya sih ga ada," jawab Natha.



"Emang ga papa kalo kami semua main ke rumah, lo?" tanya Gabriella lagi.



"Ya, ga papa lah!"



"Trus, abang lo gimana?"



"Ngampus lah! Banyak nanya sih lo, kenapa deh? Kayak gak pernah main ke rumah gue aja," kata Natha sedikit gereget kepada Gabriella karena ia bertanya terus.



"Ya, soalnya gue udah lama gak main ke rumah lo," kata Gabriella, Natha tidak menjawab perkataan Gabriella, ia menambah kecepatan motornya supaya lebih cepat sampai ke rumah.



\*\*\*

__ADS_1



Natha dan Gabriella sudah berada di depan pagar rumah Natha yang menjulang tinggi. Gabriella turun dari motor Natha. Ia membuka pagar rumah lalu mempersilakan Natha untuk masuk dan memarkirkan motornya. Tidak tampak mobil Lian atau motor Keenan di halaman nan cukup luas tersebut.



"Masuk," ucap Natha yang meminta sahabatnya itu untuk memasuki kediamannya.



"Iya, tapi gue numpang ganti baju dulu, ya!" ucap Gabriella. Gabriella pergi ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Karena sudah sering berkunjung ke kediaman sahabatnya itu, Gabriella pun sudah hapal seluk beluk rumah milik Natha tersebut.



Jika Gabriella tengah mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, Natha malah kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ia menapaki satu persatu anak tangga hingga tiba di depan kamarnya.



Natha memasuki kamar kemudian menggantungkan tas ranselnya di dekat lemari buku. Melepas sepatu dan menggantinya dengan sendal bulu-bulu berwarna pink mix putih.



Ia berjalan menuju lemari pakaian lalu mengganti seragam sekolah dengan pakaian sehari-hari. Selesai mengganti pakaian, Natha membersihkan wajahnya di dalam kamar mandi. Kini Natha berjalan keluar dari kamar menuju ruang utama. Di mana Gabriella sudah menunggunya di ruangan itu.



"Yang lain belum datang?" tanya Natha sembari mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang ada di ruangan itu.



"Belum, Vio sama Aksa sih, katanya udah di jalan," jawab Gabriella sambil menikmati camilan yang sudah tersedia di atas meja.



Tidak lama kemudian, Aksa dan Vio pun tiba. Aksa memarkirkan motornya di samping motor milik Natha. di belakang Aksa, Laura juga tiba di sana dengan menggunakan motornya sendiri. Natha sengaja tidak menutup pagar rumahnya agar teman-temannya tidak ribet untuk membuka tutup pagarnya lagi.



"Gibran mana?" tanya Gabriella kepada ketiga temannya yang baru saja tiba.



"Ga tau, katanya si sudah otw," sahut Laura sembari merapikan letak motor kesayangannya.



"Ya udah kalo begitu. Sebaiknya kalian masuk dulu," ucap Natha yang mempersilahkan teman temannya untuk memasuki rumah minimalis miliknya.



Baru saja mereka ingin melangkah masuk, tiba-tiba Gibran sudah memasuki pekarangan rumah Natha. Lelaki itu tersenyum kemudian memarkirkan motornya sama seperti yang lain.



"Yang lain sudah ada?" tanya Gibran kepada Natha yang masih berdiri di depan pintu utama.



"Sudah. Mari, sini masuk!" Natha menuntun Gibran memasuki rumahnya hingga menuju ruang utama. Setibanya di ruangan itu, mereka pun segera menghampiri keempat temannya yang sudah duduk santai di atas sofa.



"Udah pada makan belum?" tanya Natha kepada semua teman-temannya.



"Belum lah, gue udah laper banget padahal," jawab Gabriella sambil mengelus perutnya yang terasa lapar.



"Yang lain?" tanya Natha lagi.



"Gue sama Aksa juga belum, mending kita beli makanan dulu, gimana?" Vio memberi saran.



"Boleh. Lagi pula stok bahan-bahan makanan di dapur gue juga udah pada abis, jadi beli dulu aja, ya!" jawab Natha sambil terkekeh pelan.



"Ehm, ya udah, kita beli dulu," jawab Gabriella.



"Kalian pada mau makan apa?" tanya natha lagi.



"Samain aja gak si semuanya?" jawab Vio.



"Dari pada bingung, mending keluar semua aja, makan bareng di luar, di restoran terdekat dari sini," usul Aksa.



"Boleh, tuh!" kata Laura yang setuju dengan usul Aksa.



"Ya udah, ayo aja."



"Make motor masing masing?"



"Dari pada sendiri sendiri, mending pakek mobil nyokap gue yang satunya," usul Natha.



"Emang dibolehin?" tanya Laura.



"Bolehlah, kenapa enggak?"


... *****...

__ADS_1


__ADS_2