My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 153


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan jam 8.56 PM, mereka masih belum tiba di rumah, Tadi mereka sempat berhenti di dekat warung. Gabriella mabuk perjalanan, jadi mereka berhenti sebentar, menunggu Gabriella sudah tak mual mual baru mereka melanjutkan perjalanan. Perjalan mereka masih lumayan jauh.


Mereka melanjutkan perjalanan, Gabriella sudah tak mual mual dan pusing.


//sesampainya di rumah Natha//


Semua temannya berkumpul di rumah Natha, jadi semua motor mereka ada di rumah Natha begitu juga dengan kunci motornya. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing, mereka sudah sangat kelelahan. Besok masih sekolah, Keenan dan Natha langsung membersihkan diri masing-masing dan langsung saja tidur untuk besok agar semangat pergi ke sekolah dan ke kampus.


Pagi hari, Natha sudah siap dengan seragam sekolahnya, ia sebenarnya sungguh sangat lelah, tapi karena mereka sebentar lagi akan ujian, dan mereka tidak boleh tidak masuk sekolah nanti bisa ketinggalan pelajaran.


Natha langsung berangkat ke sekolah setelah selesai sarapan pagi, ia minta di antar sama Pak Harto karena ia males untuk mengendarai motor. Jadi nanti pulang ia bisa minta jemput sama Keenan ataupun minta jemput sama Pak Harto lagi. Sesampainya Natha di sekolah, ia langsung saja berjalan ke kelasnya, sepanjang jalan ia selalu di lihat oleh murid lainnya di sekolah.


Sejak kejadian ia dengan Nita, Natha selalu di sapa oleh adik kelas yang sering di bully oleh Nita mau pun yang tidak pernah di bully oleh Nita. Natha hanya membalas mereka dengan senyuman lalu pergi, seperti itu dari kemarin kemarin.


Natha sudah sampai di kelasnya, ia masuk ke dalam dan langsung saja menaruh tasnya di tempat duduknya. Natha mengeluarkan kedua hpnya dari dalam tas hitam miliknya. Ia memainkan hpnya sebelum bel berbunyi, Cakra, Gibran, Vio, Gabriella dan Laura masuk ke dalam kelas Natha. Mereka duduk di dekat Natha, Natha sangat fokus melihat ke HP.


"Ciailah, apasih yang dilihat, serius amat." ucap Gabriella membuka suara, karena sebelumnya kelas itu sepi seperti tak ada orang, padahal di dalam kelas banyak siswa siswinya.


"Kepo" jawab Natha, Gabriella mendudukkan dirinya di samping Natha, Laura juga mengikuti Gabriella.


"Gue tau, lo belum siap kalau kita bakal pisah sama Vio dan Aksa. Gue juga gitu, walau dulu kita sempat berantem, tapi gue gak pernah benci banget sama Vio, gue juga gak pernah benci sama Aksa yang pernah nyakitin lo." ucap Gabriella, Natha hanya mengangguk. Bukan itu yang di pikirkan sekarang. Ia tidak memikirkan itu... Ia hanya memikirkan ucapan dari Aksa untuk dirinya kemarin di pantai.


Natha masih mencintai Aksa, begitu juga dengan Aksa, tapi Aksa bilang tidak perlu di jawab. Natha sebenarnya ingin mengungkapkan juga, tapi Natha selalu mengikuti gengsinya yang tidak pernah menurun.


"Lah si ege, malah bengong. Woe, udah lah, bel udah ini, sudah ye. Bye~ gue sama Laura masuk kelas dulu" ucap Gabriella, Natha tersadar dari lamunannya dan mengangguk.


Mereka semua memulai pembelajaran pada hari ini, mengenai materi yang akan keluar di soal ujian nanti. Mereka sangat memperhatikan guru di depan yang menjelaskan, jika ada yang penting, mereka akan mencatat di buku catatan masing-masing.


Jam sudah menunjukkan jam 10.00 AM. Mereka sudah istirahat, kini mereka lagi berada di kantin untuk mengisi perut yang kosong karena belum makan. Lain lagi halnya dengan Natha, ia hanya memesan minuman dan kebab, karena ia sudah makan di rumah.


"Aduh, gue jadi takut ujian, takut nilai gue anjlok." ucap Gabriella, ia sedari tadi cuman mengaduk aduk makanannya.


"Jangan ngomong kaak gitu. Kalau lo berusaha, lo gak bakalan dapat nilai anjlok. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, berdoa semoga nilai ujian kita semua bagus." jawab Natha menatap Gabriella yang ada di depannya.


"Semoga nilai kita semua memuaskan, gue mau ngegapai cita cita gue jadi perawat." ucap Laura yang di angguki oleh teman-temannya.


"Cita-cita kalian mau jadi apa?" tanya Gabriella kepada teman-temannya.


"Gue dulu mau jadi polisi, tapi sekarang udah berubah. Gue cuman mau jadi pekerja kantoran aja." jawab Gibran. "Jadi, nanti lo ngampus ngambil jurusan administrasi perkantoran?" tanya Rafa, Gibran mengangguk.


"Gue juga ngambil jurusan itu." ucap Aksa.


"Gue mau jadi perawat juga sama kayak Laura" jawab Vio.


"Cita-cita gue TNI." jawab Cakra


"Cita-cita gue cuman mau jadi CEO sih, HAHAHA!" tawa Rafa gelak.


"Gue juga sam kayak Laura, perawat. Kalau lo, Ta?" tanya Gabriella.


"Gue? Dari dulu gue mau dokter, tapi sekarang kayaknya berubah pikiran. Gue mau jadi pengusaha, hehe!" jawab Natha terkekeh.


"Semoga aja cita-cita kita semua tercapai yaa." ucap Gabriella, mereka mengangguk bersama. Bel telah berbunyi, mereka kembali ke dalam kelas masing-masing.


"Ra," panggil Natha kepada Cakra. Cakra menatap Natha dengan sinis.


"Jangan panggil gue dengan sebutan Ra ege. Panggil Cakra apa susah nya dah, heran." ucap Cakra, Natha hanya terkekeh.

__ADS_1


"Kalau ujian, kita bakal di acak gak tempat duduknya?" tanya Natha,


"Gak tau, kayaknya sih gitu, kita ujian juga gak di kelas ini. Nanti kita ujian di lantai bawah, di kelas 10." jawab Cakra, Natha hanya mengangguk paham.


"Gue kenapa jadi kaya ragu gitu buat kuliah ya? Ragu aja gitu, kayak gak mau kuliah, langsung kerja aja." ucap Cakra, "Pikirin aja dulu dengan tepat, nanti habis ujian kita juga liburan. Di sana kita bisa mikirin, mau langsung kerja, atau lanjut kuliah." jawab Natha.


"Keenan nerusin kantor Papa lo, kan?" tanya Cakra, "Iya," jawab Natha.


"Keren Papa lo. Bisa bangkit lagi berkat anak anaknya walaupun udah kepisah. Papa lo masih semangat buat bangun perusahaannya, dulu sempat bangkrut kan, ya?" tanya Cakra, Natha mengangguk.


"Dalangnya udah ketangkep. Ada salah satu asisten Papa gue yang kerja di administrasi keuangan, tau taunya dia selalu ngambil uang dengan diam diam. Kalau di tanya, dia selalu bilang uangnya buat keperluan kantor dan menggaji semua karyawan." jawab Natha.


"Parah banget. Lo, gak mau nerusin kerja kayak abang lo juga?" tanya Cakra, Natha menggeleng.


"Gue juga bingung, tahun ini, Keenan juga lulus, dia langsung melanjutkan pekerjaan Papa gue. Nyokap gue bilang, keputusan ada di tangan gue sendiri, gue mau kuliah, nanti nyokap gue yang biayain. Kalau mau buka usaha, nanti bokap gue yang biayain. Saran lo, gue kuliah atau langsung kerja buka usaha aja ya?" tanya Natha meminta saran kepada Cakra.


"Saran gue, lo kuliah dulu aja." jawab Cakra.


"Keenan juga nyaranin gitu, nanti dah, gue pikirin lagi baik baik." jawab Natha. Kini guru pengajar telah masuk, mereka akan membahas soal untuk ujian nanti, siap tidak siap, mereka harus siap untuk menghadapi ujian nanti.


***


//jam istirahat ke dua//


Natha dan teman-temannya berada di rooftop, mereka duduk duduk dan menghantai hembusan angin dari atas gedung sekolahnya. Natha merenung memikirkan ia akan lanjut kuliah atau tidak, tak lama kemudian Aksa yang baru ke rooftop bersama Rafa datang, ia dari kantin dengan membawa masing-masing dua ice cup.


Rafa memberikan ice cupnya ke Cakra karena ia menitip, dan Aksa menghampiri Natha,


"Nah," Aks mengulurkan tangannya yang memegang ice cup dengan rasa Capucinno. Natha mengangkat salah satu alisnya bingung.


"Makasih" ucap Natha, Aksa mengangguk, ia ikut mendudukkan diri di samping Natha, ia ingin bertanya tapi ragu.


"Em.. Ta, kamu mikirin apa?" tanya Aksa memberanikan diri. "Mikirin mau lanjut kuliah, masih ragu." jawab Natha, Aksa mengerti, ia juga sama di posisi Natha, ia juga bingung ingin lanjut kuliah atau langsung mengambil alih pekerjaan Bokapnya.


"Hati kamu milih buat kuliah, atau langsung kerja?" tanya Aksa, Natha memikirkan, Hatiny memilih untuk kuliah, tetapi pikiran nya memilih untuk langsung bekerja saja.


"Kuliah" jawab Natha, "Kamu maunya apa?" tanya Aksa lagi. "Langsung kerja." jawab Natha lagi.


"Ikuti kata hati mu aja. Kalau kamu mau kuliah, tapi kalau kamu mau bekerja langsung, kamu yakin gak akan nyesal karena milih kerja lebih saja? Dan tidak merasakan bagaimana kuliah?" ucap Aksa. Natha memikirkan, ada benarnya juga ucapan Aksa, Natha tersenyum, ia rasa ia sudah memiliki tujuan yang tepat.


"Oke, kayaknya aku bakal milih lanjut kuliah aja sih. Hehe, makasih yaa..." jawab Natha tersenyum ke arah Aksa. Aksa hanya mengangguk dan membalas senyuman dari Natha. Mereka meminum ice tadi bersamaan, keburu ice nya nanti tidak akan dingin lagi.


'Aku janji pada diriku sendiri, Ta. Aku bakal kembali ke Indonesia setelah aku menjadi pengusaha di kantor papa. Aku akan menjadikan kamu milikku, kembali. Aku tdak akan membiarkan kamu bersama yang lain.' batinnya sambil menatap Natha dengan diam.


'Untuk saat ini, kamu masih bisa mencintai yang lain dan melupakan aku, tapi di suatu saat nanti, kamu akan tetap menjadi milikku, Satu-satunya milikku.'


//pulang sekolah//


Natha dan teman-temannya berada di parkiran sekolah, mereka ingin merencanakan jalan jalan dulu sebelum pulang, tapi Natha menolak.


"Lain kali aja ya? Gue cape banget. Kapan kapan deh, beneran." ucap Natha,


"Yahh... Kalau besok gimana? Bisa gak?" tanya Gabriella,


"Lihat aja besok ya? Gue gak bisa janji..." jawab Natha, Gabriella mengangguk dengan teman-temannya.


"Ya udah, gue duluan ya? Gue udah di jemput Keenan, bye bye~ Hati-hati kalian!" ucap Natha berjalan ke arah pagar sambil berteriak ke arah teman-temannya.

__ADS_1


"Udah lama ya, nunggu nya?" tanya Natha memasuki mobil Keenan. Keenan menggeleng.


"Baru beberapa menit." jawab Keenan.


"Langsung pulang kah ini? Gak mau jalan-jalan dulu?" tanya Keenan, Natha menggeleng, terlihat dari wajah sang adik yang sangat kelelahan.


"Pulang aja deh, gue cape banget." jawab Natha, Keenan hanya mengangguk menuruti perkataan sang adik. Di perjalanan pulang, kedua adik kakak itu hanya diam diaman, sampai dimana Keenan membuka suara.


"Jadi gimana? Milih kuliah dulu, atau langsung kerja?" tanya Keenan kepada Natha. Natha meletakkan hpnya di atas dashboard mobil, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


"Kuliah dulu aja deh ya? Gue gak mau cepet cepet kerja dulu, takut gak sesuai ekspetasi gue." jawab Natha. "Bagus deh, jadi nanti kalau udah lulus, tinggal daftar aja, gak perlu mikir lagi. Kuliah di kampus gue kan? Nanti gue bantuin daftar." ucap Keenan, Natha mengangguk dan tersenyum.


Ia sangat beruntung memiliki seorang Kakak yang selalu mengerti dirinya, walaupun dulu mereka sempat tidak saling mengakui satu sama lain. Ia tetap merasa beruntung, memiliki keluarga yang bahagia walaupun orang tua sudah cerai, memiliki pertemanan yang sangat akur walau pernah berantem cuman karena kesalahan pahaman.


Ia sangat bahagia, kebahagiaan masa kecilnya terulang kembali, dulu ia sempat berpikir akan selalu sedih dan merasa sendirian. Dulu ia hanya berteman dengan Kate dan saudaranya Zeze. Ia juga sempat berpacaran dengan Jaden, itu sudah sangat membuatnya bahagia. Tapi tak lama, Jaden dan dia sudah tak memiliki hubungan, dunianya mulai kembali runtuh. Tapi sekarang tidak lagi, ia berharap, kejadian dulu tidak akan pernah kembali ke kehidupan nya yang sekarang.


Natha dan Keenan sudah sampai di rumah, Natha langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya lalu berbaring ke kasur. Ia hendak istirahat dulu, ia sangat lelah, mungkin karena mereka liburan ke pantai itu.


Kini ia tengah berbaring di atas kasur dan memainkan hpnya, sampai ia terlelap karena sangat merasa kecapean. Keenan membuka perlahan pintu kamar Natha untuk mencek adiknya, ternyata ia sudah terlelap. Karena hari sudah mulai gelap, Keenan menutup jendela dan tirai kamar Natha, menyalakan lampu kamar lalu keluar dari kamar Natha dan kembali menutup pintu kamar Natha dengan rapat.


Keenan berjalan ke kamarnya dan mendudukkan dirinya di meja belajar, ia membuka HP Natha yang tadi sempat ia ambil setelah menyalakan lampu kamar Natha. Ia membuka whatsapp Natha, ia melihat kontak bernama 'ka Bita๐Ÿงšโ€โ™€๏ธ' Keenan penasaran, ia membuka chat Shabita dengan Natha. Membaca semua pesan pesan yang mereka bahan di dalam room chat itu.


Terlihat jelas senyuman yang tercetak di wajah Keenan, ia memutuskan untuk menchat Shabita setelah selesai membaca chat Natha dengan Bita.


*Shabita*


[Shabita] - Keenan


[Ya, Ken? Ada apa?] - Shabita


[Mau ngomong sesuatu. Boleh ketemuan?] - Keenan


[Kapan, Ken?] - Shabita


[Nanti malam, gue jemput, Mau?] - Keenan


[Oh boleh, kalau gak ngerepotin lo.] - Shabita


[Enggak kok, nggak ngerepotin. Nanti gue kasih kabar lagi, kalau gue mau otw.] - Keenan


[Iya.] - Shabita.


Setelah itu Keenan membuka lagi HP Natha karena terdapat notif whatsapp.


*Ka Bita๐Ÿงšโ€โ™€๏ธ*


[NATHA!!!!! HUAAAAA MAU TERIAK SEKUAT KUATNYA!!!!!] - Shabita


[KEENAN NGAJAKIN AKU JALAN MALAM INI!!! AKU TERIMA GAK APA KAN YAA?!! ADUH KOK GUGUP YAAA.] - Shabita


[Aduh, kamu kemana? Sibuk ya? Okelah gak apa, nanti bales chat aku kalau udah gak sibuk ya, adik cantik!!] - Shabita


Keenan terkekeh membaca pesan dari Shabita di HP Natha, tanpa dia sadari, ada yang melihatnya di samping.


"Heh!" Keenan terkejut dan reflek memundurkan kursi belajarnya ke belakang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2