My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 19


__ADS_3

"Kalo lo masih manggil gue dengan sebutan itu, gue gak akan segan-segan untuk ngejait mulut lo," ucap Natha dengan beringas.


"Natha, Nita, hentikan!" tegur guru BK–Bu Sapnah.


"Kalian berdua, ayo ikut Ibu!" titah Bu Sapnah sembari menarik tangan Nita. Nita yang benar benar sudah kehabisan tenaga, untuk berdiri pun susah dan dengan sekuat tenaga mencoba untuk berjalan mengikuti langkah Bu Sapnah.


"Kalian semua, masuk kelas masing-masing. Apa kalian tidak dengar suara lonceng yang sudah berbunyi!?" ujar Sapnah sembari menyuruh anak murid yang masih ingin melihat pergulatan Natha dan Nita.


Aksa berjalan di samping kanan Natha lalu memperhatikan pipi sebelah kanan gadis itu. Tampak sedikit darah di sudut bibirnya.


"Bu, tidak ke UKS dulu? Tuh, mereka masih luka luka," ujar Aksa.


Bu Sapnah mendelik dan memperhatikan tubuh Nita dan Natha yang terdapat luka-luka. Ia pun mengangguk lalu memerintahkan mereka untuk segera dibawa ke ruang UKS. Celin, selaku penjaga di ruang UKS, segera mengobati Nita. Sementara Natha diobati oleh Aksa. Dengan sangat perlahan, Aksa membersihkan luka di sudut bibir Natha.


"Aww!" Ujar Natha, yang merasakan perih setelah kapas yang dipegang Aksa mengenai lukanya.


"Maaf," ucap Aksa, Natha hanya mengangguk.


"Sini, biar gue bersihin sendiri aja," ujar Natha lalu berusaha meraih kapas yang sudah dikasih Betadine itu dari tangan Aksa.


"Gak, gak! Biar gue yang bantuin," jawab Aksa sembari menepis tangan Natha yang mencoba mengambil alih tugasnya. Natha akhirnya pasrah dan mengalah.


"Kasih Ibu nomor telepon orang tua kalian semua, yang terlibat dalam perkelahian tadi," ucap Ibu Sapnah yang masih berada di ruangan itu.


"Nomor kakak saya aja, gimana, Bu?" tanya Natha.


"Kakak? Memangnya orang tuamu ke mana?" tanya Bu Sapnah balik.


Natha menggelengkan kepalanya. "Mamah kerja, hanya ada kakak saja," jawab Natha.


Bu Sapnah dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. "Ok, baiklah kalau begitu."


Kini semua siswi yang terlibat perkelahian itu sudah berada di ruang BK. Aksa yang tadi sempat menemani Natha pun sudah kembali ke kelasnya.


Bu Sapnah meminta semua siswa yang terlibat perkelahian untuk menghubungi orang tua mereka dan tidak butuh waktu lama, orang tua mereka pun berhadir di sana dengan hati yang sedikit kecewa.


Hanya Natha yang masih menunggu kedatangan Keenan. Sementara Lian, tidak mungkin bisa berhadir. Secara ia begitu sibuk dengan pekerjaannya.


Satu jam kemudian.


"Maaf, saya terlambat," Ujar Keenan ketika memasuki ruangan itu. Ia duduk di samping Natha dan mereka pun memulai perbincangan tersebut.

__ADS_1


"Maaf, sebelum nya kenapa jadi bisa berantem? Siapa yang memulai lebih dulu" tanya Bu Sapnah kepada enam anak murid itu.


"Nita, dia yang memulai. Saya punya rekamannya," Ujar Gabriella, lalu menyerahkan benda pipih itu kepada Sapnah. Mereka menonton video itu hingga selesai dan sekarang mereka sudah tahu siapa yang memulai perkelahian itu.


"Nita, kenapa kamu seperti itu? Ada masalah apa sama Natha?" tanya Bu Sapnah kepada Nita. Nita tidak menjawab pertanyaan sang guru, ia hanya menggelengkan kepalanya yang tertunduk menghadap lantai.


"Terus kenapa kamu ngatain Natha seperti itu?" tanya Bu Guru lagi dan Lagi-lagi Nita hanya menggeleng.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai membahas masalah perkelahian itu. Dan ya, Natha dan Nita mendapatkan hukuman karena sudah membuat keributan di sekolah. Hukumannya berupa skorsing selama satu minggu ini.


Natha dan Nita juga dipulangkan saat ini juga. Takutnya mereka akan mengulang kembali kejadian seperti itu. Mereka kembali ke kelas, Gabriella, Vio, Laura hanya bisa menatap Natha dengan tatapan sedih. Sementara gadis itu masih bisa menyunggingkan senyumannya sebelum ia pergi meninggalkan kelasnya tersebut.


Tiba-tiba Gibran datang. Ia yang tidak mengetahui hukuman apa yang didapatkan oleh Natha, segera bertanya.


"Mau ke mana Lo, Nat?"


Natha tak menjawab ia pergi meninggalkan teman-temannya di ruangan tersebut.


"Natha kenapa?" tanya Gibran lagi kepada Gabriella.


"Dia mendapatkan skorsing selama seminggu ini," jawab Gabriella. Gibran terdiam sambil menatap Natha yang semakin menjauh.


***


"Lo mau pulang bareng gue?" ajak Keenan.


"Terus, motor gue gimana?" tanya Natha balik dengan raut wajah yang masih cemberut.


"Titipin ke Cakra. Dia kan gak pake motor," ujar Keenan. Natha tak menjawab, tetapi ia berjalan lebih dulu ke kelas cakra.


"Cakra!" panggil Natha di depan kelas Cakra. Di kelas Cakra tidak ada guru pengajar. Mereka tengah menikmati jam kos. Di saat Natha memanggil Cakra, Cakra pun bergegas menghampiri Natha.


"Kenapa, Nath?" tanya Cakra dengan kebingungan.


"Nih!" Natha menyerahkan keyles motor miliknya dan meletakkannya ke tangan Cakra. Kemudian dengan cepat pergi meninggalkan ruangan itu. Cakra meraih kunci itu, lalu bertanya kepada Keenan yang datang mendekat.


"Apa ini, Keenan?"


"Bawa aja pulang motor Natha, terserah lo kapan mau balikin. Intinya, setelah satu minggu, harus sudah dikembalikan," ujar Keenan lalu pergi meninggalkan cakra dan menyusul Natha yang sudah pergi menjauh. Cakra masih terpaku melihat kunci motor milik Natha yang berada di genggamannya.


Natha sudah berada di mobil milik Keenan dan Keenan pun segera menyusul. Setelah itu, ia pun segera memacunya ke jalan raya, menuju kediaman mereka.

__ADS_1


"Gue bilang juga apa? Bisa mengerti atau gak sih?!" celetuk Keenan dalam hati.


"Andai lo diposisi gue, apakah lo bakal diemin orang yang ngatain seperti itu? Hah?!" Ujar Natha yang semakin kesal. Keenan tidak mengalihkan pandangannya dari jalan sementara Natha baru tersadar bahwa jalan yang mereka lewati, bukan jalan kembali menuju rumah.


"Woy, lo salah! Ini mau kemana?" Natha bertanya-tanya. Keenan tak menjawab, ia hanya melirik Natha sebentar, lalu mengalihkan pandangannya lagi agar tetap ke depan. Natha sangat kecapekan, ia menurunkan sedikit kursi mobil itu. Ia memejamkan matanya, tak berapa lama ia sudah terlelap, Keenan berhenti di pinggir jalan yang sepi, cuaca juga sedang hujan lebat.


Keenan menyalakan wiper kaca mobil, ia tetap berhenti, mungkin menunggu hujan agak sedikit reda. Keenan menatap Natha yang sedang tertidur nyenyak, ia sedikit kasian. Keenan memegang lengan Natha, dingin. Ia melepaskan hoodie miliknya yang berwarna hijau mint, lalu menutupi setengah badan Natha yang sedang tertidur. Ia juga meraih tas Natha yang berada di bawah lalu menaruhnya di belakang.


Keenan melihat hp milik Natha, lalu mengambil benda pipih itu dan membukanya. Ia juga tau sandi hp adik perempuannya itu, lalu membuka aplikasi whatsapp. Keenan mencari kontak papa mereka, tetapi tidak ada. Namun, ia berhasil menemukan kontak yang bernama kan '??' di kontak terblokir. Karena penasaran, Keenan melihat nomornya. Ternyata itu adalah nomor sang ayah. Natha memblokir nomor papanya sendiri, mungkin karena ia sudah sangat kecewa sama papanya.


Keenan mematikan hp tersebut. Ia menaruhnya samping tubuh Natha. Ia sekarang membuka ponselnya sendiri. membuka chat dari mama, membaca pesan nya.


[Kenapa? Natha kenapa? Mama aja yang ke sana, kamu mau jalan kan? Bentar lagi Mama otw.] Begitu isi pesan dari Lian. Keenan menelpon Lian dan segera diangkat oleh Lian.


Di telepon.


"Gak usah, Mah. Keenan udah ke sekolah Natha. Ini Natha sudah sama Keenan. Natha kena skors selama satu minggu, jadi dia bakal belajar di rumah," tutur Keenan.


"Ini, kalian di mana? Sudah di rumah? Di luar hujan," Ucap Lian.


"Masih di luar. Keenan berhenti dulu, hujan nya lebat banget, Ma.." Jawab Keenan.


"Emang Natha kenapa jadi sampe dipanggil dan diskors gitu?" Tanya Lian.


"Berantem. Udah ya ma, Keenan mau ngehubungin temen dulu." Jawab Keenan lalu memutuskan panggilannya.


"Jangan sampai kejadian gini terulang lagi, Natha." Ujar Keenan berbicara kepada Natha yang tengah tidur. Namun, tiba-tiba Natha menjawab ucapan Keenan.


"Maaf, Bang," Jawabnya dengan mata yang masih tertutup.


"Nath, lo udah bangun?" Tanya Keenan. Natha menganggukkan kepalanya, ia mengambil hoodie Keenan yang menyelimuti badannya lalu mengembalikannya kepada Keenan.


"Nih, makasih, dan maaf," Ujar Natha. Keenan tidak mengambil hoodie itu.


"Pake!" titah Keenan, Natha hanya mengangguk lalu memakai hoodi Keenan tadi.


"Maaf, ya, Bang. Gue dari dulu udah sabar nanggepin dia, tapi lama kelamaan malah bikin kesel. Tadi juga Natha antara sadar atau gak sama hal yang gue lakuin," Jelas Natha kepada Keenan.


"Yang penting, jangan diulang lagi. Gue gak mau hal hari ini terulang kembali." Jawab Keenan dengan tegas.


Natha memeluk badan Keenan dari samping, Keenan membalas pelukan dari Natha, Natha berada didekapan keenan. Natha semakin mempererat pelukan mereka,

__ADS_1


"Makasih, sekali lagi, Abang." Ujar Natha.


...*****...


__ADS_2