My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 59


__ADS_3

"Vio, ayo ke UKS, sekarang juga." ucap Natha dengan tegas, ia sedikit mendorong badan Gibran yang ada di hadapan Vio, membawa Vio perlahan. Baru saja ia hendak menuruni anak tangga, Vio sudah kehilangan kesadaran, dengan cepat Aksa mengangkat badan Vio dan membawanya turun ke bawah dengan tergesa-gesa. Mengapa Aksa? Karena Aksa berada di samping Natha, melihat Vio kehilangan kesadaran, ia dengan cepat mengangkatnya, lagipula mereka bersaudara.


Mereka sudah berada di dalam UKS, sembari menunggu ibu lily memeriksa Vio. Ibu Lily keluar dari UKS, dan sebelumnya ia sudah berkata kepada Natha, Vio terkena bola basket sangat kencang, jadi ia akan lama sadarnya.


Natha dan teman-temannya menunggu di UKS, tapi setelah itu bel berbunyi, jadi yang tersisa hanya ada Natha dan Aksa. Mereka menunggu Vio sadarkan diri, karena ibu Lily yang menyuruh untuk menjaga Vio dua orang.


Setelah satu jam Natha dan Aksa menunggu, akhirnya Vio sadarkan diri juga, Natha berdiri dari duduknya, mengambil obat dan segelas air putih di atas meja dekat lemari baju PMR, dan menyerahkannya kepada Vio.


"Minum, biar ngurangin sakitnya," ujar Natha, Vio mengangguk, ia mengambil obat dan segelas air putih di tangan Natha. Ia meminumnya, dan menyerahkan kembali gelas yang berisi air sisa ia minum tadi.


"Ay, aku ke kelas dulu ya, Gibran mau ke sini," ujar Aksa, tapi langkahnya terhenti di saat Vio menarik tangan Aksa, ia menggelangkan kepalanya.


"Tetap di sini, bilangin Gibran, gak perlu ke sini," ucapnya lirih,


"Kenapa?" tanya Natha, Vio berusaha mendudukkan dirinya, dibantu oleh Natha. Ia menggeleng,


"Jangan suruh dia ke sini, gue gak mau ketemu sama dia sementara waktu, bilangin dia, gue mau nenangin pikiran gue dulu, kalo pikiran gue udah tenang, baru gue bisa ketemu sama dia." jawab Vio, Aksa mengangguk, ia menchat Gibran untuk membilang semua apa yang di bilang oleh Vio tadi.


Sementara di dalam kelas, ada guru yang mengajar, Gibran meminta izin untuk ke toilet, dan di beri izin. Gibran jalan menuruni anak tangga, ia bukannya ke toilet, ia malah ke UKS.


"Ay...." panggi Gibran di ambang pintu UKS, Vio sudah bisa menebak dari suaranya, itu Gibran. Ia tak mau menengok ke arah Gibran,


"Vi aku-" belum sempat Gibran menyelesaikan, ucapannya lebih dulu di potong oleh Natha,


"Gibran! Dia gak mau ketemu lo dulu beberapa waktu, biarin dia buat nenangin pikirannya dulu." ucap Natha, Gibran mengangguk, sebelum keluar, ia melirik ke arah Vio, lalu berucap,


"Maaf...." ujarnya lalu pergi meninggalkan UKS.


"Vio, gue tinggal di sini dulu gak apa? Bentar doang, mau ke toilet," izin Natha, Vio mengangguk,


"Aksa, lo balik ke kelas aja, lo juga Ta, gue bisa sendiri kok di sini, gue udah lumayan juga." jawab Natha, Aksa mengangguk, dan Natha juga.


"Beneran gak apa kan?" tanya Natha memastikan, Vio lagi lagi mengangguk, Natha dan Aksa keluar dari UKS. Mereka berdua jalan bersama ke arah toilet, karena Aksa ingin mencuci wajahnya, sedangkan Natha, sebenarnya ia hanya mencuci tangannya.


Natha menyenderkan bokongnya di wastafel toilet sekolah, ia menatap wajah Aksa yang basah karena ia mencuci wajahnya.


"Apa liat liat? Ganteng kan? Ya iyalah, Aksa cowoknya Natha gitu loh," ujarnya dengan alis yang di turun naikkan, Natha yang melihat itu hanya mengerutkan alisnya.


"Emang aku nge-anggap kamu cowok aku? Perasaan enggak deh," jawabnya dengan nada sedikit mengejek,


"Ish, jahat, masa cowok sendiri gak di anggap," jawabnya lalu mengukung badan Natha, Natha terkekeh lalu mendorong badan Aksa hingga sedikit menjauh dari dirinya.


"Udah sana, balik ke dalam kelas," ujar Natha lalu berjalan mendahului Aksa. Aksa tersenyum lalu menyusul Natha yang berjalan mendahului dirinya. Mereka menaiki anak tangga, sesampainya di lantai atas, Aksa masuk ke dalam kelas begitu juga dengan Natha, mereka memasuki kelasnya masing masing.


Di dalam kelas Natha ternyata tak ada guru pengajar, Natha mendudukkan dirinya di tempatnya. Di samping tempatnya hanya ada kursi kosong dan tas milik Vio, Natha melihat ke arah belakang, terlihat Cakra dan Gibran. Gibran wajahnya yang di tekuk,


"Di tekuk mulu tuh wajah, tambah jelek muka lo," ejek Natha di akhiri kekehan,


"Gue mau keluar bentar," ujar Gibran, ia bangkit dari duduknya, lalu pergi keluar kelas.

__ADS_1


"Kenapa tuh?" tanya Cakra kepada Natha,


"Lah, lo nanya sama gue yang baru masuk? Gak kebalik? Seharusnya gue lah yang nanya lu!" jawab Natha, Cakra terkekeh mendengar jawaban dari Natha,


"Oh iya, gimana Vio?" tanya Cakra,


"Aman kok aman, dia cuman mau sendiri dulu katanya," jawab Natha.


***


//pulang sekolah//


Semua murid sudah pulang ke rumah, tapi tidak dengan Natha dan teman temannya. Mereka berkumpul dulu di taman yang tak jauh dari sekolah,


"Gue, balik duluan aja ya? Soalnya kepala gue masih agak pusing." ujar Vio, Gibran ingin menyusul Vio, tapi tangannya di tarik oleh Aksa.


"Jangan bikin dia tambah badmood," ujar Aksa, Gibran mengangguk, lalu berucap kepada Vio,


"Maaf dan....Hati-hati" ucap Gibran, ucapan Gibran didengar oleh Vio, tetapi dirinya hanya pura pura tidak mendengar, lalu pergi begitu saja. Vio pulang menggunakan taksi online yang di pesannya sejak awal pulang sekolah tadi, tanpa di ketahui teman temannya.


"Bentar, gercep amat tu taksi, mesan dari awal kah?" sadar Laura,


"Iya, kayaknya," jawab Natha, dan diangguki oleh Aksa.


"Gue, pulang duluan ya, maaf," ujar Gibran, lalu ia menaiki motornya dan pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan teman temannya.


"Heh, mau kemana lo, Gib?" tanya Laura


"Biarin aja, mungkin dia lagi ngerasa bersalah atas kejadian tadi, dan mungkin dia lagi mikirin cara agar Vio maafin dia. Udahlah, beri mereka berdua waktu untuk sendiri sendiri buat mikirin keputusan yang tepat. Kadang kita juga butuh waktu untuk sendiri kan?" jawab Natha, teman temannya hanya membalas anggukan dan senyuman.


"Nah, gitu dong. Udah, dari pada sedih sedih, mending kita beli bakso di warung pak Mamat aja, gimana?" tanya Natha,


"Lo mau bayarin gak nih?" tanya Laura juga,


"Hadeh, ya udah deh, kali ini gue yang traktir kalian. Dah ayo, gas," jawab Natha,


"Gas, nguengg" jawab teman trmannya sembari tertawa bahagia. Seperti biasa, mereka berboncengan dengan pasangan masing-masing. Mereka melajukan motornya ke arah warung pak Mamat yang ada di sekitar sekolah juga, mereka biasanya setiap pulang sekolah sering mampir di warung itu, karena bakso pak Mamat itu adalah bakso langganan Natha. Bahkan dulu di saat ia SMP, ia sering ke warung itu seorang diri, karena dahulukan, Aksa tidak terlalu dekat dengan Natha.


Mereka sekarang berada di warung itu, Natha memesan kepada istri pak Mamat, Ibu Lilis. Tapi sebelumnya Natha bertanya dulu kepada teman temannya, apa yang mereka inginkan,


"Eh, lo pada mau apa?" tanya Natha, karena di sana hanya ada mie ayam sama bakso.


"Gue mie ayam," jawab Laura,


"Siapa lagi yang mie ayam?" tanya Natha lagi, dua orang temannya mengangkat tangannya, Gabriella dan Rafa,


"Berarti Cakra sama Aksa bakso?" tanya Natha, mereka mengangguk.


"Oh, iya, minumannya, mau apa?" tanya Natha, lagi.

__ADS_1


"Gue es jeruk peras aja," jawab Laura


"Gue samain, sama Laura aja," jawab Gabriella, Cakra dan Rafa.


"Aku samain, sama kamu aja, ay" jawab Aksa,


"Aku es sirup, mau emang?" tanya Natha kepada Aksa, ia pun mengangguk. Natha berjalan menghampiri bu Lilis,


"Bu, Natha pesan mie ayamnya tiga, baksonya tiga," ujar Natha,


"Minumnya apa, nak Natha?" tanya bu Lilis,


"Es jeruk perasnya empat, dan es sirupnya dua," jawab Natha,


"Ya sudah, tunggu dulu ya nak," ujar Bu Lilis, Natha mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka datang.


Beberapa menit kemudian, pesanan Mie Ayam sudah tiba, yang mengantar pesanan adalah bu Ningsih, bekerja sebagai pengantar pesanan dan juga membuatkan minuman yang dipesan.


"Ini mie ayamnya, baksonya belum, tunggu ya neng," ujar Bu Ningsih, Natha mengangguk,


Setelah sekian lama mereka menunggu, akhirnya pesanan mereka semua sudah tiba, minumannya juga sudah tiba. Mereka memakan Mienya,


***


Mereka semua sudah menghabiskan makanannya, Natha menanyakan berapa jumlah semuanya kepada Bu Lilis.


"Bu, berapa semua?" tanya Natha,


"Tadi, mie ayamnya tiga, baksonya tiga, es jeruk empat, sama es sirup dua ya? Ada tambahan?" tanya sekaligus jawab bu Lilis,


"Ada, sama itu tadi mereka ngambil kerupuk dua bungkus," jawab Natha, Bu Lilis mengangguk,


"Pas, seratus ribu, Nak," jawab Bu Lilis, Natha mengambil uang di dompetnya, mengambil uang satu lembar, lalu menyerahkan kepada Bu Lilis,


"Makasih, ya bu," ujar Natha,


"Iya, sama sama nak," jawab Bu Lilis. Trman temannya sudah berada di atas motor, Natha menyusul Aksa lalu menaiki motornya. Mereka pulang ke arah yang berbeda-beda, mereka tidak membayar parkir karena di tempat Pak Mamat parkirnya gratis. Natha memencar dengan teman temannya, Aksa meminta Natha untuk menemanin dirinya pergi ke toko peralatan sekolah.


Sesampainya di toko peralatan sekolah, Natha melepaskan helmnya, lalu menaruhnya di motor Aksa, begitu juga dengan Aksa.


"Mau beli apa, ay?" tanya Natha,


"Entah, liat aja di dalam, soalnya aku juga bingung mau beliin apa," jawab Aksa,


"Emang mau beli buat siapa?" tanya Natha lagi,


"Buka keponakan aku, Rasya, besok dia ulang tahun," jawab Aksa, Natha mengangguk, ia mendorong pintu toko itu, lalu masuk.


Mereka sedang memilih milih, kado apa yang pas buat dia, soalnya Rasya keponakan Aksa itu, sudah kelas dua SD, jadi Natha mempunyai ide, lebih baik membelikan dia tas, atau sepatu? Kan sebentar lagi juga bakalan naik ke kelas tiga.

__ADS_1


"Ay, beli tas, atau sepatu, tuh, cocok buat dia."


...***...


__ADS_2