
"Ganteng banget sih." orang itu tak lain ialah Eve, ia sekarang sedang berdiri di depan meja Aksa,
"Mau ikut dong, kayaknya seru deh main game bareng kalian," ujarnya, bahkan di saat ia sudah di ancam oleh Aksa, ia tak mau perduli dan tak mau menuruti. Dia tidak tahu, jika Laura sedang menahan emosinya, siapa yang tidak emosi, pacarnya di ganggu oleh wanita lain?
"Rafa, aku mau ik-" belum sempat menyelesaikan, ucapannya terlebih dahulu di potong oleh Rafa, ia berdiri dari duduknya. Ia tidak peduli jika gamenya kalah, asal wanita di depannya ini menjauh dari hadapannya.
"Gak usah sok akrab, kita gak kenal. Jangan pernah bilang ke semua orang, bahwa kita ber sepupuan. Gue gak mau semua orang tau, dan juga gue minta, agar lo tidak dekat dekat dengan gue, anggap saja kita tidak kenal satu sama lain." ucap Rafa dengan tegas, ia meraih hpnya yang ia taruh di atas meja, dan berjalan menarik lengan Aksa agar menjauh dari gadis itu.
"Kamu jahat!" teriaknya menjadi pusat perhatian di kelas ini, semua mata tertuju pada Rafa dan Eve, anak murid baru di kelas ini.
"Aku juga mau bahagia, kebahagiaan ku selalu di rebut oleh orang orang jahat. Aku gak suka lihat orang lain bahagia sedangkan diriku tidak, dan aku juga gak suka jika kamu selalu menghindari aku dan selalu gak mau ngaku kalo kita se-" terpotong lagi, dan lagi.
"EVELIN!" teriak Rafa, ia sangat marah, bahkan kini wajahnya memerah, ia mulai terpancing emosi. Laura bergegas menarik lengan Rafa agar tidak membuat keributan, ia menarik lengan Rafa agar keluar dari kelas.
'Gue akan bikin lo dan teman teman lo di benci oleh semua orang, Rafa.' batin Eve, ia sekarang berpura pura menangis agar di kasihani oleh semua temannya di kelas.
Gabriella yang melihat Eve menangis, ia berdiri dari duduknya. Apakah dia ingin menenangkan Eve?
Ia menarik lengan Aksa agar keluar juga dari kelas ini. Ternyata salah, kirain Gabriella bakal mengasihani Eve, ternyata tidak.
"Mau kemana?" tanya Aksa yang ditarik tarik oleh Gabriella, ia tidak menjawab, Aksa yang pasrah hanya mengikuti kemana Gabriella membawanya. Ternyata mereka ke rooftop sekolah, yang di sana sudah terdapat Laura dengan Rafa, Gibran, dan Cakra.
"Loh, lo berdua bolos?" tanya Aksa,
"Males, kimia bikin pusing," jawab Gibran,
"Terus, cewe gue sama Vio mana?" tanya Aksa lagi dan lagi.
"Katanya mau otw ke sini, sekalian di mau ngomongin sesuatu, maybe," jawab Laura, benar saja, Natha datang dengan Vio,
"Ay, jangan ngebolos, balik ke kelas aja, nanti istirahat baru ke sini lagi," ujar Aksa mendekatkan dirinya ke Natha, mengelus rambut Natha dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Gak, aku ke sini cuman mau nanyain sesuatu ke Laura, terus nanti balik ke kelas kok," jawab Natha,
"Oh iya, mau nanyain apa?" tanya Laura,
"Yang di wa tadi, itu chat dari lo?" Laura bingung dengan perkataan Natha, sejak kapan ia mencaht Natha, perasaan gak ada, tadi hp nya juga cuman di Rafa, mungkin Rafa.
__ADS_1
"Enggak, gue gak tau, gue gak megang hp," jawab Laura,
"Gue yang ngechat lo," sela Rafa di pembicaraan mereka berdua,
"Ngechat apaan lo sama cewe gue?" tanya Aksa, dengan nada santai,
"Gue cuman ngechat, jangan pernah dekat dengan Eve, beteman pun jangan, gue cuman mau ngasih tau itu," ujarnya,
"Emang kenapa sih? Lagian kan kalo dia baik sama kita, kita juga harus balas kebaikan dia?" jawab Natha,
"Lo mau pertemanan kita hancur gitu aja sama dia?" tanya Rafa lagi,
"Enggak, tapi gue bisa yakinin kalo dia orang baik, ya kan, Vi?" ujar Natha lalu memanggil Vio,
"Yaps," jawab Vio,
"Apa apain sih lo berdua, gue bilang jangan, ya jangan. Gue gak suka, gue takut kehilangan lo semua, lo semua udah gue jadiin rumah. Jangan sampai kita runtuh di tangan dia, gue gak mau itu terjadi, jadi jangan berteman sama dia ya..." jelas Rafa dengan ucapan kirih di akhiran,
"Iya iya, enggak akan kok, kita semua gak bakalan runtuh jika kita satu sama lain menjaga pertemanan. Jika hanya satu orang salah, semua harus di perbaiki hingga benar benar selesai, jangan ngambil keputusan dengan gegabah. Kita bisa selesain semuanya kok." jawab Natha, bahkan tanpa di sadari, mereka sedang di intip oleh seseorang.
"Ya udah, gue berdua balik ke kelas dulu, takut di marahin pak Bimo nanti, haha!" ujarnya lalu Natha dan Vio kembali ke kelas mereka, setelah masuk kelas tak lupa ia permisi kepada guru pengajar di kelas itu.
"Tadi si Adanya Cakra di luar toilet pak, tadi saya tanyain, katanya nungguin Gibran lagi BAB pak," jawab Natha berbohong.
"Ya sudah silahkan duduk," ujar pak Bimo, untung saja pak Bimo percaya.
Natha sedang mencari sesuatu di saku baju sekolanya, ia ribet sendiri, mencari di bawah kolong meja, di tas, tidak ada.
"Nyari apaan?" tanya Vio,
"Hp gue, di mana ya? Aduh, gue lupa lagi, perasaan tadi gue taruh di kolong meja deh, kok gak ada," jawabnya, ia tidak diam sama sekali, ia mencari di kolong meja belakang tempat dua teman cowoknya.
"Lo inget inget deh, di mana lo naruh hp?" tanya Vio, bel berbunyi pertanda pelajaran pak Bimo telah habis. Sekarang penggantian jam, pelajaran sejarah, guru mapel tidak masuk, tapi di beri tugas oleh guru mapel sejarah.
"Beneran deh, gue naruh di kolong meja, masa gak ada, siapa yang ambil?" jawabnya dengan nada frustasi, ia bingung harus nyari ke mana, ia tidak takut untuk kehilangan hpnya, tapi ia hanya takut kehilangan gambar gambar di hp itu, yang banyak dengan foto dirinya di saat kecil bersama Keenan dan kedua orang tuanya. Masih banyak lagi, berkas berkas pelajaran di dalam memo hpnya, dan semua kenangan di dalam memori hpnya itu.
"Nyari apaan ta?" tanya Saddam yang berada di samping diri-Nya, tempat duduk Saddam hanya bersampingan dengan Natha,
__ADS_1
"Ah, iya, Dam, lo liat hp gue gak?" tanya Natha, semoga Saddam melihat di mana honya berada.
"Tadi si, gue lihat ada cewek yang duduk di temapt lo, cuman gue gak tau orangnya, soalnya gue pas bangun tidur, jadi agak buram." jawab Saddam,
"Aishh, oke, makasih ya Dam," ujar Natha, ia berjalan ke luar kelas tanpa memperdulikan Vio yang sedari tadi memanggilnya.
"Alah sialan, di tinggalin gue," ujar Vio lalu berjalan menyusul Natha keluar kelas.
"Hayo, mau kemana???" ujar Aksa yang menghalangi jalan Natha, Natha yang lelah pun memeluk badan Aksa, Aksa hanya membalas pelukannya sembari mengelus surai lembut Natha.
"Kenapa?" tanya Aksa kepada Vio yang menyusul Natha,
"Hp Natha, ilang, gak tau siapa yang ambil, katanya tadi di taruh di kolong meja," jawab Vio,
"Nah kan, kata ku, jangan naruh barang barang mahal di kolong meja, di kelas banyak setannya, terus sekarang mau nyari di mana?" tanya Aksa kepada Natha yang masih setia memeluk tubuhnya.
"Maaf....aku gak tau bakal kayak gini, kan tadi juga bentaran doang di tinggalnya, di kelas juga ada pak Bimo, asli, aku gak abis pikir sama yang nyuri, perasaan horang kaya semua yang sekolah di sini kok malah ngambil hp aku...." jelasnya dengan penuh isakan, mereka bergeser untuk duduk di kursi yang berada di koridor sekolah.
"Natha!" panggil seseorang dengan setengah berteriak, dari suaranya sih, cowok. Natha mencari suara yang memanggilnya,
"Ta, gue tau sebenarnya siapa yang ambil hp lo, tadi gue cuman boong, supaya dia gak curiga." ujar Saddam, ya, Saddam lah yang berteriak memanggil Natha.
"Loh, siapa?" tanya Natha, ia kembali berdiri, menghapus bekas air matanya yang terjatuh dari pelupuk mata.
"Dera, tadi gue emang beneran tidur, cuman gara gara liat Dera yang duduk di tempat lo sambil nyari sesuatu, gue kembali meremin mata gue, tapi sambil ngintip. Terus gue gak sengaja ngegerakin kepala gue, dia kelihatan panik gitu, dan naruh hp lo di sakunya. Dia balik duduk di kursinya, mending sekarang lo samperin Dera, tu orang gak bakal berani kalo gak ada Nuta sama Raya." jelas Saddam panjang kali lebar, Natha menganggukkan kepalanya. Ia berlari lari kembali ke kelasnya tanpa berucap kata kepada Aksa, Aksa juga tak ingin mengganggu kekasihnya, ia hanya ikut menyusul dengan Vio dan Saddam.
Sesampainya Natha di kelas, di kelas tak ada guru, di kelas juga banyak yang main game, dan pas banget, Dera ada di kelas. Natha menghampiri Dera, menepuk meja Dera hingga membuat suara yang menjadi perhatian semua orang di dalam kelas. Yang awalnya ribut sekarang hening,
"Jujur ga lo!" ujar Natha dengan wajah yang di selimuti emosi,
"Apa maksud lo?" jawab Dera, terpampang jelas, raut wajahnya seperti orang panik,
"Hp gue, lo yang ambil kan? Ngaku gak lo!" ujarnya,
"Gak, kalo gak ada bukti, lo gak bisa nuduh yang enggak enggak." jawab Dera,
"Oh ya? Gue ounya bukti, lo mau bukti? Sekarang lo berdiri, dan taruh hp lo di atas meja!" kesalnya dengan suara yang hampir mengamuk, Dera pun berdiri, menaruh Hpnya di atas meja, sama seperti yang di perintahkan Natha. Ia mencari di kolong meja Dera, dan juga tas Dera, ternyata tidak ada, tapi, Natha tidak semudah itu untuk di tipu. Ia juga menyuruh Nana untuk berdiri,
__ADS_1
"Aku gak ngambil hp kamu ta, kamu nuduh aku?" tanya Nana, Natha menggeleng, Nana juga berdiri di samping Dera. Dia mencari di Tas Nana, tapi ia minta izin dulu kepada Nana dan di beri izin, tidak ada hpnya didalam tas Nana. Natha melihat ke kolong meja Nana, dan.....
...*****...