
Pagi hari seperti biasa, Natha akan bersiap untuk pergi ke sekolahnya, hari ini nampak berbeda. Ia sedang gugup untuk melaksanakan Ujian pada hari ini, selesai sarapan ia langsung di antar oleh Mama Lian.
"Semangat ya sayang, kamu pasti bisa jawab semua soalnya. Anak Mama kan, pinter, Mama pamit mau ke kantor yaa, semangat sayang!" ucap Mama Lian mengecup jidat Natha, Natha tersenyum lalu turun dari mobil sambil melambaikan tangannya ke arah mobil Mama yang sudah berlalu.
Ia sudah sampai di sekolah. Hanya ada siswa siswi kelas 12 yang berlalu lalang di Koridor sekolah. Mereka tidak bisa masuk ke dalam kelas karena kelas masih di kunci, kelas di buka pada saat bel berbunyi dan pengawas datang.
Natha menghela nafasnya dengan berat, ia melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah, ia hanya pulpen, pensil dan tanda pengenal.
Natha menunggu tepat di depan ruangannya. Ia mendapatkan ruang 4 yang di dalamnya percampuran murid kelas IPS 2 dan IPS 3. Natha menunggu duduk di depan, Teman-teman nya tidak ada di depan ruangan itu padahal mereka satu ruangan.
"Jem, Vio, Cakra sama Gibran udah datang, belum?" tanya Natha kepada Jema. "Udah Ta, tadi mereka ke kantin, katanya mau beli air mineral." jawab Jema, Natha mengangguk.
"Oh, oke. Makasih." jawab Natha, Jema hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Natha tidak ingin menyusul teman-teman nya yang berada di kantin, ia ingin duduk saja di depan ruangan sambil membaca baca file yang ia buat pada malam hari tadi, mengenai pembelajaran ujiannya.
"yang lain mana?" tanya Aksa yang baru saja datang. Natha menatap ke arah Aksa, "Kantin mereka." jawab Natha setelah itu kembali fokus ke arah handphone nya. Aksa ikut duduk di samping Natha, Aksa satu ruangan dengan Natha, sedangkan Natha dan Vio tidak satu ruangan dengan Cakra dan Gibran.
Teng! Teng! Teng!
Bel berbunyi, mereka berdiri di depan sesuai dengan ruangan masing-masing. Menunggu pengawas ruangan datang membuka pintu ruangan dan membagikan kertas lembar ujian.
Mereka telah masuk, mereka mencari meja masing-masing sesuai dengan nomor di tanda pengenal, Natha mendapatkan tempat duduk di paling belakang pojok, Vio didepan Natha, di depan Vio ada Nana dan di paling depan lagi ada Naima kelas IPS 3.
Di samping Natha ada Rafa, di depan Rafa ada Aksa, di depan Aksa ada Laura dan di depan Laura ada Gabriella paling depan. Bangku lainnya masih banyak di tempati oleh teman lainnya, mereka tempat duduknya berjarak yang lumayan bisa muat dengan satu meja lagi.
Handphone di serahkan kepada pengawas ruangan agar tidak ada yang curang membuka handphone di saat menjawab soal.
__ADS_1
Mereka berdoa semoga ujian hari ini bisa lancar, guru pengawas membagikan kertas selembar ujian lalu membagikan soalnya. Mereka mulai mengerjakan ujian itu, mereka di beri waktu selama 75 menit untuk menyelesaikan soal ujian tersebut.
Sekolah itu terasa hening, Baru pertama ujian sudah mendapatkan mapel bahasa Inggris, Natha sangat berpikir keras, semua yang ia pelajari sama dengan di soal, tapi, soal itu di acak agar tak teratur dengan soal yang di pelajari Natha malam tadi.
Ia menjawab yang ia bisa, banyak yang telah ia lewatkan soalnya.
Tak terasa mereka sudah melewati 35 menit, Natha masih bisa menjawab 25 soal, maih ada 20 soal lagi.
***
"Waktu tersisa lima belas menit lagi." ucap guru dari pengeras suara, waktu mereka tinggal lima belas menit, Natha hanya tersisa lima soal lagi. Ia menjawab dengan kemampuannya sendiri.
Natha selesai. Ia akhirnya lega, waktu tersisa lima menit.
Teng! Teng! Teng! Teng!
"Natha, pulang sama siapa?" tanya Aksa kepada Natha, Natha menghadap ke belakang untuk melihat ke arah sumber suara.
"Oh, gue di jemput, kenapa?" tanya Natha, Aksa menggeleng. "Udah ada yang jemput?" tanya Aksa kembali, Natha mengangguk.
"Oh, kirain belum ada yang jemput, ya udah. Barengan ke bawah aja, mau ngajak pulang bareng tadi." ucap Aksa, Natha hanya mengangguk mengiyakan ajakan Aksa.
Mereka berempat berbarengan pergi ke bawah, Natha, Aksa, Rafa dan Laura, yang lain sudah keluar lebih dulu dari pada mereka berempat.
Natha dan yang lain sudah tiba di parkiran, Natha mendapatkan telepon dari sang Papa. Natha dengan cepat mengangkat telepon itu,
__ADS_1
"Iya pa? Sudah di depan?" tanya Natha berbicara pelan tapi masih bisa di dengar oleh teman-temannya.
"Iya, ini papa di dekat gerbang, yaa..." jawab Papa, Natha meng iyakan llu memutuskan sambungan teleponnya.
"Gue duluan ya, udah di tungguin, Hati-hati kalian!" ucap Natha melambai ke tiga temannya mereka membalas lambaian tangan Natha.
"Ya! Hati-hati!" jawab mereka. "Natha di jemput papanya? Udah baikan ya?" ucap Laura yang bisa mendengar ucapan Natha tadi di telpon.
"Bagus deh, ya udah, mending kita pulang juga." jawab Rafa, mereka mengangguk. Mereka pulang menggunakan motor masing-masing.
"Udah lama, pa?" tanya Natha memasuki mobil sang Papa. "Enggak, baru aja. Gimana ujiannya? Susah?" tanya Papa sekaligus menjawab.
"Lumayan, pa. Gak semua yang Natha pelajari tadi malam masuk di soal ujian tadi." jawab Natha.
"Oke, sekarang kita mau kemana ini? Adek mau kemana?" tanya Papa Leo
"Ke mall pa? Mau beli baju, hehe" jawab Natha dengan tertawa kecil. Papa Leo mengangguk sembari menyetir dan tangan kirinya mengelus kepala Natha dengan lembut.
"Okee adekk..." mereka langsung saja pergi ke mall yang sering Natha kunjungi bersama teman atau bersama Keenan.
Sesampainya di mall, mereka langsung saja memarkirkan mobil lalu masuk ke mallnya. Mereka berjalan jalan di dalam mall, Natha sangat senang. Papa dan anak itu ber singgah di penjual parfum, baju, sepatu sendal, tas, dan banyak lagi. Hingga mereka sudah melewatkan satu jam dengan berbelanja.
Mereka memutuskan makan dulu sebelum mengantar Natha pulang ke rumah. Jika bisa, Papa Leo ingin menyuruh Natha menginap di rumahnya, barangkali satu minggu saja. Tapi ia tidak yakin Mama Lian akan mau melepaskan Natha untuk menginap di rumahnya selama satu minggu.
"Adek mau apa? Pesan aja sesuka adek." ucap Papa Leo, Natha mengangguk. Ia sebenarnya tidak enak, dari parfum, baju, tas, sepatu dan lainnya sudah di bayarkan. Tapi kata Papa Leo.
__ADS_1
"Tidak apa, emang tugas Papa untuk membelanjakan anaknya, sekalian sebagai permintaan maaf papa dulu pernah meninggalkan kalian ya..." begitu ucap Papa Leo yang membuat Natha terharu.
***