My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 14


__ADS_3

Kembali ke Natha dan Keenan.


"Nat," panggil Keenan dengan tatapan yang masih fokus ke depan. Di mana jalan membentang di hadapannya.


"Ya?" Natha menoleh lalu menatap kakak lelakinya itu dengan raut wajah bingung.


"Mau ke Mall dulu, gak?" tanya Keenan kepada Natha.


"Hah? Dengan pakaian yang kayak gini? Gak deh, terima kasih," jawab Natha, menolak dengan tegas ajakan Keenan.


"Ya udah, kita balik dulu dan pakaian," kata Keenan lagi.


"Gak deh, Bang. Besok aja, ya?" sahut Natha.


"Oke lah kalau begitu. Jadi, ini kita langsung pulang aja atau ada yang pengen dibeli dulu?" tanya Keenan lagi.


"Ga ada. Eh, bentar! Kita mampir ke toko buku dulu, gue mau nyari buku komik, hehe," jawab Natha sambil terkekeh.


"Ya, udah kalo begitu." Keenan pun segera melajukan mobilnya menuju toko buku terdekat yang masih buka.


Beberapa menit kemudian.


Mereka tiba di depan sebuah toko buku. Setelah memarkirkan mobilnya, Keenan dan Natha pun segera masuk lalu mencari buku yang ia inginkan.


"Bang, ini bagus gak? Tapi mahal, sih." Natha memperlihatkan sebuah buku komik kesukaannya kepada Keenan.


"Bagus, ambil aja, nanti gue yang bayarin," jawab Keenan.


"Beneran? Aaaakh! Thank you, Abangku yang ganteng! Thank you," ucap Natha dengan begitu semringah.


"Giliran gini aja, gue dibilang ganteng," gerutu Keenan.


Natha terkekeh.


Natha mengambil tiga buah buku lalu membawanya ke kasir. Setelah selesai membayar buku-buku tersebut, mereka pun bergegas untuk pulang ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul 09:15.


Natha dan Keenan sudah tiba di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun segera masuk. Ternyata masih tidak ada siapa-siapa di sana. Baik Lian maupun Gabriela masih belum pulang. Natha membuka ponselnya lalu melihat sebuah notif pesan dari Gabriela.


[Nanat, mungkin gue baliknya sekitar jam 10-an lewat lah. Gue mau ketemu ayang dulu, hehe.]


"Halah, ayang-ayang! Putus, nangis," gerutu Natha tanpa sadar. Keenan yang masih berjalan di depan Natha, segera berpaling lalu menatap gadis itu.


"Ayang?" tanya Keenan kepada Natha dengan raut wajah yang bingung.


"Hah, enggak. Ini pesan dari Gabriela. Bukan gue kok, Bang," jawab Natha sedikit panik.


"Awas lo kalau ketauan gue pacaran lagi."


"Iya, iyaa, emang gue pernah pacaran tanpa bilang ke elo?" tanya Natha balik


"Siapa tau. Ya udah, sana ganti baju. Terus tidur," perintah Keenan kepada adik perempuannya itu.


"Iya, good night, Abang. Makasih ya bukunya!" ujar Natha, tersenyum bahagia kepada Keenan. Keenan balas tersenyum lalu kembali melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


Setibanya di kamar, Natha bergegas mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang berwarna biru, lengan pendek dan celana pendek. Natha membaringkan tubuhnya ke kasur lalu membuka hp miliknya. Membuka sebuah aplikasi berwarna hitam, yang begitu digemari oleh kalangan muda, yaitu tiktok.


Beberapa menit kemudian, bel rumah miliknya berbunyi. Ia bergegas bangkit lalu berjalan menghampiri pintu. Namun, tiba-tiba ia berhenti dan memilih melihat dari balkon.


Ternyata Keenan sudah lebih dulu ke sana dan membuka pintu utama. Tampak Gabriella berdiri di depan pintu. Natha memperhatikannya dari atas dan ia masih bisa mendengar pembicaraan dari kedua orang itu dengan cukup jelas


"Masuklah, mungkin Natha-nya udah tidur," ujar Keenan sembari membuka pintu lebih lebar untuk Gabriella.


"Iya, Bang, makasih." Gabriella lalu bergegas pergi, menaiki anak tangga dan menuju kamar milik Natha. Setibanya di sana, ia melihat Natha tengah berdiri di balkon sambil tersenyum ke arahnya.


"Lah? Gue pikir lo udah tidur," ujar Gabriella sembari menghampiri gadis itu.


"Gue gak bisa tidur, Gab," kata Natha. "Sana! Ganti baju lo, gue mau ke bawah dulu bentar," lanjutnya.


"Oke!" Laura pun mengganti bajunya.


Sementara itu, di ruang televisi.


"Bang, gue...." Perkataan Natha tiba-tiba dipotong oleh Keenan.


"Tidur, besok sekolah, Natha." Keenan menatap wajah Natha dengan begitu serius.


"Gue gak bisa tidur, Bang! Kalo gue bisa tidur, udah tidur duluan dari tadi," jawab Natha sambil menekuk wajahnya.


"Ya udah, sini."


Keenan paham. Ia menyuruh Natha untuk berbaring di sofa lalu meletakkan kepala gadis itu di pahanya. Sementara Natha mencoba memejamkan matanya, Keenan mengelus lembut puncak kepala gadis itu hingga Natha benar-benar tertidur pulas.


Keenan menurunkan kepala Natha kemudian meletakkan bantal sofa untuk menggantikan pahanya. Ia tidak tega melihat wajah adik perempuannya yang seperti orang kecapekan.


"Nat, gue—" Gabriella yang tengah berjalan menuruni anak tangga, langsung terdiam setelah melihat Natha yang sudah tertidur. Keenan memberi isyarat bibir agar Gabriella tidak berisik dan Gabriella pun mengangguk tanda mengerti.


"Bukain pintu kamarnya, gue mau bawa Natha kembali ke kamarnya," ujar Keenan kepada Gabriella dengan setengah berbisik.


Gabriella mengangguk. Ia kembali ke atas lalu membuka pintu kamar. Sementara Keenan perlahan-lahan mengangkat tubuh Natha dan membawanya ke atas. Sesampainya di ruangan itu, Keenan segera merebahkan tubuh Natha di kasur lalu menyelimutinya. Setelah memastikan adik perempuannya tertidur nyenyak, Keenan pun pamit lalu kembali ke kamarnya.


"Busyet, seperhatian itu abang lo! Jadi pengen punya Abang deh gue," gumam Gabriella sambil tersenyum menatap wajah Natha yang tengah terbuai mimpi.


"Lah? Ini gue ngapain bicara sendiri? Aduh, udah deh gue pengen tidur." Gabriella berbaring di samping Natha lalu memejamkan matanya.


Keesokan harinya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06:12 yang berarti hari sudah pagi. Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah kamar hingga membuat Natha terbangun karenanya.


"Gab, hey, bangun!" Natha menggoyang-goyangkan tubuh Gabriella pelan dan akhirnya berhasil membangunkan gadis itu dari tidur nyenyaknya. Gabriella lalu duduk di tepian tempat tidur sambil mengucek matanya pelan.


"Udah jam berapa sekarang?" gumamnya yang masih ngantuk.


"Noh, lihat aja sendiri. Gue mau ke bawah, lo mandi aja duluan. Lo bawa baju seragam 'kan?" tanya Natha kemudian.


"Iya, bawa. Ya udah deh, gue mau mandi dulu." Perlahan Gabriella menginjakkan kakinya ke lantai, meraih sendal bulu-bulu milik Natha lalu melangkah menuju kamar mandi.


Sementara Natha sudah pergi dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Di mana Lian tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka nantinya.

__ADS_1


"Eh, Dek, mau ke mana?" tanya Lian dengan wajah heran menatap Natha yang kini berjalan ke arahnya.


"Mau mandi," jawab Natha dengan singkat, lalu melewati Lian begitu saja.


"Natha kenapa? Kenapa malah mandi di sini?" gumam Lian, bermonolog. Ia melirik Natha memasuki kamar mandi yang berada di samping ruang makan.


"Ada-ada aja si Natha ini," gumamnya lagi sambil tersenyum tipis. Ia pun kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.


Tak beberapa lama, Gabriella keluar dari kamar Natha dengan pakaian lengkap dan sudah terlihat rapi. Gadis itu berjalan menghampiri dapur dan terlihat Bu Lian sedang sibuk mempersiapkan sarapan.


"Tante, Natha-nya mana, ya?" tanya Gabriella kepada Lian.


"Eh, ada Gabriella ternyata." Wanita itu tersenyum. "Itu, dia lagi mandi," jawabnya.


"Oh." Gabriella mengangguk paham.


"Duduk sini, Gab! Biar kita makan bareng," ucap Lian sembari menepuk kursi kosong yang ada di samping tubuhnya. Gabriella pun mengangguk sambil tersenyum.


Lian memang sudah lama mengenal sosok Gabriella. Gadis itu sudah berteman dengan Natha sejak SMP, begitu pula Laura. Tak berselang lama, Natha keluar dari kamar mandi. Ia masih menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit di kepalanya.


"Nak, makan dulu. Sekalian panggilin abang juga." Lian menyuruh Natha.


Natha hanya mengangguk lalu berjalan menaiki anak tangga, berjalan menuju kamar Keenan yang sedikit lebih jauh dari kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Keenan lalu memanggil kakak lelakinya itu.


"Bang, sarapan!" panggilnya dengan setengah berteriak.


Setelah mengucapkan hal itu, ia pun segera kembali ke kamarnya. Mengeringkan rambut lalu mengenakan seragam sekolahnya.


Beberapa menit kemudian.


Natha sudah rapi dengan tas ransel yang berada di pundaknya. Menuruni tangga lalu mendudukkan dirinya di samping Gabriella.


Ia memulai sarapannya tanpa berbincang atau berbasa-basi kepada Lian maupun Keenan. Gabriella tampak bingung, tetapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh. Setelah beberapa saat kemudian, sarapan mereka pun selesai.


"Tante, saya berangkat dulu, ya. Makasih banyak, Tante," ucap Gabriella sembari bersalaman kepada Lian.


"Ma, Keenan berangkat dulu." Keenan pun ikut bersalaman lalu pergi berangkat ke kampus.


Hari ini Keenan ada jadwal kelas pagi. Sementara Natha hanya bersalaman tanpa berbicara apa pun kepada Lian. Gabriella menatap wajah Lian yang tampak sendu dan ia merasa tidak tega.


Gabriella menepuk pundak Natha.


"Apa?"


"Bukan apa-apa," jawab Gabriella.


Natha mengernyitkan keningnya dengan wajah heran menatap Gabriella. "Aneh," gumamnya.


"Hati hati, ya. Jangan ngebut!" ujar Lian mengingatkan Natha yang sudah bersiap melajukan motornya.


"Ya," sahut Natha dan Gabriella. Lalu ia pergi meninggalkan Lian yang masih berdiri di teras rumah.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2