
Satu minggu kemudian.
Natha dan teman-temannya lolos di Universitas Alexandria dengan jurusan yang mereka pilih masing-masing. Tiga hari lalu, Aksa dan Vio tidak ada kabar lagi, semua akun sosial media mereka berdua juga tidak aktif lagi. Bahkan Gibran saja sudah tidak mendapatkan chat dari Vio lagi setelah tiga hari yang lalu.
Semua sosial media Vio di coba oleh Gibran untuk menghubungi Vio, tapi nihil. Tidak ada yang bisa di hubungi, bahkan, bunda Gita juga, entah kenapa.
Mereka ingin sekali bilang ke Aksa dan Vio bahwa mereka sudah di Terima di kampus yang mereka inginkan. Mereka juga ingin tahu, apakah Vio dan Aksa sudah di Terima juga di Universitas yang mereka inginkan.
Kini, Natha, Ola dan Keenan berangkat bersama untuk pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, Keenan langsung menghampiri teman-temannya. Ola dan Natha berjalan santai di Koridor kampus. Natha dan teman-temannya berbeda kelas, tapi Gabriella dan Laura satu kelas. Rafa, Cakra dan Gibran juga satu kelas.
Mereka juga berbeda-beda jurusan, jadi mereka akan terpisah selama di kelas, dan akan bersama setelah jam istirahat.
Natha dan Ola masuk kelas masing-masing karena bel kampus telah berbunyi. Mereka menunggu dosen masuk untuk mengajar di dalam kelas Natha. Natha duduk di kursi barisan ketiga samping kanan, di depannya ada temannya yang lumayan sudah akrab, bernama Kiran dan di belakangnya ada Rio.
Jam istirahat pun tiba, Natha membereskan buku buku di atas mejanya.
"Ta, gue duluan ke kantin ya, temen gue udah nungguin." ucap Kiran yang berpamitan kepada Natha. "Oh ya Kir, gue bentar lagi ke kantin juga ini." jawab Natha, Kiran mengangguk lalu pergi melenggang keluar kelas.
Natha masih setia mendudukkan dirinya sampai hpnya berbunyi, Ting!
Notif dari teman-temannya.
[Kantin cepet, gue sama Laura udah di kantin duluan.] - Gabriella
[Gue otw sama Gibran sama Rafa juga.] - Cakra
[Gue ke kelas Natha dulu.] - Kate
Ting!
Satu lagi, chat dari Ola, karena Ola tidak ada di dalam grub.
[Ta, kantin? Gue udah otw ke depan kelas lo.] - Ola
[Iya, ini gue mau keluar kelas.] - Natha
Natha bangkit dari duduknya, di belakang ada Rio yang sedang memakan bekalnya.
"Eh Rio, gue ke kantin ya." pamit Natha yang di angguki oleh Rio. "Makan Ta, maaf tadi, lupa nawarin." ucap Rio menawari Natha, Natha mengangguk.
"Sans aja, btw makasih. Gue keluar dulu nih." jawab Natha, Rio mengangguk. Natha berjalan keluar kelas sembari membawa HP dan dompetnya.
Di depan kelas sudah ada Ola dan Kate yang menunggu Natha keluar dari dalam kelas. Ketiga gadis itu langsung saja pergi ke kantin, Gabriella, Laura, Cakra, Gibran dan Rafa kenapa langsung pergi ke kantin tanpa menghampiri ke Kelas Natha, Kate dan Ola dulu? Karena kelas mereka jauh dari pada kelasnya bertiga.
Jadi setiap istirahat mereka langsung ke kantin saja lebih dulu, kecuali pulang kampus, baru mereka menghampiri Natha karena mereka akan melewati kelas tiga gadis itu.
Setibanya di kantin, Natha, Ola dan Kate memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Kantin di kampus ini sangatlah luas, tidak seperti di kantin sekolah SMA nya dulu. Di kantin SMA dulu lumayan luas, tapi tidak seluas di kampus.
Setelah selesai membeli makanan dan minuman, tiga gadis itu langsung menghampiri teman-temannya.
"Eh Ta, gue kayak gak asing sama tu orang, sipa ya? Maba juga kan dia?" tanya Gabriella kepada Natha sembari menunjukkan dengan lirikan matanya. Natha mencari keberadaan orang yang di maksud oleh Gabriella, ia mencari cari, dan ketemu.
"Itu?" tanya Natha sambil menunjukkan tangannya ke arah orang itu.
"Ya elah, pake di tunjuk segala." ucap Laura.
"Ya maaf, mana gue tau anjir, orang Gabriella ngasih taunya kayak gitu." jawab Natha, "Iya, yang itu, siapa ya? Kayak gak asing gitu loh. Pernah liat, tapi di mana yaa?" jawab sekaligus tanya Gabriella.
Natha juga pernah melihat orang itu sebelumnya, di saat Ospek. Tapi ia tidak terlalu perduli, ia memilih untuk lanjut makan, karena ia lapar.
Oh ya, Natha juga sudah mengembalikan warna rambut nya seperti semula sebelum Ospek. Sebenarnya boleh saja mewarnai rambut dengan warna apa saja, tapi Natha takut di cap yang tidak tidak oleh para kating.
"Anjir, tu kating ganteng bener..." ucap Kate lirih di samping Natha, kating itu juga sedang menatap ke arah yang mereka tempati, lebih tepatnya sedang menatap ke arah Ola.
"Naksir sama lu tuh dia, La" ucap Gabriella, "Natap doang di bilang suka? Lagi pula gak tentu juga tu orang natap gue." jawab Ola yang hanya fokus makan.
__ADS_1
"Lah iya juga si, udahlah, keburu masukan entar." ucap Laura.
"Oh ya, gue rasanya ingin ikut Hima deh." ucap Laura, "Saran gue jangan. Tapi itu terserah keputusan lo sih. Kata temennya Tala ada yang ikut Hima tuh, capeknya gak main main." jawab Kate.
"Iya juga, dulu gue ikut OSIS aja capeknya gak main, apalagi Hima? Gak deh, gak jadi." ucap Laura yang di tertawakan oleh teman-temannya.
"Diem mulu lo, udah lah, nanti pasti Vio bakalan ngasih kabar ke lo, mungkin dia masih sibuk sama urusannya di sana..." ucap Gabriella kepada Gibran yang termenung.
"Ya gimana ya, gak biasanya dia kayak gitu... Sesibuk apapun dia pasti dia sempat sempatin ngasih kabar ke gue. Lah sekarang, udah beberapa hari dia gak ada kabar, semua sosmed dia juga gak ad yang aktif." jawab Gibran.
"Nanti kapan-kapan, kita ke rumahnya Aksa yang dulu aja gimana? Siapa tau bibinya tau kenapa Vio sama Aksa gak ada kabar." ajak Natha yang di setujui oleh teman-temannya.
"Ta beneran deh, tu maba kayak gak asing...siapa sih?? Bikin penasaran aja." ucap Gabriella, "Diem lo. Ngapain lo mikirin tu orang? Noh cowok lo dari tadi sinis banget natapnya." jawab Laura yang menunjukkan jarinya ke arah Cakra yang menatap Gabriella tak senang.
Masalahnya yang dari tadi di bahas itu adalah cowok, kalau cewek mah, Cakra gak bakalan marah.
"Hehe! Maaf sayang... Cuman anu doang, ini cuman penasaran aja hehe! Maaf yaa..." ucap Gabriella yang meminta maaf kepada Cakra.
"Iwh?! Najis banget gue dengernya." ucap Kate yang serasa gumoh.
"Diem luwh!" jawab Gabriella menatap Kate tak senang.
"Eh gue sama Ola udah selesai, duluan ya? Maaf nih duluan." ucap Natha yang sudah selesai makan dan bangkit dari duduknya.
"Sans aja, gue masih lama, nunggu Tala kesini, dia lupa bawa uang." jawab Kate.
"Duluan yaa.." ucap Ola, teman-temannya mengangguk. Kenapa Natha lebih dulu meninggalkan kantin? Karena Ola. Ola merasa risih karena dari tadi di tatap sama Kating yang tadi di bilang oleh Kate.
"Siapa sih tu tadi? Gak suka banget gue di tatap kayak gitu. Mana tadi pas kita jalan pergi dari kantin tu orang natap juga kemana kita pergi." ucap Ola memutar kan bola matanya malas.
Ting!
Notif dari HP Natha masuk. Natha dan Ola berada di taman depan yang di sana juga banyak orang duduk sambil membaca buku dan bermain HP, ada juga yang mengerjakan tugas.
"Di baca kek pesan di HP lo tuh, dari tadi bunyi mulu." omel Ola, Natha hanya terkekeh.
/Keenan
[Coba lihat ke atas, di lantai dua.] - Keenan
[Paan?] - Natha
[Udah, lihat aja ngapa sih] - Keenan
Natha mendongakkan kepalanya, ia melihat ke lantai dua yang di sana ada Keenan sendirian, sendirian? Kemana teman-temannya?
[Ngapain lo di situ?] - Natha
[Sini deh, temenin gue.] - Keenan
[Cih, males.] - Natha
[Ayolah, temenin ngapa, lagi ngesad ini gue.] - Keenan
[Ya, sabar.] - Natha
"Ke atas yuk, nyamperin Keenan tuh, lagi galau orangnya." ajak Natha, Ola hanya mengangguk dan mengekori Natha berjalan.
Sesampainya di lantai dua, ada Keenan yang duduk di depan kelas, sepi, seperti tak ada orang.
"Kenapa lo?" tanya Natha di saat sudah tiba di dekat Keenan.
"Pasti nangisin cewek?" tebak Ola yang melihat air mata yang menggenang di matanya.
"Kenapa lagi? Ada masalah apa lagi sama Kak Bita?" tanya Natha, Keenan memeluk Natha dari samping. Ia masih tak berbicara, ia menyembunyikan wajahnya di pundak Natha.
__ADS_1
Ola? Ia dua hari yang lalu sudah melihat Keenan menangis seperti ini, karena memang dari satu minggu yang lalu Keenan dan Bita bermasalah di hubungan yang mereka jalani.
"Masih berapa lama lagi selesai istirahat?" tanya Natha ke Ola, ia menatap layar hpnya yang sedari tadi ia pegang.
"Lima belas menit lagi." jawab Ola, Natha mengangguk.
"Jangan terlalu banyak nangis, gak malu apa dilihat temen-temen lo entar, mata lo sembab pasti bakal di notice oleh Tala, apalagi si Ikhsan yang mulutnya bacot." ucap Natha menegur Keenan agar tak terlalu banyak menangis. Keenan mengusap air matanya, tapi posisinya ia masih setia memeluk tubuh Natha.
Sepuluh menit telah berlalu, Keenan, Natha dan Ola masih berada di tempat yang sama, tapi kali ini berbeda posisi, masih di lantai dua tapi mereka ke pojokan gedung kampus. Disana ada gudang dan tidak ada mahasiswa atau mahasiswa lainnya lewat.
"Udah gih, gue mau masuk kelas, bentar lagi bel." ucap Natha kepada Keenan.
"Iyaa, masuk kelas sana, gue masih mau disini." jawab Keenan.
"Awas lo gak masuk kelas, gue aduin Mama." ancam Natha yang hanya di angguki oleh Keenan. Natha dan Ola langsung saja berjalan ke bawah, kelas mereka ada di lantai bawah, Sesampainya di lantai bawah mereka masih duduk di Koridor kampus.
Ola masih belum bisa bergaul dengan teman baru di kelasnya, jadi ia meminta Natha untuk menemaninya hingga bel berbunyi.
Setelah bel berbunyi, mereka masuk ke dalam kelas masih untuk mengikuti matkul berikut nya.
***
Kini para kating dan maba keluar dari kampus, sangat ramai, Natha dan Ola menunggu Keenan yang dari tadi tak terlihat, di chat juga tidak aktif. Natha memutuskan untuk menyusul Keenan ke dalam kelasnya, tapi nanti, menunggu para kating sudah turun semua dari lantai dua.
Setelah dirasa sudah tak banyak yang turun, Natha dan Ola langsung saja berjalan ke lantai atas. Natha berpapasan dengan Varo, temannya Keenan.
"Eh, Natha? Nyari Keenan ya?" tanya Varo yang langsung di angguki oleh Natha.
"Iya, kak. Ada liat Bang Keenan?" tanya Natha balik. "Iya, samperin gih, duduk di dekat gudang. Katanya nungguin sepi, jadi gue tinggalin aja. Gue duluan ya." jawab Varo.
"Iya kak, makasih. Hati-hati di jalan!" ucap Natha yang hanya di balas dengan ancungan jempol oleh Varo.
"Nyusahin." umpat Natha sambil berjalan ke arah gudang yang dimana Keenan berada.
"Lo ngapain lagi disini? Mending pulang. Gue tau lo banyak masalah akhir-akhir ini sama Kak Bita, Kak Bita cerita kok ke gue. Dia udah coba buat ngasih kesempatan lagi ke lo, tapi lo nyia-nyiain kesempatan yang dia kasih. Lo bahkan bohong kalau lo mau ke rumah Jaden, tapi nyatanya? Lo jalan sama Sherly 'kan? Udah, lo jangan jadi playing victim. Disini yang sakit itu Kak Bita, bukan lo doang." ucap Natha.
"Lo kalau cuman mau ceramahin gue mending jangan kesini dah." jawab Keenan.
"Terus gue pulng bagaimana Jamal? Jalan kaki? Naik Grab? Hah? Terus nanti kalau mama Nanya, mana abang, gue jawab apa? Abang lagi sibuk? Gitu? Sama aja gue ngebohongin Mama." ucap Natha, Keenan bangkit dari duduknya. Menyerahkan kunci mobil kepada Natha lalu pergi meninggalkan kedua gadis itu.
"Pulang duluan aja, gue masih nunggu Tala." ucap Keenan yang berjalan ke Arah tangga.
"Bego." umpat Natha.
Natha dan Ola langsung saja turun dari lantai dua, mereka berdua jalan ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya. Teman-temannya Atha sudah pulang lebih dulu, dan satu, Tala juga sudah pulang bersama Kate.
Natha menjalankan mobilnya keluar dari wilayah Kampus, berhenti di dekat Halte bus untuk melihat Keenan terlebih dahulu. Tak lama dari itu, Keenan keluar dari gerbang kampus, ia seperti menghampiri seseorang, ya benar saja. Ia masuk ke dalam mobil, tapi Natha tahu siapa pemilik mobil itu, jadi ia langsung saja memilih untuk menjauh dari Halte itu.
Siapa pemilik mobil itu? Papa Leo. Sepertinya Keenan minta jemput kepada Papa Leo, dan mungkin akan menginap di rumah Papa. Akhir-akhir ini juga, Keenan lebih sering tidur di rumah Papa, Mama juga tak melarangnya.
Oh ya, kalian ingat? Papa Leo yang mengajak Mama Lian untuk kembali bersama? Apa jawaban dari Mama Lian? Belum. Mama Lian belum menjawab pertanyaan dari Papa, dia masih ragu untuk mengambil keputusan.
Natha sebenarnya berharap semoga Mama dan papanya bersatu kembali, tapi ia tidak yakin itu semua bakal terjadi. Tapi Natha selalu berdoa semoga kedua orang tuanya akan kembali bersama dan membuat lembaran baru.
Disini Natha dan Ola berada, ia tak di rumah, melainkan di dermaga, merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya yang tak tertutup oleh pakaian sembari melihat sunset.
"Keenan tadi, bareng Papa lo?" tanya Ola yang di angguki oleh Natha. "Paling dia gak bakal pulang kerumah malam ini." jawab Natha.
"Tante gak marah?" tanya Ola, Natha menaik turunkan bahunya.
"Gak tau, entahlah, gue rasa Keenan sekarang berubah." jawab Natha.
"Udah lah, jangan terlalu dipikirkan, dia juga udah dewasa, pasti dia bisa jaga dirinya sendiri, lagi pula dia cowok. Gak ada yang perlu di khawatir, dia juga nginap di rumah Om Leo, pasti bakal di rawat sama Papa lo kok." ucap Ola yang di angguki oleh Natha.
...***...
__ADS_1