My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 53


__ADS_3

"Enggak, lo masuk gue juga masuk, deal?" tanya Natha


"Iya, kalian masuk sekolah aja, kan masih ada Bibi yang jaga Mama," jawab Mama Lian,


"Oke, deal, tapi besok, lo yang anter gue ke kampus," jawab Keenan, Natha melotot, ia kaget,


"Pake mobil?" tanya Natha, Keenan mengangguk,


"Eh, ya kali gue ke sekolah pake mobil, seharusnya lo yang anter gue," jawab Natha,


"Boleh, tapi lo pulang sama siapa?" tanya Keenan,


"Tenang, kan ada ayang," jawab Natha cengengesan,


"Alay lu, ayang ayang, dosa," ujar Keenan,


"Cih, bilang aja lu iri, ngomong-ngomong minum minum itu juga mabuk ye," jawab Natha, dengan cepat Keenan menutup mulut Natha, namut telat, ucapan Natha sudah di dengar oleh Mama Lian.


"Keenan." panggil Mama Lian singkat, Natha dan Keenan sekarang panik bukan main. Pasalnya, Mama Lian tidak tau jika Keenan pernah mabuk-mabukan di saat ia dapat kerjaan tambahan.


"I-iya ma," jawab Keenan, ia menunduk, begitu juga dengan Natha,


"Bagus kayak gitu?" tanya Mama Lian, nada suaranya seperti menahan amarah. Keenan menggeleng, ia takut untuk menatap wajah Mama Lian,


"Kalo di ajak bicara itu, tatap orangnya, bukan natap lantai, mama gak pernah ngajarin gitu." ujar Mama Lian, ia benar benar menahan amarahnya, baru saja ia sembuh, walau tidak sembuh total, ia malah di kagetkan dengan kelakuan anak laki-lakinya.


"Maaf, ma" jawab Keenan, ia menatap wajah Mama Lian, begitu juga dengan Natha,


"Jujur, sejak kapan kamu seperti itu," tanya Mama Lian, Keenan menatap wajah Natha yang juga sedang menatap dirinya.


"Jawabannya gak ada di wajah adek mu, Keenan. Sekarang jujur, sejak kapan kamu kayak gitu," tanya Mama Lian sekali lagi, Keenan menatap wajah Mamanya, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Mamanya.


"Maaf, ma. Udah lama dari kelas sebelas, sejak mama fokus sama pekerjaan dan jarang pulang ke rumah, yang tau cuman Natha, karena yang ada di rumah cuman Natha. Mama jarang pulang, Keenan awalnya cuman penasaran karena temen-temen Keenan minum itu, jadi Keenan mencobanya, tapi malah ketagihan sampai sekarang. Sekali lagi, maaf, ma..." jawab Keenan panjang dan jujur. Mama Lian bangkit dari duduknya, ia kecewa, ia kecewa dengan dirinya sendiri, ia tak bisa menuntun anaknya dengan baik, karena ia terlalu fokus dengan perkerjaan, ia bahkan tak tau dengan kelakuan anaknya.


Ia tak bisa mendidik anaknya dengan baik, ia merasa kecewa dengan dirinya, Keenan dan juga Natha, kenapa ia merahasiakan semuanya. Andai saja ia tak terlalu fokus dengan pekerjaannya, mungkin anaknya tak akan berbuat seperti itu. Mama Lian berjalan memasuki kamar dan mengunci kamarnya, meninggalkan Keenan dan Natha yang masih duduk di sofa dengan wajah yang khawatir.


"Bang, maaf, tadi gue gak sengaja bicara kayak gitu, maaf..." ucap Natha dengan nada yang memohon, ia takut Keenan akan marah kepada dirinya. Namun salah, Keenan malah memeluk badan Natha,


"Lo, gak salah, semua yang di sembunyikan pasti akan ketahuan pada waktunya, sekarang gue udah ketauan. Udah, jangan nangis, gue yang ketauan, kok lo yang nangis sih," jawab Keenan, ia sebenarnya juga menahan air matanya agar tidak turun dari pelupuk matanya, ia juga kecewa dengan dirinya sendiri. Jika waktu bisa di ulang, ia tidak ingin mencoba hal gila itu, ia sebenarnya hanya ikut permainan saat ngumpul dengan teman temannya, tapi ia juga penasaran akan rasa minuman itu.


Ia mengikuti permainan teman temannya, memutarkan botol, jika botol itu mengarah ke seseorang, seseorang itu mendapatkan pilihan, meminum alkohol, atau mengajak orang tak di kenal untuk menjadi pacarnya. Karena Keenan terkena arahan botol, ia tak ingin memainkan hati perempuan, jadi ia memilih meminum alkohol.


"Bang, mama marah ya?" tanya Natha, Keenan makin mengeratkan pelukannya,


"Mam marahnya ke gue, bukan ke lo, jadi, nanti lo masuk ke kamar mama, temanin mama, kalo gur yang masuk, yang ada mama tambah marah, jadi lo aja ya?" jawab Keenan, Natha mengangguk ia perlahan membalas pelukan Keenan.


"Eh buset, peluk-pelukan bae ni bocah," ucap seseorang yang Tiba-tiba memasuki rumahnya. Ia adalah, Cakra, Tala, Jaden, dan Ikhsan, Natha dan Keenan melepaskan pelukannya, Natha bangkit dari duduknya, dan berjalan menaiki anak tangga, tanpa menoleh ke arah teman-teman Keenan.

__ADS_1


"Kenapa tuh, adek lo?" tanya Tala, Keenan menggeleng, teman-temannya tak ingin ambil pusing, mereka membahas topik lain.


"Jadi, malam ini?" tanya Jaden,


"Gue sih, udah di izinin, tapi gue izinnya cuman nongkrong," jawab Tala,


"Gue boleh kok, lagian kita kan emang nongkrong, gimana sih?" jawab Cakra,


"Kalo, lu?" tanya Tala kepada Keenan,


"Gue gak janji, tadi barusan gue ketauan sama nyokap," jawab Keenan, teman temannya bingung, ketahuan apa?


"Ketahuan apa?" tanya Cakra,


"Minum," jawab Keenan,


"Loh, kan cuman minum, terus kenapa?" tanya Tala, ia tidak mengerti, kan cuman minum biasa,


"Tala, otak lo di tinggal di mana sih? Itu loh, minum Alkohol," jawab Jaden, dengan nada bicara yang sedikit berbisik di akhir.


"Oh, iya ngerti ngerti, mending malam ini gak usah dulu deh, tunda dulu, malam nanti aja. Jangan bikin mama lo tambah kecewa sama lo, baru itu yang ketahuan kan? Semoga aja yang lain tidak." ujar Tala, ia berbicara dengan nada pelan, ia tahu bahwa nyokap Keenan ada di rumah. Bentar, yang lain? Apakah Keenan membikin masalah lain? Entahlah. Keenan melirik Tala, ekspresi wajahnya seperti ketakutan.


"Woah, baru kali ini gue liat wajah ketakutan Keenan, haha!" ejek Tala, Jaden menepuk pundak Tala sedikit keras, hingga Tala mendesis pelan.


"Gimana kalo gue ketauan? Apa gue akan di usir dari rumah?" tanya Keenan, trman temannya menggeleng, memastikan bahwa Keenan tak akan di usir dari rumah.


Tek berselang lama, Natha keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan. Ia membuatkan air untuk teman teman Keenan, Bibi tidak bisa membuatkan, karena ia sedang menjaga Lea di halaman belakang sembari menyirami tanaman.


"Lo denger?" tanya Cakra,


"Denger lah gila, kalo bicara tu pelanin dikit, takutnya ketahuan mama," jawab Natha dengan nada pelan,


"Gue mau izin keluar bentar, mau ke rumah Aksa, sekalian nganter baju dia. Nanti kalo mama keluar kamar terus nyariin gue, bilang aja ke rumah Aksa," izin Natha, Keenan mengangguk dan Natha langsung saja pergi dari rumahnya untuk ke rumah Aksa menggunakan motor.


"Aksa? Kayak kenal deh, siapanya Natha?" tanya Tala,


"Cowoknya," jawab Cakra,


"Oh, yang pernah di ceritain Kate, iya iya, tau gue, temennya Radja kan ya?" tanya Tala, Cakra dan Keenan mengangguk.


"Pftt, mantannya udah punya cowok tuh, lo kapan?" ejek Tala kepada Jaden,


"Paan sih?" tanya Jaden,


"Gak, canda doang elah, baperan amat," jawab Tala, Jaden hanya melirik Tala dengan tatapan tajam.


"Oh iya, lo masih ingat Eve gak?" tanya Cakra kepada Keenan,

__ADS_1


"Ingat, kenapa?" tanya Keenan,


"Tu bocah mau ngehancurin hubungan adek lo sama Aksa, bahkan bukan adek lo saja, gue sama yang lain juga di ganggunya. Gue cuman mau ngasih tau, lo jangan terpengaruh lagi sama Eve, yang ada lo bakal jauh jauhan lagi sama adek lo," jawab Cakra,


"Kembali lagi? Ngapain lagi sih, gak ada habisnya tu bocah mau ganggu orang lain." tanya Keenan,


"Entah, jangan sampe lo terpengaruh lagi sama Eve," jawab Cakra, Keenan mengangguk,


"Gak akan," jawabnya,


"Gitu gitu, pernah mentingin Eve dari pada adeknya sendiri, haha!" ejek Jaden, ia tahu karena di saat Eve ingin merenggangkan hubungan Natha dan Keenan, Jaden pacaran dengan Natha, bahkan Natha dulu Keenan lebih mentingin Evelin daripada Natha, adek kandungnya sendiri.


"Diem, itu dulu, sekarang enggak." jawab Keenan.


"Iya deh, iyaaa, kalo sampe dia ngelanggar perkataanya sendiri, gue gak akan mau temenan sama ni bocah lagi," ujar Jaden kepada Keenan,


"Yap, gue juga," jawab Cakra dan Tala.


***


Natha sekarang sudah tiba di rumah Aksa, ia memencet bel yang tak jauh dari pintu rumah Aksa.


"Masuk!" teriak seseorang, dari suaranya saja, Natha tahu bahwa itu adalah suara Vio,


"Duduk sini, ta," ujar Vio yang menyuruh Natha untuk duduk di sampingnya.


"Tunggu aja, Aksanya lagi mandi,"ujar Vio, Vio tau kenapa Natha ke rumah Aksa.


"Oh iya, lo tau gak, selama tiga hari lo gak masuk sekolah, tu cewek makin ngelunjak tau, gila banget, gak suka banget gue sama tu cewek," ucap Vio,


"Cewek, siapa?" tanya Nath,


"Aihh, itu loh, Evelin Evelin itu," jawab Vio


"Gue rssa tu cewek emang rada rada deh, aneh banget sumpah, baru masuk udah bikin masalah," ucap Natha, Vio mengangguk, tak lama kemudian, Aksa turun dari lantai atas rumahnnya lalu mendudukkan diri di samping Natha. Natha menyerahkan paper bag yang berisikan baju mereka yang di beli pada tiga hari yang lalu, Aksa meraihnya dan menaruhnya di samping sofa.


"Gue jalan dulu ya, jangan aneh aneh lo pada," ujar Vio, ia berdiri dari duduknya lalu keluar dari rumah untuk menghampiri Gibran yang sudah menunggu di depan pagar.


"Iya iya, elah," jawab Aksa, karena di rumah, Bunda Gita tidak ada, ia sedang bekerja dengan suaminnya. Di rumah Aksa, hanya ada dirinya dan Natha, mereka hanya duduk di sofa sambil sedikit bercerita. Hingga saatnya jam sudah menunjukkan ke arah jam lima sore, Natha pamit pulang kepada Aksa,


"Ay, aku pulang dulu, ya," ujar Natha,


"Aku anter ya?" tanya Aksa, Natha menggeleng


"Aku pake motor sendiri ay, udah ya, dadahh!" jawab Natha, ia melambaikan tangannya, begitu juga dengan Aksa.


"Hati hati, nanti di godain om-om" ujar Aksa,

__ADS_1


"Dih, apaan, baru sore juga."


...*****...


__ADS_2