
"Kenapa harus di bandara? Di tempat lain aja gak bisa? Kayak di taman kek dimana kek gitu, gak bisa?" tanya Natha,
"Lo mau ikut gak sih? Gue kalau ketemuan sama Papa emang selalu di bandara. Kalau lo gak mau ikut, ya udah, gak perlu, gue bisa sendiri." jawab Keenan kesal, mungkin. Ia pergi meninggalkan Natha sendirian di ruang tamu.
'Hah? Keenan marah ya? Kenapa? Gue salah ya?' batin Natha, ia bertanya kepada dirinya sendiri dengan menatap kepergian Keenan.
Natha ikut berjalan ke lantai atas, tapi ia berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil hp yang satunya.
Ia mendapati Chat dari Kate, 'tumben Kate ngechat di nomor ini, kenapa dah?' batin Natha berucap. Ia mendudukkan dirinya di tepi kasur, ia hendak membalas pesan Kate, pintu kamarnya tak tertutup rapat, ia melihat Keenan berjalan melewati kamar Natha. Ia masih menggunakan pakaian yang ia kenakan di saat ngampus tadi, Natha mengurungkan niatnya untuk membalas pesan Kate, pesan tadi hanya ia baca tanpa di balas.
"Abang!" panggil Natha kepada Keenan, Keenan memalingkan kepalanya untuk menatap Natha, Natha berjalan menghampiri Keenan.
"Maaf yaa, nanti malam gue ikut kok. Maaf tadi banyak nanya ke lo," ucap Natha, Keenan mengelus rambut Natha yang ada di sampingnya sembari tersenyum.
"Gue gak marah, ngapain juga lo minta maaf, lo gak salah. Gue mau mandi dulu," jawab Keenan tersenyum lalu berjalan ke lantai bawah untuk pergi ke toilet.
"Makasih, gue juga mau kembali ke kamar, yaa!" ucap Natha, Keenan mengangguk, Natha berjalan kembali ke kamarnya dan tak lupa untuk menutup pintunya kembali.
[Parah lo ya, pesan gue cuman di baca, minimal bales lah.] - Kate
[Maaf-maaf, tadi gue nyusul Keenan.] - Natha
[Kenapa Keenan?] - Kate
[Gak ada, oh ya, tadi chat lo di atas apaan? Kenapa di hapus? Gue lupa chatnya.] - Natha
[Mantan gue!! Ngechat gue lagi jingan!] - Kate
[Mantan lo yang mana?] - Natha
[Elah, ituloh, Aldy!] - Kate
__ADS_1
[Oh, iya, ngechat apa? Ngajak balikan?] - Natha
[Gak lah, cuman nanyain kabar doang hehe, ini gue udah gamon, tambah gamon setelah di chat dia!] - Kate
[Terus lo bales gak? Gak mungkin gak lo bales sih, pasti lo bales.] - Natha
[Hehe! Tau aja loe] - Kate
[Eh, gue mau mandi dulu, yaa] - Kate
[Iya] - Natha
Natha juga ingin mandi, ia mematikan hpnya, menaruhnya di atas kasur lalu berjalan mengambil handuk dan bathrobe untuk pergi ke kamar mandi.
Selesai mandi.
Jam sudah menunjukkan jam delapan malam, Natha sudah selesai dari tadi, ia sudah menggunakan pakaian biasa, kaos lengan panjang berwarna hitam, celana kulot berwarna cokelat dan sendal berwarna hitam, ia duduk di ruang tamu untuk menunggu Keenan.
"Ta," panggil Keenan, Natha menjawab tanpa menoleh ke arah Keenan,
"Apa?" jawab Natha
"Lo sibuk apaan sih? Dari tadi main hp mulu" tanya Keenan, Natha masih fokus ke hpnya tanpa menjawab Keenan. Keenan sedikit kesal, ia merebut hp Natha dengan paksaan, ia melihat ke layar hp Natha, ternyata ia sibuk chatan dengan Saddam.
"Pacaran lo?" tanya Keenan,
"Paan sih lo? Lo fokus nyetir aja! Jangan kepo urusan gue!" jawab Natha sedikit menaikkan nada bicaranya. Keenan menatap Natha sinis, ia kembali fokus menyetir dan menyerahkan hp Natha.
'Aih, salah bicara kah gue?' batin Natha
"Maaf, gak bermaksud," ucap Natha lirih, Keenan tak menggubris ucapan Natha, ia hanya tetap fokus ke depan.
__ADS_1
Sesampainya mereka di bandara, mereka turun dari mobil, berjalan ke tempat yang dimana sudah dijanjikan oleh Keenan dan Papanya. Seorang laki-laki sedang melambai ke arah Natha dan Keenan, Natha tak dapat mengenali siapa pria itu, Keenan tanpa basa basi menarik lengan kanannya. Mereka berjalan menghampiri pria itu, yang ternyata itu adalah Pak Leo Arkatama, Papa dari Keenan dan Natha.
"Apa kabar, kalian, nak?" tanya Papa Leo menatap Natha dan Keenan bergantian.
"Baik, pa. Papa sendiri gimana kabarnya?" tanya Keenan balik,
"Papa baik baik ajaa. Natha, maafin Papa, ya? Maaf karena papa kalian jadi kekurangan kasih sayang dari seorang ayah." ucap Papa Leo ke Natha, Natha tersenyum, ia mendekati papanya dan ia langsung saja memeluk tubuh papanya itu. Pelukan Papanya tak pernah berubah, masih sama dengan dulu, terakhir kali, Natha berpelukan dengan Papanya di kelas tujuh SMP. Dia selalu menginginkan pelukan dari seorang ayah, ia ingin memeluk tubuh Papanya lama. Bohong jika Natha tak merindukan Papa Leo, bahkan hampir setiap hari, ia selalu memikirkan Papa Leo, tapi ia hanya gengsi untuk mengakuinya.
Jika teringat bahwa dulu Papa-nya pernah menyakiti Mamanya, ia pasti akan selalu menganggap papanya itu jahat. Sebenarnya tak seperti yang ia pikirkan, papanya tak sejahat itu, bahkan papa Leo tahu jika Natha membenci dirinya karena perbuatannya sendiri.
Natha melepas pelukannya, "Loh, jangan nangis dek, katanya adek kan kuat, kok nangis sihh," ucap Papa Leo disaat Natha melepaskan pelukannya, Natha menangis di dekapan sang Papa. Jujur, sekarang ia merasa bersalah karena membenci Papa Leo, Papa Leo mengusap air mata Natha dan tersenyum.
"Maaf ya, dek, kita ke sana ayo? Bukannya adek dulu suka gulali ya? Ayo sekarang kita beli." ucap Papa Leo, Natha mengangguk, mereka bertiga berjalan kearah penjual gulali di dekat bandara itu. Membeli gulali itu lalu mencari tempat duduk, gulali tadi yang dibeli oleh Papa Leo di pengang oleh Natha.
"Abang gimana ngampusnya? Seru?" tanya Papa Leo, Keenan mengangguk,
"Gitu lah pa, pusing karena kebanyakan tugas," jawab Keenan, Papa Leo hanya tersenyum melihat kedua anaknya itu.
"Papa gak ada niatan mau ketemuan sama Mama gitu?" tanya Natha tiba-tiba, Papa Leo hanya diam lalu mengangguk,
"Sebenarnya Papa mau ketemu sama mama kalian, tapi Papa takut jika Mama kalian akan marah jika bertemu dengan Papa yang sudah bertahun tahun meninggalkan kalian." jawab Papa Leo.
"Coba aja dulu kali paa, siapa tau Mama juga ingin ketemu sama Papa." jawab Natha juga, Keenan mengangguk dengan ucapan Natha.
"Nanti Papa akan coba buat ketemu sama Mama kalian ya?" ujar Papa Leo, Natha dan Keenan mengangguk.
Kini jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Natha dan Keenan juga sudah pulang dari tempat ketemuan dengan papanya.
"Kalian dari mana?"
***
__ADS_1