
"Kalian dari mana?" tanya seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu rumah, membuka pintu rumah untuk kedua anaknya.
"Ketemu sama Papa." jawab Keenan santai, Mama Lian hanya mengangguk. Natha bingung, 'Mama gak marah? Kok? Hah? Apasih? Gak ngerti.' batin Natha, ia langsung berjalan ke kamarnya.
"Ma, Natha kekamar duluan ya, udah ngantuk." ucap Natha menaiki anak tangga,
"Iyaa, sayang, tidur yang nyenyak." jawab Mama Lian, Natha benar-benar mengantuk, ia menggantikan pakaiannya lalu langsung saja merebahkan dirinya di atas kasur king sizenya. Sedangkan di lantai bawah, disana masih ada Keenan dan Mama Lian yang duduk di ruang tamu.
"Tadi adek ikut ketemu Papa juga?" tanya Mama Lian kepada Keenan, ia mengangguk,
"Tadi Keenan yang ngajak, Keenan rasa Natha kangen sama Papa, tapi ya gitu, gengsi buat ngaku." jawab Keenan,
"Oh iya ma, tadi kata Papa, kapan kapan dia kayaknya mau ketemu Mama, Mama mau?" tanya Keenan,
"Nanti Mama pikirin dulu." jawab Mama Lian, Keenan mengangguk,
"Mama mau makan, kamu mau makan?" tanya Mama Lian, Keenan menggeleng
"Tadi udah makan sama Papa, ma." jawab Keenan,
"Ya sudah, Mama makan dulu, kamu ke kamar gih, tidur, besok masih ngampus loh." ucap Mama Lian,
"Iya ma, bentar lagi, masih mau disini dulu, nanti-nanti aja." jawab Keenan lagi, Mama Lian mengangguk, ia berjalan ke arah ruang makan untuk makan malam.
Dua jam sudah berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan jam dua belas malam. Keenan masih setia duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Mama Lian, ia setelah selesai makan malam langsung pergi ke dalam kamarnya untuk tidur.
"Belum tidur lo, bang?" tanya Natha setelah keluar dari kamarnya dan hendak berjalan ke dapur.
"Belum, lo sendiri kenapa bangun?" tanya Keenan balik, "Mau buang air kecil." jawab Natha, Keenan mengangguk. Setelah Natha selesai buang air kecil, ia keluar dari toilet, ia sudah tak melihat keberadaan Keenan di ruang tamu. Ia juga langsung saja pergi ke dalam kamarnya untuk kembali melanjutkan tidurnya yang terbangun.
***
__ADS_1
Pagi telah tiba, kini mereka semua telah berkumpul bersama di ruang makan untuk sarapan pagi sebelum berangkat. Setelah selesai sarapan, mereka langsung saja berangkat, Natha dan Keenan berpamitan kepada Mama Lian dan Bibi Mela sebelum berangkat.
Kini Natha telah sampai di lingkungan sekolah, ia memarkirkan motornya di tempat biasa, yang di sampingnya ada motor milik Saddam. Natha berjalan melalui koridor sekolah, setibanya ia di dalam kelas, teman-temannya berada di dalam kelas itu.
Natha berjalan masuk, ia mendudukkan dirinya di kursi, tapi ia tidak mendudukkan dirinya di tempatnya sendiri, melainkan di samping kiri Saddam. Teman-teman Natha tidak ada yang mengetahui bahwa Natha dan Saddam sedang berpacaran, walaupun hanya berpura-pura.
Natha menatap wajah Saddam yang juga sedang menatap dirinya, Saddam tersenyum kearah Natha yang membuat dirinya salah tingkah akibat Saddam. Natha menutup mata Saddam menggunakan jari jari lentiknya, "Udah ihh!" ucap Natha malu.
"Ada yang aneh sama tu dua orang," ucap Gabriella membuka suara,
"Pacaran kali mereka, tapi gak bilang bilang sama kita?" ujar Laura menyaut,
"Woy! Lo berdua pacaran ya?" teriak Gabriella bertanya kepada Natha, Natha memalingkan wajahnya menghadap Gabriella yang berteriak.
"Kalau iya, kenapa? Masalah buat lo semua?" jawab sekaligus bertanya, Natha berucap dengan raut wajah tengilnya.
"Dih, wajah lo biasa aja kali." ucap Gabriella,
"Males" jawab Natha singkat, ia memalingkan wajahnya kembali ke depan untuk menghadap ke papan tulis.
'Mundur? Atau terus berusaha untuk kembali mendapatkannya?'
Bel berbunyi, Teman-temannya kembali ke kelas masing-masing. Natha juga kembali ke tempatnya sendiri, Saddam menyerahkan HP kepada Natha. Natha bingung,
"Pegangin, aku mau ke lapangan, di panggil pak Reno." ucap Saddam yang paham, "Oh, oke!" jawab Natha. Guru pengajar di kelasnya belum memasuki kelas,
"Dari kapan sih? Tiba-tiba banget?" tanya Vio,
"Apanya?" tanya Natha berpura-pura tidak mengerti, Vio memutarkan bola matanya malas,
"Ck! Udah berapa lama pacarannya? Masih belum ngerti? Gue toyor juga pala lo." ucap Vio lagi, Natha terkekeh,
__ADS_1
"Baru kemarin." jawab Natha,
"Oh, kirain udah lama, pasti dekatnya udah lama? Iyakan?" tanya Vio lagi, Natha hanya menaik turunkan bahunya.
"Dih, bego, gue nanya malah cuman didiemin, tau ah, gue ngambek sama lo!" ucap Vio yang membuat Natha terkekeh. Ia mendekap tubuh Vio yang agak kecil dari dirinya, Vio memberontak untuk keluar dari dekapan Natha, tapi ia tidak bisa lalu hanya pasrah.
"Dih, ambekan. Iya iya maaf, dekatnya sih udah lamaaaaaa banget, gak juga sih, haha! Udah yaaa, jangan ngambek lagi bocah, tambah jelek entar lo." ejek Natha yang membuat Vio menampar lengannya.
"Sialan, lo ngatain gue jelek ya?!" tanya Vio, Natha tertawa gelak tanpa menjawab.
***
Kini, mereka semua telah berada di kantin, seperti kemarin, Natha duduk berbeda dengan teman temannya. Ia duduk bersama dengan Saddam, tanpa mereka sadari, ada yang menatap Natha dengan tatapan tidak suka.
"Tuh, ada yang natap kamu kayak gak suka gitu, haha!" ucap Saddam yang menyadari, Natha mencari orang tersebut dan ia menemukannya. Kiran, mantan kekasih Saddam yang selalu mengganggu Saddam, padahal mereka sudah tidak hubungan, tapi Kiran selalu menanggap mereka masih ada hubungan.
"Oh tau tau, haha!" jawab Natha, ia melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Kiran yang sedang menatap dirinya dan juga Saddam.
Kini mereka telah selesai menghabiskan makanannya. Natha dan Saddam duduk di belakang sekolah, di taman belakang. Di sana juga ada adik kelas yang sedang mengerjakan tugas, nyemil dan ada juga yang membaca buku cerita.
"Sama Karin sudah berapa lama pacarannya?" tanya Natha ke Saddam,
"Kalau gak salah cuman satu bulan. Itu pun kayak orang gak pacaran, aku yang mutusin karena udah bener bener muak sama kelakuan dia. Selalu ngeduain, kadang gak ada kabar, kadang kayak orang asing. Tapi setelah aku ngajak putus dia gak mau dan dia juga kayak gak mau ngakuin kesalahannya apa." jawab Saddam menjelaskan,
"Oh, jadi dia gak Terima kalau kalian udah putus, gitu? Makanya masih ngaku ngaku kalau kalian masih pacaran, gitu kah?" tanya Natha, Saddam mengangguk,
"Iya, aku risih sama dia, ngelihat cewek yang dekat dekat aku aja di ancam. Makanya kali ini aku takut kalau kamu yang bakal di ancamnya." jawab Saddam, Natha mengangguk paham.
"Tenang aja kali, gampang aja kalau dia ngancem, paling gak aku ladenin. Diamin aja sampai dia bener bener lelah sendiri, nnti dia bakalan berhenti nge gangguin kayak Nita sam teman-temannya noh."
...***...
__ADS_1