My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 156


__ADS_3

Kini hari sudah mulai sore jam 5.32 PM, mereka keluar dari rumah dan langsung saja otw ke dufan yang ingin mereka kunjungi.


Ootd mereka.


Natha : baju crop hitam, celana jeans biru, sendal hitam.


Gabriella : baju kaos putih lengan panjang, celana kulot mocca, sendal putih.


Laura : baju kaos lengan pendek putih, jeans biru, sendal putih.


Vio : baju crop lengan panjang hitam, jeans putih, sendal putih.


Aksa dan Cakra : kemeja hitam, jeans hitam, sendal putih.


Gibran dan Rafa : kemeja putih lengan pendek, celana jeans hitam, sendal hitam.


Mereka telah tiba di dufan, mereka memarkirkan motornya lalu berjalan masuk ke dalam taman. Sebelumnya, mereka membeli tiket masuk terlebih dahulu.


Mereka masuk, mencari tempat duduk yang naung, mereka memikirkan ingin naik apa.


"Bianglala mau naik gak? Gue udah lama gak naik bianglala." ajak Laura, mereka mengangguk. Mereka membeli masing-masing tiket bianglala, satu tiket, satu orang. Mereka masuk secara bergantian. Mereba terbagi dua, Di bagian satu ada Rafa, Aksa, Natha dan Laura, dan di bagian lain ada Cakra, Gibran, Vio dan Gabriella.


Bianglala mulai bergerak, mereka bersenang-senang. Natha memfoto pemandangan di bawah dari atas, mereka sudah berada di puncak paling atas, Natha berselfie bersama dengan ketiga temannya.


Banyak foto yang di hasilkan Natha, Natha juga memfoto Aksa dengan Rafa. Begitu juga dengan Aksa, mereka memfoto kan Natha dengan Laura, tapi menggunakan HP Natha.


Dua putaran sudah selesai, mereka turun dari bianglala. Mereka ingin menaiki Ontang Anting, tapi tak semua, Vio, Gabriella, Gibran tidak, mereka tidak ingin menaiki itu, pusing. Sebenarnya Gibran ingin menaiki, tapi ia ingin menemani Vio.


"Bye bye Gabriella Vio!" teriak Laura setelah menaiki wahananya bersama Natha, mereka bersampingan, di belakang Natha ada Aksa, dan disampingnya ada Rafa, di belakang ada Cakra sendiri, Haha.


Wahana itu mulai bergerak, Vio dan Gabriella yang menonton di bawah merasa ngeri akibat putaran nya tak main-main, sungguh kencang. Untung saja mereka berdua tidak naik, mungkin mereka berdua sudah pingsan di atas sana, pikir Vio.


Setelah selesai, mereka semua turun, ada gang mual, ada yang langsung lari ke toilet untuk memuntahkan semua isi perutnya. Sedangkan Natha dan teman-temannya hanya tertawa dengan berjalan melayang layang.


"Kaga mual lo berdua?" tanya Gabriella kepada dua gadis itu, mereka menggeleng lalu duduk, mereka cuman merasa pusing karena putaran yang sangat dahsyat.


"Mau naik apa lagi?" tanya Vio, "Kora-kora ayo!" jawab Gabriella, mereka mengangguk. Mereka membeli tiket dan langsung menaikinya, mereka duduk ber empat-empat.


Para cewek di barisan ke tiga, dan para cowok di barisan ke lima, berjarak karena sudah terisi orang lain di barisan ke empat. Mereka bersenang-senang, Natha merekam menggunakan tongsis yang di bawa oleh Vio.


Semakin lama, semakin cepat pergerakan wahana kora-kora itu, semakin kencang juga teriakan mereka. Mereka turun di saat wahananya berhenti, mereka memikirkan lagi untuk menaiki apa.


***


Banyak hal yang mereka naiki, semua di rekam oleh Natha menggunakan hpnya yang lumayan jarang ia gunakan, tapi selalu ia bawa kemana mana. Natha sengaja merekam di sana agar Video nya tak hilang.


Mereka menaiki Wahana halilintar, Baku Toki, mereka masuk di rumah miring, rumah kaca dan banyak lagi yang mereka mainkan. Sampai dimana mereka memutuskan untuk pulang, mereka sudah merasa lelah.


Mereka membayar parkir lalu pergi dari dufan itu, mereka berpencar untuk pulang ke rumah masing-masing. Tadi mereka ke rumah Aksa dulu untuk mengambil tas sekolah beserta seragamnya.


Natha di antar oleh Aksa, padahal Natha sudah menolak dan sudah meminta untuk di jemput oleh Pak Harto. Tapi Aksa dengan keras kepala ingin mengantar Natha pulang. Sesampainya di rumah Natha, ia turun dari motor, berterimakasih kepada Aksa.


"Makasih ya, maaf ngerepotin." ucap Natha, "Enggak, gak ada ngerepotin sama sekali. Ya udah aku pulang dulu ya, maaf gak bisa mampir. Titipin salam Sama Mama." jawab Aksa, Natha mengangguk.


"Hati-hati, jangan ngebut." ucap Natha, Aksa mengangguk lalu meninggalkan Natha yang masih berdiri di depan pagar rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 8.56 PM, Natha masuk ke dalam rumah, malam ini adalah malam minggu. Natha berpikir bahwa Keenan tak ada di rumah karena ia pasti akan ngedate bersama Bita.


Ternyata salah, Keenan ada di rumah bersama Mama Lian yang duduk di ruang tamu. Mereka berdua menatap Natha dengan teliti, Natha bingung, ia menaruh tas sekolahnya di dekat sofa lalu mendudukkan dirinya juga di sofa.


"Kenapa?" tanya Natha, Mama Lian dan Keenan tak hentinya menatap Natha.


"Gak ada sih, haha. Mama nunggu kamu pulang lama banget, bisa-bisa upin sama ipin punya rambut gara-gara nungguin kamu, haha!" ejek Mama Lian.


"Ihh!! Mama mah. Mama kenapa nungguin Natha? Mau kemana emang? Tumben rapi, biasanya malam gini udah pakai piyama tidur." tanya Natha, "Nah makanya mama nungguin kamu, ayo kita makan di luar. Mama mau ngajak Bibi sama Pak Harto sekalian." jawab Mama Lian.

__ADS_1


"Widih, ayo lah, aku pakai baju ini aja." ucap Natha. Mereka keluar dari rumah, Mama Lian memang mempunyai niat untuk membawa Bibi Mela, Pak Harto, Lea dan kedua anaknya untuk makan di luar. Bukan karena males masak atau bahan habis, mereka hanya ingin makan bersama di luar. Mama Lian sudah menyiapkan dari sebelum pulang ke kantor, mama Lian juga sudah memesan meja khusus untuk mereka.


***


Sesampainya mereka di tempat makan yang sudah di pesan oleh mama Lian, mereka langsung saja masuk, ternyata mama Lian memesan ruangan khusus untuk mereka.


Mereka duduk di meja makan itu, melihat menu yang tertera di atas meja dan memesannya.


Mereka menunggu pesanannya tiba, Natha dan Keenan memainkan hpnya, yang lain sibuk mengobrol. Tiba-tiba Natha mendengar suara Bita dari handphone Keenan, ia melirik ke arah Keenan, ternyata mereka lagi vidcall.


Tak lama kemudian, pesanan mereka satu persatu datang, di awali dengan pesanan Lea dan Natha, lalu Keenan dan Mama Lian, dan setelah itu Bi Mela dengan Pak Harto.


Keenan menyandarkan hpnya di rak buah-buahan. Otomatis Natha terbuat di dalam camera Keenan, Natha menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. Keenan menurunkan tangan Natha yang menutupi wajahnya sendiri.


"Haloo Haloo" sapa Natha ke kamera dengan melambaikan tangannya ke arah Bita yang ternyata sedang sibuk menonton drakor.


"Halloo!" jawab Bita dari sana, Natha tersenyum, ia memotong steak yang di pesan olehnya tadi. Memakan nya satu persatu potongan kecil yang ia potong tadi.


Natha makan sambil memainkan hpnya, ia membalas pesan dari temannya dari grub.


[Maaf ya gess, tadi gue gak bisa ikut, gue sibuk banget tadi 😞] - Kate


[Gak apa, santaii, lain kali lahh, kapan kek, asalkan gak waktu ujian aja, haha!] - Gabriella


[Sabii, sebelum Vio sama Aksa pindah.] - Laura


[Hah? Mau pindah kemana?] - Kate


[Loh, gak tau lo? Mereka mau pindah ke singapur, mau kuliah disana.] - Gabriella


[Yahh, masa pindah siii, kenpa gak kuliah di sini aja btw?] - Kate


[Gue ngikut nyokap bokap Aksa, andai bisa juga, gue pasti bakal milih kuliah disini sama kalian, ya mau gimana lagi, gak bisa. Mau gak mau gue ikut ke singapur, gue juga udah kangen banget sama nyokap bokap gue.] - Vio


[Iyaa..] - Vio


[Besok, kalau mau jalan jalan dah. Kalau lo pada free, susun aja rencananya mau ngapain.] - Natha


[Kagak bisa gue, Ta. Tau aja lo gimana Nyokap gue kalau udah mau ujian, gue bakal di suruh di rumah terus, belajar, terus keluar rumah kecuali ada kepentingan, penting banget.... ] - Gabriella


[Iya juga, tapi kalau gini gimana?] - Natha


[Gini gimana?] - Gabriella


[Sabar elah, itu Natha lagi ngetik.] - Laura


[Kalau kami yang ke rumah lo, bisa? Jadi gue sama yang lain nanti ke rumah lo.] - Natha


[Bisa tuhh, tapi mau ngapain?] - Gabriella


[Ya terserah, ngumpul ngumpul, atau bikin apa kek. Nanti kalau mau bikin makanan, bahan bahannya langsung beli aja, jadi gak perlu bolak balik lagi.] - Laura


[Nah tuh, setuju kaga, yang lain?] - Natha


[Ayo aja sih gue.] - Vio


[Ayoo!!] - Kate


[Aman, gue sama Rafa ikut.] - Cakra


[Gue juga ikut dah] - Gibran


[Aman, atur jam aja.] - Aksa.

__ADS_1


[Nah oke sip.] - Laura


[Gue udah dulu ya, mau makan. Udah di tegur dari tadi sama Keenan.] - Natha


[Yoo!] - Gabriella.


Keenan dari tadi menyuruh Natha makan makanannya, karena dari tadi ia fokus ke HP tanpa memakan steak nya.


"Iya sabar, ini lagi balesin temen-temen." jawab Natha. "Makan dulu adek... Nanti aja main hpnya, makan dulu." ucap Mama Lian di hadapannya. Natha mengangguk lalu memakan steak nya, hpnya ia letakkan di samping piring makannya.


Mereka sudah selesai makan, Semuanya sudah di bayar oleh Mama Lian. Mereka berjalan ke arah mobil yang terparkir di luar. Mereka langsung memutuskan untuk pulang, karena sudah kenyang dan juga mengantuk.


//sesampainya dirumah.//


Mereka masuk ke dalam rumah, terkecuali Pak Harto, karena pak harto mempunyai rumah kecil yang ia beli waktu dulu. Ia menjadi supir sekaligus penjaga di rumah Natha sewaktu-waktu tidak ada orang di dalam rumah. Jadi pak Harto memilih untuk tinggal di rumah sendiri dan ia membeli rumah kecil di samping rumah Natha. Harganya juga lumayan murah, makanya Pak Harto bisa membelinya.


"Bentar amat vidcall nya, kenapa gak lama sekalian sleep call gitu, haha!" ejek Natha ke Keenan. "Bita gak kayak elu, begadang mulu, dia tidur lebih awal." jawab Keenan lalu meninggalkan Natha masuk ke dalam kamarnya. Natha hanya tersenyum sinis ke arah Keenan lalu ikut masuk ke dalam kamarnya sendiri.


***


Sinar matahari yang menembus sela sela jendela kamar, menerpa wajah gadis yang tengah terlelap itu, ia mengerjapkan matanya berkali kali. Ia menutupi wajahnya dengan bantal, sebentar. Setelah tak lama dari itu, ia bangkit dari rebahnya, ia duduk, mengumpulkan semua tenaganya. Ia mulai bergerak turun dari kasur untuk mencuci wajahnya.


Setelah selesai ia mencuci wajah, ia langsung saja turun ke bawah karena ia mendengar Keenan yang memanggilnya dari lantai bawah.


"Ck! Apasih. Baru juga pagi, udah teriak teriak aja, samperin kek ke kamar." ucap Natha kesal, ia baru bangun tidur, Keenan malah memancing emosinya.


"Apaan?!" tanya Natha, "Santai kali ah, temenin gue ke pasar pagi, buat beli ini nah. Di suruh mama, tadi mama jalan, gak tau kkemana, terus bibi Mela tadi izin buat satu minggu libur, kembali ke rumahnya. Jadi mama nyuruh kita buat beli ini." jawab Keenan.


"Kita? Lo aja kali ah yang di suruh mama. Pake bawa bawa gue lagi, cih." ucap Natha. "Elah, bantuin ngapa, gue males ke pasar pagi sendirian, mana beli sayur lagi." jawab Keenan.


"Bentar, Lea? Berarti Lea gak sekolah selama satu minggu dong?" tanya Natha, Keenan menggeleng. "Lea sama Pak Harto di titipin kalau di rumah gak ada siapa-siapa." jawab Keenan, Natha hanya mengangguk lalu berjalan ke dapur meninggalkan Keenan.


"Lah, ini lo mau bantuin gue beli sayur apa kaga?" tanya Keenan, "Sabar elah, gue mau ngambil coklat. Mau kaga lo?" tawar Natha.


"Boleh deh, sini bawain." jawab Keenan. Natha mengambil dua coklat yang ia patah, lalu di kasih ke Keenan satu buat dirinya satu.


"Bentar, mau ganti baju, yakali gue pakai baju piyama gini." ucap Natha, Natha hendak berjalan ke kamarnya, tapi Keenan menariknya. "Udah, pakai baju itu aja, lagian cuman beli sayur doang, kaga ke mall." jawab Keenan menarik Natha keluar rumah. Natha hanya pasrah dan memutarkan bola matanya malas.


Sesampainya di pasar pagi, mereka berdua membeli apa yang tercatat di kertas itu, setelah selesai, mereka kembali ke depan pasar pagi. Tak banyak yang di beli padahal, tapi ya gitu, namanya cowok, beli sayur doang kaga mau.


"Gue pikir beli sayurnya banyak bego, ini dikit doang, cuman beli wortel, kol, sawi sama Lombok doang. Tai lo," ucap Natha, "Banyak itu, bagi gue." jawab Keenan, Natha memutarkan bola matanya malas.


"Nah, pas banget. Sebagai tanda terimakasih gue ke lo, karena lo udah mau nemanin gue ke pasar, mau beli itu kaga?" tanya Keenan menunjukkan tangannya ke arah penjual waffel keliling.


"Gak," jawab Natha, Keenan mengerucutkan kedua alisnya. "Gak nolak maksudnya, wlee! Ayo!" sambung Natha, Keenan terkekeh, mereka menghampiri penjual itu llu membelinya tiga. Untuk Keenan satu, Natha satu, dan tak lupa, satunya untuk Lea.


***


Natha dan Keenan kembali ke rumah, Natha berjalan ke samping rumahnya untuk ke rumah Pak Harto. Natha mengetuk pintu rumah Pak Harto, pintu itu sebenarnya terbuka, tapi tidak sopan jika Natha langsung masuk ke dalam.


"Pak, Lea mana?" tanya Natha kepada Pak Harto yang berjalan keluar dari dapur.


"Eh, nak Natha. Itu, Lea nya lagi main HP di kamar bapak. Samperin aja, Bapak mau ke dapur dulu ya, mau benerin keran bapak dulu, macet itu." jawab Pak Harto, Natha mengangguk, ia masuk dan mengintip di dalam kamar Pak Harto. Ada Lea yang bermain HP, Natha memanggil Lea dari depan pintu kamar Pak harto.


"Pstt! Leaa! Hello!!" Panggil Natha, Lea yang melihat Natha langsung menghampiri dengan membawa hpnya.


"Nih, kaka bawa ini buat Lea, mau ikut ke rumah Kaka? Atau di rumah Pak Harto aja?" tanya Natha. "Mau ikut kaka, bole yaa?" tanya Lea, Natha mengangguk.


"Izin dulu sama Pak Harto ayo." ajak Natha, mereka ke dapur, "Pak, saya bawa Lea ke rumah Natha yaa, mau ngajak main." izin Natha.


"Iya nak, bapak juga sibuk ini, maaf ya, belum bisa ke rumah kamu. Nanti kalau udah selesai baru ke rumah kamu." jawab Pak Harto, Natha mengangguk lalu membawa Lea ke rumahnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2