
Natha dan teman-temannya berada di sofa ruang tamu, dengan Keenan dan Tala juga. Mereka berdua ikut join ke sini karena ingin main amen online bersama. Natha juga sudah di obati, tidak ada lagi yang perlu ia khawatir kan.
"Woi, minggu depan kita udah mulai ujian, setelah itu kita lulus. Sebelum ujian, kita healing-healing dulu gak sih?" ucap Gabriella, Natha mengangguk.
"Ayo aja, mau kemana? Pantai?" tanya Vio, "Boleh. Udah lama juga enggak ke pantai bareng." jawab Gabriella dan di angguki oleh Natha, Laura.
"Oke, tinggal atur jadwal. Semoga nanti kita semua lulus, dan jangan pernah mencar. Semoga kita selalu bersama senang maupun susah." ucap Laura, mereka semua mengangguk.
"Gue sama Tala gak di ajak, nih?" tanya Keenan, Natha mengangguk.
"Lo boleh ikut, jadi lo yang bayarin belanjaan gue, haha!" jawab Natha.
"Gak lah, nanti gue ajak teman-teman gue aja. Jadi sekalian aja biar rame-rame. Mau?" tanya Keenan, mereka semua mengangguk setuju. Mereka hanya tinggal mengatur jadwal berangkatnya.
Mereka kembali bercanda dan tertawa. Natha masih mengingat kejadian tadi, dimana Dera yang telah membantunya, jika tidak ada Dera? Mungkin saja Natha dan Bita sudah habis di tangan mereka.
//Flashback on//
Setelah mereka sama sama mengarahkan pisau di leher Nita dan Eve. Dera sempat berbicara sebelum polisi tiba dengan semua keluarga nya.
"Gue sempat lihat lo sama tiga orang ini di belakang gudang sekolah buat ngancam lo, dan nyuruh buat ketemuan disini. Gue ngintip lo di saat pulang sekolah. Lo bohong sama teman-teman lo, dan lo pergi kesini, gue juga ngikutin. Gue juga sempat dengar rencana mereka bertiga buat nyakitin lo. Gue ketahuan mereka, dan gue sama kayak lo, di ancam, tapi gue? Gue di suruh buat kerja sama. Gue nge iyain karena mau nyelamatin lo berdua, dan gue juga udah eneg sama tiba orang ini. Makanya gue ngerencanain semua ini biar kita semua gak akan ada yang ganggu lagi." jelas Dera panjang lebar.
"Makasih." jawab Natha dengan tersenyum, Dera membalas senyuman Natha dan tak lama kemudian datanglah semua orang yang tadi.
//flashback off//
"Udahlah, pasti masih mikirin yang tadi kan? Udah udahh. Semua udah beres, gak akan ada lagi yang berani ganggu kita." ucap Gabriella merangkul pundak Natha.
"Dari pada mikirin yang itu, mending kita masak-masak, gimana?? Gue laper nih." ucap Keenan, semua mengangguk setuju, mereka memikirkan makanan apa yang akan mereka buat kali ini untuk enak di makan ada malah hari seperti ini.
"Barbeque an aja lah. Nanti para cowok yang beli bahan bahannya. Ini gue udah ada catatan bahan-bahannya bekas kemarin gue masak masak di sekolah." ucap Gabriella, mereka mengangguk.
"Oke, separo buat BBQ, dan gue terserah mau sama siapa, gue mau bikin nugget pakai sambel ijo, dari kemarin gue mau bikin, tapi mager. Jadi siapa yang mau bantu gue bikin nugget? Biar enggak satu aja menunya." ucap Natha.
"Sinilah, sama gue aja. Gue sering bikin itu kau lagi males bikin bekal ribet." jawab Tala, Natha mengangguk mengiyakan. Mereka mulai sibuk, Cakra, Gabriella, Gibran, Vio ke luar untuk membeli bahan-bahannya. Keenan dan Aksa mengambil alat pemanggang barbeque nya. Natha dan Tala mencuci cabe cabean, Rafa pulang ke rumah untuk mengambil gas portable. Laura mencuci alat pemanggang nya setelah Keenan dan Aksa mengambilnya.
Semua telah siap, bahan bahan, saos sambel dan pemanggangan nya juga sudah siap. Hanya tersisa sawi putih yang masih di cuci oleh Laura dan Vio.
__ADS_1
Natha memasak nugget, Tala membuat sambel ijo. Yang lain memanggang daging, sosis, dan ayam di halaman belakang rumah. Setelah Natha selesai menggoreng nugget, ia mengambil nasi di dalam Rice cooker.
"Piring-piring gue bawa keluar semua ya, Ta?" tanya Vio dan Gabriella yang masuk untuk mengambil cangkir dan piring. Natha menunjukkan tangannya di atas meja sudah ada piring yang bertumpuk dan cangkir yang sudah tertata rapi di nampan.
Kedua gadis itu membawa keluar cangkir dan piring itu, Natha dan Tala juga keluar, Natha membawa nasi yang banyak dan Tala membawa Sambel ijo dengan nugget.
Ternyata di luar mereka sudah mulai memanggang. Mereka duduk melingkari pemanggangan tersebut.
Tempat duduk mereka >>
Keenan > Natha > Aksa > Rafa > Laura > Gibran > Vio > Gabriella > Cakra > Tala > kembali ke Keenan, anggap saja melingkar.
"Panas, Hati-hati." tegur Aksa melihat Natha mengambil daging dari pemanggangan, Natha mengangguk. Mereka semua bercanda gurau, ada yang bucin, mereka saling berbagi kebahagiaan, bercerita hingga makanan itu habis.
Jam menunjukkan jam 11.45 PM. Mereka masih berada di halaman belakang rumah Natha. Mereka sudah membersihkan sisa sisa makanan tadi, Natha, Laura, Vio dan Gabriella sedang di dapur mencuci piring bekas mereka tadi. Sedangkan para cowoknya main game online di belakang. Tala nginap di rumah ini, karena mereka berdua memang dari awal sudah bilang kalau Tala akan nginap.
Setelah selesai, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam, mereka semua duduk di ruang tamu, Mama Lian sudah pulang, dan sekarang mama Lian sedang di kamarnya, mungkin sudah tidur karena kelelahan. Jadi mereka tidak berisik, tidak ingin mengganggu mama Lian.
Mereka asik memainkan HP masing-masing. Mereka setelah itu memutuskan untuk kembali ke kamar, para cewek ke kamar Natha, dan para cowok hanya ingin tidur di ruang tamu dengan merebahkan diri di karpet bulu yang lumayan tebal.
***
Dua jam telah berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 08.02 AM. Natha bangun, ia sudah tak melihat ketiga temannya di dalam kamar, Natha merentangkan badannya, semua terasa sakit jika bangun tidur. Natha keluar dari kamar, ia melihat di luar hanya ada Tala, Aksa dan Keenan yang duduk di sofa, yang lain kemana?
"Yang lain mana? Udah pulang?" tanya Natha mendudukkan dirinya di sofa khusus satu orang. "Kebo beru bangun. Yang lain udah bangun tadi pagi, noh, di belakang, main di kolam mereka." jawab Keenan.
"Mandi?" tanya Natha, Keenan menaik turunkan bahunya, ia juga tidak tau, mereka sepertinya hanya mencelupkan kaki ke air kolam.
Natha berjalan ke halaman belakang, di iringi dengan Aksa yang berjalan di belakang Natha.
"Lo pada kenapa gak bangunin gue?" tanya Natha menghampiri teman-temannya yang duduk di kursi dekat kolam dan ada juga yang mencelupkan kaki ke dalam air kolam.
"Gak tega. Lo nyenyak banget tadi, ya kan, Gab?" jawab Laura sembari bertanya ke Gabriella, Gabriella yang di tanya hanya mengangguk.
"Kalian nanti ngampus dimana? Kalau udah lulus." tanya Gabriella kepada teman-temannya.
"Gue di Universitas Alexand aja sih, banyak juga di sana teman-teman gue. Lagi pula di sana juga ada Keenan sama yang lain, jadi mudah akrab aja gitu, gk perlu nyari teman lagi." jawab Rafa, "Yaps, gue juga di sana sama Gibran, kalau lo, Sa?" tanya Cakra. (Nama universitas hanya karangan!)
__ADS_1
"Gak tau. Gue belum nentuin, tapi Nyokap gue sama Bokap gue udah nentuin, kalau gue kuliah di luar negeri." jawab Aksa pasrah dengan melihat ke air yang terdapat wajahnya sedang pasrah.
"Jadi? Kita gak bisa ngumpul kayak sekarang lagi, dong?" tanya Gabriella, "Bisa, tapi tanpa gue." jawab Aksa.
"Lo udah coba bujuk nyokap bokap lo untuk ngampus di sini aja?" tanya Rafa, Aksa mengangguk,
"Udah. Tapi ya gitu, karena di Singapura ada keluarga gue." jawab Aksa. Ngomong ngomong, dulu Aksa lahir di Singapura saat Bunda Gita tengah mengandung. Di sana juga terdapat beberapa keluarga besarnya, di Indonesia juga ada keluarga nya, tapi ak sebanyak keluar yang di Singapur. Ia pindah kesini juga karena pekerjaan Bokapnya, ia juga sering pindah pindah sekolah.
Dan akhirnya Aksa betah di Indonesia. Natha mendekati Aksa yang duduk di tepi kolam, Natha duduk di samping Aksa.
"Mau gue bantu bujuk?" tanya Natha, Senyum Aksa mengembang, ia melihat ke arah Natha, Natha membalas senyuman Aksa.
"Boleh?" tanya Aksa memastikan, Natha mengangguk. "Nanti gue bantuin. Sebelum nyokap bokap lo ngurus surat suratnya." jawab Natha.
***
Jam menunjukkan 1.56 PM. Semua teman-temannya sudah pulang, Natha mendapatkan notif whatsapp dari Bunda Gita yang menyuruhnya untuk ke rumahnya.
Di rumah ada Bibi, Mama Lian, Keenan dan Lea, Natha meminta izin kepada Mama Lian dan langsung di iyakan saja oleh Mama Lian.
Natha sampai di rumah Aksa, ia mengetuk pintu rumah Aksa. "Masuk aja!" teriak Vio yang suaranya di kenal oleh Natha. Natha membuka pintu dan masuk.
"Siang Bun, ada apa?" tanya Natha kepada Bunda Gita yang sedang duduk di sofa bersama Vio. Bunda Gita menyuruh Natha untuk duduk di samping Vio. Natha menelan ludahnya dengan kasar, ia merasa gugup, ia mendudukkan dirinya tepat di samping Vio.
"Bunda boleh nanya sama Natha, gak?" tanya Bunda Gita, Natha mengangguk meng iyakan pertanyaan dari Bunda Gita.
"Kamu mau kuliah di mana? Kalau udah lulus?" tanya Bunda Gita lagi, Natha menjawab dengan jujur.
"Mama bilang mau masukin Natha di kampus sama kayak abang, bun, kenapa?" tanya Natha balik. Bunda Gita tersenyum, Natha juga ikut tersenyum lalu melirik ke arah Vio, Vio juga tersenyum.
"Maafin Bunda, ya?" ucap Bunda yang membuat Natha bingung. "Bunda kenapa minta maaf? Bunda gak salah. Bunda kenapa bun? Bunda minta maaf kenapaa?" tanya Natha yang bingung.
"Maaf, sepertinya bunda akan misahin kalian, maaf pertemanan kalian bakal terpencar. Maafin Bunda ya? Bunda gak bisa apa apa, Nak. Ayah udah dari dulu bilang, kalau Aksa dan Vio lulus, mereka akan kembali ke Singapura dan kuliah di sana. Jadi Bunda gak bisa menentang itu, itu kehendak ayah. Bunda juga tidak ingin kalian berpisah, namun apa? Semua akan terjadi. Maaf yaa? Maafin bunda." jas Bunda Gita mengeluarkan air matanya yang dari tadi sudah tergenang di pelupuk matanya.
"Bunda...bunda gak perlu minta maaf, semua bakal terjadi, nanti kalau kalian udah pind ke Singapur, jangan pernah lupain Natha sam ayang lain yaa? Natha yakin, lain waktu kita akan bertemu kembali, Natha yakin." jawab Natha memegang tangan Bunda Gita dengan menahan tangisannya.
"Bunda gak akan pernah lupain kalian sayang. Begitu juga dengan kalian ya? Jangan pernah lupain Bunda, Ayah, Vio dan Aksa, ya?" ucap Bunda Gita, Natha mengangguk.
__ADS_1
...***...