My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 123


__ADS_3

"Bye byee~ aku pulang yaa" ucap Saddam setelah sampai didepan pagar rumah Natha, Natha mengangguk lalu Saddam pergi meninggalkan Natha yang masih berada di depan pagar.


"Ekhem!" suara pria batuk yang dibuat buat di belakangnya, Natha sudah mengetahui siapa dia, ia tentu mengenalnya, wajahnya berubah drastis, yang tadinya senyum sekarang malah datar.


"Katanya pura-pura," ejek Keenan, Natha berbalik agar bisa menatap Keenan. Keenan yang ditatap ikut ikutan menatapnya dengan wajah yang mengejek. "Gak jelas, lo." ucap Natha, Keenan terkekeh lalu merangkul bahu Natha agar mereka masuk ke dalam rumah.


Jam sekarang sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam. Anginya juga sangat dingin, sedangkan Natha hanya menggunakan kaos berwarna putih lengan pendek.


"Shutt, jangan banyak bacot. Udah diem," ucap Keenan menutup mulut Natha menggunakan telapak tangannya di saat Natha hendak mengoceh. Natha menepis lengan Keenan dari mulutnya, "Cih, asin tangan lo." jawab Natha sinis.


Mereka kini tengah berada di ruang tamu, di sofa ruang tamu itu ada Mama Lian, Keenan dan ya, Natha. Mereka sedang nonton film bersama di televisi. Natha dan Keenan sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Natha bangkit dari duduknya untuk berjalan ke arah toilet, ia hendak membuang air kecil.


"Kemana, dek?" tanya Mama Lian, Natha menunjuk ke arah Toilet, Mama Lian mengangguk lalu kembali fokus ke televisi.


Setelah Natha selesai dari toilet, ia kembali ke sofa dan mendudukan dirinya di samping Mama Lian. Natha mencari keberadaan hpnya dimana, ia bingung, apakah ia tadi membawanya ke dalam toilet? Perasaan ia tadi tidak memegang benda apa pun disaat ke toilet.


Natha melihat ke arah Keenan yang aik emainan HP, ternyata itu adalah HP Natha. Mereka bertiga duduk di sofa panjang, jadi Mama Lian di tengah, Natha di samping Kiri, sedangkan Keenan di samping Kanan.


Karena Natha malas berdebat, ia mengambil HP Keenan yang bergeletak di atas meja ruang tamu. Natha membuka aplikasi Instagram, yang pertama ia lihat ialah Foto cewek dan cowok berdua yang mengingatkan fotonya dengan Aksa dulu. 'Ngapain gue keingat itu? Gak gak, gak boleh ingatin lagi' batin Natha, ia membuka dm-an ig Keenan.


Sekitar tiga puluh empat pesan yang tak dibaca oleh Keenan. Ternyata, semua itu hanyalah dm-an dari cewek cewek yang selalu mengomentari story ig Keenan dan ada juga yang minta follow back, tapi tak di respon oleh Keenan. Folowers Keenan lumayan banyak dari pada Natha, Keenan bisa dibilang tiga ribu followers dan Natha hanya seribu lima ratus folowers.


"Nah, filmnya udah habis, ayo balik ke kamar masing-masing. Mama duluan yaa, kalian berdua jangan lupa tidur." ucap Mama Lian yang berjalan ke arah kamarnya.


"Iya, maa, goodnight!" jawab Natha, yang di balas dengan anggukan oleh Mama Lian.


"Lo beli folowers ya?" tanya Natha tiba-tiba kepada Keenan, Keenan menggeleng.


"Yang bener? Masa?" tanya Natha lagi, ia tak percaya, yang benar saja? Postingan tidak ada, story juga jarang, yang di follow juga cuman dua ratus. "Kaga percayaan amat, iya lah, gue kaga beli. Ngapain juga beli? Kebelet seleb?" jawab Keenan menaruh HP Natha ke atas meja.


"Ya siapa tau. Oh ya, lo ngapain buka HP gue?" tanya Natha, "Notif HP lo berisik." jawab Keenan,

__ADS_1


"Emang notif apa?" tanya Natha lagi, "Buka aja sendiri di WA." jawab Keenan mengambil alih hpnya dari tangan Natha. Natha mengambil hpnya yang di taruh oleh Keenan tadi, ia membuka aplikasi whatsapp.


"Lah? Beneran ngechat? Gue pikir gak bakalan ngechat gue sumpah. Obses kayaknya dia sama lo, haha!" ucap Natha setelah melihat beranda Whatsappnya.


"Diem, ga usah ketawa, ketawa lo kayak kunti." ucap Keenan mendengar suara tertawa Natha, yang tadinya Natha tertawa sekarang menatap Keenan sinis.


"Emang bener kok, mau apa lo, hah?!" Keenan kembali menatap sinis ke arah Natha, ia tak mau kalah dengan adek satunya ini.


"Cih, bacot." jawab Natha, ia mengalihkan pandangan nya ke layar HP untuk membaca chat dari Nazia. Yaa, Nazia lah yang ngechat Natha, Chatnya sudah dibaca oleh Keenan namun tak di balas oleh Keenan.


Natha tak ingin membalas pesan dari Nazia, karena dia males untuk kembali berdebat dengan orang ini. Lain kali saja jika Nata sedang Mood untuk menjahili orang.


Natha bangkit dari duduknya untuk kembali ke kamar, ia sudah merasa ngantuk. "Gue kekamar duluan, bang." ucap Natha kepada Keenan, Keenan mengangguk lalu menyusul di belakang untuk kembali ke kamarnya juga.


***


Satu Minggu kemudian.


"Ta, pinjam HP lo, bentar doang, bentar." ucap Vio, Natha mengangguk lalu menyerahkan hpnya ke Vio.


"Makasih." ucap Vio lagi, Natha lagi lagi mengangguk. Setelah selesai, Vio mengembalikan HP Natha.


Upacara telah selesai, mereka di kasih waktu lima belas menit untuk istirahat. Kini Natha sedang berada dikantin dengan Gabriella, ia smpat mendengar percakapan teman seangkatannya.


"Eh, kok gue sekarang jarang liat Aksa ya? Padahal dia sering gue liat loh, di lapangan main Basket, kalau gak di lapangan paling gue liatnya di belakang sekolah. Kok sekarang udah jarang keliatan? Pindah sekolah kah?" ucap Seorang siswi yang juga mengantri di kantin.


'Aksa? Iya juga, gue udah sering gak liat dia lagi selama satu minggu ini. Kemana dia? Sakit? Atau pindah sekolah lagi? Kalau pindah sekolah kan sia sia? Bentar lagi juga lulus.' batin Natha memikirkan, ia bengong sampai lengannya di tepuk oleh Gabriella.


"Mikirin apa lo? Bengong bae," tanya Gabriella, Natha menggeleng. Natha berpacaran pura-pura bersama Saddam sudah satu minggu lebih, Mantan Saddam juga sudah mempunyai cowok dan tak mengganggu Saddam lagi. Natha? Natha masih belum bisa melupakan Aksa dari pikirannya.


'Gue udahin aja kali ya? Saddam juga udah gak digangguin mantannya, Aksa juga sekarang udah sering gak keliatan. Oke, gue udahin aja.' batin Natha lagi, ia sekarang memesan minuman agar cepat cepat ke kelas karena sebentar lagi jam istirahat akan habis.

__ADS_1


Natha dan Gabriella sudah berada di kelasnya masing-masing. Jam istirahat sudah habis, Natha duduk di samping Vio, sebenarnya ia hendak bertanya tentang Aksa ke Vio, tapi ia gengsi. Natha rasa, teman-temannya menyembunyikan sesuatu darinya, tidak mungkin 'kan jika Aksa tidak ada kabar sama sekali mereka tetap terlihat biasa saja. Apalagi Gabriella yang selalu heboh dengan hal kecil, sedangkan sekarang? Ia hanya diam dan tak pernah mengasih tau tentang Aksa yang sudah sering tidak masuk.


Apalagi Vio, yang dibilang Sepupu dari Aksa, tidak mungkin ia tidak tau, sedangkan mereka aja tinggal satu rumah. Sungguh, Natha jadi tidak tenang, ia merasa bersalah, sedih, bingung, perasaannya campur aduk. Ia merasa bersalah karena jika Aksa mengajaknya untuk bertemu, Natha selalu menolaknya. Jika Natha menerima ajakan Aksa, apakah Natha akan tau apa alasan Aksa jarang masuk sekolah.


***


Jam istirahat telah tiba, Natha mengajak Saddam untuk pergi ke rooftop. Setibanya mereka berdua di rooftop, Natha mulai membuka suara.


"Dam, makasih udah mau bantuin gue, Kiran juga udah punya Cowok, dia gak gangguin lo lagi. Aksa juga udah jarang masuk, gue juga udah gak perlu bantuan lo lagi. Jadi, gue udahin aja Pacaran pura-pura nya ya? Makasih udah mau bantuin gue." ucap Natha kepada Saddam.


"Ta? Lo beneran udah lupain Aksa?" tanya Saddam, Natha menggeleng, "Gue gak tau sama perasaan gue sendiri, dam." jawab Natha dengan jujur.


"Jujur, gue bingung sama perasaan gue sendiri, kadang, gue mikirin dia, tapi kadang gue juga mikirin kejadian dimana dia ngeduain gue." jawab Natha.


"Oke....makasih juga udah mau bantuin gue biar Kiran ngejauh dari gue. Gue duluan ya? Tadi Alex udah nungguin di kantin." ucap Saddam yang langsung pergi dari hadapan Natha, Natha mengangguk. Ia hanya sendirian di rooftop, memandangi lapangan yang di sana ada orang yang bermain basket, membuat ia mengingatkan Aksa lagi.


'Ta? Lo beneran gak ada rasa sama gue, ya? Gue terlalu berharap? Tapi gue senang, Teman-teman udah ngira kita pacaran beneran padahal enggak. Gue suka sama lo, gue suka, tapi gue tau apa jawaban dari lo, ta. Sedangkan lo masih suka sama dia, gue harap, lo dapat cowok yang lebih baik dari sebelumnya, makasih, ta.' batin Saddam yang sedang berdiri di balik pintu rooftop, ia masih tak jauh dari Natha, setelah itu ia benar benar pergi ke kantin.


Hampir lima belas menit Nata berada di rooftop sendirian, tak lama kemudian, Vio datang sendirian ke rooftop.


"Ta," panggilnya, Natha melihat ke arah Vio yang sendirian menghampirinya. "Kenapa, Vi?" tanya Natha,


"Gue mau lo jujur," jawab Vio yang membuat Natha bingung, Jujur? Jujur tentang apa? Pikir Natha.


"Gue mau lo jujur tentang perasaan lo sendiri. Dan gue juga mau lo jujur tentang lo sama Saddam, lo beneran Pacaran, atau hanya berpura-pura agar bisa bikin Aksa jauh jauh dari lo?" tanya Vio yang berbicara tanpa menatap ke arah Natha. Natha kaget dengan ucapan Vio, "maksudnya?" tanya Natha mengelak.


"Gue sama lo udah temenan satu tahun, Ta. Gue tau sifat sifat lo, walau gak semua yang gue tau. Gue mohon, lo jujur, boleh? Di sini hanga kita berdua, yang lain juga gak ada." jawab Vio menatap Natha, Natha meneguk ludahnya kasar.


"Vi? Oke, gue jujur. Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri. Gue gak tau, gue masih sayang sama Aksa, tapi? Kalau gue ingat kejadian dulu dia ngeduain gue? Gue tiba tiba nangis gak jelas. Kadang, gue juga ngerasa bersalah sama dia, kalau dia ngajak ketemuan, gue selalu nolak, apalagi Bunda Ghita, kalau bunda ngajak ketemuan, gue selalu bilang sibuk." jawab Natha, kini matanya mulai berkaca kaca.


"Gue......"

__ADS_1


...***...


__ADS_2