
"Bukannya mereka temenan, ya, kok malah membully temen sendiri? Mungkin dia ada salah? Udah lah bukan urusan gue." Natha tak mau ambil pusing, ia kembali berjalan ke tangga untuk pergi ke kelasnya.
Natha masuk ke dalam kelas, menaruh tasnnya, baru saja ia ingin keluar kelas untuk mencari Teman-temannya, Tiba-tiba temannya masuk ke dalam kelas Natha dan menghampirinya yang masih di tempat.
"Haloo epribadeh," sapa Gabriella,
"Eh, tau gak, tadi gue ketemu sama camer tauu," ujar Laura dengan bangganya,
"Halah, baru sekali? Lo lupa sama siapa lo cerita? Noh, sama Natha yang hampir tiap hari liat Camer." jawab Gabriella,
"Ya elah, ini beda, ini kan gue, bukan Natha. Sumpah, gue takut sih awal ketemu, cuman di berani in aja hehe, baik banget sumpah," jawab Laura,
"Oh iya, mana yang lain?" tanya Natha,
"Lagi ngurus ekskul basket," jawab Vio,
"Gue gak sabar buat hari sabtu, aaaa!" teriaknya dengan heboh yang mesngisi kebisingan di dalam kelas.
"Diem bego, jangan teriak-teriak kali. Topik lu berlarian banget ya, tadi camer, sekarang sabtu nanti, yang bener yang mana coba," ujar Gabriella,
"Udah hak heran gue mah, haha!" jawab Natha, sontak Gabriella dan Vio ikut tertawa karena ucapan Natha,
"Ih, gak apa lah ya, suka suka gue dong, gue yang bicara," jawab Laura,
"Pulang sekolah, jadi kan?" tanya Laura,
"Kemana?" tanya Natha,
"Kan, pasti lupa. Ituloh, ke wisata baru, yang lain bilangnya iya kok, lo ikut gak?" tanya Laura juga,
"Oh, ikut, tapi gue belum izin sama Mama, nanti gue telpon Mama gue deh, minta izin," jawab Natha, Laura mengangguk.
"Tuh, bel udah bunyi, kami ke kelas dulu, ya," ujar Gabriella dan Laura, di balas anggukan oleh Natha dan Vio.
Setelah Laura dan Gabriella keluar, guru pengajar di kelas Natha pun datang.
"Mana Cakra, Gibran, Saddam, Aji, Jema sama Dera?" tanya Guru itu,
"Tadi kata Jema, nereka izin buat ngurus ekskul basket, tapi kalo Dera, gak tau bu," jawab Salah satu murid di dalam kelas.
"Ada yang tau di mana Dera?" tanya guru itu, semua orang di kelas menggeleng, terkecuali Natha.
"Ya sudah, mari kita mulai pembelajaran pada hari ini," ujar guru itu.
***
Sekarang waktunya istirahat, murid-murid ada yang ke kantin, ada juga yang mengerjakan pr, dan ada juga yang tidur. Sekarang Natha dan tiga temannya lagi berada di kantin, kenapa cuman berempat? Karena yang lain hanya bermain basket.
"Woi, kenapa lo dari tadi diam aja?" tanya Vio yang duduk di samping Natha, sedari awal pembelajaran hingga istirahat ini, Natha masih saja diam.
"Kenapa lagi ni bocah dah," ujar Gabriella,
__ADS_1
"Woi," panggil Gabriella menepuk meja, membuat Natha tersadar dari lamunannya.
"Kenapa lo?" tanya Gabriella,
"Enggak," jawab Natha, teman temannya tak ingin ambil pusing, mereka memakan makanannya masing-masing, terkecuali Natha, ia hanya membeli ice jus mangga.
"Udah, ayo kita ke lapangan liat yang lain main basket," ajak Gabriella setelah mereka semua selesai makan, mereka menganggukkan kepalanya setuju. Natha berdiri dari duduknya dan mengambil ice jus dia yang belum habis, ia hanya meminumnya sedikit. Mereka berjalan ke aeah lapangan, sesampainya di lapangan, mereka mendudukkan diri di kursi sisi lapangan, yang di sana juga banyak cewek bahkan cowok lain duduk.
Aksa keluar dari permainannya untuk menghampiri Natha, Teman-teman Aksa yang juga bermain dengan dirinya berteriak kepada Aksa.
"Sa, mau kemana?" tanya Saddam,
"Gue udahan dulu," jawab Aksa berteriak,
"Yah, gak seru lo," ujarnya,
"Udah, ayo lanjut," ujar Cakra, mereka masih melanjutkan permainan tapi tidak dengan Aksa. Ia duduk di samping Natha,
"Mau," ucap Aksa, Natha menatap Aksa, mau apa? Oh ia tau apa yang di minta Aksa, pasti ice jus mangga milik Natha yang ada di tangannya. Natha menating esnya, seakan bertanya, 'ini?', Aksa mengangguk mengiyakan. Natha menyerahkan icenya kepada Aksa, tapi tak di ambil Aksa, hanya meraih tangan Natha yang memegang ice itu agar lebih dekat ke depan wajahnya. Ia meminum ice yang masih berada di tangan Natha,
"Haduh, serasa jadi nyamuk di sini deh, walau udah punya cowo, ya gak guy's?" ucap Laura, dan diangguki teman temannya.
"Eh, gue ke toilet bentar, ya," ujar Gabriella,
"Ikut, males gur disini, melihat kebucinan dua orang ini," jawab Vio sembari menunjuk ke arah Natha dan Aksa.
"Ikut," jawab Laura juga, mereka pergi ke toilet bertiga, sedangkan Natha masih tetap duduk di tempat itu bersama Aksa.
"Sana gih, main lagi, itu teman kamu kurang satu orang loh," ucap Natha kepada Aksa,
"Dih, jangan peluk-peluk, kamu bau," ujar Natha menjauhkan badan Aksa, namun itu hanya sia-sia, Aksa tetap memeluk tubuh Natha dari samping.
Aksa melepaskan pelukannya, menarik lengan Natha agar pergi dari tempat ini, dan pergi ke dalam kelas Natha.
Sesampainya di kelas Natha, Natha duduk di tempat Vio, dan Aksa duduk di tempat Natha,
"Ay, kamu beneran ikut 'kan hari sabtu nanti buat kemah?" tanya Aksa, Natha mengangguk,
"Iya, nama aku juga udah di catat sama Jema," jawab Natha,
"Musuh mu ikut semua," ujar Aksa, siapa? Siapa yang di maksud oleh Aksa?
"Siapa?" tanya Natha,
"Musuh kamu, masa gak tau," jawab Aksa lagi,
"Oh, Nita?" tanya Natha, Aksa mengangguk
"Sama gengnya juga, haha!" tawa Aksa pecah begitu saja. Baru saja di bicarakan, orang yang dibicarakan Natha dan Aksa pun datang. Tapi anehnya, Nita sedang menarik Dera dengan paksa, di dalam kelas, hanya ada mereka berempat, juga Natha dan Aksa.
"Gu pertegas sekali lagi, lo itu emang pantas di bully, dan lo itu, tidak pantas untuk membuli orang lain, ngaca, diri lo aja miskin!" ucapan Nita yang pasti akan merasakan sakit hati jika mendengarnya. Natha yang mendengar saja sudah sakit hati, bagaimana dengan Dera yang di katain?
__ADS_1
"So, from now on you are not part of us." ucap Nita lagi, sedangkan Raya dan Eve, ia sepertinya sedang menyiapkan sesuatu, seperti kotak bekal kecil, entah apa isinya. Raya membuka kotak bekal itu, dan menaruhnya di atas meja Dera.
"Makan!" suruh Raya dengan keras, Dera menggelengkan kepalanya,
"Oh, lo gak mau makan hm? Oke, gue yang akan maksa lo agar makan ini roti," yaps, roti, tapi bukan roti biasa, itu adalah roti yang sudah kadaluwarsa.
Raya mengambil roti di dalam kotak bekal itu dan menyodorkannya kedalam mulut Dera.
"Lo gila? Itu temen lo brengsek!" ucap Natha, sontak Raya menunda kegiatannya untuk menyuapi Dera roti itu.
"Jangan ikut campur lo," jawab Eve,
"Ta...." panggil Dera lirih, Natha melihat ke arah Dera, Dera menggeleng dan menyuruh Natha untuk keluar dari kelas.
"You're crazy?" ucap Natha di saat Dera meng isyratkan agar Natha keluar dari kelas ini.
"Get out, now!" teriak Dera meneriaki Natha,
"Fine." final Natha, Natha menarik tangan Aksa agar ia juga ikut pergi keluar dari kelas, membiarkan mereka membully Dera.
"Ngapain kamu ikut campur? Biarin aja lah dia, lagiankan dulu dia pernah ngambil hp kamu," tanya Aksa, Natha mendudukan dirinya di samping Aksa, mereka sekarang berada di kelas Aksa.
"Ya, kasian aja, masa teman sendiri di jadiin bahan bullyannya?" jawab Natha,
"Udahlah, yang terpenting dia gak ngebully kamu," jawab Aksa juga, Natha mengangguk, ia menyenderkan kepalanya di bahu Aksa, Aksa merangkul bahu Natha supaya tidak ada jarak di antara mereka. Teman-temannya memasuki kelas Aksa, baru saja masuk, Laura sudah berbicara dengan heboh.
"Eh, lo tau gak? Tadi di kelas sebelah, kelas lo, Nita, Eve, sama Raya kayak ngebentak Dera gitu tau, kenapa ya?" tanya Laura heboh sendiri.
"Lo nanya Natha? Ya mana dia tau, jelas jelas dia berada di kelas ini, aneh lu," jawab Gabriella,
"Ya, siapa sangka dia tau?" ujar Laura lagi,
"I know" jawab Natha, lantas semua mata tertuju pada Natha,
"Lo tau?!" tanya Gabriella dengan berteriak dan menepuk meja dengan keras.
"Relax," jawab Natha karena Gabriella bertanya dengan tidak santai.
"Lo tau? Kenapa? Coba jelasin?" tanya Vio kali ini.
"Tadi pagi, gue baru nyampe sekolah, dan gue denger suara dari tempat pembuangan sampahkan, suaranya itu gue kenal, gue nebak sih, suaranya Dera ya. Gue penasaran, jadi gue cari tuh suaranya, dan benar aja, itu Dera yang sepertinya di bully oleh para temannya sendiri. Nita numpahin bak sampah ke atas kepala Dera, tapi gue gak bisa denger apa yang mereka bicaraain, karena gue cuman ngintip dari jauh. Karena gue gak mau ikut campur urusan mereka juga, jadi gue tinggalin deh. Kalo yang tadi, masih dengan membully Dera, dengan mengatai Dera itu 'miskin' mana si Raya mau ngasih makan Dera pake roti yang udah kada luarsa." jawab Natha panjang lebar dengan jujur,
"Lah, bukannya temenan ya mereka berempat, kok jadi gitu?" tanya Laura, Natha menaik turunkan bahunya.
"Ada yang aneh gak sih, sama mereka gara gara anak baru itu?" ujar Vio,
"Ya kan? Gue juga ngerasa gitu, bukannya dulu mereka bertiga sebelum ada murid baru itu kayak gak pernah berantem satu sama lain gitu, paling ngebully adek kelas." jawab Gabriella,
"Udah lah, bagus dong, kalo mereka mencar, jadi gak bakal ada lagi orang yang bikin onar kaya mereka." jawab Rafa yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Laura.
"Jujur nih ya, gue rada kasian pas Nita ngatain Dera miskin. Ya bener sih emang itu kenyataannya, tapi ya jangan gitu juga lah, emang bener ya, Nita itu gak punya hati." ujar Gabriella,
__ADS_1
"Tapi dari kelas sepuluh dulu, Dera bukannya memang jadi bahan bullyan kakak kelas, ya?"
...***...