My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 8


__ADS_3

"Lo, mau ngomong apa?"


"Lo kenapa bersikap seperti itu sama mama?"


"Bang..." Natha menjeda perkataannya, menarik napasnya dalam-dalam dan menahan air mata yang hampir saja tumpah. "Gue pengen mama kayak dulu, mama yang sekarang bukanlah mama yang dulu."


"Mama lebih mentingin pekerjaannya. Bener kok, mama nyari uang buat kita, tapi yang kita butuhkan bukan cuman uang. Gue juga butuh kasih sayang mama seperti tiga tahun yang lalu, Bang," lanjutnya.


"Setidaknya lo hargai perjuangan mama, Nat. Mama masih bertahan demi kita berdua."


Kepala Natha tertunduk lesu. "Maaf, Bang."


"Minta maaf sama mama, besok," titah Keenan dengan tegas.


"Iya, baiklah."


"Ya udah! Sana balik ke kamar lo, ganti baju terus tidur. Besok sekolah 'kan?" tanya Keenan sembari mengelus puncak kepala Natha.


"Iya, goodnight, Abang."


Keenan menganggukan kepalanya, sementara Natha segera keluar dari kamar kakak lelakinya itu dan memasuki kamar tidur miliknya sendiri.


Natha mendudukkan dirinya di meja belajar. Melepaskan jaket dan sepatunya. Kemudian menggantinya dengan sendal rumah berwarna hitam. Natha bangkit dari duduknya. Ia lalu berjalan menghampiri lemari dan meraih baju tidur berwana biru untuk ia kenakan. Setelah selesai mengganti pakaian, Natha kembali melangkah menuju kamar mandi, mencuci muka lalu melihat wajahnya di cermin. Tampak matanya yang sembab akibat menangis.


Selesai Natha mencuci mukanya, dia langsung berjalan ke arah kasur, membaringkan dirinya di sana. Natha mengambil hp yang berada di atas nakas, yang letaknya di samping kasur Natha. Meraih benda pipih itu, melihat layarnya yang berisi notif dari nomor tak dikenal.


Di whatsapp


//unknown//


[Hai, ini Tante Gita. Simpan nomor Tante, ya, Tante minta nomor kamu sama Vio.]


Dengan cepat Natha membalas pesan chat tersebut. [Ah, iya tante.]


Setelah membalas pesan dari gita dia mematikan ponselnya, meletakkan kembali di atas nakas, setelah itu ia pun menutup matanya.


***


Malam sudah berlalu, sekarang jarum jam menunjukkan jam 06:12. Natha terbangun dari tidurnya, mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan seluruh tenaganya. Dua menit berlalu, Natha beranjak dari kasurnya, dia berjalan ke arah kamar mandi, mengambil Bathrobe sebelum memasuki kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Natha keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit di kepala. Ia berjalan menuju meja rias sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Ia menghampiri lemari, meraih baju seragam sekolah.


Beberapa menit kemudian.


Natha sudah rapi dengan tas ransel yang menggantung di bahu kanannya. Ia menuruni anak tangga berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Lian yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Sementara Keenan sudah duduk di kursinya dan memulai sarapannya terlebih dahulu.


"Pagi, Ma, Bang!" sapa Natha, menyapa kedua orang yang ada di ruangan itu.


"Pagi, Sayang. Ini, isi perut dulu sebelum berangkat." Lian menyodorkan piring berisi sandwich ke hadapan anak perempuannya itu. Natha segera meraih piring tersebut lalu duduk di salah satu kursi kosong yang berada di samping Keenan.


"Dek!" panggil Keenan dan Natha pun segera melihat ke arah kakak lelakinya itu. Keenan lalu memberikan sebuah isyarat kepada Natha agar segera meminta maaf kepada Lian. Natha pun hanya mengangguk paham.


"Ma," panggil Natha dengan ragu-ragu.


"Iya, Nak?" jawab Lian dengan lembut.

__ADS_1


"Maafin Natha ya, Ma," ucap Natha dengan raut wajah sendu.


"Ga papa, Sayang. Mama paham kok, Mama juga minta maaf kepada kalian berdua, ya," ucapnya sembari tersenyum lebar pada kedua anaknya. Natha menghampiri Lian yang duduk di seberangnya. Memeluk tubuh Lian dari samping kemudian dibalas oleh lian dengan begitu erat.


"Bang, sini kek, malah asik makan dia," celetuk Natha yang masih berada di pelukan Lian.


Tampak Keenan masih asik menyantap sarapannya. Ia lalu menghentikan aksinya kemudian berjalan menghampiri kedua perempuan itu. Memeluk Lian beserta Natha sekaligus.


Sepersekian detik berikutnya, Natha dan Keenan pun segera melepaskan pelukan mereka. Keenan meraih tangan kanan Lian lalu mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya itu, begitu juga dengan Natha.


Setelah beberapa menit kemudian, sarapan mereka pun selesai. Keenan dan Natha pun berpamitan kepada Lian sebelum berangkat sekolah.


"Natha, motor kamu mana?" tanya Lian yang tampak bingung. Ia tidak menemukan motor milik Natha di mana pun.


"Di rumah temen, Ma. Malam tadi Natha di anter sama dia. Sementara motor Natha dititipin di rumahnya," jelas Natha.


"Temen apa demen," goda Lian yang meledek Natha sambil tertawa pelan.


"Temen dong, Ma," ucap Natha dengan pipi yang tampak memerah, menahan malu.


"Terus kamu berangkat sama siapa sekarang?"


"Dijemput temen, Ma. Pake motor aku," jawab Natha.


"Mama temenin sampe temen kamu dateng, ya." Lian mengajak Natha untuk duduk di kursi halaman rumah mereka. Sementara Keenan sudah berangkat lebih dulu, karena ia mendapat giliran kelas pagi. Tak berapa lama, Aksa tiba di depan rumah Natha. Natha dan Lian pun segera menghampiri lelaki itu.


"Gue pikir Vio yang jemput," ucap Natha sambil menautkan kedua alisnya heran.


"Vio udah berangkat duluan, dijemput sama Gibran," jawab Aksa.


"Temen, apa temen ini, Nak?" goda Lian sambil sesekali menyeret ke arah Aksa.


"Ish, temen dong, Ma," sahut Natha malu.


"Tante, saya Aksa, temennya Natha," ucap Aksa, memperkenalkan diri kepada Lian dan Lian pun segera menyambut uluran tangan anak lelaki itu.


"Tante Lian," balasnya. "Iyaa, udah gih. Berangkat sana, nanti keburu telat loh," lanjut Lian.


Natha dan Aksa pun mengangguk dengan cepat.


"Kami berangkat dulu, Tan." Aksa mengangguk perlahan sambil tersenyum tulus.


"Ya, hati hati di jalan. Jangan ngebut," ucap Lian mengingatkan. Ia memperhatikan Aksa dan Natha yang semakin menjauh hingga menghilang dari pandangannya. Lian segera masuk kerumahnya lalu bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


***


Natha dan Aksa sudah berada di depan gerbang sekolah. Ia lalu memarkirkan motor tersebut di tempat parkir.


"Nih," ucap Aksa, ia menyerahkan kunci motor milik Natha dan segera disambut oleh gadis itu.


Natha memperhatikan Aksa yang ternyata sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. "Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Demen lo sama gue?" tanya Natha sambil meledek.


"Dih, pede banget loh. Gue udah punya cewe, Noh, rambut lo berantakan," sahut Aksa sembari merapikan rambut Natha yang sedikit berantakan. Natha terkejut melihat aksi Aksa yang sedang membenarkan rambutnya.


"Nah, udah beres. Ayo ke kelas," ajak Aksa kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu dari Natha.

__ADS_1


"Duluan aja, gue mau ke perpus bentar," sahut Natha.


"Loh, ngapain?" Aksa menghentikan langkahnya lalu kembali menatap gadis itu.


"Nyamperin pak kepsek! Ya, nyari buku lah, mau ngapain lagi?" celetuk Natha.


"Gue ikut!" ucap Aksa dengan antusias.


"Gak, ah! Sana deh duluan aja lo ke kelas," tolak Natha.


"Dih, gue kan mau nyari buku juga," sahut Aksa, sementara Natha hanya mendengus pelan. Natha berjalan lebih dulu dari Aksa, sedangkan lelaki itu berjalan di belakangnya.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam perpustakaan. Mereka mulai mencari buku yang ia inginkan.


"Gue udah nemu bukunya, gue duluan," ucap Natha pelan sembari memperlihatkan buku yang berada di tangannya kepada Aksa. Ia berjalan ke meja penjaga perpus untuk menandatangani buku izin pinjam buku tersebut.


Tanpa mempedulikan Aksa, Natha keluar dari perpustakaan. Aksa pun bergegas mengikuti langkah Natha dari belakang.


"Lah, lo gak pinjem buku?" ucap Natha yang sadar bahwa ternyata Aksa sudah berada di belakangnya dan tidak memegang satu buku pun.


"Gak jadi," jawabnya acuh tak acuh.


"Aneh," gumam Natha sambil memperhatikan lelaki itu dengan seksama.


Mereka berdua berjalan menuju ruang kelas dan sesampainya di sana, tiba-tiba Natha diejek oleh teman-temannya, siapa lagi kalau bukan Gabriella.


"Ekhem, ekhem, cieeee!" seru Gabriella sambil terkekeh pelan.


"Paan si lo? Gak jelas banget," ucap Natha sembari menduduki kursinya lalu meletakkan tasnya ke atas meja.


"Peje dong, Neng!" ledek Gabriella lagi


"Bacot, dia dah punya cewe, gila." Natha menekuk wajahnya.


"Aduhhh, patah hati ni, ya," lanjutnya dan berhasil membuat Natha makin kesal.


"Gue ga suka ya sama Aksa, jadi, lo bisa diem sekarang!" sahut Natha sambil memasang raut wajah yang masam kepada gadis itu.


"Eh, eh, canda doang ya'elah," sahut Gabriella lalu menghentikan ejekannya.


"Hayolo, panik gak, panik gak?" Laura ikut menyela pembicaraan kedua sahabatnya itu.


"Gak sih, b aja!"


"Biasa aja, biasa aja, padahal panik, 'kan?" lanjut Laura sambil terkekeh pelan.


"Shutttt!" Lagi-lagi Natha meminta sahabatnya itu untuk menghentikan godaan mereka.


"Eh, Nat!" panggil Vio kepada Natha.


"Kenapa?" tanya Natha seraya membalikkan badannya menghadap Vio.


"Kata siapa Aksa punya cewe?" tanya Vio dengan wajah heran menatap Natha.


*****

__ADS_1


__ADS_2