My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 69


__ADS_3

"Kamu duduknya sama Gibran, ya?" tanya Natha, Aksa mengangguk,


"Iya, sama siapa lagi, tadi si Jema duduk bareng adek kelas, cewek lagi," jawab Aksa,


"Terus, kamu mau jadi Jema? Duduk sama cewek?" tanya Natha menatap wajah Aksa datar,


"Enggak lah, ngapain juga, orang aku udah punya kamu," jawab Aksa. Natha mengalihkan pandangannya ke arah tengah tengah danau, Natha mengambil hp di saku celana levisnya, dan memfoto tempat ini. Ia mengirim kepada Keenan dan Mama Lian memberitahu bahwa ia sudah tiba di tempat perkemahan.


Dua puluh menit kemudian.


"Ayo balikke barisan, kayaknya yang lain udah baris," ujar Natha, Aksa mengangguk, mereka berjalan ke arah barisan, yang lain sudah berbaris,


"Dadah," lambai Aksa kepada Natha, Natha melambai balik ke arah Aksa, ia berbaris ddi barisannya, berdua dengan Hani.


"Sudah lengkap semua?" tanya Pembina perkemahan kepada pemimpin setiap tim.


"Sudah, pak!" jawab mereka serentak,


"Oke, selamat siang semuanya, cuacanya sudah mulai panas, bapak harap, kalian semua masih semangat untuk ini semua. Oke, setiap kelompok akan di kasih dua tenda, kalian akan membagi tugas, siapa yang membangun tenda, dan juga sebagian suruh untuk mencari kekayuan. Nanti pemimpin tim kalian akan memberitahu di mana tenda kalian berada, ayo semuanya, kita bergerak sekarang!" jelasnya.


Natha berjalan mengikuti Gabriella dan Laura yang memberitahukan di mana tempat tim tenda mereka.


"Nih tempat kalian, bagi tugas, sebagian cari kayu bakar, dan sebagian buat tenda," ucap Laura,


"Ta, lo bisa bikin tenda?" tanya Kevin kepada Natha,


"Bisa," jawab Natha,


"Ya udah, gini aja, gue sama Noval nyari kayu bakar, sisanya buat bangun tenda," ucap Kevin, Natha dan lainnya mengangguk.


Mereka mulai mengerjakan tugasnya, Natha, Hani dan Citra sibuk membangun tenda, sedangkan Dera dan Eve hanya diam diam saja.


"Lo berdua bantuin kek, enak banget Diam-diam doang, kayak ratu aja," ucap Natha,


"Gue gak bisa membangun tenda, maaf," jawab Dera,


"Ya udah, sana bantuin Noval sama Kevin nyari kayu bakar, gak bisa juga? Ngapain ikut? Jadi beban doang," kesal Natha, ia tak bilang dari awal jika ia tidak bisa, sedangkan Eve sedang membantu dengan terpaksa. Dera berjalan untuk menyusul Kevin dan Noval yang mencari kayu bakar.


Mereka telah selesai membangun tendanya, semuanya bernaung di pepohonan, dan ada juga yang sedang jalan-jalan di cuaca yang panas ini. Natha duduk bersampingan dengan Hani, mereka tidak boleh memencar dari tim mereka dulu.


***


Jam sudah menunjukkan jam empat sore, mereka berbaris seperti awal, memberi tahukan apa saja yang akan dilakukan nanti.


"Sore semua, kami akan memberitahukan untuk acara malam ini, kita akan menyalakan api unggun, setelah itu memasuki hutan untuk mencari petunjuk dan dapatkan peti yang berisikan hadian untuk tim yang mendapatkannya. Ingat kalian jangan memencar, dan di sana sudah terdapat beberapa petunjuk jalan. Sekarang hampir menunjukkan jam setengah lima sore, kalian semua silahkan bergotong royong untuk membantu yang lain untuk memasak makan malam." jelas sang pembina kemah,

__ADS_1


"Mengerti?" tanyanya,


"Mengerti, pak!" jawab semuanya serentak. Natha dan lainnya menghampiri guru yang memasak makanan, mereka membantu memasak, mencari bahannya, dan lainnya.


Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam, mereka semu sudah selesai memasak, ada yang membuka dua alas untuk duduk yang lebar. Menaruh semua makanannya, dan mereka duduk mengelilingi makanan itu, mereka mendudukkan dirinya berpencar dengan tim. Sekarang Natha, Aksa dan enam teman lainnya duduk di dekatnya. Makan malam bersama, ini hanya untuk anak murid, guru dan pembinanya berbeda tempat, tak jauh dari mereka juga.


Setelah mereka selesai makan, jam juga sudah menunjukkan jam delapan malam, mereka menyalakan api unggun. Duduk mengelilingi api unggun, bernyanyi-nyanyi, bergurau, bercerita horor, dan lainnya. Setelah jam sudah menunjukkan jam sembilan malam, mereka berbaris seperti tadi sore, untuk berjalan masuk ke dalam hutan.


Dari tim satu hingga tim keenam, mereka semua sudah jalan memasuki hutan, gelap, hanya ada senter yang di kasih oleh pemimpin tim. Satu tim mendapatkan dua senter, pemimpin mengikuti di belakang mereka dengan sembunyi-sembunyi.


"Ikutin petunjuk ini gak sih?" tanya Natha setelah menemukan palang kayu yang ada panahnya,


"Kayaknya iya, ayo kita ikutin aja jalannya," jawab Hani, mereka berjalan mengikuti palang-palangnya, tanpa rasa takut, mereka terus berjalan, hingga di sana tertuliskan, 'carilah selembar kertas' Natha dan yang lainnya sibuk mencari kertas yang di maksud.


"Ini bukan?" tanya Citra, Natha mengangguk,


"Coba baca," jawab Natha, Citra membuka kertas itu, mereka membacanya bersamaan,


'Kalian masih berada di setengah jalan, jalan terus lalu belok kanan, di sana ada air terjun, dan cari kertas petunjuk lainnya' inilah tulisan hang ada di kertas itu,


"Udah, bawa aja kertasnya," ucap Kevin, mereka masih berjalan untuk mencari air terjun yang di maksud.


Mereka mendengar gemercik air terjun, mereka telah menemuka air terjun tersebut, mencari cari kertas petunjuk lagi, tapi tidak menemukannya. Yang di dapat oleh Noval hanyalah palang yang tercoret dengan cat biru.


"Ini apa?" tanya Noval, mereka berkumpul, melihat apa yang ada di tulisan itu. Natha ingat, dulu di saat ia masih SMP ia di suruh untuk membawa cat yang jika terkena air akan hilang. Natha punya ide, ia pergi ke tepian air terjun dan membasahi tangannya, berjalan ke palang itu lagi lalu menggosokkan tangannya ke cat itu, dan benar saja, cat itu hilang lalu terlihatlah tulisan kecil.


"Gue inget pas dulu smp pernah di suruh bawa cat yang kalo kena air akan hilang, jadi gue coba aja, siapa tau bener." jawab Natha, mereka membaca tulisan kecil itu,


"Sebentar lagi, kalian akan menemukan hal yang mungkin akan membuat kalian takut, jadi berhati-hatilah." ucap Citra membaca tulisan itu,


"Aih kak, kok gue jadi takut ya," ucap Hani,


"Udah, jalan lagi aja ayo," jawab Kevin,


"Yang cewek duluan apa cowok duluan?" tanya Noval,


"Mending gini deh, cowok dua di depan dan dua di belakang sisanya di tengah deh, hehe," ucap Hani,


"Boleh" jawab Kevin, mereka sekarang berjalan seperti yang di bilang oleh Hani, Tiba-tiba di pertengah jalan, lampu senter milik Citra mati,


"Jangan takut," ucap Hani kepada Natha,


"Halah, aman, gue gak takut," jawab Natha, mereka bergandengan layaknya seorang pasangan. Tiba tiba di dekat semak semak ada beebunyi sesuatu, entah itu apa, tetapi mereka tak menghiraukan nya, mereka masih lanjut jalan, mereka tak takut. Hingga saatnya mereka ketemu peti berukuran sedang, mereka bahagian,


"YESS!" sorak Kevin dan lainnya

__ADS_1


"Heh, shut!!" ucap Natha menegur, mereka menemukan peti itu dan membuka petinya. Terdapat di dalam sana ada Styrofoam bulat kecil, dan di atas petinga ada tertulis 'ambil satu kertas, jangan dibuka, lalu serahkan kepada pemimpin kalian, carilah pemimpin kalian yang sedang bersembunyi' Kevin memasukkan tangannya ke dalam peti itu untuk mencari kertas yang tertutup oleh styrofoam bulat kecil itu.


Mereka melihat sekitar, mencari di mana pemimpin tim mereka bersembunyi, Natha berbicara,


"Gab, nih gue nemu kertasnya udah, bantuin lah, cape ini, mau cepet ke tenda, lo juga pasti cape karena nahan takut," ucap Natha sedikit terkekeh, ia tahu bahwa Gabriella takut gelap,


"Jangan keluar lo, di sini ada gue," bisik Laura kepada Gabriella yang ketakutan, mereka bersembunyi tak jauh dari timnya.


"Cari aja Ta, mereka gak mungkin akan keluar," jawab Kevin, Natha mengangguk mereka mencari, dan Natha melihat dua orang yang bersembunyi di dekat pohon, Natha mulai memikirkan ide jahilnya. Ia mengendap endap untuk menghampiri dua temannya itu,


"Hayoloh, ngapain sembunyi di sini," ucap Natha mengagetkan dua temannya


"Gila lo, bikin gue jantungan aja" pekik Gabriella,


"Sini, mana kertasnya?" tanya Laura, Natha menyerahkan kertas tadi kepada Laura.


"Guys, sini, gue udah ngasih kertasnya, ayo balik," ucap Natha


"Eh heh, kalian gak boleh balik lewat situ lagi, noh, kalian harus balik lewat sana, di sana ada petunjuk jalan, tapi gak banyak jadi hati-hati" ucap Laura, Natha mengangguk, mereka berjalan ke arah di mana yang Laura tujukan tadi. Natha pikir Laura dan Gabriella hanya berdiam di sini, ternyata tidak, mereka mengikuti anggota timnya tapi dengan perlahan di belakang.


"Ini masih jauh kah? Cape banget sumpah kaki gue," ucap Natha,


"Gitu doang ngeluh," jawab Eve,


"Apaan sih lo? Mau nyari masalah, jangan sekarang, gue males ribut." jawab Natha,


"Udah, jangan berantem dulu, bentar lagi kayaknya Ta, gue juga cape ini," jawab Haikal, Natha mengangguk, mereka masih melanjutkan perjalanan walupun mereka rasa jalan yang mereka jalani itu hanya mutar mutar.


"Sumpah, ini bener gak sih jalannya? Masa dari tadi gak sampe," ucap Citra,


"Ya kan, gue ngrasa di sini sini doang, padahal dari tadi kita nemu palang yang berbeda beda." jawab Natha,


Sedangkan Gabriella dan Laura, sebenarnya ia ikut panik karena gak sampe-sampe, soalnya jalan untuk kembali ke tenda hanya sebentar dari adanya peti tadi, kok mereka kayak di situ-situ aja. Gabriella membuka hpnya, tidak ada jaringan sama sekali, padahal di sana tadi masih ada, mengapa sekarang tidak ada. Karena Gabriella dan Laura tarkut, ia menghampiri anggota timnya.


"Loh Gab, Lau, kok kalian bisa di sini?" tanya Natha,


"Gue sama Laura ngikutin anggota tim, sama kayak yang lain, kayaknya kita salah jalan deh, soalnya kalo dari kalian nemu kertas di peti tadi kita kalo mau ke tenda hanya sebentar, ini kenapa jadi lama banget." ucap Laura


"Jangan nakut nakutin dong kak," jawab Hani,


"Beneran deh, kayaknya ini kita salah jalan, coba kita balik ke peti tadi deh," ucap Gabriella,


"Aduh, masa ini kita tersesat kak," jawab Citra,


"Gak jelas banget sih lo, kalo ngasih tau jalan tu yang benar, gak becus banget."

__ADS_1


...***...


__ADS_2