
"Udah ah, jangan ngomongin dia mulu kenapa, sih? Nih, mending pegangin hp gue bentar," ucap Natha sembari menyerahkan hpnya ketika mereka sudah berada di toilet.
"Baiklah, sini!" Vio segera meraih hp milik Natha lalu memeganginya dengan erat. Natha memasuki toilet lalu menutup pintunya rapat-rapat. Setelah selesai, ia pun segera keluar.
"Mana hpku?" tanya Natha sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Vio. Vio kembali menyerahkan ponsel tersebut ke tangan Natha kemudian mereka pun berjalan menuju kelas mereka.
"Gue rasa, Gibran suka sama lo deh, Nat," ujar Vio.
"Ish, yang benar aja. Gue rasa Gibran malah sukanya sama Gabriella, deh!" jawab Natha.
"Entah, tapi kalau aku rasa dia malah sukanya sama elo," ujar Vio lagi.
"Tunggu aja, bukannya dia mau nyatakan perasannya?" kata Natha.
"Iya, juga. Tapi gue udah kepo duluan, haha!" ujar Vio sambil tertawa pelan.
"Udah, ih."
Tak terasa, Natha dan Vio pun tiba di ruang kelas. Setelah memasuki kelas, Vio lalu duduk di kursi Laura yang sedang kosong Sementara Natha duduk di kursi milik Vio.
"Malam lo sibuk, gak?" tanya Vio kepada Natha yang sedang asik memainkan ponselnya.
"Gak tau, kenapa emang?" tanya Natha tanpa menoleh ke arah Vio dan tetap fokus pada layar ponselnya.
"Oh, nanya doang sih."
"Astaga! Hampir saja gue lupa. Ntar malem gue mau ke rumah tante lo. Aksa yang nyuruh tadi," ujar Natha kemudian lalu kembali memainkan ponselnya.
"Eh, iya kah? Kalau begitu, oke deh!" ujar Vio sambil tersenyum lebar. Tak berapa lama. Laura tiba di kelas. Ia baru saja menyelesaikan rapat OSIS-nya.
"Lau, lo duduk sini dulu, deh!" ujar Natha sembari menepuk tempat duduknya yang masih kosong. Meminta Laura untuk duduk di kursinya, sementara sebelum jam pelajaran kembali dimulai. Laura hanya menganggukkan kepala tanda setuju dan segera menempati kursi tersebut.
"Ngapain aja tadi?" tanya Natha kepada Laura.
"Rapat untuk acara bazar nanti," jawab Laura singkat.
"Bazar? Wah, kapan?" tanya Natha lagi dengan begitu antusias.
"Masih belum pasti, sih. Tadi gak dikasih tau jadwal yang bener, itu masih perkiraan para guru aja," jawab Laura lagi. Natha pun mengangguk paham.
Sekitar dua jam kemudian.
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari salah seorang guru melalui sebuah speaker dan meminta seluruh siswa dan siswi untuk berkumpul sebentar di lapangan sekolah.
Para siswa dan siswi pun bergegas menuju lapangan dan berkumpul di sana untuk mendengarkan pemberitahuan dari guru tersebut.
__ADS_1
"Ngapain lagi si, disuruh ngumpul di sini? Gue kan ngantuk ini," ujar Gabriella dengan wajah bete.
"Anjirr, lo kayak kelelawar tau, malam tidak tidur, kalo siang tidur," celetuk Laura. Teman-temannya yang lain hanya tertawa, menertawakan wajah Gabriella yang terlihat kesal.
"Anak-anak, mohon minta perhatiannya sebentar. Kami dari seluruh dewan guru ingin menyampaikan sesuatu. Kita akan melaksanakan bazar dan di setiap kelas harus ada dua stan jualan. Terserah mau jual apa saja, yang penting dari hal kreatif kalian sendiri. Sampai sini ada yang ditanyakan?" ujar wakil Kep-Sek.
"Bu, mau nanya!" Seorang murid mengangkat tangannya dan sontak seluruh pasang mata tertuju padanya.
"Ya, silakan," jawab Bu Kep-Sek.
"Jual makanan yang dibuat sendiri bisa gak, Bu?" tanyanya dengan begitu serius.
"Iya, boleh. Nanti di kelas, wali kelas kalian bakal bagiin kelompok yang akan berjualan," jawab Bu Kep-Sek.
Tanya jawab antara guru dan murid pun terus berlangsung. Mereka tampak antusias ingin menyambut hari tersebut. Sementara Natha dan teman-temannya hanya diam sambil menyimak.
Beberapa puluh menit kemudian.
Setelah selesai, mereka pun kembali ke kelas masing-masing. Menikmati waktu istirahat masih tersisa sepuluh menit lagi. Mereka duduk di tempat duduk mereka masing-masing, terkecuali Natha. Gadis itu menghilang. Ia tidak masuk ke kelas dan tempat duduknya tampak kosong tak berpenghuni.
"Loh, Natha mana, ya? Perasaan tadi dia di belakang gue deh," ucap Gabriella yang kebingungan setelah menyadari keberadaan Natha.
"Lah iya! Ada yang tau dia di mana?" tanya Laura kepada teman-teman cowoknya, Aksa dan Gibran. Mereka berdua hanya menggeleng, tanda tak tahu.
"Ke mana lagi sih dia. Keluyuran aja," celetuk Gabriella.
"Loh, bukannya itu Natha? Ngapain dia di sana?" tanya Laura dengan alis yang berkerut.
"Iya, itu Natha. Dan itu Nita and the genk, bukan? Ngapain mereka berkumpul di sana?" jawab Gabriella, tidak kalah kebingungan.
"Apa dia nyari masalah lagi. Ck ck ck! Dasar, emang!" celetuk Laura dengan sedikit kesal. Laura hendak berjalan ke arah Natha, akan tetapi ditahan oleh Gabriella.
"Jangan, kita liat aja dulu," ujar Gabriella, mengingatkan.
"Rekam deh rekam, nih!" ujar Laura menyerahkan ponsel miliknya kepada Gabriella. Gabriella pun segera meraih benda pipih tersebut lalu merekam Natha yang tengah bergabung bersama Nita dan dua temannya.
Mengapa Natha tiba-tiba ada di sana?
Ya, di saat perjalanan menuju kelas, Natha berjalan di posisi paling belakang. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari samping lalu memaksanya untuk ikut ke belakang sekolah. Orang itu adalah Raya. Di belakang sekolah, Nita dan Dera sudah stand by di sana dan menunggu kedatangannya. Natha tau apa maksud mereka membawanya ke tempat itu.
"Ngapain lo ngajak gue ke sini? Gak usah nyari ribut, deh! Gue lagi gak mood berantem," celetuk Natha. Ia membalikkan badan dan berniat kembali ke kelas.
"Heh, bacot! Bilang aja lo takut! Beraninya hanya di depan teman-teman lo doang, kan?" ucap Nita sambil menyilangkan tangannya ke dada.
"Apa lo bilang? Gue takut?" Natha menghentikan langkahnya sambil tersenyum sinis kemudian membalikkan badan ke arah Nita.
__ADS_1
"Mau lo apa sih? Gue sama sekali gak pernah gangguin lo semua! Tadi pagi lo juga yang duluan ngatain gue, kan? Apa lo sudah pikun?" lanjut Natha yang sedang menahan diri agar tidak terpancing emosi untuk kesekian kalinya.
Nita kembali tersenyum sinis. "Mau gue, ya? Mau gue, elo secepatnya keluar dari sekolah ini! Gue enek liat muka lo yang sok kecantikan itu," jawab Nita dengan geram.
Natha tertawa mendengar ucapan Nita barusan. "Haha, lo pikir ini sekolah punya lo? Dasar, gak jelas!"
"Ya, sekolah ini memang bukan milik gue. Tetapi gue bisa buktikan kepada elo, bahwa gue bisa bikin lo keluar dari sekolah ini, Natha!" ucap Nita dengan penuh menekan.
"Silahkan, kalo bisa!" tantang Natha.
"By the way, any way, bus way! Bokap lo ke mana? Nikah lagi, ya? Ups HAHAHA!" Nita mulai mengolok-olok Natha lagi. Raya ikut menertawakan Natha, sementara Dera. Dera hanya diam dengan wajah memucat seperti orang yang sedang ketakutan.
Sekarang Natha kembali tersulut emosi. Ia meradang dan kemarahannya sudah berada di puncak ubun-ubun. Natha refleks menampar pipi Nita.
Plakkk!
"Brengsek, lo!" ujar Natha yang emosi.
Namun, kali ini Nita tidak tinggal diam. Ia membalas tamparan Natha.
Plakkk!
"Lo pikir, lo doang yang bisa, ha? Sekarang lo sendirian, temen-temen lo gak ada di sini. Kalo mau berantem? Ayo," tantang Nita.
"Kurang ajar!" Natha lalu mendorong tubuh Nita ke belakang dengan cukup keras hingga Nita terdorong ke belakang. Namun, karena di belakang Nita ada Dera dan Raya yang menahan tubuhnya, Nita tidak sampai terjatuh.
Natha sangat kesal, ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Nita ingin membalas perbuatan Natha. Ia ingin mendorong tubuh gadis itu, tetapi belum sempat Nita mendorong, Natha terlebih dulu mencekik leher Nita.
Nita didorong hingga membentur tembok yang berada di belakang sekolah. Kedua tangannya masih berada leher Nita hingga ia kesulitan untuk bernapas. Raya dan Dera berniat membantu Nita. Namun Laura dan Gabriella segera datang dan menarik rambut mereka dari belakang.
"Jika lawan membawa teman, makan kami juga akan membawa teman. Lawan lo, bukan Natha, lawan lo adalah gue!" ujar Gabriella yang menarik rambut Dera sampai badannya tertarik ke belakang. Begitu juga dengan Laura yang menjambak rambut Raya hingga gadis itu tak berdaya dibuatnya.
Natha masih mencekik leher Nita hingga Nita benar-benar seperti kehabisan napas. Ia sudah tidak mampu melawan dan tampak pasrah.
Natha mengepalkan tangan kanan lalu mengangkatnya ke udara. Mendaratkan kepalan tangannya ke pipi Nita. Nita tidak bisa melawan, ia ingin menendang dengan kakinya, tetapi terlebih dulu Natha menendang kaki Nita.
Tanpa mereka sadari, di halaman belakang sekolah sudah banyak murid yang merekam dan menonton pergulatan panas mereka. Aksa, Gibran, Cakra, Felix, Mecca dan Zeze pun juga berkumpul di sana. Namun, tidak ada satu pun yang berani memberhentikan pergulatan panas mereka.
Zeze berlari meninggalkan tempat itu lalu memanggil guru BK. Sementara Aksa nekat melerai pergelutan panas Natha dan Nita dengan menarik Natha yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Natha, hentikan!" tegas Aksa sembari menjauhkan tubuh gadis itu dari Nita.
"Lepaskan aku! Biarkan aku kasih pelajaran ke dia, Aksa," jawab Natha dengan penuh emosi. Sementara Nita meraup udara dengan rakus. Bahkan untuk berdiri saja, dia sudah tidak memiliki cukup tenaga.
Guru dan Zeze datang tepat waktu dan segera melerai perkelahian yang terjadi antara beberapa siswi tersebut. Dera, Raya, Gabriella dan Laura akhirnya dibawa ke ruang BK.
__ADS_1
"Jangan pernah memanggil gue dengan sebutan itu lagi, brengsek!!" ujar Natha meneriaki Nita yang sudah terduduk lemas sambil menghirup udara.
*****