
Uhuk!
Natha tersedak mendengar ucapan dari Papanya sendiri, Keenan dengn cepat memberikannya secangkir air putih. Mama Lian juga ikut mengusap punggungnya pelan, ia juga kaget.
"Maaf, kalau tidak mau, tidak apa." sambung Papa Leo. Mama Lian menatap kedua anaknya bergantian, wajah Keenan dan Natha sangat tersenyum lebar dan sesekali ia mengerjapkan matanya cepat.
"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Nanti di pikirkan lagi." jawab Mama Lian, kini wajah Natha berhenti tersenyum, sebaliknya dengan Keenan, ia masih tersenyum tapi kali ini ke arah Natha.
Tak lama kemudian pesanan mereka tiba, hanya ada bunyi sendok dan garpu yang mengenai piring.
/pulang ke rumah.
Sedari tadi Mama Lian hanya berdiam saja, dan sekarang ia hanya menyuruh kedua anaknya untuk langsung tidur, tapi tidak dengan Natha, Natha tadi meminta izin kepada mama Lian untuk jalan-jalan bersama teman-temannya.
Mama Lian dan Keenan sudah berada dalam kamarnya masing-masing. Sedangkan Natha sedang berada di kamar mandi untuk menghapus make-up nya. Setelah selesai menghapus make-up, Natha mencari baju untuk bertemu teman-temannya.
Natha menggunakan Dress berwarna hitam yang panjangnya hanya sepaha, lengan panjang, heels berwarna hitam dan tas yang berwarna putih.
Natha juga menguncir rambutnya dengan pita yang berwarna putih. Natha mengambil kedua hpnya dan juga dompet, memasukkannya kedalam tas kecil yang akan ia bawa.
Natha mengambil kunci mobil di kamar Keenan.
"Bang!" panggil Natha dari luar kamar Keenan sambil mengetuk pintunya.
"Masuk aja, gak di kunci kok itu." ucap Keenan. Natha membuka perlahan pintu kamar Keenan, ia sedang berada di kasur sambil mengetik di laptop.
"Tuh, di dalam laci meja belajar gue." ucap Keenan yang mengetahui bahwa Natha ingin mengambil kunci mobil.
"Oke, thanks." jawab Natha yang hanya di angguki oleh Keenan.
Kenapa Natha memakai mobil, dan kenapa ia tidak memakai motor saja? Jawabannya adalah, ia memakai dress pendek, jika ia memakai motor, takutnya bajunya terbuka, jadi dia memutuskan untuk memakai mobil. Sekalian ia juga menjemput Laura dan Kate.
***
Mereka sudah tiba di tempat ng di janjikan. Natha, Laura dan Kate keluar dari dalam mobil, kedua teman Natha memakai baju dress juga, tapi berbeda warna dan model, Laura berwarna Cream, dan Kate berwarna Biru tua.
Mereka masuk ke dalam, karena teman-temannya sudah berada di dalam sana. Mereka harus menaiki tangga dulu, karena teman-temannya berada di lantai dua, yng di pesan khusus untuk mereka ber sepuluh. Siapa satunya? Kevin. Temannya Cakra, mereka sudah akrab juga sama dengan Kate.
Mereka melihat teman-temannya yang berada di dalam room khusus. Natha, Laura dan Kate masuk ke dalam, langsung mendudukkan dirinya saling berhadapan.
Kate> Natha> Laura> Gabriella> Vio
Meja
Kevin> Aksa> Rafa> Cakra> Gibran
Mereka sudah memesan makanannya, Natha, Laura dan Kate juga, Gabriella tadi yang memesankan di saat mereka lagi di jalan, jadi mereka tak perlu menunggu lama lagi.
Sekitar lima menit telah berlalu, Pesanan mereka datang bersamaan dengan di antar tiga orang pelayan cantik. Satu membawa minuman, dan dua lagi membawa makanan di atas napan yang lumayan besar.
Setelah selesai menaruh makanan ke atas meja makan mereka, ketiga pelayan itu kembali bekerja untuk melayani orang lain di luar.
Mereka makan sambil ngobrol ngobrol bersama, berfoto foto, saling membuat foto aib untuk di jadikan poto profil grub mereka. Banyak lagi yang mereka lakukan, sampai jam sebelas malam. Mereka memutuskan untuk pulang, Mereka keluar dari restoran itu, mereka juga sudah membayar pesanan tadi. Berpisah di luar restoran, Gabriella, Cakra, Kate, Kevin, Vio dan Gibran sudah pulang lebih dulu.
Hanya tersisa Rafa, Aksa, Laura dan Natha. Tadi Kate pulang bersama Kevin, mereka satu arah, jadi Kate tidak ingin merepotkan Natha, makanya ia ikut Kevin.
Mereka ber empat sudah tak di restoran, tapi mereka berempat masih bersinggah di taman sebentar. Kenapa? Rafa yang mengajak.
Kini mereka hanya berdiri di depan mobil Natha, Aksa dan Rafa menggunakan motor masing-masing.
"Kenapa ngajak kami kesini dah? Udah malam banget ini. Mending pulang ayo? Besok bukannya Aksa udah mau berangkat ke bandara ya? Kita nanti ikut ngantar sampai ke bandara kan? Udah ayo, pulang aja." ajak Laura, ia hendak berjalan masuk ke dalam mobil Natha, tapi?
__ADS_1
Tapi tangan Laura di genggam oleh Rafa yang tepat berada di sampingnya. Laura yang tak bisa melepaskan genggaman tangan Rafa dari tangannya hanya kembali ke posisi awal, dan tidak jadi masuk ke dalam mobil.
"Tunggu dulu, bentar aja. Bentar doang..." ucap Rafa, Laura kesusahan menelan ludahnya sendiri.
Aksa menghampiri Natha yang bersandar di depan mobilnya, Aksa ikut bersandar di samping Natba lalu merangkul pundak Natha. Natha hanya diam membiarkan Aksa merangkul dirinya.
"Maaf, aku memang egois. Aku yang memutuskan untuk berpisah, tapi aku sendiri yang tidak bisa melupakan dirimu. Jadi, maukah kamu kembali kepada ku? Aku tau ini agak aneh, Tiba-tiba ngajak balikan. Tapi beneran, aku gak bisa tanpa kamu, aku juga gak bisa suka kepada wanita lain, selain dirimu. Cinta ku habis di kamu, aku mau kamu kembali ke aku lagi, maukah kamu menerima ku kembali?" ucap Rafa, ia masih setia memegang tangan Laura, Laura yang mendengar penuturan dari Rafa tiba-tiba matanya berair.
Ia juga sebenarnya masih belum bisa move on dari Rafa, ia masih mencintai Rafa. Tapi ia sangat gengsi untuk mengakui nya, jujur saja, jika sedang fotbar atau makan makan, mereka selalu berdekatan. Laura makin tak bisa melupakan Rafa, ia juga kadang salah tingkah karena hanya berdekatan dengan Rafa.
Ia dulu sempat berpikir bahwa ia tak akan pernah kembali bersama Rafa, dan ia juga pernah berfikir jika Rafa sudah memiliki wanita lain di luar sana. Tapi semua pemikiran nya salah, ternyata Rafa juga sama seperti dirinya, tak bisa mencintai orang baru dan masih sama sama Gagal Moveon.
Laura tak kuat menahan air matanya, akhirnya air matanya terjatuh dengan sendirinya.
"Hei? Kok nangis? Jangan nangis dongg...." ucap Rafa memeluk Laura, tanpa basa basi, Laura juga memeluk tubuh Rafa. Ia sangat merindukan pelukan dari Rafa yang bahkan sudah menjadi candunya. Ia juga menganggap Rafa sebagai rumah keduanya selain Mama.
Laura terisak di dalam pelukan Rafa, Rafa semakin mempererat pelukannya.
Aksa dan Natha? Mereka berdua hanya tersenyum senyum, mereka juga merasakan salting.
"Jadi gimana ini? Di Terima apa enggak?" tanya Rafa yang padahal sudah tau apa jawaban dari Laura.
"Ih! Diem! Aku malu." jawab Laura sambil memukul punggung Rafa, tapi bagi Rafa pukulan dari Laura itu hanya seperti usapan. Tapi beda lagi jika Laura mencubit, beuh, sakitnya bukan mainn.
"Jadi Terima apa enggak ini? Masa gak di jawab?" tanya Rafa lagi, Laura mengangguk di dalam dekapan Rafa.
"Ciee!!" sorak Aksa dan Natha sambil bertos.
Hayoloh, Laura sama Rafa aja sudah balikan, kalian berdua kapan? 🤣 kapan kapan nder, haha!
"Udah ah, udah kemaleman ini. Takut dimarahin Keenan nanti gue pulang. Jadi ini lo pulang bareng gue, atau bareng Ayang? Haha!" ucap Natha yang diiringi tawaan di akhir kalimat.
"Oh, oke. Ya udah, ini ge duluan gak apa ya? Takut kena omel sama Keenan gue. Mana gue pake mobilnya dia lagi, udah ya, duluan nih." ucap Natha bertos dulu kepada tiga temannya lalu masuk ke mobil.
Natha sudah tak berada di taman lagi, hanya tersisa Aksa, Rafa dan Laura.
"Ekhem! Kalau gamon mah ungkapin bang, entar keduluan orang mampus." sindir Rafa, Aksa yang dari tadi menatap kepergian Natha langsung menatap ke arah Rafa.
"Apaan? Enggak ah. Udah lah, pulang aja ayo, ngantar Laura tuh lo. Cewek dia, takut jadi gibahan orang-orang lo berdua pulang larut malam." ucap Aksa mengalih pembicaraan setelah itu mereka bertiga juga ikut menjauh dari gman untuk pulang ke rumah masing-masing.
***
Natha sudah sampai di rumahnya, pagar di bukakan, oleh Pak Harto. Tadi ada Pak Harto yang baru saja keluar dari dalam rumah, entah lagi apa.
"Neng, Bapak ke rumah ya. Ini pager bapak kunci." ucap Pak Harto.
"Iya, Pak. Makasih udah bukain pager." jawab Natha. "Udah tugas bapak itu atuh neng." ucap Pak Harto tersenyum lalu Natha membalas senyuman Pak Harto lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Jam sudah menunjukkan jam dua belas malam pas. Ada bibi yang masih duduk di ruang makan, sepertinya memotong buah Apel. Natha menghampiri Bibi,
"Buat siapa, Apelnya, Bi?" tanya Natha yang mengambil satu buah anggur di atas meja makan dan terletak di dalam keranjang buah.
"Buat Ibu ini, katanya mau Buah Apel, badan Ibu hangat itu, jadi sekalian di bikinin teh anget." jawab Bibi Mela.
"Setelab ini Bibi langsung tidur aja, ya? Biar Natha yang ngasih ini ke Mama." ucap Natha menyuruh Bibi Mela.
"Enggak, nak. Mending Bibi saja, Nak Natha saja yang tidur, pasti capek ya? Seharian full sibuk." jawab Bibi Mela, Natha menggeleng cepat.
"Gak apa bi, biar Natha ya?" ucap Natha, dan kali ini Bibi Mela mengalah. Ia mengangguk tersenyum sambil memotong buah apel tadi.
Setelah selesai Bibi Mela berdiri dari duduknya, Air teh hangat dan piring kecil berisi Apel tadi sudah di taruh ke atas napan agar Natha membawanya tidak susah.
__ADS_1
"Bibi tinggal ya..." ucap Bibi Mela, Natha mengangguk.
"Iya Bibi, Bibi istirahat aja, nanti besok Bibi masih bakal sibuk, buat ngantar Lea kesekolah dan bikinin bekal, nanti besok Natha mau bantu Bibi." jawab Natha, Bibi Mela menganggukkan kepalanya lalu pergi melenggang untuk ke masuk ke kamarnya.
Natha masuk ke dalam kamar Mama Lian, di atas kasur terlihat Mama Lian yang sedang kedinginan, padahal AC sudah tidak menyala, badan Mama juga sudah tertutup dengan selimut tebal.
"Ma... Minum obat dulu, yaa? Mama pasti kecapean kan? Ayo duduk dulu. Makan buahnya, terus minum obat. Mama sudah makan belum?" tanya Natha, Mama Lian mendudukkan dirinya perlahan dibantu dengan Natha.
"Mama sudah makan?" tanya Natha yang hanya di angguki oleh Mama Lian. Setelah selesai memakan Buah dan juga sudah meminum obat, Mama kembali merebahkan dirinya. Natha menutup badan Mama menggunakan selimut tebal agar kurang dingin.
"Ma, Natha izin tidur bareng mama, ya? Sampai mama sembuh, boleh?" tanya Natha yang langsung di angguki oleh Mama.
"Ya sudah, tunggu sebentar, Natha mau cuci muka sama ganti baju." ucap Natha langsung pergi keluar dari kamar mama Lian.
Natha masuk ke dalam kamar Keenan terlebih dahulu, untuk menaruh kunci mobilnya dan ingin bilang terimakasih. Tetapi Keenan sudah tertidur di atas kasur dengan laptopnya yang masih menyala di depan wajahnya.
Natha menutup Laptop Keenan lalu menyelimuti Keenan. Mematikan lampu kamar Keenan dan hanya menyisakan lampu tidur. Entah kenapa, Natha mengecup jidat Keenan lalu berucap.
"Selamat tidur, kakakku! Lelah banget ya? Maaf yaa... Gara-gara ke acara perpisahan Natha, Abang jadi ngebut tugas." ucap Natha llu berjalan keluar dari kamar Keenan dan tak lupa menutup pintunya.
Natha masuk ke dalam kamarnya untuk mencuci muka dan mengganti bajunya menjadi baju tidur. Setelah selesai, Natha memgambil dua hpnya, mematikan lampu kamar dan membiarkan kamarnya gelap. Menutup pintunya dan langsung berjalan ke kamar Mama Lian.
Natha masuk ke dalam kamar Mama, tak lupa menutup pintu kamar, mematikan lampu kamar, menyalakan lampu tidur. Merebahkan badannya di samping Mama Lian, ia juga menyelimuti dirinya sendiri.
Mama Lian sudah tertidur nyenyak, badan Maa Lian masih terasa hangat, Natha memainkan hpnya. Natha chatting bersama Papa Leo.
/Papa
[Adek udah pulang? Jadi jalan sama temen-temen gak tadi?] - Papa
[Ah Pah, maaf tadi adek lupa ngabarin. Iya pah, jadi kok tadi, baru aja pulang. Maaf Pah, pulangnya larut malam.] - Natha
[Ya sudah, gak apa adek. Abang sudah tidur? Mama juga, sudah tidur? Adek Tidur gih, udah malam banget ini, jangan begadang.] - Papa
[Iya, pah, mama sama Abang sudah tidur. Ya sudah Natha tidur dulu, Goodnight!] - Natha
[Iya sayang, goodnight, mimpi indah ya...] - Papa
Setelah itu, Natha tak lagi membalas pesan dari Papa. Ia membalas pesan dari Aksa yang baru saja dikirim.
/Aksa
[Ta, masih belum tidur?] - Aksa
[Iya, kenapa?] - Natha
[Pantes masih online. Ini, kata Bunda, besok jadi ikut ke bandara gak?] - Aksa
[Yakin dari bunda? Dari bunda apa dari lo?? 🤣] - Natha
[Iyadah, dari aku, jadi gimana? Jadi ikut?] - Aksa
[Gue masih belum bisa ngejanjiin. Mama kurang enak badan, kalau mama udah enakan, nanti gue kabarin lagi. Gue sempat-sempatin buat ikut ke bandara.] - Natha
[Loh? Kalau gak bisa jangan di paksain. Ngerawat Mama aja, Nanti besok Bunda sama Aku kesana buat jenguk sekalian ada yang Bunda bicarain sama Mama, katanya.] - Aksa
[Oh, oke!] - Natha
[Udah, tidur gih. Jangan terlalu bergadang, gak bagus. Jangan di balas lagi, biarin berhenti di aku.] - Aksa
...***...
__ADS_1