My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 48


__ADS_3

Natha melihat ke kolong meja Nana, dan benar saja, di bawah kolong meja Nana, ada hp Natha, Natha menating Hpnya, ia mendekat ke arah Dera.


"Mau ngelak?" tanya Natha sambil mengangkat Hpnya yang baru saja ketemu di kolong meja Nana.


"Lo nemu di kolong meja Nana kan? Nah, seharusnya Nana yang lo curigai, bukan gue," jawab Dera, ia mengelak dengan semua perbuatanya.


"Apa maksud lo? Gue ngambil Hp Natha? For what? Gue juga punya hp, dan lagian, ngapain gue ngambil hp Natha, gue juga gak ada urusan sama dia, gue baik baik aja sama dia. Lo kalo salah jangan nuduh orang lain, ya. Gue mau tuker tempat!" ujar Nana, ia sekarang juga mulai kesal dengan Dera, ia mengambil semua alat alatnya dan pindah di kursi kosong belakang pojok kiri. Jauh dari Dera,


"So, still want to dodge? Oh come on, jujur saja, buat apa lo ngambil hp gue? Kemauan lo sendiri, atau di suruh sama temen temen lo?!" tegas Natha sekali lagi, ia benar benar di kelilingi emosi,


"Oke, fine. Gue ngambil hp lo, karena gue di suruh sama seseorang, tapi maaf, gue gak bisa sebutin siapa yang nyuruh," jawabnya dengan jujur,


"Terus lo mau aja gitu, di suruh suruh? Babu lo? Oke, karena lo udah mau jujur, dan hp gue juga udah ketemu, gue kasih kesempatan untuk tidak laporin ini ke BK, tapi lain kali, jika lo masih mengambil barang barang gue maupun temen temen gue, gue gak akan segan segan nyeret lo ke BK!" ancam Natha, semua orang terdiam, Nana masih di selimuti emosi, dan ia berdiri untuk membuka suara,


"Iya, memang si Natha ngasih kesempatan buat gak ngasih tau ke BK gimana kelakuan lo. Tapi tidak dengan gue, lo nuduh gue seakan akan gue lah yang ngambil hp Natha, jika tadi Natha gak percaya kalo gue tidak ngambil, bisa saja nama baik gue hilang. Gue udah lapor kepada bu Neva, bentar lagi Bu Neva bakalan ke sini, dan gue, gak akan pernah maafin lo!" ujar Nana panjang lebar, di depan kelas ada Aksa dan teman teman lainnya, tak berapa lama, bel istirahat berbunyi, Dera ingin kabur, namun di depan pintu, ada Rafa yang menghalangi jalan keluar, hingga tiba lah Ibu Neva.


"Bu, semua salah paham bu, beneran deh bu, Dera gak nyuri bu, Dera cuman di suruh sama seseorang bu, ya kan teman teman?" ujar Dera setelah Bu Neva menariknya untuk ke ruang Bk, di kelas tidak ada yang membela dirinnya.


"Makasih, bu," ujar Natha dan Nana berbarengan, Bu Neva mengangguk lalu kembali menggandeng Dera untuk berjalan ke ruang BK.


"HUAAA, SADDAM MAKASIH YA, KALO LO GAK LIAT DERA NGAMBIL HP GUE, UDAH PASTI ILANG NI HP!!" teriak Natha,


"Sans, lain kali jangan naruh di kolong meja, kalo mau di tinggal titipin aja," jawab Saddam,


"Iyo, makasih ya," ujarnya.


"Ta, gue juga makasih, kalo gak karena lo nyari di kolong meja gue, gue gak bakalan tau sifat dia sekeji itu, sampe sampe nuduh gue yang nyuri." ujar Nana, Natha mengangguk lalu duduk di tempatnya sendiri, dan di susul oleh teman temannya yang dari tadi di luar kelasnya.


Natha, Vio, Laura dan Gabriella duduk di kursi belakang pojok kanan tempat Natha dan teman temannya. Sedangkal para teman cowoknya duduk di lantai, bersih kok, aman. Natha duduk ke arah menyamping kiri dan menurunkan kakinya untuk menyentuh kelantai, Aksa berdiri dari duduknya untuk ke tempat Natha.


Ia mendudukkan dirinya di lantai depan Natha, memeluk kaki Natha yang putih dan mulus lalu merebahkan kepalanya di paha Natha. Natha yang melihat itu hanya gemas lalu mengelus surai lembut Aksa.


"Halah, bucin bucin," ujar Gibran meneriaki Aksa, Nathaa hanya terkekeh,


"Dih, sirik ae lo, kalo mau ikutin bang, gak bisa ya?" tanya Aksa, Gibran tidak bisa seperti Aksa karena Vio di belakang Natha, Gibran hanya mendengus kesal.

__ADS_1


"Alah tai lo, gue juga bisa," ujar Cakra berucap, ia mendekati Gabriella yang duduk di tempat dirinya. Menyuruh Gabriella berposisi seperti Natha dan ia juga sama seperti Aksa, merebahkan kepalanya di paha Gabriella.


***


Sekarang sudah hampir dua puluh menit berlalu, lima menit lagi bel berbunyi. Mereka masih di posisi yang sama, tiba tiba ada empat gadis yang masuk ke dalam kelasnya. Nita, Eve, Dera dan Raya, mereka duduk di tempat Dera, tapi berbeda dengan Eve. Eve malah mendekati Aksa yang duduk di lantai dengan kepala di atas paha Natha.


"Hai!" panggilnya, Aksa hanya mendongak melihat siapa yang memanggilnya,


"Kok kalian duduk di lantai, kotor tau, kan ada tempat kosong di atas. Nanti kalo kalian berdiri, celana kalian bakalan kotor," ucap Eve dengan mengimut imutkan suaranya,


"Gak perlu ngatur, terserah mereka lah, emang lo siapanya dia? Kalo kotor, kan bisa di cuci, bukan lo juga kan yang nyuci," yang menjawab adalah Gabriella,


"Kok kamu kasar sih, aku gak bisa di kasarin tau," ujarnya dengan wajah yang di cemberutkan,


"Cih," Gabriella mendecih pelan setelah mendengar ucapan Eve,


"Gue nanya, lo ngapain di sini, noh, sana susul temen temen lo, sama sama pick me," ujar Laura,


"Ih, apaan sih, kamu kok ngatain aku, kamu gak suka ya aku di sini?" tanya Eve dengan wajah yang masih di sedih sedih 'kan


"Ya! Gue gak suka, kenapa? Sana deh, lo kalo cuman mau caper sana aja, jauh jauh lo," jawab Laura dengan nada yang sedikit tinggi,


"Gak usah lebay, lo kalo caper melebihi Raya, ya. Makin gedeg gue sama lo," jawab Laura lalu menarik Rafa untuk keluar dari kelas ini agar kembali ke dalam kelasnya.


"Udah, aku mau kembali ke kelas ya, bentar lagi udah mau bel," Gabriella berucap kepada Cakra,


"Hati hati," ujar Cakra,


"Kita cuman sebelahan ya, kelasnya, kayak mau tempur aja di suruh hati hati," jawab Gabriella, Cakra hanya tersenyum lalu Gabriella pergi dari kelas Natha untuk menyusul dua orang temannya.


"Kamu gak mau balik ke kelas?" tanya Natha kepada Aksa, Aksa menggeleng,


"Nanti aja, kalo udah bel," jawab Aksa. Sedangkan Eve masih menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, teman teman kelas Natha membujuk Eve untuk berhenti menangis.


Padahal sebenarnya yang di inginkan Eve adalah Aksa, Gibran ataupun Cakra yang membujuknya untuk berhenti menangis, bukannya teman sekelas Natha. 'Ih, kok malah di diemin doang sih, gue kan maunya Aksa yang ngebujuk berhenti, awas aja lo Natha, gue akan berusaha agar hubungan lo dengan Aksa hancur. Lihat saja,' batin Eve berucap.

__ADS_1


Bel berbunyi, sedangkan Eve masih setia menutup wajahnya yang 'berpura pura' menangis, dengan air mata yang di keluarkan secara paksa. Aksa bangun dari duduknya,


"Aku balik ke kelas dulu, ya," ujar Aksa,


"Iya hati hati, ada banyak ular di dalam kelas kamu," jawab Natha, Aksa hanya terkekeh sembari mengelus pucuk kepala Natha dengan lebut dan penuh kasih sayang. Lalu ia berjalan untuk ke luar kelas, ia melewati Eve, tapi sebelumnya ia berucap kepada Eve,


"Ga perlu nangis, gitu aja kok nangis," ucap Aksa yang bisa di dengar oleh Eve bahkan bisa di dengar oleh Natha dan teman teman lainnya.


Eve yang merasa di tegur oleh Aksa pun membuka telapak tangannya, mata memerah, dengan tatapan yang sayunya. Ia juga berjalan mengikuti Aksa untuk kembali ke dalam kelas, 'haha, pasti Natha sekarang sedang memanas karena melihat cowoknya sedang menegur gue, gue akan hancurin semua hubungan lo, bahkan hubungan lo bersama Keenan.' batin Eve.


Natha yang melihat itu hanya memutarkan bola matanya malas, mengapa dia harus masuk sekolah di sini? Bukan kah sebentar lagi akan lulus. Sepertinya dia benar benar akan mengikuti permainan Evelin. Batin Natha,


Guru pelajaran pun datang untuk mengajar di kelas Natha.


***


Sudah tiga jam kemudian, lima belas menit lagi, bel berbunyi.


Lima belas menit kemudian. Bel berbunyi, Natha membereskan semua barang barangnya, mencek kolong mejanya agar tak ada yang ketinggalan. Natha menggendong tasnya yang berwarna hitam di bahu kanannya, sedangkan bahu kirinya tak menggendong tas.


Ia keluar dari kelas, baru saja ia keluar kelas, ia sudah di suguhkan pemandangan yang membuatnya kesal. Ia melihat Eve dengan sengaja setelah Natha keluar dari kelas merangkul tangan Kanan Aksa, Aksa tak melepaskan tangannya, mungkin ia tidak menyadarinya.


Natha ingin menghampiri Aksa, namun lengannya di tarik oleh Cakra, yang terdapat Vio, dan Gibran di belakang Cakra.


"Liatin aja, sadar atau gak Aksanya," ujar Cakra, Natha mengangguk, ia hanya berdiri di depan kelas melihat tingkah Eve yang makin ngelunjak.


"Susulin!" ujar Rafa ketus. Ia tiba tiba datang bersama Gabriella dan juga Laura,


"Ya," ujar Natha, ia kemudian menyusul Aksa dengan langkah yang terburu buru. Ia menarik lengan kiri Aksa yang tak disentuh oleh Eve.


"Kamu apaan sih, Sa?" ujar Natha, Aksa reflek melihat orang yang menariknya, ia sedikit terkejut setelah mengetahui bahwa Natha lah yang menariknya. Aksa terkejut dan mulai bertanya-tanya siapa orang yang menggandeng tangan kanannya? Aksa menengok ke arah kanan dan terlihat lah sosok perempuan yang tengah menggandeng tangannya.


"Eve? Elo apa-apaan sih," ujar Aksa langsung melepaskan tangannya dari Eve. Sebelumnya ia pikir gadis itu adalah Natha, makanya ia tak melepaskan tangannya. Karena setiap mau pulang Natha selalu lebih awal keluar dari kelas Aksa, dan menunggu di depan pintu kelasnya.


"Eh, ngapain lo gandeng gandeng tangan gue?" kesal Aksa kepada Eve.

__ADS_1


"Ih, kok kamu gitu sih, 'kan tadi kamu yang ngegandeng aku? Ishh!" celetuk Eve dengan bibir mengerucut.


...*****...


__ADS_2