
"Kata siapa Aksa punya cewe?" tanya Vio kepada Natha.
"Dia sendiri yang bilang," jawab Natha dengan mantap.
"Dan lo percaya? Kalo gue sih, enggak. Tu bocah kalo suka sama cewe nt mulu, bray!" ucap Vio dengan nada sedikit keras, supaya terdengar oleh Aksa. Dan benar saja, Aksa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Nyindir diri sendiri? Lo aja sering nt," kata Aksa dengan nada yang kesal.
"Emang siapa cewe, lo? Ga pernah tuh lo kenalin ke tante."
"Harus banget, ya? Harus banget gue kenalin ke bunda?"
"Harus, karena gue kepo, cantik gak cewe lo," celetuk Vio.
"Yang lebih penting, lebih cantik dia dibanding, lo," balas Aksa.
"Dasar \*\*\*\*\*\*!" gerutu Vio yang merasa kalah dengan perdebatan mereka.
"Ceileh, malah berantem," ucap Laura, menyela pembicaraan seru antara sepupu tersebut –Vio dan Aksa.
"Eh, wait!" Gabriella yang memandang wajah temannya satu persatu.
"Kenapa?" Laura mengangkat sebelah alisnya menatap Gabriella.
"Mecca bilang, Zeze itu mantan nya Aksa. Serius gak sih itu?" tanya Gabriella kepada Vio.
"Zeze? Yang kemarin ikut nongkrong itu kan?" Vio mulai menerka.
"Iyes!"
"Ya, itu benar, dia mantan pacarnya Aksa. Gue juga kaget awal pertama ngeliat dia di tempat itu kemarin," jelas Vio.
"Busyet. Eh, Aksa!" panggil Gabriella dengan setengah berteriak.
"Kenapa?" Aksa menatap gadis itu dengan ekspresi wajah datar.
"Zeze gamon sama, lo. Ajakin balikan gih," lanjut Gabriella.
"Ga ah," sahut Aksa.
"Anjirrr, ditolak gak tuch," ucap Laura lalu terkekeh pelan.
"Keknya dia beneran punya cewe, deh," gumam Vio perlahan.
"Dari mana lo tau?" tanya Gabriella kepada Vio dengan wajah penasaran.
"Ga tau juga, deh. Gue cuma menerka-nerka dari bahasa tubuhnya," jelas Vio.
"Lah?" Gabriella bingung dengan ucapan Vio barusan.
"Nanattttt!" panggil Gabriella kepada Natha.
"Hmm, pasti deh ada maunya?" gumam Natha sembari memutarkan kedua bola matanya.
"Eh, kok tau si?" Kata Gabriella sambil terkekeh.
"Apa??"
"Nanti pulang sekolah sibuk gak?"
"Gak, memangnya kenapa?"
"Gue mau kerumah lo, soalnya dirumah gue ga ada siapa-siapa. Gue mana berani sendirian di rumah. Boleh gak?" ucap Gabriella sambil memohon kepada Natha.
"Oke, baiklah," jawab gadis itu mengiyakan pertanyaan Gabriella
"Terima kasih, Cinta!" ucap Gabriella seraya hendak mencium pipi Natha. Namun, Natha menolaknya dengan tegas.
"Heh, jauh-jauh! gak usah cium-cium, napa. Najis banget," gerutu Natha.
"Ish, tega," sahut Gabriella dengan bibir yang mengerucut.
"Biarin," balas Natha dengan acuh tak acuh.
Beberapa menit kemudian.
"Pagi, anak-anak," sapa seorang laki-laki yang berjalan memasuki ruang kelas mereka, bapak Ghani, guru pengajar–mata pelajaran Geografi.
"Pagi, Pak!" jawab murid-murid di kelas itu secara serentak.
"Silakan keluarkan buku Geografi kalian! Bapak akan menjelaskan pelajaran pada hari ini," ucap lelaki itu.
Beberapa puluh menit kemudian.
"Baiklah, Murid-murid, apakah ada yang ingin ditanyakan?" ucap Pak Ghani setelah selesai menjelaskan materi pembelajaran pada hari ini. Seisi kelas terdiam. Tak ada yang membuka suara.
__ADS_1
"Oke, baiklah. Jika tidak ada yang ditanya, berarti kalian semua sudah mengerti apa yang Bapak jelaskan barusan. Jadi, hari ini Bapak akan memberikan tugas kepada kalian semua," lanjutnya.
"Iya, Pak!" jawab beberapa siswa dan siswi di kelas tersebut.
"Tugas lagi, lagi, dan lagi," keluh Gabriella sambil memasang wajah masam.
"Kalo lo gak mau tugas, ya nanya," kesal Laura dengan wajah menekuk.
"Ya elah, ngegas lagi. Lagian apa hubungannya coba?" celetuk Gabriella.
"Berisik sih, lo!" sela Natha, Laura mau pun Gabriella terkejut mendengar ucapan gadis itu.
"Lo, kenapa?" tanya Gabriella dengan ekspresi wajah heran.
"Hah, kenapa? Gue gak kenapa-kenapa, kok!" jawab Natha setelah sadar.
"Ada masalah lagi?"
"Ga anjir, gue cuman negur lo berdua doang, ngapa pada ngira gue punya masalah?" sahut Natha.
"Ga tau juga si," sahut Gabriella sambil terkekeh.
"Eh, by the way, nyokap lo kemarin kenapa?" tanya Laura kepada Natha.
"Nanti aja, jawab dulu soal dari pak Ghani, tuh," celetuk Natha.
"Ish, bikin penasaran aja!"
Mereka pun mulai mengerjakan tugas dari pak Ghani. Setelah beberapa menit kemudian, bel istirahat berbunyi.
"Silakan kumpul tugas kalian, setelah itu gunakan waktu istirahat dengan baik, ya!" ucap Pak Ghani sebelum meninggalkan kelas mereka.
"Iya, pak!" sahut siswa-siswi secara serentak. Setelah selesai mengumpulkan tugas mereka, pak Ghani pun bergegas keluar dari kelas itu.
\*\*\*
"Mau kemana?" tanya Gabriella ketika melihat Natha beranjak dari duduknya.
"Ke kantin. Mau ikut?"
"Ikut!" seru Gabriella, Laura dan Vio secara serentak.
Baru saja keempat gadis itu melangkahkan kaki mereka, tiba-tiba Gibran datang mencegat.
"Eh, gue ikut!" kata Gibran.
"Apaan dah! Ikut mah ikut aja, gak usah ngehalangin jalan juga kali," celetuk Natha.
"Iya, iya, Neng Natha!" Gibran terkekeh.
"Nang neng nang neng, pala lo!"
"Ish, bercanda doang."
Bukan hanya Gibran, ketiga sahabatnya pun ikut-ikutan bersama mereka menuju kantin. Di sepanjang perjalanan menuju kantin, mereka diperhatikan oleh kakak-kakak kelas dengan tatapan tak bisa dijelaskan. Natha bingung dengan tatapan mereka, baru kali ini Natha merasa ditatap seperti itu.
"Mereka pada kenapa, ya? Ngeliatinnya kok gitu banget," ucap Gabriella yang merasa tidak enak ketika dipandang sinis oleh kakak-kakak kelas mereka.
"Entahlah. Ya udah, jalan aja. Jangan dipeduliin," sahut Natha.
"Andai aja bukan kakak kelas, dah gue teriakin," gerutu Gabriella.
"Nantangin ibu penjaga BP lo?" celetuk Natha.
"Kan andai, gue juga mana berani, anjir!" ucap Gabriella kemudian.
\*\*\*
Kini Mereka tiba di kantin. Mereka berpencar, mencari makanan favorit mereka masing-masing. Namun, mereka sudah janjian akan kembali berkumpul dan duduk di tempat biasa.
Setelah beberapa menit kemudian.
Mereka semua sudah berada di tempat yang mereka janjikan sebelumnya, di pojok kanan kantin.
"Busyet, panas banget, gila! Mana banyak banget lagi, yang ngantri," ucap Gabriella sembari menaruh makanannya ke atas meja. Ia lalu menjatuhkan diri di depan Natha. Sementara Natha dan Vio yang sudah lebih dulu duduk di tempat itu. Mereka tengah asik menikmati minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Lo berdua, gak makan?" tanya Gabriella karena tak melihat ada makanan di depan Natha dan Vio.
"Gue berdua sudah sarapan tadi pagi dan sekarang masih kenyang," jawab Natha.
"Yang lain? Mana?" tanya Gabriella lagi.
"Belum, keknya masih ngantri mereka," jawab Natha lagi.
__ADS_1
"Hai, Bestiee!" teriak Laura yang tiba-tiba datang lalu mendudukkan dirinya tepat di depan Vio.
"Lama bener," celetuk Gabriella.
"Antriannya banyak banget, makanya lama," jelas Laura dan dibalas anggukan oleh Gabriella tanda mengerti.
Tak beberapa lama, Gibran, Aksa, Cakra dan Felix tiba lalu mendaratkan bokong mereka di kursi yang terletak di depan keempat gadis tadi. Natha, Vio Gabriella dan Laura. Mereka lalu memakan makanan mereka dan setelah selesai, mereka pun kembali ke kelas.
Sesampainya di dalam kelas, mereka lalu duduk di tempat mereka masing masing.
"Nat, tadi lo liat kakak kelas yang kita lewatin ketika menuju kantin tadi gak?" tanya Gibran yang berada tak jauh dari meja Vio.
"Liat, memangnya kenapa?" jawab Natha sambil menganggukkan kepalanya.
"Gue cuma mau nanya, mereka itu kenapa? Kenapa liatinnya kok gitu banget," ucap Gibran kemudian.
"Entahlah, gue juga gak tau. Mungkin muka lo cemong, kali," celetuk Natha.
"Ish, enak aja."
"Eh, gue mau tidur dulu, ya! Mumpung masih ada waktu, kalo ada guru bangunin, ya!" sela Gabriella kepada ketiga temannya.
"Yoi," jawab Natha.
\*\*\*
Kring!! Kring!!
Kini memasuki jam pelajaran ke-empat. Semua siswa dan siswi di kelas itu sudah memasuki kelasnya.
"Gab, bangun, udah bel." Natha membangunkan Gabriella dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Gabriella bergegas bangun dari tidurnya kemudian mencoba mengumpulkan tenaganya kembali.
"Baru juga merem bentar, dah masuk aja!" celetuk Gabriella sembari mengucek matanya perlahan. .
"Namanya juga sekolah, Gab. Kalo mau tidur nyenyak, tidur aja di rumah," sahut Laura dari belakang.
"Ya, ya, ya!" Gabriella mengerucutkan bibirnya.
Waktu terus berlalu, akan tetapi guru pengajar belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Kayaknya jam kos deh, soalnya semua guru 'kan ada rapat?" kata Laura kemudian.
"Ah, yang benar? Kata siapa?" tanya Gabriella dengan begitu antusias.
"Nih, dari grub OSIS." Kebetulan Laura adalah bagian dari OSIS, dia selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan OSIS.
"Oh, iya. Gue lupa kalo lo bagian dari OSIS," jawab Gabriella.
"Bagus deh, gue ngantuk dan pengen tidur," ucap Natha kemudian.
"Ish, tumben," goda Gabriella.
"Apanya yang tumben?"
"Ya tumben, lah! Biasanya mana pernah elo tidur," sahut gadis itu.
"Hooh, kali ini gue ngantuk banget, sumpah!"
"Nat, mau temenin gue ke toilet dulu, gak?" tanya Vio ke Natha.
"Ya udah, ayo."
Sebelum keluar kelas Natha meminta izin dulu ke ketua kelas mereka, Niki. Dan lelaki itu pun mengizinkan mereka.
"Nik, gue izin ke toilet."
"Iya. Tapi jangan lama-lama."
Natha hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Kedua gadis itu kemudian berjalan menuruni anak tangga dan menuju toilet.
Sesampainya di tempat itu.
"Nat, pegangin hp gue dulu, bentar." Vio menghampiri Natha lalu menyerahkan ponselnya ke gadis itu. Natha pun segera meraih ponsel Vio.
Vio memasuki toilet lalu menutup pintu rapat-rapat. Tak berselang lama, pintu pun kembali terbuka, tampak Vio yang berjalan keluar dari toilet tersebut.
"Nih, hp lo!" ucap Natha sembari menyerahkan hp tersebut ke tangan pemiliknya–Vio.
"Ya, makasih."
"Iya. Vio, nanti pulang sekolah, mau barengan lagi, gak?" tanya Natha.
"Boleh, kalo gak ngerepotin." Vio tersenyum lebar setelah mendengar tawaran dari Natha.
...*****...
__ADS_1