
"Ngucapin apa?" tanya Vio menatap Gibran.
"Gue suka sama lo. So...will you be mine?" ucap Gibran,
"Gib?" tanya Vio, dia melirik Natha yang di samping kirinya ada Gabriella dengan Cakra.
Teman temannya melihat mereka berdua, dan ya, jawab Vio adalah,
"Yes, I want to be your lover" jawab Vio sambil menundukkan wajahnya malu, Gibran kelewatan bahagia lalu merangkul badan Vio dan teman temannya bersorak senang. Mereka kembali melihat matahari terbenam, hingga dimana matahari sudah tidak terlihat lagi,
"Guys ayo pulang," ujar Laura, mereka membersihkan semua bekas sampah makanan, dan juga mengambil semua barang barang mereka. Lalu kembali ke mobil dengan semua barang barang yang di taruh di bagasi mobil,
Mereka menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Di perjalanan Natha tertidur, begitu juga dengan Vio, Natha dan Vio duduk di kursi tengah, karena Natha yang meminta untuk tukar tempat dengan Gibran, yang tidak tidur di dalam mobil itu hanya Gibran dan Aksa,
Mobil berhenti, Natha dan Vio pun terbangun dari tidur, Natha melihat sekitar, ia sadar jika di sini bukan jalan rumah dia ataupun jalan rumah teman temannya, di sini sepi, hanya ada suara jangkrik, belalang, dan hewan hewan kecil lainnya. Ia melihat di kursi depan tidak ada Aksa dan Gibran, Natha dan Laura beranjak keluar dari mobilnya ketika ia menoleh ke belakang. Mobil Cakra yang juga berhenti di belakang mobil Aksa, yang di luar mobil ada beberapa teman temannya, dan satu gadis yang di elus elus punggungnya oleh Rafa.
"Siapa itu?" tanya Vio kepada Natha, Natha menurun naikkan pundaknya, ia juga tidak tau, Vio membuka pintu mobil sebelah kiri, dan mereka berdua keluar melalui pintu kiri itu, menyusul teman temannya itu.
"Kenapa Lau?" tanya Vio yang panik ketika melihat Laura yang memegang perutnya yang terasa mual.
"Dia mual, padahal tadi baik baik aja, setelah bangun tidur dia ngerasa mual," jawab Rafa,
"Gabriella mana?" tanya Natha, Cakra menunjukkan jarinya ke dalam mobil yang sedang duduk di kursi samping kemudi.
__ADS_1
Beberapa menit, Laura sudah tidak merasa mual lagi, jam juga sudah menunjukkan ke jam tujuh malam, mereka kembali ke mobil masing masing. Melajukan mobilnya, agar cepat cepat sampai ke rumah.
Sesampainya mereka di rumah Natha, mereka semua turun dari mobil, karena Natha yang menyuruhnya agar beristirahat dulu di rumahnya sebentar. Natha melihat sekeliling rumahnya, gelap. Itulah yang Natha lihat sekarang, mobil Keenan dan juga Lian tidak ada di halaman rumah,
"Gelap banget ta, kenapa?" tanya Rafa,
"Gak tau, ya udah masuk aja, nanti gue isupin lampunya," jawab Natha, mereka berjalan ke arah depan pintu rumah Natha, Natha melirik jam di layar hpnya, sekarang jam setengah sembilan malam, apakah semua orang rumah lagi jalan jalan? Entah lah, Natha tak mau ngambil pusing, ia masuk menggunakan kunci rumah yang dipegang olehnya. Setiap orang di rumahnya masing masing satu untuk memegang kunci rumah.
Natha mendorong pintunya agar terbuka lebar untuk teman temannya bisa masuk ke dalam rumahnya.
Hening, tidak ada suara apapun di dalam rumahnya. Natha berjalan perlahan ke arah saklar lampu yang terletak tak jauh dari pintu rumah, Natha memencetnya agar lampunya menyala, dan
"HAPPY BIRTHDAY!!" teriak semua orang di rumah itu, teman temannya juga, bahkan Laura yang tadi katanya mual seperti tidak mual, Natha bingung, mau sedih, atau senang, semua campur aduk. Dia bahkan lupa bahwa hari ini dirinya berulang tahun,
"Tiup lilin dulu ini, nanti leleh ke kuenya," ujar Keenan yang berada di samping Lian, Natha hendak meniup lilinnya, tapi setelah itu Keenan kembali berucap.
"Make a wish dulu," ujar Keenan, Natha memejamkan matanya, mengucapkan harapan harapan yang ia inginkan agar semoga bisa terwujud, ia kembali membuka matanya dan meniup lilinnya,
"YEAYYYY!!!" teriak teman temannya dari belakang dirinya sambil merekam semua kegiatan ini. Natha melihat sekeliling rumahnya, di dalam rumahnya ada, nenek, kakek, tante Cindy, dan om Rio. Bahkan ada orang tua Vio & Aksa, Cakra, Gabriella, Laura, Rafa, dan juga Gibran.
Natha terharu dengan semua hiasan di rumahnya ini, siapa yang menghiasnya, apakah Lian dan Keenan? Sepertinya iya.
"Ini semua rencana kalian ya, yang tadi Laura mual mual, setelah sampe sini gak kenapa kenapa tuh," ujar Natha sedikit menatap sinis teman temannya,
__ADS_1
"Elah gitu doang, gue emangnya agak mual, tetap bisa ditahan, tapi, Keenan ngechat Cakra agar lebih lama lagi pulangnya, soalnya belum siap semuanya, jadi kami buat gituan biar agak lama, kan stop di sana tadi agak lamaan kan, walau sedikit takut karena gelap dan sepi." jelas Laura,
"Dan buat ke pantai ini, emang kami yang rencanain agar lo lupa sama hari spesial lo," jawab Gabriella,
"Maaf ya, tadi bikin panik, kami semua sayang banget sama lo, taa," ujar Vio, mereka berempat berpelukan seperti teletubbies. Natha melepaskan pelukan temannya di saat Keenan berucap,
"Potong dulu ini kuenya, terus kasih ke orang yang disayang," ujar Keenan sembari meletakkan kuenya di atas meja yang sengaja di sediakan di sana. Natha memotong kuenya, dan menaruh satu potong kue dibagi menjadi empat potong ke dalam piring, mengambil garpu kue yang kecil, suapan pertama, ia kasih ke Lian. Suapan kedua ia beri kepada Keenan, dan suapan ketiga, ia beri ke Aksa, suapan keempat, ia memberikan kepada Lea.
Semua orang bersorak bahagia di dalam rumah itu, Natha sangat sangat bahagia pada hari ini, hari ini adalah hari yang tak akan pernah Natha lupakan.
Semua keluarga Natha memeluk dirinya, dari tiga tahun yang lalu ia tidak pernah mendapatkan perayaan ulang tahun lagi, dan sekarang ia mendapatkannya.
"Maa, terimakasih udah mau ngerawat Natha sampai sebesar ini, dan maaf dulu pernah bikin mama sedih karena sikap Natha yang selalu mengikuti ego Natha sendiri," ujar Natha kembali memeluk tubuh Lian.
"Tidak apa apa sayang, yang dulu hanyalah yang dulu, lupakan yang dahulu, dan rasakan kebahagiaan yang sekarang." jawab Lian sambil menarik Keenan untuk masuk ke dalam pelukan Natha dan Lian.
"Dan, makasih juga atas semua bantuan kalian untuk semua ini, hari ini hari paling bahagia dihidup aku. Terimakasih banyak untuk semuanya," ujar Natha sambil mengeluarkan air mata yang dari tadi memang berjatuhan dari pelupuk matanya.
Semuanya berbahagia, tidak akan ada lagi masalah yang dahulu terulang kembali, mereka semua berpesta di malam itu hingga jam menunjukkan ke jam dua belas malam.
Sebuah harapan yang dilontarkan Natha adalah "Semoga, tidak akan ada yang bisa memisahkan dirinya dari keluarga maupun teman-teman hingga maut menjemput."
-TAMAT-
__ADS_1