My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 162


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Mereka sudah selesai ujian, kini mereka telah berlibur selama tiga minggu. Besok mereka merencanakan untuk ke rumah Aksa karena orang tuanya akan pergi ke Singapur. Jadi besok mereka akan membantu bekerja sama membereskan rumah Aksa.


Sebenarnya rumah ini masih di tempati oleh keluarga lainnya karena sayang jika di jual. Siapa tau mereka akan kembali ke Indonesia lagi, jadi mereka hanya membawa barang-barang yang penting saja, seperti baju, dan lainnya. Sedangkan seperti televisi, kulkas, lemari, dan lainnya itu di biarkan di sini, karena di rumah sana juga sudah lengkap peralatan rumah nya.


Selama tiga minggu mereka akan mengadakan liburan. Mereka referensing, kemana yang mereka mau selama tiga minggu kedepan, karena setelab itu mereka akan menghadiri acara perpisahan untuk para kelas dua belas. Setelah itu juga, Aksa dan Vio pindah ke Singapur, mereka akan berpisah entah berapa lama.


Natha hari ini hanya rebahan dengan santai di kamarnya, Bibi jua sudah kembali ke rumah ini, Keenan juga sedang ngampus, Mama Lian sedang bekerja.


"Apa gue ke kantor papa aja ya? Ah, ide yang bagus. Gue kangen papa deh." ucap Natha karena ia merasa gabut, jadi ia hendak mengantarkan bekal ke kantor papa.


Ia memasak makanan kesukaan Papa Leo terlebih dahulu. Natha memasak Nasi goreng dengan daging ayam yang di hiris kecil kecil, di kasih cabe rawit lalu di buat ke dalam wadah bekal. Sebenarnya itu sederhana saja, tapi Papa Leo sangat suka jika Natha yang memasaknya.


"Oke, siap. Langsung ke kantor Papa aja kali ya? eh jangan deh. Nanya dulu." ucap Natha pada dirinya, ia mendudukkan dirinya di meja makan, menyalakan layar hpnya untuk menchat Papa Leo.


[Papa, Papa sedang di kantor?] - Natha


[Iya dek, kenapa?] - Papa


[Sibuk gak, pa?] - Natha


[Enggak ini, lagi Nanda tanganin berkas berkas doang. Kenapa? Mau jalan jalan?] - Papa


[Enggak pa, adek mau nanya aja, ya sudah pa.] - Natha


[Oalah ya sudah. Adek mau kemana?] - Papa


[Nanti papa ajak jalan jalan mau? Sekalian ajakin Abang] - Papa


Natha tak lagi membalas pesan Papa Leo, ia lebih memilih untuk langsung saja pergi ke kantor papanya. Ia menggunakan pakaian yang rapi, Celan putih, kemeja hitam dan sepatu putih.


Sesampainya Natha di kantor Papa, ia langsung saja masuk. Pak satpam juga sudah mengetahui Natha bahwa ia adalah Anak dari Pak Leo. Ia tersenyum ramah di dalam kantor, karena mereka semua sudah mengenal Natha, si anak bos.


"Halo Natha, mau ketemu Pak Leo ya?" tanya karyawan di kantor itu, ia sudah sangat kenal dengan perempuan itu, ia juga berumur seperti Keenan, tapi lebih tuaan perempuan ini dari pada Keenan, sebut saja Raini.


"Iya, kak. Mau ketemu Papa, sekalian ngasih bekal, hehe!" jawab Natha, "Mau aku antar gak? Sekalian ini nih, mau ngasih satu berkas lagi ke Pak Leo." tawar Raini, Natha mengangguk. Mereka berjalan bersama untuk ke ruangan Papa Leo.


Tepat di depan pintu ruangan Papa Leo, Natha mengetuk dulu pintunya, "Masuk" ucap Papa Leo. Natha langsung saja membuka pintunya, Natha masuk dengan di iringi Raini di belakangnya.


"Loh, kamu ke sini toh, pantes aja enggak aktif lagi, haha!" ucap Papa Leo langsung memeluk anak bungsunya ini.


"Iya pa, ini sekalian bawain bekal buat Papa, haha! Tadi Natha gabut di rumah, makanya Natha ke sini." jawab Natha.


"Oh iya, tuh pa, Ka Raini mau ngasih berkas berkas katanya." ucap Natha, Papa Leo melepaskan pelukannya dengan Natha.


"Ini ya pak, saya tinggal ke bawah dulu, makasih" ucap Raini menaruh map berwarna kuning di atas meja Papa Leo.


"Oh iya Raini, sekalian panggilkan Luthfi, sirhhkan kesini, ya." ucap Papa Leo, Raini mengangguk lalu ia permisi untuk keluar.


"Pa, nanti kalau ijazah Natha udah di kasih, Papa mau daftarin Natha di kampus abang gak?" tanya Natha, Papa Leo tentu mengangguk.


"Iya dong, nanti papa yang ngurus, Adek tenang aja." jawab Papa Leo sembari menanda tangani berkas tadi. Setelah selesai menanda tangani, ia langsung saja memakan makanan yang di bawakan oleh Natha tadi. Papa Leo memakannya sampai habis tak tersisa, jika buatan Natha pasti enak, ia sangat suka.


"Dek, nanti kan abang kamu kalau udah selesai kuliah, dia mau nerusin kantor papa, nah, kalau adek gimana?" tanya Papa Leo.


"Entah lah pa, Adek bingung, adek aja masih bingung sekarang, awalnya mau ngambil jurusan kedokteran, terus berubah lagi au ngambil jurusan administrasi perkantoran. Nah sekarang bingung lagi, mau ngambil kedokteran atau administrasi perkantoran." jawab Natha, "Menurut Papa, adek harus ngambil jurusan apa?" tanya Natha.

__ADS_1


"Karena abang mu udah ngambil jurusan administrasi perkantoran, mending kamu ngambil jurusan kedokteran deh, dek. Siapa tau nanti kamu bisa jadi dokter, kan itu cita-cita adek dulu, mau nyembuhin orang yang sakit dan bantu orang yang kesusahan?" jawab Papa Leo.


Di pikir pikir, ada benarnya juga, Keenan sudah pasti ia melanjutkan pekerjaan Papa di kantor ini, nah sekarang Natha mau ikut lanjut di kantor mama juga?


Kalau dia mau nerusin kantor Mama, apa dia akan sanggup? Tapi sekarang yang ia pikirkan lagi, Natha apakah sanggup melihat banyak darah jika menjadi dokter? Pilihan yang sangat sulit.


"Okeh, Adek akan milih, mau menjadi dokter. Nah berarti nanti abang jadi CEO dan Adek jadi Dokter yang baik hati dan juga cantik!" jawabnya semangat. Ia sudah memilih keputusan nya, ia sangat senang.


***


Natha sudah pulang dari kantor Papa Leo, ia sekarang berada di rumah bersantai di depan televisi ruang tamu. Natha memainkan hpnya, tak ada lagi yang ia pikirkan sekarang, ia sudah tidak belajar lagi karena ia sudah lulus.


Ia juga sudah memikirkan mengambil jurusan apa di saat kuliah nanti.


Jam lima sore, akhirnya Keenan pulang, Natha bingung, kenapa dengan Kakaknya ini? Wajahnya begitu tidak bersemangat tidak seperti biasanya. Ia duduk di samping Natha, mengambil hpnya dari saku celana, Natha pikir ia akan beramain HP, ternyata? Ia malah memeluk tubuh Natha dari samping.


Natha makin terkejut disaat merasa bajunya basah, kenapa? Karena Keenan menangis dengan menyembunyikan wajahnya di pundak Natha.


"Heii, lo kenapa?" tanya Natha menjauhkan badannya dari Keenan, terlihat wajahnya yang terkena air mata, mata yang sembab dan merah. Natha menangkup pipi Keenan dengan kedua tangannya.


"Kenapa? Ada masalah sama kak Bita Ya?" tanya Natha lembut, Keenan mengangguk pelan, ia memeluk tubuh Natha.


"Sini cerita, gue dengerin. Kalau bisa nanti gue bantuin biar udahan berantemnya." ucap Natha, Keenan mengangguk. Baru kali ini Natha melihat Abangnya menangisi perempuan selain Mama. Ia benar benar pergi dari dunianya dulu, dulu ia memainkan cewek dengan seenaknya, sekarang enggak.


"Biarin gini, gue mau peluk." ucap Keenan ketika Natha hendak menjauhkan badannya dari Keenan, Natha hanya pasrah dan mengangguk.


"Jadi tadi..." belum sempat ia bercerita, ia makin terisak. "Sudah lah, kalau masih belum bisa cerita, nanti aja kalau udah siap cerita. Gue bakal dengerin cerita lo kapan pun." ucap Natha menenangkan Keenan. Ia kembali mendekap badan Keenan.


Sekitar dua puluh menit mereka berpelukan, Natha rasa Keenan sudah tak menangis, tapi kenapa ia tak melepaskan pelukannya? Natha perlahan menjauhkan badan Keenan. Ternyata oh ternyata, ia tertidur di pelukan Natha. Jika sudah begini ia bingung harus bagaimana, Natha perlahan menjauhkan badannya.


Natha menutup pintu rumah terlebih dahulu, takutnya kalau ada yang masuk, karena tadi Keenan langsung masuk dan lupa untuk menutup kembali pintu.


Natha sudah selesai ganti baju, ia kembali turun ke lantai bawah untuk melihat Keenan masih tidur atau sudah bangun. Tapi tidak mungkin Keenan hanya tidur sebentar.


Ternyata Keenan masih tidur, Natha duduk di sofa yang muat untuk satu orang. Natha membuka layar hpnya, terdapat banyak notif whatsapp. Ia lebih bingung ke Notif Ig, dari user Nit_yadea men-DMnya.


'Ini ignya Nita bukan sih? Kalau iya, kenapa? Nyari masalah lagi?' batin Natha, ia hanya membiarkan notif itu.


Tak lama, ia mendapat pesan dari Kak Bita. Ia dengan cepat membalasnya.


[Natha] - Bita


[Ya, kenapa?] - Natha


[Keenan udah pulang?] - Bita


[Iya, udah dari tadi.] - Natha


[Tidur kah dia? Kok whatsapp nya gak aktif?] - Bita


[Iya, tidur dia.] - Natha


[Kenapa, kak?] - Natha


[Enggak, cuman nanya doang, ya udah makasih.] - Bita


[Iyaa] - Natha

__ADS_1


Natha hendak mempertanyakan kenapa mereka berantem, tapi takut Bita tidak ingin bercerita, jadi Natha tak bertanya. Ia menunggu Keenan saja yang bercerita secara langsung kepada dirinya.


***


Jam tujuh malam, Keenan baru saja bangun tidur, ia mendudukkan dirinya dan mengumpulkan nyawanya yang entah kemana. Ia melihat ke sekeliling arah, ia tak melihat keberadaan Natha, ia hanya melihat Mama Lian dan Bibi Mela yang sedang masak di dapur.


"Tumben pulang awal, ma. Udah gak ada kerjaan, ya?" tanya Keenan, Mama Lian mengangguk sambil memotong kentang kecil kecil.


"Ngomong-ngomong, Natha mana, Ma?" tanya Keenan menghampiri Mama Lian.


"Tadi dia jalan, di jemput Aksa." jawab Mama Lian. "Itu kenapa? Mata kamu sembap, nangis karena apa?" tanya Mama Lian yang menyadari mata anaknya itu.


"Enggak kok, ma, hehe. Ya udah Keenan mau mandi dulu, gerah banget." jawab Keenan bergegas menjauh dari dapur.


Kita pindah ke lain tempat, di mana Aksa dan Natha. Sebenarnya mereka tak hanya berdua, ada teman-teman lainnya juga, mereka sedang berada di rumah Laura.


Mereka sebenarnya hanya untuk berkumpul, tadi berencana untuk nongkrong di kedai kopi, tapi tidak jadi, karena Laura harus menjaga rumah. Jadi mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah Laura saja.


Mereka banyak membahas hal hal tentang kuliah nanti dan membahas tentang perpisahan nanti mereka berfoto berdelapan.


Samai jam sembilan malam, mereka memutuskan untuk pulang, Natha di jemput oleh Aksa, pulang juga di antar oleh Aksa.


Sebelum ke rumah Natha, Aksa mampir di penjual roti bakar buat Mama Lian dan juga buat Bunda, katanya.


"Mau rasa apa?" tanya Aksa ke Natha, "Terserah, samain aja deh." jawab Natha, Aksa mengangguk.


Setelah selesai membeli, mereka berdua lngsung saja ke rumah Natha. Sesampainya di rumah Natha, Aksa langsung memberikan roti yang ia beli tadi kepada Natha.


"Maaf ya, gak bisa mampir. Mau langsung pulang aja ini, takut Bunda nungguin" ucap Aksa.


"Iya, Hati-hati. Makasih yaa.." jawab Natha, Aksa mengangguk dan tersenyum, lalu pergi. Natha tak lagi melihat keberadaan Aksa, ia langsung masuk dan tak lupa menutup pagarnya kembali.


Ia masuk ke dalam rumahnya, tak ada seseorang pun di ruang tamu ataupun di ruang makan. Natha mengetuk pintu kamar Mama Lian, "Masuk, gak di kunci." ucap Mama Lian dari dalam kamar. Natha membuka perlahan pintu kamar Mama Lian.


"Nih ma, tadi Aksa yang beliin, buat Mama katanya." ucap Natha memberikan roti tadi, lalu di taruhnya di atas nakas.


"Makasih, bilangin Aksa, kenapa gak mampir tadi?" tanya Mama Lian. "Enggak, katanya Bunda udah nungguin." jawab Natha, Mama Lian hanya mengangguk lalu Natha keluar dari dalam kamar Mama Lian.


Natha masuk ke dalam kamarnya, ia terkejut karena keberadaan Keenan yang duduk di meja belajar nya.


"Loh, ngapain lo di kamar gue?" tanya Natha bingung, ia masuk dan menghampiri Keenan.


"Gabut, bingung mau ngapain." jawab Keenan, Natha mengerucut alisnya bingung. "Oh ya! Ceritain tadi, kenapa lo sama Kak Bita?" tanya Natha mengingat sesuatu.


"Salah paham doang padahal. Gue cuman bantuin Kiki ngambil buku di perpustakaan, karena dia gak nyampe ngambilnya, rak nya di atas." jawab Keenan.


"Terus?" tanya Natha lagi, "Ya gitu, dia pikir gue bantuin Kiki karena gue ad rasa atau apalah. Padahal gue cuman bantuin doang, udah gue jelasin juga, gue juga gak punya nomor Kiki. Sampai sampai gue nyuruh Kiki buat jelasin, tapi dia tetep gak percaya, makanya dari tadi di kampus, gue sama dia diem dieman doang. Gue udah minta maaf, tapi dia cuman ngediamin gue, lalu ninggalin gue sama temen-temen nya." jawab Keenan dengan raut wajah yang kesal. Padahal tadi dia menangis nangis.


'Bita? Cemburuan gitu kah? Taik lah. Masa? Anjir, bingung, jealous amat sampai kayak gitu, padahal nolongin doang? Udah di jelasin juga? Tetap gak percaya? Aih, jadi takut. Takut aja gitu, kalau dia tau Keenan sama gue? Keenan sering meluk gue kalau dia sedih gimana ya? Apa gak benci dia sama gue? Tapi gue adek kakak, jealous juga gak ya?' batin Natha.


"Bego, malah bengong. Gue di kacangin doang, hah?" ucap Keenan yang membuyarkan lamunan Natha.


"Eh enggak, hehe. Mau gue bantuin jelasin ke kak Bita, gak?" tawar Natha.


"Dah lah, gak perlu. Gak bakal mempan juga, biarin aja, sampai dia yang mau ngechat gue duluan." jawab Keenan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2