My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 17


__ADS_3

"Hah? Gak papa," jawab Natha sambil menggeleng.


Tiga jam kemudian.


"Oke, anak-anak, sekian dari Ibu. Semoga bermanfaat. Karena waktu mengajar Ibu sudah selesai, Ibu pamit dulu, ya. Dan jangan lupa tugas-tugas yang Ibu kasih." ujar guru mata pelajaran sejarah.


"Siap, Bu," jawab semua anak murid di kelas itu secara serentak.


"Huh, akhirnya." Gabriella menghembuskan napas lega. Ini waktunya istirahat ke-dua, tetapi kali ini Natha dan teman-temannya lebih memilih untuk beristirahat di dalam kelas mereka. Begitu juga dengan Aksa dan Gibran. Tiba tiba Cakra dan Felix datang dan langsung memasuki ruang kelas Natha. Mereka menduduki kursi kosong, yang terletak di belakang kursi Aksa dan Gibran.


"Ngapain lo pada?" tanya Laura.


"Serah gue lah. Emang kenapa, gak boleh?" Felix menyahut.


"Iya, gak boleh," ketus Laura.


"Cakra, sini!"


Natha memanggil, lalu berjalan keluar kelas dan diikuti oleh Cakra dari belakang. Ia menghampiri kursi panjang yang ada di depan kelas kemudian meminta Cakra untuk duduk di sana bersamanya.


Natha dan Cakra tampak berbincang di teras kelas. Namun, tanpa sepengetahuan keduanya, Gabriella tengah asik menguping melalui jendela yang terletak tepat di atas kepala Cakra.


"Heh, teman-teman! Lo-lo pada mau dengar mereka bicara, gak?" ucap Gabriella dengan begitu antusias, memanggil teman-temannya.


"Astaga, anjir!" Mereka pun beramai-ramai mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.


Di luar kelas.


"Lo yang bilang sama Keenan kalo gue berantem 'kan?" tanya Natha dengan wajah sinis menatap pemuda itu.


"Hah, gue? Gak lah, memangnya gue seember itu apa?" elak Cakra. "Jadi, Keenan udah tau lo berantem?" tanyanya balik.


"Ya, dia udah tau. Tadi pagi dia ngechat gue, bilangnya gini, ngapain berantem, mau bikin onar, katanya," tutur Natha sambil berdecak sebal.


"Serius, gue gak ada bilang apa-apa sama Keenan. Coba lo tanya Zeze, dia kan saudara lo," ujar Cakra.


Natha menatap lelaki itu dengan lekat dan ia mulai yakin bahwa dia sama sekali tidak berbohong. "Oh, ya sudah. Maafin gue karena udah nuduh lo macem-macem."


"It's oke." Cakra tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya. Namun tiba-tiba ...


Bugkhhh!


"Aduh!" pekik Cakra.


Kepala Cakra terantuk jendela yang terbuka tepat di atas kepalanya akibat ulah Gabriella yang sedang menguping pembicaraan mereka.


"Eh, anjir, ngapain lo di situ? Mau bikin gue cidera?" gerutu Cakra sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Oups, maaf! Lagian kami kan kepo. Ngapain coba bicara gitu doang pakek acara di luar segala," jawab Gabriella yang tidak mau kalah.


Gabriella dan seluruh teman-temannya bergegas keluar lalu berkumpul di teras dan sebagian duduk di kursi panjang yang tadi diduduki oleh Cakra dan Natha.


"Sakit loh, ini! Sekarang, siapa yang mau bertanggung jawab?" ketus Cakra lagi sambil menatap teman-temannya.


Natha merasa iba. Ia pun segera bangkit lalu berdiri di samping Cakra. "Sini, biar gue lihat!"


Cakra sedikit membungkukkan badannya lalu menyodorkan kepalanya kepada Natha.


"Gak papa kok ini, cuma tergores aja," ucap Natha sembari mengelus bagian kepala Cakra yang sakit tersebut. Cakra terdiam sejenak dengan mata membola. Ia yang diperlakukan seperti itu sontak terkaget-kaget.


"Aduhh, kok panas ya? Padahal cuacanya lagi mendung ini," ujar Laura sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya lalu melihat ke langit, seperti sedang memperhatikan cuaca di sekitarnya.


Bukan hanya Cakra, yang lain pun ikut tersentak kaget melihat reaksi Natha. Terlebih Aksa yang kebetulan juga ikut bergabung bersama mereka. Pemuda itu bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu.

__ADS_1


Sontak Natha menjauhkan tangannya dari kepala Cakra. Ia kembali ke posisinya dan dengan tenangnya, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Apaan sih kalian," celetuk Natha sambil mendaratkan bokongnya di kursi panjang itu lagi.


"Nanti kalo jadian peje," goda Gabriella.


"Peje peje, matamu!" ucap Natha dengan sedikit kesal.


"Haha, canda doang. Ya elah," sahut Gabriella sambil tertawa kecil.


"By the way, kita pulang jam berapa hari ini?" tanya Gabriella.


"Kayak biasa lah, jam lima!" sahut Laura.


"Haduh, cape. Keburu lumutan gue lama-lama di sekolah," keluh Gabriella sambil menghembuskan napas berat.


"Kalo gak mau capek, ya gak usah sekolah. Toh, lo bisa rebahan, main hp, bisa lakuin apa aja sepuasnya," jawab Natha yang mendengar keluhan Gabriella.


"Ya, gak gitu juga, Natha yang cantik. Ya udah, gue mau masuk duluan. Gue mau tidur mumpung jam istirahat masih lama." Gabriella pun melenggang pergi lalu masuk ke dalam ruangan kelas.


"Gue juga, ah!" Laura pun menyusul Gabriella yang sudah masuk duluan.


"Lo juga?" Natha menunjuk Vio yang masih tersisa di sana.


"Ya, gue juga!" ucap gadis itu sambil terkekeh. Ia pun bergegas pergi meninggalkan Natha. Teman-teman yang lain pun sudah masuk ke kelas, seperti Cakra, Felix dan Gibran. Dan kini yang tersisa di luar kelas hanya Natha dan Aksa.


"Malam ini lo sibuk gak?" tanya Aksa dengan perlahan kepada Natha.


"Gak, kek nya. Memangnya kenapa?" jawab Natha dengan alis berkerut.


"Nyokap gue nyuruh lo ke rumah," sahut Aksa.


"Oh, ya?" Natha tersentak kaget. "Ehm, nanti deh gue minta izin dulu sama Keenan, kalo dikasih izin, gue berangkat," lanjut Natha.


"Sip!" balas Aksa.


Aksa yang sudah tidak bisa menahan kantuknya, akhirnya tertidur. Tanpa sengaja kepala Aksa jatuh ke pundak Natha. Natha sontak kaget. Ia ingin mendorong kepala Aksa, tetapi setelah melihatnya tertidur, ia pun mengurungkan niatnya dan membiarkan Aksa tertidur di pundaknya untuk sejenak.


Beberapa menit kemudian.


Lonceng berbunyi, tandanya mereka memasuki jam pelajaran ke-tujuh. Natha menggerakkan pundaknya turun dan naik. Mencoba membangunkan Aksa yang masih asik tertidur.


"Aksa, bel udah bunyi, cepet bangun nanti bu guru masuk!" ucap Natha dengan cukup keras hingga berhasil membangunkan Aksa.


Aksa membuka matanya lalu mencoba mengumpulkan nyawanya. Ia kaget setelah menyadari bahwa dirinya sampai tertidur di pundak Natha.


"Maaf, Tha. Gue gak sengaja. Habisnya gue ngantuk banget tadi," ucap Aksa.


"Tidak apa-apa," jawab Natha.


Mereka pun segera masuk lalu duduk di kursi mereka masing-masing.


"Ada yang diem-diem nih," ujar Gabriella di saat Natha masuk bersama Aksa.


"Minimal publish-lah, ya kan?" sambung Laura.


"Kenapa gak bilang-bilang, hayoo!" Vio turut menimpali.


"Apaan dah?" Natha kebingungan.


"Ehm, pura-pura lagi, dah!" Gabriella memasang wajah malas.


"Apaan sih? Gue beneran ga tau," ucap Natha lagi.

__ADS_1


"Beneran gak ada hubungan apa-apa, nih?" tanya Vio sembari melirik Aksa yang masih mengantuk.


"Hah, apa!?" Aksa tersentak kaget, ia menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa sadar.


"Hah hoh hah hoh! Beneran nih kalian ga ada hubungan?" tanya Vio tanpa berbasa-basi lagi.


"Astaga! Gak ada lah, Njirrr. Ngapain lo nanya-nanya kayak gitu?" sahut Aksa setelah ia benar-benar sadar.


"Toh, tadi diluar kalian udah kayak orang pacaran tau, nyender-nyender segala," sahut Gabriella, tak mau kalah.


"Hah? Iyakah!" Aksa berpura-pura tidak mengerti.


"Dih, menyebalkan," sambung Vio dengan kesal.


"Eh, gue keruang OSIS dulu, ya. Ada rapat mendadak, anjir!" Laura bergegas pergi keluar kelas lalu menuju ruang rapat. Di mana para anggota OSIS sudah mulai berkumpul.


"Ceilah, enak bener dia," ucap Gabriella sambil mengerucutkan bibirnya.


"Enak muka mu, lo pikir rapat OSIS itu enak?" Natha menimpali.


"Gak tau. Tapi setidaknya mereka seneng karena gak ikut belajar kek kita," jawab Gabriella.


"He'eleh!"


"Ni bocah kenapa diam mulu, ya?" tanya Gabriella kepada Gibran yang diam saja dari tadi.


Gibran mendelik. "Apa?"


"Ditolak cewe nih keknya." Gabriella geleng-geleng kepala.


"Enak aja, emangnya lo pikir gue apa'an?" Gibran membuang muka ke arah lain.


Gabriella hanya terkekeh lalu kembali bicara dan kali ini dengan topik lain.


"Semoga ini jam kos!"


"Lah, emang jam kos!" jawab Natha.


"Yesss!" Gabriella kesenangan.


"Gue mau tidur lagi, bye!" Gabriella lalu merebahkan kepalanya di atas meja yang di mana sudah terdapat boneka miliknya.


"Gak jelas banget loh," sahut Natha.


Natha melirik Gibran dan ternyata Gibran pun tengah menatap dirinya. Gibran menaikkan alisnya ketika mereka saling lempar pandang Natha menggeleng, lalu ikut merebahkan kepalanya di atas meja. Natha meraih ponsel di dalam saku seragam lalu membuka sebuah pesan yang dikirimkan oleh Keenan.


[Ingat, Nat. Gak usah diladeni! Jangan sampe lo masuk bk karena gue gak mau bantu lo lagi, paham?] Pesan dari Keenan.


[Kalo masuk bk, ya udah. Gue juga gak nyuruh lo datang kok.] balas Natha. Ia melihat Keenan sedang mengetik pesan lagi.


[Jangan sampe masuk bk, Natha.]


[Iya, Abang, Iyaaa. Oh ya, siapa yang bilang ke lo kalo gue berantem lagi di sekolah?] Pesan Natha. Namun, pesan Natha hanya dibaca oleh Keenan tanpa dibalas. Natha mengembalikan ponselnya lalu berjalan.


"Lo mau ke mana?" tanya Vio yang kebingungan melihat Natha berjalan.


"Ke toilet, mau ikut?" sahut Natha sembari menghentikan langkahnya.


"Mauuu!" ujar Vio, lalu bergegas menyusul Natha dan berjalan di depannya.


"Nath, setelah gue perhatiin, ternyata Gibran liatin lo mulu, ya? Jangan-jangan dia suka sama elo lagi," celetuk Vio, membuka pembicaraan mereka.


"Enak aja! Udah, jangan ngadi-ngadi deh kamu," jawab Natha.

__ADS_1


"Tapi gue penasaran. Kenapa, ya?" tanya Vio lagi, sementara Natha hanya menggelengkan kepalanya.


...*****...


__ADS_2