My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 180


__ADS_3

Di malam hari, Mama Lian, Bibi Mela dan Lea di dapur untuk memasak, sedangkan Lea memakan cemilan sambil menonton upin dan ipin di hp.


Keenan, Natha dan Ola sedang duduk di ruang tamu, menunggu makanan jadi, baru mereka akan ke dapur.


"Apaan sih? Dari tadi siang gue mikirin itu mulu, kabar bahagia apadah?" batin Natha memikirkan yang tadi.


"Lo dari tadi bengong mulu, mikirin apasih?" tanya Ola kepada Natha, Natha tersadar dari lamunannya.


"Mikirin masa depan, eakk" jawab Natha bercanda, "Masa depan gue si bahagia sama Radit, haha!" ucap Ola sembari tertawa.


"Yeuuu alay." ejek Natha.


Natha dan Ola tadi sore tidak jadi jalan-jalan karena Ola yang tertidur nyenyak. Ola bangun tidur jam setengah enam sore, karena tadi sore tidak jadi jalan, jadinya setelah makan malam keda gadis itu akan jalan-jalan.


"Anak-anak, sini makan. Makanannya sudah siap, ayo makan." ucap Mama Lian. Keenan, Natha dan Ola langsung saja berjalan ke ruang makan. Di meja ada makanan kesukaan Natha, Cumi goreng, lama ia sudah tak memakan Cumi goreng buatan Bibi Mela dan Mama Lian.


Mereka selesai makan.


Selesai makan, namun Mama Lian tak juga bilang apa kabar bahagianya, Natha tidak ingin menanyakannya lagi. Nanti saja menunggu Mama Lian sendiri yang bilang kepada Natha dan yang lain.


Natha dan Ola bersiap untuk pergi keluar. Natha dan Ola menggunakan pakaian yang sama namun beda warna. Ola memakai baju crop top lengan panjang berwarna hitam, celana jeans berwarna biru tua, sendal hitam, tas hitam dengan rambut yang terurai.


Natha juga sama, namun warna baju, sendal dan Tasnya berwarna putih, rambutnya juga terurai. Mereka berdua keluar dari dalam rumah, tadi sudah izin kepada Mama Lian untuk keluar rumah. Keenan juga tidak ada di rumah, ia pergi ke apartemen Renja, karena mereka berdua ingin jalan-jalan juga.


Sebenarnya malam senin begini Natha bingung ingin kemana, begitu juga dengan Ola, ke taman sudah sering, kepasar malam juga sudah sering.


"Ini kemana?" tanya Natha, Ola di depan menyetir motor nampak berfikir.


"Ke mall aja gimana? Gue mau nonton film baruu" jawab Ola, Natha hanya mengangguk mengikuti Ola. Sesampainya mereka di bioskop, Natha menunggu sambil berfoto miror, menunggu Ola memesan tiketnya.


"Nih udah, ayo." ucap Ola, mereka langsung saja masuk kedalam studio, mencari kursi yang sesuai dengan nomor yang tertulis di tiket.


Mereka menunggu filmnya mulai sambil berfoto-foto. Tak menunggu lama, akhirnya filmnya mulai, sebenarnya berani tak berani menonton film horornya.


***


Film sudah selesai, Natha, Ola dan penonton lainnya yang ada di dalam ruangan itu sangat tegang tadi. Natha dan Ola keluar, mereka berniat untuk langsung pulang saja, karena jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam, film tadi dua jam lamanya.


Sesampainya Natha dan Ola di rumah, di rumah seperti tidak ada siapa-siapa. Sangat sepi, sepertinya Keenan belum kembali dari rumah Renja, Bibi Mela dan Lea pasti sudah tidur. Sedangkan Mama Lian, kemana? Biasanya ada di rumah, sekarang tidak ada, bahkan kamar mama Lian saja kosong.


Natha dan Ola duduk di ruang tamu, mereka berdua asik memainkan HP masing-masing. Ola yang sedang chattingan dengan Crushnya, Radit, dan Natha sedang menghubungi Keenan yang tak kunjung aktif.


Natha sekarang menghubungi Renja, untungnya Renja sedang online.


/Ezra


[Woi kecil] - Natha


[Gak nyadar ihh 😏] - Ezra


[Hilih, btw, ada Keenan gak?] - Natha


[Ada nih, katanya bentar lagi pulang, masih ngudud dia 🤣] - Ezra


[Bilangin ke Keenan, suruh aktifin HP, gak jelas babnget, punya HP tapi notif di matiin.] - Natha


[Iyaa manisss, bentar ya, lagi bikin roti panggang ini.] - Ezra


[Iyaa] - Natha


"Woi Keenan, aktifin HP lo kata Natha, marah-marah dia, haha!" ucap Renja kepada Keenan.


"Sengaja gue matiin, haha!" jawab Keenan yang memegang satu batang rokok di tangan kirinya. Mereka berdua duduk di depan kamar apartemen Renja


"Ja, adek gue masih belum bisa lupain masa lalunya." ucap Keenan kepada Renja,


"Aksa?" tanya Renja yang diangguki oleh Natha. Tunggu, bagaimana Renja bisa mengetahuinya? Karena Keenan dari dulu sudah memiliki nomor HPnya Renja. Dulu mereka hanya follow-followan di ig, dan lanjut ke whatsapp, di waktu Natha kelas 11 Keenan sudah menemukan sosmed Renja.


Tapi Keenan hanya diam tak ingin memberi tahu Natha, Renja yang memintanya. Jadi setiap Natha sedih, Natha selalu bercerita ke Keenan, tapi Keenan setelahnya gak tega melihat adeknya yang selalu menangis tiap malamnya. Jadi Keenan bercerita ke Renja, makanya Renja tau tentang Aksa, di Ig saja Renja memfollow akun Aksa, namun Aksa tidak mengenal Renja.


"Gak tega gue kalau lihat Natha nangis-nangis mulu tiap malam. Dia sering nyari kesibukan agar gak kesepian biar gak ngingat Aksa mulu. Bahkan sampai sekarang Aksa belum ada kabar, gak tau juga, Ignya aja udah gak aktif lagi." ucap Keenan.


"Gue udah sering bantu Natha buat ngelupain dia, tapi tetap gak bisa, bahkan dia juga sering dekat sama cowok lain. Tapi tetap, Aksa masih pertama di hatinya, walaupun dia suka cowok lain, Aksa masih tetap pling utama. Bahkan foto-foto Aksa sudah di hapus dari galeri nya." sambung Keenan, Renja mendengarkan dengan seksama.


"Gue yakin, Natha pasti bakal lupain Aksa, tidak sekarang, tapi nanti. Natha pasti bisa lupain Aksa secara perlahan, jangan sakiti dirinya sendiri, mencari kesibukan hanya untuk melupakan seseorang." jawab Renja.


"Natha pasti tidak akan membuka pintu hatinya untuk beberapa saat, karena ia belum selesai dengan masa lalunya dan membuat lembaran baru dengan orang yang baru. Itu akan menyakiti hati orang baru, karena ia akan merasa bahwa dirinya hanya pelampiasan atau second choice." sambung Renja.

__ADS_1


Banyak lagi yang mereka bicarakan tentang Natha, sedangkan Natha di rumah masih memikirkan kabar bahagia apa yang akan ia dapat dari papa dan mamanya.


Dan tau apa yang dipikirkan Natha? Aksa. Aksa lah yang ada di pikiran Natha sekarang.


Ia mengira bahwa kabar bahagianya itu adalah, Aksa kembali ke Indonesia dan kuliah di Universitas yang sama dengan dirinya. Itulah yang di pikirkan Natha.


Tin! Tin!


Suara mobil dari luar rumah. Natha bingung, bukannya mobil mama Lian ada dirumah? Mobil Keenan juga ada di garasi. Lalu itu? Mobil siapa? Dan siapa orang itu?


Natha dan Ola saling berpandangan.


Tingnong! Suara bel rumah, Natha berjalan ke arah pintu rumah yang di giringin Ola, karena Ola ketakutan, sok sokan nonton film horor sih si Ola, kan takut jadinya, haha!


Natha membuak pintu rumah, ternyata itu Mama Lian, bersama dengan? Natha tidak dapat mengenalinya, ia menggunakan Jas kantoran, kepala Natha juga sedikit pusing. Jadi ia tak dapat melihat dengan jelas, bahkan wajah Mama Lian saja terlihat seperti dua.


Orang yang menggunakan jas itu mendekat, Natha menyipitkan matanya untuk melihat orang itu, dan ternyata itu adalah....


"Papa!!!" teriak Natha sambil berlari menghampiri Papa Leo. Ya, Papa Leo lah yang datang bersama dengan Mama Lian. Tunggu, kenapa? Kenapa mereka pulang bedua? Apa jangan-jangan...


"Hei anak Papa, gimana? Bahagia gak??" tanya Papa Leo. Natha bingung, ia tadi tidak bertanya kepada Mama Lian, kabar bahagia apa yang akan ia dapat.


"Maksudnya?" tanya Natha bingung.


"Tadi aku gak sempat bilang ke mereka, mas." ucap Mama Lian, tunggu. Natha mengerti, berarti? Mama Lian menerima ajakan Papa Leo itu? Demi apapun, Natha bahagia, ia bahkan menangis di dekapan Papa Leo.


Hiks~ hiks~


Natha terisak, ia bahagia, namun ia sedikit kecewa, karena yang ia pikirkan tadi, beda jauh dengan kenyataannya.


"Ayo masuk dulu, gak enak di luar ini, malam." ucap Mama Lian, Mereka masuk ke dalam rumah, Ola juga sedang duduk di ruang tamu bersama.


"Tadi kamu sempat mikirin apa ayoo?" tanya Mama Lian. "Natha juga mikir gitu, pasti Mama sama Papa ada hubungannya, soalnya Papa Bilang tanya sama Mama." jawab Natha berbohong.


Ia bahkan tak memikirkan hal itu sama sekali, dari tadi ia berfikir kejutannya ini ada sangkut pautnya dengan Aksa, ternyata tidak.


Mama Lian dan Papa Leo, kembali bersama, Mama Lian menerima ajakan Papa Leo di hari itu. Natha senang, sungguh. Keluarganya akan berkumpul bersama lagi, setelah sekian lama Natha menunggunya, akhirnya tercapai juga.


"Badan kamu panas, kamu gak apa?" tanya Papa Leo, Natha mengangguk. "Gak apa kok pa, Natha cuman kecapean doang, hehe!" jawab Natha.


"Emh! Natha tinggal ke kamar ya? Maaf banget Pa, Ma Natha tinggal. Natha ngantuk." ucap Natha yang di angguki oleh Papa Leo dan Mama Lian.


Sesampainya Natha di kamar, ia mengganti pakaiannya. Ia bersedih kembali, ia berbohong kepada Mama dan Papa, padahal ia tidak terpikirkan sama sekali dengan hal ini.


Setelah selesai mengganti baju, Natha membuka HPnya untuk menghubungi Ola.


/Ola


[La, udah tidur?] - Natha


[Belum, Ta. Belum bisa tidur gue, masuk kebayang film tadi 😞] - Ola


[Sini tidur di kamar gue, sekalian gue mau cerita, hehe] - Natha


[Oke, otw.] - Ola


[Masuk aja, pintunya gak gue kunci] - Natha


Ngomong-ngomong, Mama Lian dan Papa Leo tidur tidak sekamar, walaupun mereka berdua sudah mengurus surat-surat namun tetap saja mereka berpisah. Ada kamar yang tak pernah di diami lagi, itu adalah kamar Papa Leo dulu, kamar itu selalu di bersihi tiap harinya, namun tidak di pakai, kamar itu terletak di dekat gudang.


Ola masuk ke dalam kamar Natha, tak lupa ia kembali menutup pintu kamar Natha dan menguncinya. Ola berjalan menghampiri Natha yang duduk di kasur dan bersandar di head board kasur.


"Cerita apa? Sinii." tanya Ola yang mendudukkan dirinya tepat di samping Natha.


"Gue bohong, tadi gue bilang kalau gue mikirinnya Mama Papa rujuk kembali, tapi yng sebenarnya gue gak mikirin itu. Gue gak ada mikir sampai ke sana, gue cape, kapan gue bisa lupain dia sepenuhnya? Semua isi pikiran gue cuman ada dia. Gue udah gak ngertii lagi harus gimana, setiap gue mau lupain dia, pasti nama dia terlintas di pikiran gue." ucap Natha yang di dengarkan oleh Ola, posisi mereka sama-sama bersandar.


Ola bersandar di head board dan Natha bersandar di pundak Ola, tangan kiri ola mengusap kepala Natha lembut.


"Suatu saat nanti lo pasti bisa lupain dia, seiring berjalannya waktu, lo pasti akan lupa sama dia, entah itu kapan, tapi jal itu pasti ada." jawab Ola, Natha tersenyum.


"Udah ayo tidur, besok kita masuk kampus." ucap Ola yang di angguki oleh Natha. Tak lama kemudian mereka tertidur dengan posisi yang tadi.


***


Pagi hari seperti biasanya, Natha dan yang lain akan bersiap untuk pergi Ke kampus dan ada yang ke kantor.


"Pagi anak-anak ayo sini makan." panggil Mama Lian di saat Keenan, Natha dan Ola keluar dari kamar mereka. Mereka berjalan ke meja makan, meja makan sekarang pas-pasan untuk mereka berenam dengan Bibi. Tapi bibi biasanya makan nanti setelah semua pekerjaan selesai.

__ADS_1


Mereka sarapan bersama sebelum berangkat, setelah selesai mereka berangkat, berpamitan bersama Mama, Papa dan Bibi.


Keenan, Natha dan Ola berangkat bersama, awalnya hendak di antarkan oleh Papa namun mereka menolak.


Sesampainya di kampus, Natha dan Ola langsung saja pergi ke kelas masing-masing, meninggalkan Keenan yang sedang asik ngobrol bersama teman-temannya.


"Mau ke perpustakaan dulu, atau langsung ke kelas masing-masing?" tanya Natha terlebih dahulu, Ola mengangguk. "Langsung ke kelas aja, gue tugas masih belum. Maaf yaaa" jawab Natha yang di angguki oleh Natha, mereka berdua masuk ke dalam kelas masing-masing.


Di kelas, Natha hanya berdiam diri, tadi pagi ia sarapan juga sangat sedikit, badannya juga terasa panas, ia tidak enak badan.


//istirahat//


Natha hanya berdiam di dalam kelas, kelas sudah kosong, tidak ada siapa-siapa. Tadi Kiran sudah ngajak ke kantin, tapi Natha menolak, katanya hanya ingin di kelas.


Ola, Keenan dan teman-temannya juga mengajak ke kantin, namun ia juga tetap menolak. Ia tidak enak badan, kepalanya terasa sangat pusing, padahal pagi tadi sesudah makan ia sudah minum obat.


Tak lama kemudian, setelah lima menit berlalu. Keenan masuk ke dalam kelasnya dengan membawa roti dan aqua botol.


"Nih, makan dulu rotinya, kalau udah gak kuat, chat gue. Nanti ke UKS aja, biar bisa istirahat, jangan terlalu di paksain." ucap Keenan, Natha mengangguk. Ia hanya meminum aqua tanpa memakan roti yang di beri oleh Keenan.


"Kenapa gak dimakan? Nih gue suapin." ucap Keenan, Natha menggeleng. "Lidah gue pahit, lo aja yang makan." jawab Natha.


"Kalau tau makin tambah sakit gini, mending gak usah masuk dulu, diem dirumah aja." ucap Keenan, Natha menggeleng. "Enggak enak di rumah, bosen." jawab Natha, Keenan mengangguk mengerti. Ia tahu apa yang dimaksud Natha, ia bukan bosen, melainkan ia akan kesepian dan akan mengingat orang yang sama, Aksara.


"Jangan di paksain ya? Kalau udah gak kuat telpon gue, nanti gue yang jagain di UKS." ucap Keenan mengusap pucuk kepala Natha, Natha tersenyum lalu mengangguk.


Ia tahu, seberapa sakit Natha sekarang. Walaupun Keenan juga baru putus dengan Bita, tapi ia tak bisa melihat adiknya sakit hati, jika bisa memilih, Keenan lebih memilih dia yang sakit hati daripada adiknya yang manis ini.


"Gue mau ke luar, lo disini aja yaa, jangan lupa, kalau makin pusing chat gue." ucap Keenan lagi dan lagi. "Iya ih, bawel banget." jawab Natha, Keenan hanya terkekeh lalu mengusap kepala adiknya, setelah itu keluar dari dalam kelas Natha.


Tak lama kemudian, teman kelasnya banyak yang masuk ke dalam, termasuk Rio dan Kiran yang duduk di belakang dan depannya.


"Kalau gak enak badan ke UKS aja ayo? biar aku anterin." ucap Karin "Gak perlu Rin, makasih. Mau disini aja hehe" jawab Natha.


"Okedeh, oh ya. Nih mau gak?" tawar Karin memberikan roti, Natha menggeleng.


"Enggak, nih aku juga punya, tadi di beliin sama Kakak ku." jawab Natha yang diangguki oleh Karin.


Tak lama lonceng berbunyi pertanda mereka memasuki matkul berikutnya. Sepuluh menit berlalu, akhirnya dosen yang mengajar di kelas mereka tiba juga.


Natha merasa makin pusing, ia membuka hpnya untuk mengubungi Keenan, ia sudah tidak kuat di dalam kelas.


/Keenan.


[Bang, kepala gue makin pusing.] - Natha


[Bentar, dosen di kelas lo siapa?] - Keenan


[Pak Tono] - Natha


[Oke, tunggu.] - Keenan


Tak lama kemudian.


Tok! Tok! Tok!


"Misi pak" ucap Keenan, "Eh iya, Keenan, kenapa?" tanya Pak Tono kepada Keenan.


"Itu pak, Natha adek saya, gak enak badan. Boleh izin di bawa ke UKS gak?" tanya Keenan, Pak Tono melirik ke arah Natha, wajah Natha sangat pucat.


"Iya, silahkan. Kasian itu adek kamu, udah pusat banget. Maaf ya, bapak gak merhatiin tadi." jawab Pak Tono yang di angguki oleh Keenan.


Sesampainya mereka di UKS, Keenan dan Natha langsung saja masuk, Natha membaringkan badannya di atas kasur UKS. Di bantu oleh Keenan,


"Tunggu ya? Gue nyari Bu yani pembina UKS, mau minta surat izin." ucap Keenan yang diangguki oleh Natha. Di dalam UKS hanya ada Natha, tidak ada penjaganya karena semua sibuk belajar.


Keenan kembali, ia sudah meminta izin, Keenan mengambil air hangat dari galon.


"Nih, minum dulu. Tadi pagi sudah minum obat belum?" tanya Keenan yang di angguki oleh Natha. Keenan tidak tega melihat wajah adeknya yang pucat karena memikirkan seseorang yang bahkan tak menghubungi nya sama sekali.


"Makan dikit ya? Tadi lo sarapan dikit banget. Ini bekal dari Bibi yang anter tadi. Gue gak mau ngasih tau mama, kalau mama tau bakalan ribet." ucap Keenan, Natha mengangguk.


Keenan mulai menyuapi Natha, satu persatu suapan masuk ke dalam mulut Natha. Hingga bekal itu habis tak tersisa, Keenan lega melihatnya.


"Makasih" ucap Natha kepada Keenan, Keenan tersenyum.


"Emang tugas gue buat jaga lo sebagai adek gue. Udah, kalau bisa tidur, tidur aja. Tadi malam lo tidur bentar doang." jawab Keenan mengetahui Natha. Karena tadi malam, ia tidur sebentar saja, terus terbangun, tertidur lagi, dan terbangun lagi, begitu saja sampai subuh.

__ADS_1


...***...


__ADS_2