
Sekarang adalah hari sabtu, Natha bergegas untuk pergi ke sekolah. Sesampainya Natha di sekolah, ia berangkat menggunakan motornya sendiri.
Ting! Ting! Ting!
Bunyi notif HP Natha di saat ia hendak menaiki anak tangga. Natha menaiki tangga sambil melihat ke arah hpnya, ternyata itu adalah notif dari Nita, Natha hanya mendiamkan saja. Bukan hanya hari ini, hari sebelum sebelumnya juga Nita sering ngechat Natha untuk mengancam dirinya.
"Woi, jadi kan ya, malam ini?" tanya Cakra meneriaki Natha dari bawah, yang hanya berjarak lima anak tangga dari Natha.
"Gue sih terserah, nyokap gue juga udah ngijinin. Tanya yang lain aja dah, jadi kaga." jawab Natha, Cakra mengangguk. Mereka berdua berjalan bersama ke atas untuk cepat sampai ke dalam kelas. Di dalam kelas ada teman-temannya, ngomong-ngomong Cakra dan Gabriella tak berangkat sekolah bersama karena Gabriella bersama Laura.
"Apaan sih? Notif lu berisik banget, dari tadi di bawah udah bunyi aja, siapa?" tanya Cakra yang mendengar notif Natha yang tak hanya satu kali di dengarnya.
"Biasa, nge-fans dia sama gue, makanya ngechat mulu." jawab Natha memperlihatkan layar hpnya yang terdapat pesan WhatsApp dari Nita, Eve dan juga Raya.
"Hadeh, bego banget ya tu bocah, kaga ada abis abisnya ngebully orang. Udah mau lulus gini, masih aja ngebully orang, eneg banget gue lihat mereka. Keluarin aja kenapa sih orang kayak gitu, di kasih kesempatan tapi tetap aja gak berubah." ucap Gabriella yang tau juga.
"Gak cuman elo sih, adek kelas yang di bully mau pun enggak, juga mereka eneg lihat tiga orang bego kayak gitu." jawab Laura.
"Udah elah, pagi-pagi udah ngegosip orang aja, sana kembali ke kelas masing-masing, udah bel noh." ucap Natha. Mereka semua kembali ke kelas masing-masing setelah bel berbunyi.
Setelah teman-temannya keluar, tak lama kemudian guru pengajar di kelas Natha masuk. Mereka memulai pembelajaran, jam pertama mereka mapel Bahasa Inggris.
***
Istirahat ke dua telah tiba. Natha dan teman-temannya berada di dalam kelas, tapi Natha ingin pergi ke toilet, hanya sendiri, karena ia sekaligus ingin menghampiri Nita yang dari kemarin kemarin ngechat.
"Apa lagi?" tanya Natha masih dengan kepala dingin, mereka bertemu di tempat kemarin, belakang gudang sekolah.
"Takut kan, lo? Gue udah berkali kali nyuruh lo buat ngehampirin gue di sini. Tapi apa? Lo baru sekarang, karena? Ya karena lo baru berani sekarang." ucap Nita, Natha hanya memutarkan bola matanya malas.
"To the point." jawab Natha dengan nada tegas.
"Wow, udah gak sabar ya? Satu minggu lagi, kita akan ujian, bukan? Gue udah ngerencanain semuanya agalo hancur sehancur hancurnya sebelum ujian di mulai." ucap Nita mendekati Natha, Natha yang di dekati hanya berdiam di tempat, melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau berhasil. Kalau enggak? Lihat kebalikannya." jawab Natha mengarahkan jari telunjuknya ke jidat Nita dan mendorongnya karena ia makin mendekat.
"Brengsek! Lihat aja, rencana gue kali ini akan berhasil, dan lo? Lo akan kehilangan semuanya. Lo sama temen-temen lo itu emang erat banget ya pertemanannya. Sampai sampai gue gagal bikin lo mencar sama temen-temen lo. Tapi kali ini, lo jangan mengira rencana gue akan gagal. Haha!" ucap Nita.
__ADS_1
"Terserah. Semoga berhasil. Udah lah, buang buang waktu gue aja." jawab Natha lalu meninggalkan ketiga gadis yang masih berdiri di belakang gudang sekolah itu. Natha bersedih pelan, ia tidak takut dengan ancaman Nita untuk dirinya, tapi ia hanya takut jika ancaman itu ada sangkut pautnya dengan keluarga atau pertemanan nya. Jika benar ada sangkut pautnya dengan keluar maupun pertemanan, jangan harap Natha akan diam saja.
Ia tidak peduli dengan dirinya yang di ancam seperti apapun, tapi jika urusan keluarga dan pertemanan, ia tidak akan tinggal diam.
Sekarang jam istirahat telah selesai, Natha bergegas pergi ke kelas karena setelah ini pelajaran Ekonomi.
//pulang sekolah//
"Duluan aja, gue mau ada yang di tunggu." ucap Natha kepada teman-temannya.
"Ya sudah, nanti sore kami ke rumah lo, sekitar jam enam aja." jawab Gabriella, Natha mengangguk lalu melambaikan tangannya ke arah teman-temannya yang sudah pergi. Natha menunggu siapa? Tidak ada, dia tidak menunggu siapa siapa. Ia hanya ingin teman-temannya tak mengikuti dirinya yang akan menghampiri Nita di dekat gedung yang sudah lama tak di gunakan.
Jam sudah menunjuk ke pukul 5.14 PM. Natha langsung saja menaiki motornya untuk menghampiri ketiga gadis yang sering membuat ulah di sana. Dia pikir Natha akan melarikan diri? Enggak, Natha bukan tipe seperti itu.
Sesampainya Natha di gedung terbengkalai itu, Natha langsung saja memarkirkan motornya di depan, di sana tak hanya ada motornya, motor Eve dan juga motor Nita ada di sana.
Natha sudah menyiapkan semuanya sebelum ke sini, ia langsung masuk ke dalam, ia menghampiri Nita dan teman-temannya yang berada di lantai paling atas.
"Gue pikir lo gak bakalan datang." ucap Nita di saat Natha baru saja sampai di atas. Natha tersenyum sinis, "Gue gak pengecut." jawab Natha.
"Gue mau minta pendapat, jikalau ada orang yang lo sayang, walau baru pertama kali kenal, tapi lo sudah sayang banget sama dia. Tapi dia di sakiti sama musuh bebuyutan lo sendiri, apakah lo bakal diam aja, atau ngebela dia?" tanya Nita yang membuat Natha bingung.
"Oke, Ve, bawa sini." ucap Nita. Eve keluar dari balik pintu, ia menghempaskan seorang perempuan yang langsung terkulai lemas di lantai rooftop. Eve membuka penutup wajah yang menghalangi wajah perempuan tersebut.
Betapa terkejutnya Natha melihat siapa perempuan itu, ia ingin menghampiri, tapi ada seorang yang memegang kedua tangan Nata agar Natha tak menghampiri perempuan itu, orang itu adalah Raya.
"Lo lihat? Dia calon kekasih Keenan, bukan? Keenan suka dia, dan dia juga suka Keenan, dia harus tau akibatnya karena telah menyukai Keenan." ucap Eve,
"Anjin* lo bukan siapa-siapa Keenan, dan lo, gak ada hak untuk mengatur semuanya, lo cuman sebatas mantan yang tak akan pernah di akui Keenan hingga saat ini. Lo, jangan berani-berani memegang Bita, sedikit aja lo menyentuh dia, lo akan tau akibatnya, Bajingan!!" Ya, Shabita, orang yang di jadikan mangsa oleh Nita dan kedu temannya.
"Oh ya? Memang bisa? Haha, lihat saja, nih, gue sentuh." ucap Evelin, ia menyentuh pipi kanan Bita dengan Kaki kirinya.
Shabita bisa di sebut dengan perempuan yang jarang untuk bergaul dengan sembarang orang. Ia hanya berteman dengan orang yang mau berteman dengan dirinya, di kampus, ia bisa di bilang tidak banyak memiliki teman. Karena Bita adalah seorang kutu buku.
"Bajingan!" Natha melepaskan tangannya yang di pegang oleh Raya, tapi ia tak tau jika Raya memegang pisau di salah satu tangannya, Alhasil ia mengenai goresan kecil di bagian lengan kanannya. Ia tek mempedulikan itu, Natha langsung membogem pipi Eve dengan sangat keras hingga membuat Eve langsung terkulai lemas.
Natha sadar jika Raya yang memegang pisau sedang mendekatinya. Dia pikir Natha tak memiliki senjata? Huh, sangat di sayangkan, mereka tidak tau apa yang di bawa oleh Natha.
__ADS_1
Natha menendang perut Raya dari depan, ia dengan cepat mengambil pisau tersebut dan mengarahkannya ke Nita yang masih berdiam diri. Bukannya takut, ia malah tertawa seperti orang gila.
"Lo berani? Sekarang lo lihat ke belakang." ucap Raya, Natha tak ingin di bohongi, ia tak menoleh ke belakang.
"Huh, lihat kebelakang, gue gak boong." ucap Nita lagi, Natha memalingkan kepalanya perlahan, apa yang ia lihat? Dera.
Dera mengarahkan pisau tepat di leher Shabita. Natha tak percaya, Dera masih bersekongkol dengan Nita?
"Jauhin pisau itu, atau lo-" belum sempat Natba menyelesaikan perkataannya. Ucapan nya sudah di potong oleh Bita terlebih dahulu, Bita tadi tidak bisa berbicara karena kain yang melilit di mulutnya. Sekarang kain ith sudah tak ada karena Eve yang sudah berdiri melepaskan nya.
"Selamat kan diri kamu, Ta. Jangan peduliin aku." ucapan Bita membuat Natha semakin emosi. Enggak. Dia enggak akan membiarkan Bita habis di tangan musuh bebuyutan nya ini.
Brukh!!
Satu tamparan tepat di wajah Nita, Natna langsung mengarahkan pisau ke leher Nita sama seperti Dera yang mengarahkan pisaunya ke leher Bita. Mereka saling berhadapan.
"Lo nyakitin dia? Gue gak akan segan-segan buat lukai Nita lebih dari ini." ucap Natha tegas.
"Lo pikir gue mau sekongkol sama orang yang udah nyakitin gue dan orang lain? Enggak." ucap Dera terkekeh, ia mengarahkan pisaunya ke arah Eve. Raya sudah tak berdaya, ia sudah pingsan karena tendangan dari Natha yang tepat mengenai perutnya tadi.
"Tetap dengan posisi itu, Ta. Sebentar lagi, akan ada orang yang akan menghabisi mereka lebih dari ini." ucap Dera tersenyum sinis.
Brak!!
Pintu rooftop terbuka, siapa yang muncul? Banyak. Ada empat polisi, kepala sekolah dan wakil sekolah, orang tua Shabita, orang tua Nita, Eve, Raya, Natha, dan Keenan, teman-temannya, dan teman-temannya Natha.
Terkejut? Sungguh, siapa yang membuat rencana? Dera? Kalau benar, ia sungguh berterima kasih.
Eve hendak kabur, tapi di halang oleh Rafa. Satu tamparan mengenai wajah mulus Evelin dari nyokapnya.
"Lepaskan mereka, bias saya yang mengurusnya." ucap salahsath polisi, mereka mengambil senjata berbahaya dan juga memborgol Nita, Eve dan Raya yang sudah sadar.
Sudah selesai semua tertangani, Nita, Eve dan Raya sudah di bawa ke kantor polisi karena tindakan mereka, mereka tidak di penjara, mereka hanya mendapat sanksi dan mereka juga di keluarkan dari sekolah, karena tak hanya satu dua kali mereka melakukan kekerasan seperti tadi.
Mama Lian dan Keenan memeluk tubuh Natha.
"Kamu gak apa? Ada yang sakit? Sini mama periksa." tanya Mama Lian khawatir, ia memeriksa seluruh tubuh Natha, dan ia melihat di pakaian Natha ada bercak darah. Di bagian pinggang dan juga di bagian pergelangan tangan. Itu akibat Raya tadi, mama Lian makin khawatir, mereka langsung pulang ke rumah, begitu juga dengan Bita dan Dera.
__ADS_1
Teman-temannya Natha menginap di rumah Natha, jadi mereka juga membantu mama Lian mengobati Natha yang keras kepala tidak ingin di obati.
...***...