My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
bab 54


__ADS_3

"Dih, apaan, baru sore juga." jawabnya


"Ya, siapa tau, haha!" ejek Aksa, Natha menggeleng,


"Ya udah, aku pulang ya, dadah, hati hati di rumah, ada anuu!" ujar Natha,


"Gak takut, wle!" jawab Aksa sembari menjulurkan lidahnya kepada Natha, Natha hanya tersenyum gemas lalu pergi dari rumah Aksa. Ia menjalankan motornya ke arah rumahnya, tetapi sebelum ke rumah, ia mampir dulu di toko roti, ia ingin membeli roti untuk mamanya dan juga untuk persediaan.


Ia sekarang sudah berada di rumah, di dalam rumah hanya ada Bibi Mela dan Mama Lian di ruang makan. Natha menghampiri Mama Lian dan menaruh rotinya ke atas meja,


"Bi, ini roti, tadi Natha beli sekalian pulang dari rumah Aksa," ujar Natha, Bibi Mela mengangguk, ia meraih rotinya dan menaruhnya ke dalam lemari,


"Ma, mama bang Keenan?" tanya Natha, sebenarnya ia takut untuk bertanya,


"Gak tau, tanya bibi gih" jawab Mama Lian,


"Bi, di mana bang Keenan?" tabya Natha kepada bibi Mela,


"Tadi katanya mau ke runah temennya," jawab Bibi Mela, Natha mengangguk,


"Ma, Natha mau mandi dulu ya," ujar Natha, Mama Lian mengangguk, tapi sebelumnya ia menanyakan satu hal kepada Natha,


"Dek, Abang mu selain ngeroko, sama minum itu, ada hal lain yang kamu tau gak?" tanya Mama Lian, sontak Natha terkejut dengan pertanyaan Mama Lian,


"Gak ada sih ma, Natha cuman tau abang ngeroko sama minum minuman gitu doang." jawab Natha, Mama Lian mengangguk, Natha kembali berjalan untuk mengambil handuk di dalam kamarnya.


"Aishh, telpon bang Keenan gak ya?" tanya Natha pada dirinya sendiri, ia akhirnya menelpon Keenan,


[Bang, lo kemana? Kapan pulang? Janagn larut malam, nanti yang ada lo bakal tambah di marahin mama.] ucap Natha setelah telponnya tersambung,


[Aduh taa, gue Tala, tu bocah keras kepala banget, ini dia minum, dia kobam.] - Tala


[Aih, ******, share lock] - Natha


Natha memutuskan sambungan telponnya, ia melihat lokasi yang di kirim oleh Tala, ia bergegas mengambil kunci motornya dan mengambil helm.


"Ma, Natha gak jadi mandi, mau ketemu temen sebentar, sebentar aja ma, sebentar," ujar Natha berlari lari kecil menuruni anak tangga. Tapi langkahnya terhenti di saat Mama Lian berucap,


"Jangan bohong," ujar Mama Lian yang sedang menatapnya tajam, Natha meneguk ilernya, ia menatap wajah Mama Lian dengan tatapan takut.


"Anu ma, eee anuu," jawab Natha, ia bingung mau bilang apa, mau jujur tapi takut di marahi, tapi kalo bohong, ia juga bakal di marahi, dan akhirnya ia memilih untuk jujur.


"Anu ma, bang Keenan, eee anu, bang Keenan m-minum lagi," jawabnya gugup,


"Terserah," ujar Mama Lian, ia bingung dengan ucapan Mama Lian 'terserah' maksudnya apa? Boleh, atau tidak?


"J-jadi? Boleh, atau gak ma?" tanya Natha menyakini ucapan Mama Lian,

__ADS_1


"Jemput, bawa pulang," jawabnya singkat, Natha mengangguk, ia langsung saja berlari ke arah motornya lalu menjalankannya ke tempat di mana Tala menshare lock.


Sesampainya di tempat itu, ternyata tempatnya itu adalah di markas mereka sering nongkrong pada malam hari. Hari juga mulai gelap, jam sekitar jam enam sore, Natha memasuki rumah itu, dan benar saja, ternyata Keenan merebahkan dirinya di sofa panjang. Markas teman teman Keenan adalah rumah, tidak besar dan tidak juga kecil, sedanglah ya.


"Ini gimana cara bawa pulangnya dah, bingung gue," ujar Natha,


"Nanti lo pake mobil dia aja pulang, entar gue yang pake motor lo, tapi baliknya besok senin aja, gak berani gue ke rumah lo, takut di marahin mama lo juga nanti gue, hehe!" jawab Cakra,


"Ah, oke oke, nih kuncinya, gue pulang dulu ya," jawab Natha, ia melempar keyles motornya kepada cakra, dan mengambil kunci mobil Keenan yang ada di meja.


"Sini, gue yang bawa dia," ujar Jaden, Keenan setengah sadar, lengan Keenan di taruhnya di pundaknya dan membimbing Keenan berjalan. Natha membuka pintu mobil lalu Jaden mendudukkan Keenan di kursi itu, lalu mrnutup pintu mobilnya.


"Nyusahin banget ******! Btw makasih," ujar Natha, Jaden, Cakra, dan Tala mengangguk,


"Gue pulang duluan," ujar Natha lagi, ia berjalan mengelilingi mobil dan membuka pintu sebelah kanan lalu masuk dan menlajukan mobilnya.


"Iya, hati hati!" jawab tiga orang cowok itu.


***


Natha tak membawa Keenan pulang ke rumah, melaikan ke taman, ia memarkirkan mobilnya. Ia menunggu Keenan sadar, walau dalam keadaan mabuk, Natha memainkan hpnya, dan memfoto tempat ini, lalu mengirimnya ke grub yang berisikan delapan orang temannya.


[Ngapain lo di situ? Udah malam gini] - Gabriella


[Paling sama Aksa] - Laura


[Enggak, gue di rumah.] - Aksa


[Keenan brengsek, pake acara mabuk segala, udah tau dia baru ketahuan sama nyokap gue minum minuman, eh malah minum lagi, kan ******!] - Natha


[Haha! Semangat ay!] - Aksa


[Kabur kabur, ada yang bucin] - Vio


[Sirik aja lo] - Aksa


[Lo juga bucin anjir] - Rafa


Natha hanya membaca pesan pesan dari teman temannya tanpa membalas lagi, ia lebih memilih untuk menchat kekasihnya, Aksa.


[Ay, Pap dong hehe, kangen] - Aksa


[Halah, baru juga tadi ketemu] - Natha


Natha mengirim foto dirinya kepada Aksa, foto itu hanya dilihat oleh Aksa tanpa di balas, Natha tak tau bahwa di seberang sana, Aksa teriak teriak tidak jelas di dalam kamarnya.


[Ay, gemes banget, kok cantik bangettt siehh, aghh, gak kuat!] - Aksa

__ADS_1


[Ayo balik pap] - Natha


Begitulah mereka chatan sampai di mana, Keenan sadarkan diri, ia melihat sekeliling, ia dimana? Kenapa di mobil? Perasaan tadi sama temen temennya? Keenan menoleh ke samping kanannya, ada Natha yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Apa?" tanya Keenan dengan wajah tanpa dosa.


"Bisa bisanya lo mabuk, heh, mama baru sembuh, jangan lo bikin mama tambah pikiran karena ulah lo ya ******!" kesel Natha sembari melemparkan kotak tisu kepada Keenan.


"Aduh! Sakit tau!" pekik Keenan,


"Salah lo sendiri, tuh, mama pasti bakal ngusir lo dsri rumah. Mau tidur di mana lo? Jalanan? Hah?!" kesel Natha, ia benar benar tak habis fikir sama kelakuan abangnya,


"Ya, maaf, tadi Tala beli wine, jadi gue minta, tau taunya gue kebanyakan minum. Hehe, sekalian ngebuang rasa stres," jawabnya santai,


"Gue gak masalah, karena gue udah sering liat lo gini. Noh, lo hanya nyari tau gimana caranya biar mama gak marah sama lo, minta maaf sama mama, bukan sama gue." jawab Natha juga, ia menampar tangan Keenan yang bertengker di paha Natha.


"Ya udah, ayo pulang, kalo dari tadi lo marah marah mulu, yang ada gue double kill karena kena marah sama lo, terus nanti pulang kerumah bakal di marahin lagi sama mama." jawabnya,


"Sini gue yang bawa mobilnya," ujar Keenan, Natha menggeleng,


"Gak gak, lo masih mabuk kan? Yang ada nanti pohon pohon lo tabrak lagi!" jawab Natha,


"Enggak, adek ku sayang, udah sini, tukeran." ujar Keenan, Natha yang mendengar kata 'sayang' dari Keenan bergidik geli, walau tak hanya satu atau dua kali Keenan mengatakan itu, tetap saja, ia geli mendengarnya. Natha yang mengalahpun langsung keluar dari mobil, begitu juga dengan Keenan.


Keenan melajukan mobilnya ke arah rumahnya, sesampainya mereka di rumah, di rumah itu terlihat sepi, sangat amat sepi. Tidak terlihat Bibi, bahkan Mama Lian dan Lea, cuman ada pah Harto di halaman rumah sedang menutup pagar. Natha menghampiri pak Harto,


"Pak, mama di mana ya? Kok sepi," tanya Natha,


"Ah, maaf non, tadi kata ibu mau jalan, tapi gak tau mau kemana" jawab Pak Harto, Natha mengangguk


"Oh, ya udah, makasih pak," ujar Natha dan di balas anggukan oleh Pak Harto,


"Heh, gara gara lo, mama jadi gak di rumah kan, aghh, ****** lo, udah ah, males gue sama lo!" ucap Natha, ia sangat amat kesal dengan Keenan. Ia khawatir dengan Mamanya, Mama Lian tidak di perbolehkan untuk membawa mobil terlebih dahulu, karena kaki dan tangannya masih belum sembuh total.


Natha berlari lari ke arah kamarnya dan menutup pintunya dengan keras. Ia mengambil hpnya dari saku celana, dan mencari nomor yang bernamakan 'my mom' ia menelpon tetapi nomornya tidak aktif.


"Aishh, mama kemana sih, aelah," ucap Natha, ia kebingungan sendiri bagaimana mencari tau dimana keberadaan Mama Lian. Ia kembali keluar dari kamarnya dan turun menuruni anak tangga, mencari kunci mobil milik Mama Lian yang satunya, ternyata tidak ada. Ah benar saja, Mama Lian mengendarai mobil di keadaan yang belum sembuh total.


Natha pasrah, ia mendudukkan diri di sofa ruang tamu, di dalam rumah hanya ada dirinya dan Keenan. Keenan menghampiri Natha, mengusap lembut rambut Natha,


"Maaf, gara gara gue, keadaannya jadi seperti ini," ujar Keenan, ia mendudukkan dirinya di samping kanan Natha,


"Mama di mana ya, gue khawatir sama keadaan mama," ucap Natha lirih, bahkan ia tengah menangis saat ini, tak lama kemudian pintu terbuka, menampakkan sosok perempuan yang tersenyum kearahnya dan Keenan. Natha yang melihat itu langsung saja menghamoiri perempuan itu dan memeluknya.


"Maa, mama kemana, mama belum sembuh total, jangan mengendarai mobil dulu," ucap Natha di dalam dekapan Mama Lian. Keenan memberanikan diri untuk menghampiri Mama Lian, ia ingin meminta maaf,


"Ma, Keenan, minta maaf....maaf udah bikin mama kecewa....Keenan tau kelakuan Keenan bikin mama sakit hati, maaf ma..." ujar Keenan, ia benar benar merasa bersalah atas kelakuannya sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya mama sudah tau tentang kamu, Keenan. Cuman saja, mama pura pura tidak tau, dan menunggu kamu untuk memberi tahukan sendiri, tapi kalian yak kunjung memberi tahu, dan jika bukan karena Natha yang keceplosan, mungkin kamu masih mengira mama tidak tau dengan kelakuan kamu di luar lingkungan rumah."


...***...


__ADS_2