My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 58


__ADS_3

"Bang...." ucap Natha lirih, ia sekarang ketakutan, Keenan terus berjalan ke arah Natha, dan Natha hanya memundurkan dirinya hingga ia terpojokkan ke dinding kamarnya. Natha mendorong tubuh Keenan yang makin mendekat,


"Apa?!" ucap Natha, bukan kali pertama Natha di buat Keenan terkejut dan di pojokkan seperti ini, namun ini sudah berkali kali jika Keenan sedang mabuk. Seperti empat tahun yang lalu, ia di tinggal oleh mamanya hanya bersama Keenan. Keenan selalu masuk ke dalam kamar Natha tanpa izin.


"Bang, gue ngantuk, sana keluar, kembali ke kamar lo!" ucap Natha tegas, bukannya menuruti apa kata Natha, Keenan malah mengunci pergerakan Natha. Natha memutarkan bola matanya malas, ia tahu setelah ini Keenan akan berbuat apa. Dan benar saja, Keenan memeluk tubuh Natha, Keenan jika di pengaruhi alkohol ia akan manja layaknya bayi yang meminta perhatian orang tua.


Natha sekuat tenaga mendorong tubuh Keenan yang memeluk dirinya, tapi tak ada gunanya, tenaga Keenan lebih besar daripada tenaga dirinya. Ia pasrah, sebenarnya ia sangat amat ngantuk, ia hendak tidur, namun sekarang ia malah di ganggu oleh Keenan.


"Gue mau tidur, ******!" ucap Natha lagi, ia benar-benar lelah, jika bisa memilih, ia memilih untuk pingsan saja sekarang. Keenan menarik tubuh Natha ke kasur dan melepaskan pelukannya, Keenan mendudukkan dirinya di pinggiran kasur.


Natha berjalan ke dekat pintu kamar untuk mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur saja. Natha hendak mengusir Keenan keluar dari kamarnya, tapi itu percuma, Keenan tak akan keluar dari kamarnya. Natha merebahkan dirinya, begitu juga dengan Keenan ia merebahkan dirinya di samping Natha dan kembali memeluk tubuh Natha, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Natha.


***


Sekarang sudah menunjukkan jam tujuh pagi, Natha kesiangan untuk bangun, ia membuka matanya, melihat sekeliling kamarnya, jendela kamar sudah terbuka, lampu tidur sudah mati, dan Keenan tidak ada di dalam kamarnya. Natha berdiri lalu mengambil handuk, kekamar mandi, memakai seragam lalu berangkat sekolah.


Sekarang ia sudah rapi dengan rambut yang ia cepol, ia memakai sepatunya, mengambil tas lalu turun kebawah. Ia tak sarapan karena ia sudah telat, di ruang makan ia hanya berpamitan kepada Mama Lian dan Bibi Mela dengan tergesa-gesa. Ia langsung saja berangkat menggunakan motornya untuk ke sekolah.


Sesampainya ia di sekolah, benar saja, gerbang sekolah sudah di tutup, ia pikir hanya dirinya yang telat, ternyata masih ada tiga cowok dan dua cewek dengan dirinya. Ia di suruh untuk menunggu, siapa tau masih ada yang telat selain mereka berlima, ternyata tidak ada lagi. Gerbang di buka, dan mereka harus ke lobby sekolah untuk mendapatkan surat izin masuk, karena terlambat.


Setelah selesai, ia sudah terlambat lima belas menit, ditambah dengan menunggu yang masih telat dan mengambil surat izin tadi. Jadi sekarang ia sudah tertinggal satu jam pelajaran, ia berlari lari menaiki anak tangga, yang pastinya ia juga melewati kelas IPS 3, kelasnya Aksa. Kelas Aksa terdapat di dekat tangga, dan di sampingnya ada kelas IPS 2.


"Pagi, bu," ujar Natha sembari membuka pintu kelas, Natha masuk lalu menaruh surat tadi ke atas meja guru. Natha mendudukkan dirinya di tempatnya,


"Tumben telat, kenapa?" tanya Vio,


"Tadi malam gue cape banget, dan mungkin gue tidur terlalu nyenyak, sampai sampai bunyi alarm aja gue gak denger." jawab Natha, ia mengeluarkan buku dari tasnya.


"Biasanya juga, kalo telat, gak akan masuk sekolah," ujar Cakra dari kursi belakangnya, Natha memalingkan badannya ke arah Cakra,


"Karena gue udah keseringan gak masuk, jadi hari ini gue usahain untuk masuk sekolah walaupun telat." jawab Natha, Cakra hanya terkekeh pelan mendengar jawaban Natha.


***

__ADS_1


Sekarang sudah memasuki jam istirahat, Natha dan Vio masih berada di dalam kelas, sedangkan yang lainnya sudah tak ada di kelas. Aksa dan temannya memasuki kelas Natha, tetapi tidak dengan Rafa, Cakra, Laura, dan Gabriella, entahlah mungkin mereka sudah di kantin.


"Tadi telat, ya?" tanya Aksa, ia melihat Natha berlari di depan kelasnya tadi, dan masih menggendong tas.


"Menurut kamu?" tanya Natha juga,


"Iya, hehe!" jawabnya dengan kekehan,


"Iya, aku telat," jawab Natha, entah, hari ini ia terasa sangat badmood, bahkan untuk berbicara saja ia malas. Natha merebahkan kepalanya di atas tangannya yang bertumpu pada meja, Aksa yang tau bahwa kekasihnya sedang badmood hanya tersenyum sembari mengelus kepala Natha.


"Ta, gue ke kantin, ya," ujar Vio, Natha mengangguk sebagai jawabannya, di dalam kelas hanya ia dan Aksa, Aksa duduk di samping Natha di tempat duduk Vio. Tangan Aksa masih setia untuk mengelus kepala Natha, entah kapan, Natha sekarang sudah terlelap, ia masih mengantuk. Aksa terkekeh gemas melihat wajah Natha yang tertidur itu, hendak sekali ia cubit pipinya, namun tidak jadi, nanti yang ada Natha terbangun dari tidurnya.


Beberapa menit kemudian, Natha bangun, di dalam kelas sudah banyak murid dari luar, ada yang masuk dan ada juga yang keluar. Natha mengumpulkan semua tenaganya, ia melihat sekeliling, ternyata Aksa dan teman teman lainnya tidak ada di kelas. Mungkin di kantin, pikir Natha, ia mengambil hp yang ada di sakunya, melihat ada telpon dari Gabriella, Natha menghubungkan telpon itu.


"Ke rooftop, sekarang!" teriaknya dari seberang sana, Natha memutarkan bola matanya malas, sebenarnya ia tak ingin menyusul, tapi karena tadi Gabriella seperti marah, jadi Natha menyusul agar Gabriella tidak bertambah marah.


Sesampainya di rooftop Natha menaikkan alisnya bingung di saat ia melihat Vio menangis, Gabriella dan Laura yang di selimuti amarah. Natha menghampiri teman temannya,


"Kenapa?" tanya Natha, ia benar benar bingung, di atas rooftop hanya ada tiga teman perempuannya, dan, dimana laki-lakinya?


"Mana yang lain?" tanya Natha lagi,


"Gak perlu nyariin di mana yang lain!, gue males ketemu sama yang lain!" jawab Laura yang masih di selimuti amarah.


"Hey, calm down. Ini kenapa? Jelasin ke gue, gue gak tau apa apa," ujar Natha sembari mendekati tiga temannya.


"Entah kerasukan setan apaan, tu para cowok, malah memilih untuk membantu Eve dibanding Vio!" ucap Gabriella, Natha jelas bingung, ia masih mencerna semuanya, tapi tak bisa.


"Lo gak ngerti?" tanya Laura, Natha menggeleng,


"Tadi, yang lain pada main basket, kami jalan di dekat koridor, tapi tiba tiba si Gibran melempar bolanya terlalu kencang, dan dia juga kesenggol Cakra. Bola yang tadi di lempar Gibran malah terkena Vio, dan Cakra yang di senggol Gibran malah tersenggol Eve hingga jatuh, lagian salah dia jalan di samping lapangan. Kirain Gibran dan Cakra mau bantuin Vio yang terkena bola, eh taunya, Gibran malah ngangkat badan Eve karena pingsan." jelas Laura, sekarang Natha mulai mengerti, dan tak lama datanglah keempat teman cowoknya, dengan ekspresi yang bisa dibilang, khawatir.


"Vio, lo aman kan? Gak apa kan?" tanya Cakra, ia menghampiri Gabriella, karena Gabriella berada di samping Vio. Natha menatap tajam Aksa, sepertinya Aksa tau apa yang ada di pikiran Natha. Ia tersenyum gugup,

__ADS_1


"Ay, aku gak bantuin dia tadi, aku cuman bantuin Gibran karena di suruh buat ngambilin obat di ibu Lily" ujar Aksa menjelaskan, Natha memutarkan bola matanya malas, ia menatap ke arah Gibran yang bahkan tak ada niatan untuk menenangkan Vio.


"Lo suka sama Eve, hah?" tanya Natha pelan kepada Gibran, Gibran menelan ludahnya kasar, ia bingung hendak menjawab apa ke Natha, jadi ia hanya menggeleng ke arah Natha.


"Really?" tanya Natha lagi, Gibran mengangguk,


"Then, why are you helping her instead of helping your own lover?" tanya Natha lagi,


"Maaf, tadi, gue gak liat bahwa bolanya ke arah Vio, gue malah liat Eve yang pingsan di lapangan tadi, maaf..." jawabnya,


"Ngapain lo minta maaf sama gue? Minta maaf sana sama Vio." ujar Natha, Gibran menghampiri Vio yang sedang menangis. Vio menangis karena masih merasakan sakit di kepalanya karena bola tadi, jika bisa, ia hendak pingsan saja sekarang dari pada merasakan sakit di kepalanya ini.


Natha memikirkan sebentar, Vio yang terkena bola di kepala tidak pingsan, sedangkan Eve yang hanya tersenggol masa pingsan? Heran.


"Yang tadi, beneran pingsan emang?" tanya Natha lagi kepada Aksa yang ada di samping dirinya, Aksa menarik tangan Natha agar menjauh dari teman-temannya, mereka berdua sedikit ke pojokan rooftop.


"Ngapain di sini, kan di sana juga bisa?" tanya Natha lagi, Natha terus bertanya, karena di pikirannya masih banyak lagi pertanyaan yang ingin dia tanyakan.


"Udah, ada pertanyaan lagi gak? Biar sekalian aja aku jawabnya," jawabnya sekaligus bertanya,


"Gak ada, udah itu aja deh." jawab Natha,


"Kenapa harus di sini? Biar mereka gak denger, kalo tuh tiga cewek denger, yang ada nanti gendang telinga mu pecah karena teriakannya. Dan tadi Eve beneran pingsan atau gak? Entah, tapi menurut ku, dia hanya pura pura pingsan buat nyari perhatian, soalnya tadi aku liat, dia saat diangkat sama Gibran, itu tangannya gerak buat narik tangan Gibran, entah Gibrannya sadar atau gak. Satu lagi, setelah Gibran nyuruh Cakra buat manggilin ibu Lily, dia malah sadar, dan iya sih emang kayak orang baru sadar dari pingsan. Tapi beda gitu loh, ngerti gak?" jelas Aksa panjang lebar,


"Terus, ibu Lily jadi di panggilin?" tanya Natha lagi, Aksa mengangguk,


"Kata bu Lily, dia gak apa apa, gak ada luka apapun," jawab Aksa,


"Satu lagi, di UKS Vio sama yang lain ada masuk?" tanya Natha, Aksa menggeleng. Natha melotot, ia dengan berlarian ke arah Vio, gini-gini, Natha juga mantan PMR.


"Vio, ayo ke UKS, sekarang juga."


...***...

__ADS_1


__ADS_2