
"Ay, tau gak, tadi Vio di samperin Gibran ke rumah loh," ucap Aksa,
"Heh, apaan sih lo, udah Ta, jangan di dengerin," ucap Vio yang sepertinya lagi duduk di samping Aksa.
Satu jam sudah terlewati, sekarang jam menunjukkan ke angka sepuluh malam. Keenan terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya berkali kali untuk mengumpulkan tenaga untuk berduduk. Ia bangun dari tidurannya, mendudukkan dirinya di samping Natha, mendengar suara Aksa yang bicara dengan dua orang tuanya. Keenan mengelus pucuk kepala Natha, lalu tersenyum, Keenan berdiri, mengambil laptop dan hpnya, berjalan menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya.
Natha juga berdiri dari duduknya, tetapi ia kembali terduduk karena kakinya terasa kram, gimana gak kram kakinya Natha, orang Keenan merebahkan kepalanya di bantal yang berada di atas paha Natha. Ia mendiamkan kakinya sebentar untuk mengurangi rasa kram, setelah merasa sudah tidak kram lagi, ia berdiri lalu berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Mematikan lampu kamarnya dan hanya menyisakan lampu tidur, melepaskan sendal rumahnya dan merebahkan badannya di kasur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ay, kalo aku ketiduran, nanti telponnya matiin aja," ujar Natha,
"Iya, sayang, good night," jawab Aksa,
"Too" jawab Natha juga, ia keluar dari aplikasi whatsapp, dan membuka aplikasi tiktok, tapi telponnya dengan Aksa masih tersambung.
Sekarang jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, layar hp Natha masih menyala, dan masih berada di aplikasi tiktok.
"Ay, udah tidur ya?" - Aksa
"Good night, sweet dreams" ucap Aksa, lalu ia memutuskan sambungan telponnya dengan Natha.
***
Seperti biasa, setiap jam enam pagi, alarm natha berbunyi, tangan Natha bergerak untuk mematikan alarmnya. Ia mengerjapkan matanya berkali kali, mengumpulkan semua tenaganya, merasa ada benda keras di tangannya, ia mengambilnya.
"Astaga, aduh, males banget ngecharge di kelas," ucapnya pada diri sendiri, baterai hpnya hanya tersisa lima belas persen.
Natha men charger untuk sementara ia mandi, ia mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolahan.
Beberapa menit kemudian.
Natha sudah selesai mandi, ia mengambil seragam hari ini, hari Rabu. Setelah selesai ia merapikan rambutnya, ia tak menguncir rambutnya, tapi ia membawa jedai dan ia jepitkan di samping tas sekolahnya. Memakai sepatu sekolah, dan juga hpnya. Natha turun ke bawah untuk sarapan bersama.
"Pagi ma, bang," ucap Natha, ia duduk di samping Keenan, meraih piring dan menaruh nasi ke dalam piring yang ia ambil tadi. Mengambil lauknya, lalu memakannya hingga habis.
"Ma, kami berangkat dulu, ya," ujar Keenan, mereka berpamitan dengan Mama Lian, karena yang ada di ruang tamu hanya ada mereka bertiga. Natha hari ini berangkat bersama Keenan, Aksa tak bisa menjemput dirinya karena ia juga berangkat bersama Mamanya. Bagaimana ia pulang? Tadi malam di saat Natha dan Aksa bertelponan, Aksa bilang kepada Natha, Aksa tak menjemput dirinya karena ia berangkat bersama kedua odang tuannya, dan Aksa menyuruh agar Natha hanya di antar, tidak menggunakan Motor sendiri.
Nanti pulang sekolah, Natha akan di ajak jalan bersama dengan ke-dua orang tua Aksa. Mengapa tidak sekalian di jemput saja? Tidak bisa, karena orang tua Aksa ingin cepat pergi ke kantor, jadi tidak bisa menjemput Natha. Natha meng iyakan semua ucapan Aksa, makanya Natha pagi hari ini ia berangkat sekolah minta antar dengan Keenan.
Sesampainya di sekolah Natha,
"Hati-hati, gue sekolah dulu, nanti pulang jangan di jemput, gue pulang sama-" Ia belum menyelesaikan ucapannya terpotong karena Keenan,
"Iya iya bawel, sana masuk," jawab Keenan, Natha tersenyum lalu keluar dari mobil dan tak lupa kembali menutup pintu mobilnya. Ia masuk ke dalam sekolah dan berjalan ke arah kelasnya.
"Nat, lo ikut kemah gak?" tanya Jema, ketua kelasnya di kelas dua belas IPS 2, Natha mengangguk lalu menghampiri Jema yang berada di dekat meja guru.
"Siapa aja yang ikut?" tanya Natha, Jema menyerahkan kertasnya, yang ikut kemah baru enam orang di dalam kelasnya, termasuk Vio dan gibran. Tidak ada nama Cakra, karena ia adalah pembina kemping.
"Oh, oke," ujar Natha, ia berjalan ke arah tempat duduknya, hanya ada tas teman temannya, tetapi tak ada orangnya. Natha berjalan keluar kelas, melihat ke kelas sebelah, kelas IPS 3, kelasnnya Aksa.
"Ada liat Aksa, gak?" tanya Natha dengan Najla, teman sekelas Aksa dan teman sekelas Natha di kelas sebelas dulu.
__ADS_1
"Tadi si keluar kelas, baru aja, gak tau kemana, mau bareng? Gue mau ke bawah," jawab Najla,
"Enggak, makasih, gue mau ke atas dulu," jawab Natha, Najla mengangguk.
"Gue tinggal ya, Ta," ujar Najla dan Natha mengangguk. Sekolah Natha terdiri ada Empat tingkat, Kelas Natha di lantai empat. Lalu Natha berjalan ke atas untuk melihat ke rooftop, siapa tau ada teman-temannya.
Baru Natha sampai di tangga untuk naik ke rooftop, ternyata ia ketemu dengan teman temannya yang menuruni anak tangga, seperti biasa, jalannya berpasangan dengan pasangan Masing-masing. Tapi tidak dengan Aksa, ia berjalan sendiri di belakang,
"Aksa ini Nat-" ucapan Laura belum selesai, Aksa Tiba-tiba dengan cepat melewati teman temannya untuk menghampiri Natha, ia memeluk tubuh Natha,
"Ya elah, kayak satu minggu gak ketemu, padahal setiap hari ketemu aja" ucap Gabriella,
"Biarin, sirik aja lo," jawab Aksa, teman-temannya hanya tertawa menertawakan Aksa.
"Udah baikan ni yaaa," ejek Natha kepada Vio dan Gibran,
"Cih," Vio mendecih pelan,
"Yah, baru juga ketemu mba pacar, udah bel aja," ujar Aksa karena bel sekolah sudah berbunyi, mereka berjalan ke arah kelas mereka masing-masing.
"Dadah," ujar Natha setelah sampai di depan pintu kelasnya,
"Udah sana ke kelas kamu," ujar Natha lagi, karena Aksa tak kunjung berjalan ke kelasnya,
"Udah ih, sanaaa" rengek Natha, Aksa gemas, ia mencubit pipi Natha lalu pergi berjalan ke arah kelasnya dengan berjalan mundur, Natha hanya terkekeh lalu masuk kedalam kelasnya.
Guru yang mengajar di kelas Natha juga sudah datang.
***
"Sudah semua kan?" tanya Guru itu,
"Sudah, buu," jawab semua siswa siswi di kelas itu serentak, guru itu keluar kelas dengan menenteng tad dan buku-buku anak murid di kelas itu.
"Kantin?" tanya Vio, Natha mengangguk, mereka berempat berjalan keluar dari kelas, di luar kelas sudah ada empat temannya juga, siapa lagi kalo bukan Aksa dan yang lain.
Mereka telah sampai di kantin, membeli makanan yang ingin mereka beli, Natha hanya membeli satu kaleng cocacola dan Aksa hanya membeli kentang goreng dengan satu kaleng fanta. Seperti biasa mereka duduk di tempat pojok kanan kantin.
Beberapa menit setelah itu, mereka sekarang sudah selesai menghabiskan makanannya, mereka berjalan ke rooftop untuk bersantai mencari angin.
"Panas banget!" keluh Gabriella,
"Eh! Gue gak sabar deh pengen kemah, buat liat adek kelas yang tengil itu, ikut apa enggak ya?" tanya Laura,
"Siapa deh?" tanya Natha kepada Laura,
"Itu loh, yang tengil banget, tau gak, itu loh," jawabnya, tapi ia bingung untuk memberi tahu,
"Yang pacaran sama Aji kah?" tanya Natha,
"Nah, iyaa itu loh, gue lupa namanya," jawab Laura,
__ADS_1
"Amel?" tanya Gabriella kepada Natha, Natha mengangguk sebagai jawaban 'iya'
"Nah, iyaaa, Amel. Dia kalo ke sekolah sama kayak Eve coi, pake make up tebel banget, padahal baru adek kelas." jawab Laura,
"Udah lah, lagian kalo kena point, ya kan point dia sendiri, bukan point lu," Gabriella berucap
"Iya tau, tapi kayak-" Laura berbicara belum selesai, ucapannya di potong oleh Natha,
"Udah ya, udah, jangan nambah dosa lo gibahin orang." ujar Natha memotong pembicaraan Laura,
"Hari ini, habis pulang sekolah, sibuk gak?" tanya Laura,
"Gue, Natha, sama Vio, mau ke rumah ponakan gue," jawab Aksa,
"Oh, berarti gak bisa ya, lain kali aja deh," jawab Laura,
"Emangnya mau kemana?" tanya Natha,
"Ngajak jalan-jalan doang, di wisata baru itu loh," jawab Laura,
"Besok, kayaknya bisa," jawab Gabriella,Natha pun mengangguk,
"Oke, besok ya," ujar Laura, semua temannya mengangguk. Bel pun berbunyi, mereka semua berjalan menuruni anak tangga, di depan kelas Natha, ada empat gadis yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Hai!" panggil Evelin kepada Natha dan teman-temannya, Natha memutarkan bola matanya malas.
"Mau apa lagi lo, hah?!" entah mengapa, setiap melihat wajah Eve, Laura pasti emosi.
"Kok gitu sih, eh, Natha, semoga kita satu tim ya, nanti kemah, dadah!" jawab Eve lalu pergi masuk ke dalam kelas IPS 3.
"Lah, ngapain harus ikut juga sih dia, jadi males gue," ujar Laura, tapi berbeda dengan Natha, ia malah tersenyum sinis, mungkin ia bakalan merencanakan sesuatu?
"Udah, ayo masuk, tuh ada ibu," jawab Natha, ia masuk ke dalam kelasnya, mendudukkan dirinya, mengeluarkan buku pelajaran hari ini.
"Aduh!" pekik Dera,
"Kenapa?" tanya Nayla yang duduk di depan kursi Dera,
"Siapa yang naruh beling di kolong meja gue?!" tanya Dera pada satu kelas, tapi tak ada yang menjawab, tapi tiba-tiba Dera malah menuduh Natha yang menaruhnya.
"Ini pasti lo, kan!" tuduhnya sembari menepuk meja Natha dengan keras, Ibu pengajar di kelas mereka pun sampai, karena ibu itu melihat telapak tangan Dera berdarah, dan juga melihat Dera sperti marah kepada Natha. Ibu itu menyuruh Natha dan Dera kedepan kelas.
"Kedepan kalian berdua," ujar Ibu itu,
"Saya bu?" tanya Natha, ibu itu pun mengangguk, Natha dan Dera maju ke depan kelas,
"Kenapa tangan kamu?" tanya ibu itu kepada Dera,
"Di kolong meja saya ada beling bu, Natha yang naruh beling itu..."
***
__ADS_1