My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 62


__ADS_3

"Di kolong meja saya ada beling bu, Natha yang naruh beling itu..." ucapnya Dera minta di kasihani,


"Benar, Natha?" tanya Ibu itu pada Natha, Natha menggeleng,


"Gak, saya aja selama istirahat gak ada di dalam kelas, tanya aja tuh, mereka bertiga," jawab Natha sembari menunjukkan jarinya ke arah tiga temannya, ketiga temannya mengangguk,


"Halah bu, bisa aja mereka kerja sama, bu," ujar Dera,


"Bukan Natha yang naruh beling itu di kolong meja lo, orang tadi gue di dalam kelas aja sejak istirahat, coba sana ke kelas IPS 3, lo bakal tau siapa pelakunya." jawab Saddam,


"Hah?" tanya Natha dan Dera serentak,


"Iyalah, teman lo sendiri yang naroh beling di bawah meja lo, di saat lo pergi ke toilet, Natha dan teman temannya bahkan dari awal istirahat sampai akhir istirahat gak di kelas," jawab Saddam, dan diangguki oleh Aji, teman sebangku Saddam.


"Udah jelas kan? Saya izin kembali ke tempat duduk, bu" ujar Natha,


"Iya, silahkan. Tapi kamu, Dera, sekarang pergi ke UKS, obatin luka kamu itu, setelah itu bersihkan beling yang ada di kolong meja kamu." jawab Ibu itu, Dera mendecak kesal, ia berjalan ke luar kelas, sebelum turun dari anak tangga ia melihat di dalam kelas IPS 3, kelas Eve dan dua teman lainnya.


Dera menuruni anak tangga, ternyata tiga teman Dera tadi keluar dari kelas untuk menyusul Dera. Di dalam kelas Evev tidak ada guru pengajar, cuman di kasih tugas,


Sesampainya Dera di UKS, tidak ada penjaga UKS di sana, ia masuk lalu mencari obat untuk mengoleskan di telapak tangannya yang terkena beling tadi.


"Lo kenapa, Der?" tanya Eve pura-pura tidak tau, padahal mereka lah yang menaruh beling di bawah meja Dera,


"Jangan sok pura-pura gak tau lo," jawab Dera,


"Apasih? Pura-pura gak tau apa?" tanya Raya dengan penuh dramatis,


"Tinggal jujur aja apa susahnya sih? Kalian kenapa coba naruh beling di kolong meja gue? Punya masalah apa lo sama gue?" jawab Dera sembari mengobati lukanya,


"Oh, sekarang lo berani, melawan gue, hah?!" ucap Nita, ia meraih tangan Dera, menggenggam luka Dera tadi sekuat tenaga. Dera meringis kesakitan ulah satu temannya itu, dan dua lagi, ia hanya tertawa melihat Dera.


"Lo lupa? Lo itu gak pernah punya teman dari awal masuk sekolah dan sampai saat ini. Gue agak kasihan sih, lihat lo yang selalu sendirian kemana mana, makanya gue sama Raya mau temenan sama lo. Tapi kami sebenarnya agak ogah sih temenan sama lo, karena apa? Karena lo gak becus. Di suruh buat ngambil hp Natha aja lo gak bisa, sekarang lo taukan, akibatnya. Sekarang lo bukan lagi teman kami, dan sekarang lo adalah bagian dari orang yang harusnya kami bully. Lo itu bahan bullyan kakak kelas, tetapi tak sadar diri, malah ikut membully orang." jelas Nita dengan tangan yang masih menggenggam tangan Dera, ia benar benar kesakitan, darahnya makin merembes keluar. Setelah itu Nita melepaskan tangannya, dan keluar dari UKS.


Dera dari pertama masuk sekolah di sekolah ini jadi bahan bullyan kakak kelas, setelah naik ke kelas sebelas, ia merasa lega karena yang sering membullynya sudah lulus. Di saat itu juga Nita dan Raya mengajak Dera untuk berteman dengannya. Dera mengangguk begitu saja karena ia bahagia bisa ada orang yang mau berteman dengan dirinya, tanpa tau sifat asli Nita dan Raya. Setelah kelamaan berteman dengan dua gadis itu, Lama-lama sifat kedua gadis itu terbuka, mereka adalah pembully adek kelas, bahkan kakak kelas yang culun.


Dera enggan untuk ikut membully orang, karena ia tahu jika di posisi seperti orang yang di bully itu sakit. Tetapi karena ia tak ingin kehilangan dua temannya, ia rela ikut membully padahal ia juga pernah dibully. Hingga sekarang ia tahu karena apa Nita dan Raya mau berteman dengan dirinya.


Dera sudah selesai mengobati lukanya, ia keluar dari UKS, dan berjalan ke arah tangga untuk pergi ke dalam kelasnya. Tanpa di sadari, ada satu cewek yang merekam semua yang tadi di lakuin Nita dan temannya kepada Dera. Ia menyimpan hpnya di dalam saku lalu berjalan untuk pergi kedalam kelasnya.


"Lama banget kamu," ujar Ibu itu setelah melihat Dera yang baru masuk,

__ADS_1


"Tadi nyari perbannya bu, gak ada penjaga UKS," jawab Dera, ia berjalan ke arah tempat duduknya, ia menulis catatan yang ada di papan tulis, ia tak membersihkan beling itu, biarkan saja jika ibu sudah keluar dari kelas, baru ia akan membersihkan.


***


Sekarang bel pulang sudah berbunyi, mereka membereskan semua barang-barang mereka untuk pulang ke rumah masing masing. Natha, Vio dan Dera, mereka bertiga masih berada di dalam Kelas, sedangkan yang lain? Mereka sudah pulang, mengapa Natha, Vio, dan Dera tidak? Natha dan Vio sedang menunggu Bunda Aksa menjemput, Aksa dan teman lainnya sedang bermain basket di lapangan.


Natha dan Vio saling tatap-tatapan melihat tiga teman Dera masuk ke dalam kelas.


"Ayo pulang," ucap Nita kepada Dera, mereka keluar dari kelas, hanya tersisa Natha dan Vio di dalam kelas.


"Ada yang aneh gak sih, di antara mereka berempat?" tanya Vio,


"Iya, entahlah, mending kita ke lapangan lihat yang lain main basket," ajak Natha, dua gadis itu pergi dari kelas lalu turun ke lapangan, duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan.


"Bunda udah nunggu di depan, ayo," ucap Aksa tiba-tiba berada di depan Natha.


Mereka bertiga berjalan ke depan gerbang sekolah, tyap benar saja, sudah ada orang tua Aksa yang menunggu. Mereka masuk ke dalam mobil itu, duduk di kursi tengah, Aksa di pinggir pintu kanan, Natha di tengah, dan Vio dipinggir pintu kiri. Ayah Aksa menjalankan mobilnya tidak ke arah pulang, jalannya pun tidak Natha kenal.


"Bun, kita mau kemana?" tanya Aksa, pikir Natha, Aksa tahu bahwa mereka akan di bawa kemana, ternyata ia juga tidak tahu.


"Nanti kalian juga pasti tau sayang," jawab Bunda Aksa,


"Udah, ayo masuk." ajak Bunda Aksa. Ingat Aksa, Natha dan Vio masih menggunakan pakaian sekolah. Mereka menaiki lift, Ayah Aksa memencet nomor empat. Setibanya mereka di lantai empat, mereka ternyata pergi ke toko baju di dalam Mall itu.


Mereka memilih milih baju, bukan mereka, hanya Bunda Gita. Bunda Aksa sibuk memilih baju dengan Ayah Aksa, Vio dan Natha juga melihat lihat baju yang bagus-bagus, sedangkan Aksa, ia hanya mengikuti kedua gadis itu melihat lihat.


"Natha, Vio, sini coba," panggil Bunda Aksa, mereka menghampiri Bunda yang sedang menating dua dress berwarna abu muda.


"Nih, coba lihat, cantikkan?" tanya Bunda Aksa,


"Cantik," jawab Natha, dan Vio. Dress yang tadi di pegang oleh Bunda Aksa, di serahkan kepada Aksa.


"Pegangin," ujar Bunda Aksa kepada Aksa,


"Nah, cocok buat kamu sama Natha" ucap Bunda kepada Aksa,


"Boleh, beliin dong Bunda," jawab Aksa,


"Enak aja, beli sendiri, kan uang kamu ada. Bunda ke sini cuman buat beliin Natha sama Vio, haha!" ujar Bunda sembari tertawa,


"Jadi ini yang anak kandung aku apa Natha sama Vio deh," jawabnya bercandaan,

__ADS_1


"Kamu," jawab Bunda Aksa,


***


Sudah lumayan lama mereka memilih baju, hingga saatnya kini mereka bayar ke kasir semua belanjaan tadi. Jam sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam, sekitar jam setengah sembilan malam, acara keponakan Aksa di mulai. Mereka pulang dari mall itu, lalu mengantar Natha pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Natha,


"Makasih, Bunda," ujar Natha,


"Sama Bunda doang nih, makasihnya?" tanya Ayahnya Aksa,


"Haha! Makasih Ayah," jawab Natha,


"Udah, sana gih masuk, nanti kami jemput lagi, jangan cantik cantik, nanti di lirik cowok," ejek Aksa,


"Iya, iya, dadah!" Natha melambaikan tangannya kepada empat orang yang berada di dalam mobil itu. Setelah tak melihat lagi mobil Ayahnya Aksa, Natha masuk ke dalam rumahnya, tak lupa untuk menutupnya kembali.


Di dalam rumahnya hanya ada Keenan, sedangkan Mama Lian bekerja, karena ia sekarang sudah sembuh total. Natha bergegas menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya, melepaskan sepatu, tas lalu mengambil handuk untuk mandi.


Beberapa menit kemudian, Natha selesai mandi, ia memakai pakaian yang tadi dibelikan oleh Bunda Aksa, menyisir rambutnya. Sekarang ia sudah siap, rambut terurai, dress berwarna abu muda, heels berwarna abu muda, dan tas kecil yang juga berwarna abu muda. Untung saja Natha memiliki warna yang sama, jika tidak, ia bingung harus memakai yang mana.


Jam sekarang sudah menunjukkan jam delapan malam, Natha juga sudah meminta izin kepada Mamanya lewat telpon, dan juga ia sudah meminta izin kepada Keenan. Natha sudah di jemput oleh Aksa, Natha keluar rumahnya,


"Makasih, pa" ujar Natha kepada Pak Harto yang sedang membuka kan pagar rumahnya. Aksa membuka kaca mobil depan sebelah kiri, memberi tahu Natha agar duduk di samping dirinya.


"Aku pikir kamu sama Bunda," ujar Natha,


"Enggak, Bunda udah duluan, kata Bunda biar aku sama kamu aja berdua, hehe!" jawab Aksa sembari terkekeh, Aksa melajukan mobilnya kecepatan Rata-rata.


Sesampainya di pesta ulang tahun keponakannya, di sana sudah ramai anak anak seumuran keponakannya Aksa.


"Kaka!" panggil anak kecil dengan berteriak, memanggil Aksa.


"Hallo, selamat ulang tahun, Rasya" ucap Aksa sembari memberi kado yang lumayan besar, ia hendak membuka, tetapi di tahan oleh Aksa,


"Eits, bukanya nanti aja," ujar Aksa, Rasya mengangguk, ia menengok ke arah Natha yang berada di samping Aksa.


"Ini siapa kak, kakaknya cantik banget deh, hehe!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2