My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 13


__ADS_3

"Lo nanya apaan?" Keenan tampak heran dan menatap Natha dengan kedua alis berkerut.


"Lah, katanya tadi minta temenin?" Natha jadi kesal sendiri.


"Nanti, tungguin mama balik. Temen lo udah pada pulang?" tanya keenan kepada Natha.


"Yang lain udah pulang, tinggal Gabriella, nungguin mamanya pulang. Di rumah dia gak ada siapa-siapa, katanya," jelas Natha.


"Oh. Nanti kalo udah pulang, ke sini lagi aja. Temenin Abang," sahut Keenan.


"Lah, kalo dia nginep di sini gimana?" celetuk Natha.


"Ya udah, tinggal di rumah aja dulu. Bentaran aja juga, kok," ucap Keenan memberi saran.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya, Abang sudah mandi?"


"Sudah. Sana-sana, balik ke kamar lo sendiri. Pusing gue," celetuk lelaki itu sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya dan berhasil membuat Natha makin kesal.


"Iye-iye!" sahut Natha, lalu kembali melangkah menuju kamarnya.


Setibanya di kamar.


"Nat, kalo seandainya gue nginep di rumah lo, gimana?" tanya Gabriella dengan ragu-ragu kepada Natha.


"Gak apa-apa, kok. Malah gue seneng kan jadi ada temen gue nya," jawab Natha.


"Sip lah. Tapi, gue mau jalan dulu sama Laura. Nemenin dia yang lagi nyari sesuatu buat neneknya," ujar Gabriella sambil tersenyum menatap Natha.


"Lah, kapan? Sekarang?"


"Iya, Nat. Ini barusan dia chat gue, minta temenin," jawabnya.


"Iya, udah. Hati-hati di jalan. Bilang sama Laura, jangan ngebut-ngebut!" ujar Natha sambil tertawa.


"Ish, udah kek emak-emak aja lo, Nat!" sahut Gabriella.


Gabriella bangkit dari posisinya lalu berjalan keluar setelah berpamitan kepada Natha. Sepeninggal Gabriella, Natha membaringkan dirinya di atas kasur miliknya yang berwarna putih. Natha meraih benda pipih bermerk apel tergigit yang berada di atas nakas, tepatnya di samping kasur. Natha melihat ada notif whatsapp dari Gibran dan langsung membukanya.


[Nat, sibuk gak? Mau jalan bareng gue, gak?] Begitu notif dari Gibran ke Natha.


"Ish, tumben ini bocah ngajak gue jalan?" Natha membatin lalu membalas pesan dari Gibran.


[Gue ada janji, mau nemenin Keenan setelah ini.]


Tampak Gibran sedang mengetik pesan setelah mendapatkan balasan dari Natha.


[Oh, ya udah, nanti aja.]


Natha hanya membaca pesan itu tanpa berkeinginan untuk membalasnya. Tak berselang lama, Keenan tiba di depan kamarnya lalu mengetuk pintu yang sedikit terbuka.


"Mana temen lo?" tanya Keenan sembari mengintip ke dalam kamar Natha melalui celah yang terbuka.


"Jalan. Nemenin Laura beliin sesuatu buat neneknya. Memangnya kenapa, Bang?"


"Gak apa-apa, gue cuman nanya doang. Oh ya, mama barusan chat gue, katanya malam ini mama pulang larut malam," sahut Keenan.


"Udah, itu aja?" Natha menaikan alisnya.


"Ya udah, mending lo temenin gue," ucapnya lagi.


"Ke mana?"


"Ke bawah," jawabnya singkat.


"Ngapain? Etdah, Bang!" Natha menepuk kepalanya pelan. Tidak percaya bahwa kakak lelakinya itu hanya mengajaknya ke bawah. Ia pikir lelaki itu akan mengajaknya ke suatu tempat.


"Ke ruang tamu aja bentar, kenapa si! Tinggal ikutin doang." Keenan menekuk wajahnya ketika bertatapan dengan adik perempuannya itu.


"Iya, iya, jangan marah! Nanti cepat tua, Bang! Ubanan tu kepala nanti," celetuk Natha sambil terkekeh.

__ADS_1


"Hhh, siapa juga yang marah?"


"Eh, gak jadi ngajakin jalan, Bang?" tanya Nathan.


"Bentar lagi."


"Eh, tapi jadi beneran ngajakin jalan, kan?"


"Ya, iyalah. Bawel banget sih lo!" sahut Keenan.


Natha keluar dari kamarnya, mengikuti langka kaki Keenan yang sudah berjalan lebih dulu darinya. Mereka menuruni anak tangga dan setelah sampai di ruang tamu, Natha dan Keenan pun segera mendudukkan bokong mereka di sofa empuk yang ada di ruangan itu.


"Bang, kenapa ke sini? Padahal gue mau rebahan tadu," ujar Natha, kembali memulai percakapan mereka.


"Gak ada, gue cuman minta temenin doang. Rebahan aja di sini," jawab Keenan dengan entengnya.


"Ya elah, Abang! Random banget sih gue punya Abang," celetuk Natha sambil menggelengkan kepalanya. Sementara lelaki itu tampak acuh tak acuh, seolah merasa tak bersalah.


Natha yang agak kesal, membaringkan tubuhnya di atas sofa. Sementara kepalanya ia letakkan di paha Keenan. Karena merasa bosan, Natha meraih remote yang tergeletak di atas meja lalu menghidupkan TV berukuran besar yang ada di hadapan mereka. Sementara Natha asik menonton channel kesukaannya, Keenan tetap asik dengan ponselnya.


Beberapa menit kemudian.


"Dek," panggil Keenan. Namun, Natha tidak mendengar. Gadis itu terlalu asik menonton televisi.


Keenan mengelus kepala Natha pelan, "Nat, kita jalan, yuk!" ajaknya.


"Oh, oke deh. Tapi, gue nya gini aja, ya! Jangan minta gue ganti pakaian lagi," ujar Natha.


"Ganti celana panjang, terus pake jaket! Ini udah malam, cuaca dingin," perintah Keenan.


"Iya deh, iyaa."


Natha segera bangkit dari sofa lalu berjalan menuju kamarnya. Ia ingin mengganti pakaiannya sebelum pergi bersama Keenan. Setelah selesai, ia pun kembali ke ruangan itu dengan menggunakan hoodie berwarna putih serta celana jeans berwarna biru muda.


"Bang, kita naik motor, ya?" tanya Natha kepada Keenan.


"Gak, kita pake mobilnya mama aja," jawab Keenan sembari mengambil kunci mobil yang ada di samping lemari TV.


Kedua kakak beradik itu pun segera berangkat, setelah memastikan rumah mereka sudah aman dan terkunci rapat.


Di perjalanan, tak terdengar percakapan di antara keduanya. Hanya terdengar suara musik dari ponsel miliknya Natha.


Tidak berselang lama, mereka pun tiba di tempat yang dituju. Tongkrongan Keenan dan teman-temannya. Keenan dan Natha memasuki tempat itu, di mana Cakra, Gentala, dan Jaden sudah menunggu kedatangan Keenan.


Natha tercengang ketika melihat Jaden yang ternyata juga berada di sana. Begitu pula lelaki itu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya di tempat tersebut. Natha dan Keenan duduk di kursi kosong yang sudah disediakan oleh tempat itu.


"Ceileh, malah bawa cewek dia," celetuk Gentala sambil geleng-geleng kepala.


"Adek dia itu," ujar Cakra.


"Wih, serius nih? Baru tau gue kalo Keenan punya adik cantik. kSabi kali, saa!" ujar Gentala lagi sambil tersenyum lebar.


"Gak boleh! Cukup Jaden saja," sela Keenan dengan ketus.


"Hah?" pekik Gentala dan Cakra secara serentak.


"Lah, ngapa gue dibawa-bawa?" Jaden mengerutkan alisnya heran.


"Jaden? Memangnya kenapa dengan dia?" tanya Cakra yang masih belum mengerti.


"Jaden itu mantannya Natha," jelas Keenan.


"Waduh, kenapa gak bilang-bilang?" ujar Cakra.


"Baru putus atau udah lama?" tanya Gentala penasaran.


"Udah lama, tapi masih ada yang gamon kayak nya tuh," celetuk Keenan sambil melirik Jaden.


"Idih, siapa?" tanya Natha, antara bingung dan kesal.

__ADS_1


"Ohhh, gue tau siapa!" ujar Cakra sambil terkekeh.


"Ohhh, paham-paham. Elo kan, Den?" timpal Gentala sambil menyenggol bahu Jaden.


"Enak aja," elak Jaden dengan wajah memerah.


"Halah, gengsi kok digede-gedein. Ngaku aja napa," jawab Cakra.


"Udah, udah! Sekarang mau ngapain? Soalnya gue gak bisa lama-lama di sini," Ucap Keenan yang mencoba menghentikan pembicaraan mereka.


"Gini, kan minggu depan liburan. Nah, gue punya ide, gimana kalau kita healing? Bawa pasangan boleh, kok!" ujar Gentala.


"Lah, trus nasib yang jomblo, gimana?" ujar Jaden sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Makanya, ajakin balikan," goda Cakra sambil tertawa.


"Heh, diem lo!" balas Jaden.


"Pokoknya terserah, mau bawa adek kek, siapa kek, yang penting jangan bawa orang tua, nanti bawel!" ucap Gentala lagi lalu tertawa dengan lantang.


"Lo mau ikut?" tanya Keenan kepada Natha.


"Gak tau, tapi kayak nya gue juga mau liburan sama temen-temen gue, Bang," jawab Natha.


"Siapa temen-temen lo?" tanya Gentala kepada Natha.


"Kepo banget sih, lo," sela Cakra.


"Biarin, gue juga nanya ke adek Keenan bukan ke lo," jawab Gentala.


"Banyak si. Gabriela, Laura, Vio, Gibran dan Aksa juga keknya," jawab Natha.


"Aksa? Aksara keandra?" ujar Gentala.


"Hooh, lo kenal?"


"Yap! Nah, gimana kalo kita barengan aja? Lo belum tau kan, Aksa itu adek gue," ujar Gentala.


"Adek lo? Anjir," pekik Natha sedikit kaget.


"Yang tadi ke rumah?" tanya Keenan kepada Natha.


"Hooh, yang sama Gibran," jawab Natha, Keenan menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Lo tanya aja deh nanti ke mereka, kalo gue sih ngikut mereka aja," jawab natha lagi.


"Gue yakin pasti Aksa bersedia. Eh Jaden, lo kenapa diem aja?" tanya Gentala yang sejak tadi melihat Jaden yang hanya diam sambil memperhatikan mereka.


"Gak papa, kok," jawab Jaden.


"Jadi? Kalian cuma pengen bicarain ini doang? Ya elah, kenapa gak di whatsapp aja? Buang-buang bensin gue aja lo," Kata Keenan sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya, ga papa lah, lagian kita juga udah lama gak ngumpul gini," ujar Cakra lagi.


"Kalo gitu, gue balik duluan aja, deh!" ujar Keenan lalu berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja. Sementara Natha mengikuti langkahnya dari belakang.


"Hati-hati! Btw, bagi nomor whatsapp adek lo dong, haha!" ujar Gentala kepada Keenan dengan setengah berteriak. Keenan tidak menghiraukan perkataan Gentala. Ia hanya fokus kepada Natha yang kini berjalan di sampingnya.


"Hati hati, ada yang marah," celetuk Cakra.


"Hm, bercanda doang, Bray!" ujar Gentala sembari menyenggol pundak Jaden. Jaden menatap Gentala dengan tatapan sinis.


"Udah deh, gue mau pulang. Berisik lo semua," ucap Jaden. Ia berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Gentala dan Cakra.


"Iyeee, sewot dia," ucap Gentala sambil tertawa pelan melihat temannya yang kesal karena perbuatannya.


"Udah, gue juga mau pulang." Cakra pun bersiap untuk pergi.


"Eh, ikut!"

__ADS_1


*****


__ADS_2