
Natha hanya merenung di dalam kamarnya, entah kenapa ia merasa sakit hati mendengar ucapan dari Gibran tadi. Aksa sudah bahagia dengan pilihannya, berarti ia sudah memiliki pasangan baru? Dan juga dia sudah tak mencintai Natha lagi?
Tidak ada lagi harapan Natha untuk kembali ke Aksa? Natha sangat ingin sekali melupakan Aksa, namun tidak bisa. Di saat ia sedang melamun ia selalu terpikirkan Aksa, di saat Natha kesepian, Natha selalu mengingat Aksa. Bagaimana ia bisa melupakan Aksa kalau pikirannya saja masih tentang Aksa.
Sekarang Natha harus mencoba melupakan Aksa, bagaimanapun caranya, ia tidak ingin membuka hati dulu, kecuali ia sudah benar-benar melupakan Aksa dari hatinya.
Dari tadi HP Natha yang terletak di atas nakas berbunyi terus, Natha tidak ada niatan untuk membuka hpnya.
Natha mencoba memejamkan matanya, tak lama dari itu, ia tertidur. Lampu kamar masih menyala, ia juga belum ganti baju, pintu kamar ia kunci, Keenan, Ola maupun Mama Lian tidak akan bisa masuk ke dalam kamarnya. Terkecuali Bibi, Bibi Mela memegang kunci cadangan kamar Natha.
Kini, jam sebelas malam, Nath terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling kamarnya. Lampu yang masih menyala, Natha melihat kesamping yang di sana ada cermin berukuran besar. Terlihat Natha yang masih menggunakan pakaian tadi pagi, ia lupa untuk menggantikan pakaiannya.
Ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju dan segera menggantinya. Setelah selesai, Natha keluar dari kamarnya, ia merasa lapar, tapi ia tidak ingin makan, entah kenapa ia tidak nafsu untuk makan.
Natha berjalan menuruni anak tangga, ia bingung, sudah jam sebelas malam, kenapa Ola dan Keenan masih saja duduk di ruang tamu. Bukankah Ola selalu tidur di jam delapan malam? Atau mungkin dia terbangun sama seperti dirinya?
"Mau kemana?" tanya Keenan kepada Natha, Natha hanya mengisyaratkan bahwa dirinya bendak kedapur.
Ia ingin mengambil air minum, setelah selesai minum, Natha berjalan ke ruang tamu untuk duduk bergabung bersama Keenan dan Ola.
"Bang" panggil Natha, Keenan yang dipanggil langsung menatap ke arah Natha yang duduk di sofa satu.
"Iya, kenapa?" tanya Keenan lembut, Keenan tahu kenapa Natha jadi seperti ini, tadi ia sempat bertanya kepada Cakra di whatsapp.
"Gue bingung." ucap Natha, Keenan tersenyum.
"Kenapa? Sini deketan." tanya Keenan lagi, Ola pamit untuk masuk ke dalam kamarnya karena ia kembali mengantuk. Natha mendudukkan dirinya di samping Keenan, Natha bersandar di dada bidang Keenan. Keenan memeluk Natha, adeknya ini sedang sakit hati, ia tahu itu.
"Gue masih belum bisa lupain dia. Dia udah bisa lupain gue, bahkan dia aja udah bahagia dengan orang lain. Gue harus lupain gimana lagi? Gue udah nyoba dari lama, di saat gue mau lupain dia, pasti tiba-tiba otak gue jadi mikirin dia." ucap Natha, Keenan mendengarkan ucapan-ucapan Natha.
"Gue bisa lupain dia gak, ya?" tanya Natha Ke Keenan, Ia mengangguk. "Bisa. Lo pasti bisa lupain dia secara perlahan, hapus semua tentang dia di HP lo, terutama Foto-fotonya dia." jawab Keenan yang mengetahui isi galeri Natha, karena di galeri HP Natha ada banyak Foto-foto Keenan di saat mereka pacaran.
"Kapan-kapan, gue belum bisa. Kalau gue udah siap buat ngehapus, nanti gue hapus kok." jawab Natha juga.
Lama mereka berbincang-bincang, sampai tak terasa jam sudah menunjukkan jam setengah satu malam. Natha tertidur di pelukan Keenan, sedangkan Keenan masih belum tidur, ia masih asik main hpnya sendiri sambil menemani Natha tidur.
Tapi tak lama dari itu, Keenan perlahan mengangkat badan Natha untuk dibawa ke dalam kamarnya sendiri. Keenan merebahkan Badan Natha perlahan agar Natha tak terbangun. Setelah selesai, Keenan mengecup jidat Natha sekilas, lalu pergi dari kamar Natha dan tak lupa mematikan lampu tidur Natha.
***
Skip di sore hari sabtu, Ola sedang bersiap-siap untuk jalan-jalan bersama Crushnya itu. Natha duduk di ruang tamu sendirian, ia memainkan hpnya, ia sedang membuka galeri untuk menghapus semua Foto-foto Aksa yang tersimpan di galeri nya.
"Ta, gue pake baju yang ini aja, bagus gak?" tanya Ola keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju dress putih panjangnya selutut, lengan pendek dan menggunakan Heels putih. Tak lupa dengan rambutnya yang terurai rapi di beri pita putih ditengah rambut.
"Bagus, cepet banget lo siap-siap. Bukannya berangkatnya nanti jam tujuh malam?" tanya Natha yang heran, ini masih jam enam sore, masih ada satu jam lagi untuk menunggu.
"Hehe, biarin aja, jadi dia gak nungguin gue lagi." jawab Ola, Natha mengangguk saja.
"Oh ya, lo lihat Keenan gak?" tanya Natha, karena tadi ia sedang tidur siang, dan di jam lim sore, Natha baru bangun.
__ADS_1
"Tadi dia pamit buat ngambil sesuatu di rumah temennya, kalau gak salah denger nama temennya itu, Renja." jawab Ola, Natha menyeritkan alisnya, baru tau Natha kalau Keenan punya temen yang namanya Renja.
"Oh, oke." jawab Natha, Ola mengangguk lalu ikut mendudukkan dirinya di samping Natha.
"Malam ini malam minggu, lo gak ada niatan mau jalan-jalan?" tanya Ola, "Nanti, nunggu Keenan pulang. Mau ngajakin dia jalan-jalan, bosen gue dirumah." jawab Natha, Ola lagi-lagi mengangguk.
Skip jam tujuh malam, dimana Crush Ola datang untuk menjemput Ola, dan Keenan baru pulang dari rumah temannya, Renja.
"Siapanya Ola, tadi?" tanya Keenan disaat masuk ke dalam rumah dan menghampiri Natha dengan membawa satu paper bag di tangannya.
"Dekatan Ola." jawab Natha menaruh hpnya ke atas meja, ia mengambil remote TV lalu menyalakan tvnya.
"Tadi dia ngira gue mau ngirim paket bego, gak jelas banget, gara-gara gue berhenti didepan pager buat ngebuka, eh dia malah nanya. 'Mau nganter pesanan ya, kak?' tanyanya. Ya gue jawab lah, 'ngadi-ngadi, ini rumah gue.' terus dia malah malu sendiri, terus minta maaf." ucap Keenan kepada Natha, Natha mendengarkan Keenan bicara, tapi matanya tetap fokus ke arah layar TV.
"Muka lo emang kayak tukang nganter pesanan sih, makanya dia ngira lo tukang paket." jawab Natha tanpa dosa, Keenan menepuk pundak Natha.
"Sialan" umpat Keenan, Natha menatap ke arah Keenan, tidak-tidak, lebih tepatnya Natha melirik ke arah paper bag yang di taruh Keenan ke atas meja.
"Apa? Mau?" tawar Keenan, Natha menganggukkan kepalanya. Jelaslah dia mau, yakali ia tolak.
"Ini emang punya lo, tadi Renja yang ngasih." ucap Keenan, Natha binggung. Renja yang memberinya? Kenapa? Natha saja tidak kenal Renja. Atau mungkin Keenan yang mengenalkan Natha kepada Renja walaupun tidak ernah bertemu?
"Renja siapa sih? Baru tau gue lo punya temen yang namanya Renja." tanya Natha, Keenan mengangguk.
"Masa lo lupa Renja? Yakin lo lupa?" tanya Keenan balik, Natha berfikir sejenak. Ia pernah kenal dengan orang yang bernama Renja? Di mana? Sejak kapan? Hah? Natha bingung. Keenan terkekeh melihat wajah adeknya yang sedang kebingungan.
"Renjana Ezra Pradipta." ucap Keenan, Natha masih berfikir setelah itu, Natha mengingat sesuatu.
Natha sering memanggilnya Ezra kecil, bukan Renja. Renja pindah rumah karena orangtuanya yang berpisah, Renja memilih ikut nyokapnya dibandingkan bokapnya. Renja pindah jauh dari rumah Natha, tapi tetap di Indonesia.
Mereka berdua juga tidak paham dengan handphone dulu, jadi mereka tidak pernah bertemu lagi setelah Renja pindah. Akhirnya Renja kembali lagi, Renja adalah orang pertama yang ia sukai dulu, bisa di bilang cinta monyet.
Natha setelah mereka tak bertemu lagi, Natha tidak pernah ada rasa lagi kepada Renja, sampai sekarang. Tidak ada yang tau dengan perasaan Natha kepada Renja, Renja menganggap Natha sebagai sahabatnya.
"Iya, Ezra kecil. Tapi sekarang lo gak bisa lagi manggil dia Ezra kecil kayaknya, haha!" jawab Keenan.
"Dia pindah rumah ke sini lagi?" tanya Natha, Keenan mengangguk. "Dimana?" tanya Natha lagi, "Dia di Apartemen yang dekat taman, udah kerja dia." jawab Keenan.
"Sendirian? Terus tante Rara?" tanya Natha lagi.
"Idih bacot, lo nanya ke gue mana gue tau. Chat aja sendiri, entar gue kirim nomornya. Makan dulu ini, gue tah lo belum makan, tadi pagi doang sarapan, makan siang enggak." jawab Keenan menyerahkan paper bag tadi, Natha mengangguk.
***
Kini Natha sudah selesai makan, ia dan Keenan tidak jadi jalan-jalan. Karena Keenan tiba-tiba di ajak pergi dengan teman-temannya untuk ngumpul.
Natha gabut di dalam kamar sendirian, Bibi Mela dan Lea juga mungkin sudah tidur. Natha teringat sesuatu, ia ingin menchat Renja, tadi nomornya sudah di beri oleh Keenan.
(Ezra Kecil) nama kontak Renja di HP Natha.
__ADS_1
[Haloo?] - Natha
[Ya??] - Ezra
[Siapa ya?] - Ezra
Ezra sedang basa-basi, padahal nomor Natha sudah di addnya dari tadi, ia minta nomor Natha dari Keenan.
[Halo? Kenapa di baca doang? Ini siapa ya?] - Ezra
[Halah tai, jangan sok pura-pura gak tau lo. Orang tadi Keenan bilang ke gue lo minta nomor gue kok.] - Natha
[HAHAHA gimana kabar kamu? Lama udah gak ketemu, udah berapa lama, ya?] - Ezra
[11 tahun, Ezra kecil.] - Natha
[Lama juga, gak kangen aku gitu?] - Ezra
[Enggak.] - Natha
[Halah tega.] - Ezra
[Ini kok gue kayak ngerasa aneh gitu ya, gara-gara lo make aku-kamu. Lo-gue ajalah.] - Natha
[Gue yang ngetik aja ngerasa jijik sendiri.] - Ezra
[Btw, gimana kabar Tante Rara? Udah gak tinggal bareng lo lagi, ya?] - Natha
[Buna baik-baik aja. Gue ninggalin Buna karena pekerjaan, Buna juga yang nyuruh pindah kesini, katanya gampang biar gak jauh pergi-pulang dari kerjaan. Jadi Buna disana sama Nenek, gue sendirian disini.] - Ezra
[Oalah, udah lama ya, lo kerjanya? Kerja dimana? Maaf banget nih jadi banyak nanya 😅] - Natha
[Baru enam bulan kalau gak salah. Gue kerja di kantoran, di jalan Citra Indah.] - Ezra
[Loh? Mama gue juga kerja dikantor itu, berarti lo sering ketemu Mama gue dong?] - Natha
[Gue gak tau Mama lo yang mana 😭] - Ezra
[Mama gue bagian sekertaris di sana, atau beda kantor ya? Tapi kantor di jalan itu cuman satu.] - Natha
[OH! Nama mama lo, Herlian ya? Sekertaris di tempat bekerja gue, berarti gue sering ketemu mama lo dong 😀😀] - Ezra
[Iya kali, tapi lo lupa atau gak kenal? Jadi gak nyadar. Mama gue juga mungkin udah lupa sama lo.] - Natha
[Iya kali. Malam minggu nih, gak jalan-jalan?] - Ezra
[Enggak. Males aja.] - Natha
Masih banyak lagi yang mereka bahas melalui chatting dan di lanjut dengan Video call sampai jam sembilan malam.
__ADS_1
...***...