
"Lo kenapa sih, Nat?" tanya Gabriella kepada Natha, ketika di perjalanan menuju sekolah mereka.
"Kenapa, apanya?" Natha kebingungan mendengar pertanyaan Gabriella.
"Tadi kenapa lo diemin mama lo kayak gitu?" tanya Gabriella.
"Gak papa," jawab Natha.
Kini mereka sudah berada di lingkungan sekolah. Natha segera memarkirkan motornya di parkiran sekolah lalu bersiap menuju kelas mereka.
"Woi," panggil Vio yang baru datang bersama Aksa. Mereka juga memarkirkan motor di samping motor Natha.
Natha tidak menjawab panggilan Vio, ia hanya menatap gadis itu dengan wajah datar.
"Lah, lo kenapa? Apa gue punya salah?" tanya Vio heran.
"Natha kenapa?" tanya Aksa kepada Gabriella.
"Gue juga gak tau. Tiba-tiba aja dia badmood gitu. Dari tadi di rumah juga udah gitu," jawab Gabriella.
"Ayo, ke kelas!" ajak Gabriella lagi.
Kini mereka bertiga sudah berada di kelas. Mereka juga sudah duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Tetapi tidak dengan Natha, mereka bahkan tidak tahu di mana gadis itu berada. Padahal sebelumnya Natha masih berjalan di belakang mereka lalu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Karena penasaran, Gabriella pun segera bertanya kepada Niki.
"Nik, tadi lo liat Natha masuk ke sini, gak?" tanya Gabriella dengan wajah heran.
"Gak tahu. Gue juga baru nyampe," jawabnya. Gabriella pun makin cemas dibuatnya.
"Lalu, di mana gadis itu?" tanya Aksa kemudian.
"Busyet, kenapa lo? Suka?" celetuk Gibran yang tiba-tiba berada di samping Aksa dan berhasil membuat Aksa tersentak kaget.
"Gak, orang nanya doang. Memangnya kenapa?Salah?" balas Aksa dengan wajah dingin menatap Gibran.
"Ya, gak sih. Emang Natha ke mana? Gak bareng lo?" tanya Gibran kepada Gabriella.
"Tadi dia jalan di belakang kami, tapi tiba-tiba udah menghilang begitu aja. Ada yang liat gak sih?" tanya Gabriella kepada semua teman sekelasnya.
"Temen lo lagi di belakang sekolah, lagi telponan sama cowok," sela Dera, musuh Natha dan teman-temannya.
"Hadeh, gitu deh! Orang gak jelas. Udah broken home, gak jelas, lengkap deh udah," timpal Nita sambil tertawa lantang.
"Apa maksud lo bilang begitu ke Natha?!" kata Gabriella berteriak, tidak terima temannya dikatakan seperti itu oleh Nita.
"Bener kan? Broken home, bisa denger? B-R-O-K-E-N-H-O-M-E!" ujar Nita lagi dengan mengejakannya lalu tertawa dengan keras.
Entah sejak kapan, ternyata Natha sudah berdiri di depan pintu kelas. Ia mendengar dengan jelas apa yang sudah diucapkan oleh Nita barusan. Natha kesal. Ia lalu bergegas ke arah meja Nita dan berdiri di sana dengan wajah memerah.
Mereka tidak menyadari bahwa Natha sudah berada di sana. Mereka hanya asik tertawa tanpa sadar bahwa Natha sudah siap meledak. Natha menjambak rambut Nita lalu menariknya dengan keras hingga jatuh ke lantai kelas. Setelah puas, ia baru melepaskannya.
__ADS_1
"Lo bilang apa tadi?" Natha murka. Wajahnya memerah dan ia sudah kehabisan kesabarannya.
Nita bangkit dari posisinya dan ternyata gadis itu masih belum kapok berurusan dengan Natha.
"Oh, lo mau denger lagi? Broken home!" Nita berteriak di depan Natha.
Natha yang sudah tidak sanggup menahan amarahnya, menampar pipi kanan Nita dengan sangat keras.
Plakkk!
Nita meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang sakit. Seisi kelas hanya terdiam melihat perkelahian mereka. Bahkan teman satu geng Nita, tidak berani mendekat. Gabriella berniat menahan Natha. Namun, tangannya ditarik oleh Laura yang juga berada di ruangan itu.
"Jangan! Biarkan mereka," ucap Laura, sebab Laura tahu bagaimana sahabatnya itu. Jika sedang marah, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Ia akan melampiaskan kemarahannya kepada siapa pun yang ikut campur dengan urusannya.
"Kurang ajar! Apa mau lo, ha?" ucap Nita dengan sedikit gemetar.
Natha tak menjawab. Ia hanya diam dan menatap kedua netra Nita dengan lekat. Tanpa disangka-sangka, Natha kembali menarik tangan Nita lalu menyeretnya keluar dari kelas. Nita sempat berontak, tetapi ia tidak sanggup melepaskan tangan Natha yang mencengkram pergelangan tangannya.
Gabriella segera menyusul Natha keluar kelas dan mencoba menenangkan gadis itu. "Nath, sudah dong!"
"Gak usah ikut campur, Gabriella, sahut Natha dengan wajah yang masih emosi.
"Nat, please! Jangan macam-macam lagi, gue gak mau lo dapet masalah lagi untuk yang kesekian kalinya," ujar Gabriella mencoba mengingatkan.
"Gue bilang, lo gak usah ikut campur Gabriella!" teriak Natha lagi.
Gabriella yang ketakutan langsung berlari ke arah Laura lalu memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Ngapain lo semua pada ngeliatin gue, ha?!" kata Natha sambil melihat ke sekelilingnya.
Para siswa dan siswi yang tengah memperhatikan dirinya, pun segera pergi dan kembali ke kelas mereka masing-masing.
Kringgg!!!
Bel telah berbunyi, menjadi pertanda bahwa jam pelajaran pertama akan dimulai.
"Urusan gue sama lo, belum selesai," kata Natha, lalu pergi meninggalkan Nita begitu saja. Ia berjalan melewati Gabriella dan kawan-kawannya. Gabriella kebingungan, ia dan teman-temannya pikir, gadis itu akan masuk ke dalam kelas. Namun, ternyata perkiraan mereka salah. Gadis itu malah melewati mereka dan berjalan semakin menjauh.
"Natha, lo mau ke mana?" panggil Gabriella. Natha menghentikan langkahnya sejenak lalu berbalik ke arah Gabriella.
"Kalo guru nyariin gue, bilang kalo gue di UKS!" jawab Natha sambil berlalu pergi meninggalkan Gabriella.
Ia berjalan ke ruang UKS dan sesampainya di sana, Natha langsung meminta surat izin sakit di penjaga UKS tersebut. Kebetulan penjaga UKS itu adalah temannya sendiri, Celin.
"Cel, gue minta surat."
"Iya, bentar." Celin menghampiri Natha. "Kamu sakit?" tanyanya.
"Sebenarnya cuman pusing doang, sih," jawab Natha.
"Oh, ok, baiklah." Celin menyerahkan selembar kertas izin tersebut ke hadapan Natha dan ia pun segera meraih kertas itu.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Natha pun pergi dan kembali berjalan menuju kelasnya. Di dalam kelas, ternyata guru yang mengajar pun belum juga tiba. Natha menghampiri meja ketua kelas lalu menaruh surat izin tersebut di atas mejanya.
"Ini surat izin gue, takut gue di-alpa," ucap Natha lalu pergi begitu saja.
Natha pergi ke toilet untuk mencuci muka, sebelum ia kembali ke ruang UKS. Setelah selesai mencuci muka, Natha segera menuju ruang UKS dan memilih beristirahat di sana. Celin datang menghampiri sambil membawa minuman dan juga roti untuk Natha.
"Nih, makan rotinya, baru minum obat," ucap Celin.
"Gue udah sarapan pagi tadi, langsung minum obat aja, ya?" sahut Natha.
"Ya udah, nih siapa tau kamu mau makan roti, aku taruh diatas meja ini, ya!" ucap Celin lalu meninggalkan Natha di ruangan itu.
Natha meminum obatnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur pasien yang ada di ruangan itu sambil memejamkan mata. Berharap emosinya sedikit mereda.
***
Natha bangun dari tidurnya. Ia duduk di tepian ranjang lalu melihat ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 8:35 dan itu artinya sudah setengah jam lamanya Natha tertidur di ruangan itu. Ia bangkit lalu melangkahkan kakinya menelusuri ruangan itu. Tidak ada satu orang pun di sana selain dirinya. Natha bergegas keluar lalu berjalan menuju kelas. Sesampainya di ruang kelas, ia melihat guru pengajar PJOK tengah asik menjelaskan materi pelajaran pada hari itu.
Perlahan Natha mendekat lalu masuk ke dalam kelasnya. "Pagi, Pak," sapa Natha.
"Masuklah!" titah Pak Guru tersebut.
"Terima kasih, Pak." Natha bergegas menuju kursi lalu duduk di sana bergabung dengan teman-temannya.
Pak Guru kembali melanjutkan penjelasannya hingga tiba waktunya untuk mereka mempraktekkan materi pelajaran tersebut ke lapangan.
"Ya, anak-anak, kalian sudah mengerti?"
"Ya, Pak!"
"Baiklah, kalau begitu segera ganti seragam kalian dengan pakaian olahraga dan Bapak tunggu di lapangan, lima belas menit dari sekarang!"
Seluruh siswa dan siswi pun bergegas keluar dari kelas lalu menuju kamar kecil untuk mengganti pakaian mereka.
"Ayo, Nat! Nanti toiletnya penuh," ajak Gabriella kepada Natha yang masih asik memainkan ponselnya.
"Ah, duluan aja. Nanti gue susul," jawab Natha.
"Serius?" Gabriella ragu-ragu meninggalkan gadis itu sendirian.
"Ya, duluan aja."
"Ya udah kalo begitu." Gabriella pun segera pergi dan meninggalkan Natha di ruangan itu. Sepeninggal Gabriella, Natha meraih handphone yang berada di saku baju seragam lalu membuka notif pesan chat dari Keenan.
[Ngapain lo berantem? Mau bikin onar? Gak usah macem-macem deh lo, Nat.] Pesan dari Keenan, kemudian Natha membalas pesan itu.
[Gue kesel, Bang! Siapa yang gak marah kalo dibilang broken home? Ya, walaupun itu bener, tapi gue gak suka dikatain kayak gitu, Bang!] Balas Natha.
__ADS_1
...*****...