My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 63


__ADS_3

"Ini siapa kak, kakaknya cantik banget deh, hehe!" puji Rasya,


"Oh, iya, kenalin, ini kak Natha," jawab Aksa,


"Hallo, aku Rasya, kakak mau jadi pacar aku gak?" ucap Rasya sembari menyerahkan tangannya mengajak Natha berkenalan. Natha merendahkan badannya agar sama tingginya dengan Rasya.


"Gemes," jawab Natha sembari mengelus rambut Rasya,


"Enak aja, ini pacar aku tau," ujar Aksa yang mendengar Rasya mengajak Natha untuk menjadi pacarnya walau itu hanya sekedar bercanda.


"Heleh, mending buat Rasya, kaka Aksa mah jelek, tampanan juga Rasya," jawab Rasya,


"Iya deh, iya, mending aku makan," ujar Aksa lalu berdiri dan berjalan ke arah tempat duduk yang di sediakan sembari menarik lengan Natha.


Mereka berdua duduk terpisah dengan orang tua Aksa, biasa, bucin. Mereka cuman duduk, tidak mengambil makanan yang tertera di meja pengambilan makanan.


"Ay, mau makan? Aku laper," tanya Aksa,


"Mau," jawab Natha, mereka berjalan ke tempat makanan, ada banyak makanan yang ada di sana. Natha mengambil nasi goreng, Aksa juga mengambil nasi goreng, dan juga mengambil jus buah yang tak jauh dari tempat makanan itu. Mereka kembali ke tempat duduk, menaruh makanan dan juga minumannya. Mendudukkan dirinya, duduk saling berhadapan, Aksa mendorong piring miliknya kepada Natha. Natha menaikkan satu alisnya, setelah menatap wajah Aksa, ia pun mengerti apa yang di inginkan Aksa.


"Sini, samping aku, susah kalo kamu dudik di situ," ujar Natha, Aksa dengan cepat berpindah duduk di samping Natha. Natha mengambil satu sendok nasi lalu memasukkan nasi itu kedalam mulut Aksa. Begitu juga dengan Natha, ia menyuap nasi miliknya sendiri, begitulah hingga nasi itu telah habis di piring.


Sekitar dua jam mereka di rumah Rasya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, sebelum pulang mereka berpamitan dulu kepada orang tua Rasya dan semua keluarga.


Di perjalanan pulang, Aksa dan Natha telah sampai di depan rumah milik Natha yang berwarna putih.


"Hati-hati, jangan ngebut," ujar Natha, Aksa mengangguk,


"Dadah, ay!" jawab Aksa sembari melambaikan tangannya, Natha membuka pagar rumahnya, dan tak lupa untuk di tutup kembali. Natha membuka pintu rumah dengan kunci miliknya, menguncinya kembali lalu pergi ke dalam kamarnya. Natha mencuci wajahnya dan mengganti pakaian tidur berwarna hitam, celana panjang dan baju lengan panjang miliknya.


Natha keluar dari kamarnya untuk pergi ke ruang tamu, Natha melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Mama Lian masih belum pulang. Tak lama kemudian, Bibi Mela keluar dari kamarnya,


"Nak, sudah makan?" tanya Bibi Mela, Natha mengangguk,


"Sudah Bi, Bibi sendiri sudah makan belum?" jawab Natha dan kembali bertanya kepada Bibi Mela.


"Sudah, oh iya, tadi kata Nak Keenan, kalo kamu sudah pulang, dia minta jemput, dia lagi gak bawa hp, minta jemput di rumah Jaden katanya. Dan ini kunci mobilnya," ucap Bi Mela menyampaikan ucapan Keenan,


"Oh, iya bi, ya sudah, Natha jemput bang Keenan dulu, ya," jawab Natha, setelah ia melihat layar hpnya terdapat notif dari Jaden, dan beberapa telpon dari Jaden.


"Iya, hati hati, nak," jawab Bibi Mela, Natha berpamitan kepada Bi Mela, ia keluar dari rumah,


"Bi, Natha aja yang kunci, ya?" tanya Natha, Bibi Mela mengangguk.Natha mengunci pintu rumahnya dari luar, berjalan ke garasi mobil untuk mengambil mobil milik Keenan.


"Nyusahin aja, kenapa gak bawa mobil sendiri aja deh, bikin ribet." ucap Natha berbicara pada dirinya sendiri. Natha mengeluarkan mobilnya dari garasi, sesampainya di depan pagar, pas bamget ada pak Harto yang habis jalan dari pos ronda, biasa, bapak bapak.

__ADS_1


"Hati-hati," ujar Pak Harto setelah membukakan pagar,


"Iya, pak," jawab Natha, ia langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Jaden.


Sesampainya di rumah Jaden, tak hanya Jaden dan Keenan yang ada di depan rumah, ternyata banyak teman kampusnya juga. Natha tak ingin keluar mobil rasanya, tapi ia mengumpulkan niat untuk keluar dari mobil, setelah keluar, ia mengelilingi mobil untuk pindah ke kursi kiri.


"Tunggu bentar," ujar Keenan, Natha memutarkan bola matanya malas, ia kembali masuk ke dalam mobil, untuk menunggu Keenan.


"Cakep juga adek lu, sabi buat gue," ucap salah satu teman Keenan,


"Udah punya pawang," jawab Keenan,


"Eh, gue duluan, ya," ujar Keenan,


"Iyo, hati-hati," jawab Teman-temannya. Keenan berjalan ke pintu mobil sebelah kanan, masuk ke dalam mobil lalu melihat Natha yang juga sedang menatap dirinya.


"Kenapa?" tanya Keenan diiringi dengan kekehan,


"Gak," jawab Natha lalu membuang pandangannya ke arah lain.


"Nanti mampir ke warung bu Susi dulu," ujar Keenan, Natha mengangguk,


"Gue pikir lo bakal nge jemput gue pake motor," ujar Keenan,


Mereka sudah tiba di warung bu Susi, warung yang tak jauh dari pekarangan rumahnya. Keenan turun dari mobil, tetapi tidak dengan Natha, kenapa? Karena ia sedang tertidur.


Keenan membeli rokok, minuman kaleng dan juga makanan ringan,


"Berapa semua, bu?" tanya Keenan,


"Tiga puluh enam ribu semua, nak Keenan," jawab Bu Susi, Keenan menyerahkan uang sebesar empat puluh ribu, dan kembaliannya empat ribu rupiah. Keenan kembali ke dalam mobil, menjalankan mobilnya pelan karena sebentar lagi juga akan sampai. Sesampainya di depan pagar, pak Harto membukakan pagar, dan ternyata di belakang mobil Keenan, juga ada mobil Mama Lian yang baru pulang kerja.


Keenan tak menaruh mobilnya di dalam garasi, ie memarkirkannya di halaman rumah, ia mematikan mesin mobilnya, keluar dari mobil, berjalan ke pintu rumah, dan pintu terbuka di saat Keenan baru menginjak teras rumahnya. Terpampang seorang wanita yang berdiri di ambang pintu untuk membuka 'kan pintu lebar lebar.


"Mana nak Natha?" tanya Bibi Mela, Mama Lian yang hendak masuk ke dalam rumah pun sontak melirik ke arah Keenan.


"Itu, didalam mobil, ketiduran, tadi Keenan mau buka pintu, tapi ke duluan bibi, hehe! Tunggu ya bi, jangan di tutup dulu." jawab Keenan, ia kembali berjalan ke arah mobil, membuka pintu kiri mobil dan perlahan mengangkat badan Natha, membawanya masuk ke dalam rumah, lalu masuk kedalam kamar Natha. Menurunkan badan Natha perlahan di atas kasurnya, menutuoi tubuh Natha dengan selimut, lalu ia mematikan lampu kamar Natha dan keluar dari kamar Natha, tak lupa juga ia kembali menutup pintunya.


"Habis dari mana?" tanya Mama Lian kepada Keenan,


"Dari rumah Jaden," jawab Keenan jujur,


"Oh, ya udah, mama mau mandi dulu, jangan begadang." ujar Mama Lian memperingati Keenan,


"Siap, nona," jawab Keenan, ia berjalan kembali keluar untuk mengambil belanjaannya tadi di dalam mobil, dan juga kunci mobilnya masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


***


Pagi sudah tiba, Natha bangun dari tidurnya, mengumpulkan semua tenaganya untuk bangun. Setelah beberapa menit, Natha mendudukkan dirinya, mencari hpnya di atas nakas tetapi tidak ada. Natha ingat terakhir kali ia menaruhnya di atas meja ruang tamu di saat hendak menjemput Keenan. Ia bergegas turun dari kamarnya, tak menyadari keberadaan Mama Lian dan Keenan yang duduk di ruang makan, bibi Mela yang memasak sarapan. Mereka sontak melihat ke arah Natha yang sedang mencari sesuatu,


"Nyari apa?" tanya Keenan, Natha menghampiri Keenan dan Mama Lian yang belum mandi sedang duduk di ruang tamu,


"Tumben belum mandi udah ngumpul di sini, kenapa?" tanya Natha,


"Orang nanya, malah balik nanya," jawab Keenan,


"Hehe! Lo liat hp gue gak?" tanya Natha,


"Ada, malam tadi gue taruh di atas meja belajar," jawab Keenan, Natha berdiri dari duduknya dan berlari kembali kekamarnya. Setelah sampai, ternyata tidak ada,


"Bang, gak ada, boong ya lo?" ujar Natha berteriak di lantai atas,


"Nak, jangan teriak, Lea tidur," ujar Mama Lian,


"Gue belum selesai ngomong, lo langsing pergi aja. Di atas meja belajar gue," jawab Keenan, Natha berjalan ke arah kamar Keenan dan benar saja, hpnya ada di sana. Natha masuk kembali ke dalam kamarnya sendiri, bersiap untuk pergi ke sekolah.


Ia sudah siap, ia turun dari kamarnya dan duduk di samping Keenan yang juga sudah rapi untuk pergi ke kampus.


"Jam berapa kamu berangkat hari sabtu nanti?" tanya Mama Lian, Natha menggangkag turunkan bahunya


"Entah, belum di kasih tau, paling kalo enggak ahari ini, besok deh di kasih taunya." jawab Natha, Mama Lian mengangguk paham,


"Udah makan gih," ujar Mama Lian, Natha memakan sarapannya hingga habis.


"Ma, Natha berangkat dulu, ya" ujar Natha bersalaman kepada Bibi Mela dan Mama Lian,


"Hati hati, uang saku kamu masih ada kan?" tanya Mama Lian,


"Ada kok ma," jawab Natha, mama Lian mengangguk,


"Dadah Natha berangkat dulu," ujar Natha, ia keluar dari rumahnya, mengambil motor di dalam garasi dan menyalakannya, menunggu sebentar untuk memanaskan mesin motornya baru ia akan menjalankannya.


Mengapa ia tidak di jemput Aksa? Karena emang Natha yang meminta agar Aksa tidak menjemput diriny, ia ingin berangkat sendiri, lama gak pake motor kesekolah katanya.


Sesampainya Natha di sekolah, ia memarkirkan motornya, ternyata di perkiran sudah ada motor milik Teman-temannya. Natha berjalan di koridor sekolah, baru saja ia ingin menaiki anak tangga, tapi setelah itu langkahnya berhenti di saat mendengar suara meminta ampun yang terdengar jelas di telinganya. Natha seperti kenal dengan suara itu, ia penasaran dan mencari dari mana suara itu berasal.


Natha melihat dengan mata kepalanya sendiri, di dekat pembuangan sampah sekolahnya, di sana ada Nita, Eve, Raya dan Dera, tapi anehnya, Nita menuangkan sedikit sampah ke atas kepala Dera. Natha hanya melihat dari kejauhan dan itu pun sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh Nita dan teman lainnya.


"Bukannya mereka temenan, ya, kok malah membully temen sendiri? Mungkin dia ada salah? Udah lah bukan urusan gue."


...***...

__ADS_1


__ADS_2