
"Pagi, bu...." sapa Natha dan mengetuk pintu kelas, di dalam kelas sudah ada guru pengajar, gurunya juga lumayan galak, guru mtk, pelajaran yang hampir semua murid di kelas tidak menyukai pelajaran itu.
"Masuk, dan berdiri di samping papan tulis." suruh Ibu itu dengan tegas, Natha patuh, ia berdiri di samping papan tulis.
"Kenapa telat?" tanya Ibu itu sembari menulis sesuatu di absen kelas.
"Tadi di perpus, bu," jawab Natha. Wajah Natha mulai memucat, ia merasakan pusing, tetapi ia tidak berani bilang kepada guru, jadi ia merasakannya saja dan memaksakan berdiri di depan kelas.
"Ta, muka lo pucat? Lo sakit?" tanya Jema yang menyadarinya, Natha menggeleng. Ibu Riska, guru mata pengajar MTK, ibu Riska dengan cepat melihat ke arah Natha, benar saja, wajahnya lumayan pucat.
"Kamu sakit? Sudah makan? Sudah minum obat?" tanya Ibu Riska khawatir, segalak-galaknya guru, jika anak muridnya sedang sakit, ia tak mungkin membiarkan anak muridnya itu kesakitan. Natha hanya membalas dengan anggukan,
"Ya sudah, letakkan tas kamu di tempat duduk kamu, terus Nadya, kamu antar Natha ke UKS." ucap Ibu Riska, Nadya mengangguk, Nadya adalah teman kelas Natha, dan dia juga termasuk anggota PMR, jadi ia di tugaskan sebagai petugas kesehatan di dalam kelasnya.
"Bu! Vio aja yang jaga Natha yaaa??" izin Vio,
"Ya sudah, kamu tau 'kan dimana letak obat-obatannya?" tanya Bu Riska, Vio mengangguk sebagai jawaban. Natha dan Vio pergi berjalan ke UKS dan melewati depan kelas Aksa, Vio melambai ke dalam kelas itu, melambai Gabriella dan Laura yang sedang fokus mendengarkan guru menjelaskan.
Sesampainya kedua gadis itu di UKS, Natha langsung di suruh Vio untuk merebahkan dirinya di kasur UKS, Natha mengangguk pelan dan merebahkan dirinya.
"Lo udah minum obat?" tanya Vio, Natha lagi-lagi mengangguk sebagai jawaban.
"Lo rebahan aja, nanti kalo udah mendingan baru balik ke kelas." ucap Vio, Natha terus mengangguk. Setelah itu mereka hening, merasa canggung, padahal mereka sudah lama berteman. Vio dari tadi berfikir, ketakutannya mulai kembali, ketakutannya ketika mereka berpencar karena masalah percintaan. Sedangkan Natha ia hendak menangis sekarang juga, tapi entah kenapa, air matanya tak memperbolrhkannya untuk menangis, bahkan matanya mulai memerah. Mungkin karena Natha yang sudah terlalu lama menangis.
***
__ADS_1
Istirahat telah tiba, Natha dan Vio keluar dari UKS dan di sana sudah ada ke-enam teman-temannya, termasuk Aksa. Gabriella mengajak Natha dan Vio untuk ke kantin, tetapi Natha menolaknya dan menyuruh Vio saja yang ikut, karena ia ingin pergi ke dalam kelas. Ia cuman menitip aqua botol kepada Gabriella, ia berjalan melewati Aksa seperti orang yang tak saling kenal.
Natha di kelas, di dalam kelasnya Ada Nita, Eve, Raya yang berada di tempat duduk Dera, sedangkan Deranya tidak ada. Ketiga gadis itu seperti mencari barang-barang, tetapi tak kembali di rapikan, hingga tempat Natha juga ikut berantakan.
"Nah, ini dia nih," ucap Eve menating benda pipih yang ia ambil dari dalam tas Dera.
"Nah, sini-sini," ucap Nita, mereka bertiga berusaha membuka sandi hpnya Dera, sedangkan Natha tak memperdulikan tiga gadis itu. Ia lebih memilih untuk mendudukkan dirinya di tempat Cakra, merebahkan kepalanya di atas meja.
Natha mengerjapkan matanya, sepertinya ia tadi tertidur, kini tiga gadis tadi sudah tidak ada di dalam kelasnya, di dalam kelasnya juga sudah lumayan banyak siswa-siswi dari kelas ini. Natha berdiri, berjalan untuk kembali ke tempat duduknya, masih dengan keadaan berantakan karena tiga gadis tadi. Tak lama, teman-temannya Natha datang, Gabriella membawa aqua botol titipan Natha dan di taruh di aras meja Natha.
"Nih," ucap Gabriella, Natha mengangguk,
"Makasih, ya," ucap Natha dengan suara yang sedikit serak.
"Iyaaa, apa sih yang enggak buat lo," jawab Gabriella. Natha kembali berdiri dan berjalan keluar kelas,
"Mau kemana?" tanya Vio,
"Mau ke ruang Osis, gue ke bawah dulu, babaii!" jawab Laura keluar dari kelas hanya membawa Hp dan juga minumannya.
"Kaka osis, haha!" ledek Gabriella dan di tertawakan oleh teman-teman lainnya.
Tak lama kemudian Natha kembali ke kelas, ia juga sempat berselisih dengan Laura. Natha masuk ke dalam kelas dan langsung saja mendudukkan dirinya di tempatnya. Natha membuka hp untuk membalas chat Keenan yang belum sempat ia balas tadi.
[Makan nanti, kalo gak makan pulang gak gue jemput] - Keenan
__ADS_1
[Nanti, istirahat ke dua, Natha masih kenyang.] - Natha
[Iya, nanti gue titipin ke pak satpam makanannya.] - Keenan
[Hah?] - Natha
[Tadi gue nyuruh Bibi buatin bekal buat lo, terus nanti yang nganter Pak Harto.] - Keenan
[Oh, okee] - Natha
Ia langsung mematikan layar hpnya dan di letakkan di atas meja, ia mengambil hp satunya di dalam saku, entah kenapa sekarang ia sering membawa hp dua duanya. Teman-temannya dari tadi sibuk bercandaan, tetapi beda dengan Natha, ia sibuk memainkan hpnya sendiri.
"Ta," panggil Gabriella, Natha menjawab dengan deheman saja.
"Lo dari tadi sibuk main hp mulu, gak bosen apa? Sini coba, ini kita udah lama temenan kenapa jadi kayak baru temenan sehari deh. Gue tau perasaan lo, mending gabung sini aja bercandaan, siapa tau bisa ngehilangin rasa lo itu." jawab Gabriella, Natha memalingkan wajahnya untuk menghadap ke Gabriella.
"Tau apa lo tentang perasaan gue?" tanya Natha dingin membuat Gabriella menelan ludahnya sendiri.
"Y-yaa, lo....s-sakit hati kan? J-jadi gabung sini, biar ngehilangin rasa sakit itu, walau gak seberapa tapi sedikit menghibur." jawab Gabriella dengan nada yang terbata-bata.
"Gugup amat, kayak mau di hap aja." ucap Natha sembari terkekeh karena jawaban Gabriella yang terbata bata.
"Nyebelin lo, gue pikir lo mau marah, cih," jawab Gabriella sembari mendorong pundak Natha,
"Eh kan kita hari sabtu nanti liburan kan ya? Gak ada niatan mau jalan-jalan gitu? Healing ke pantai kek, kemah di sana, jadi pulangnya hari minggu, gimanaa?" usul Vio,
__ADS_1
"Gue sih, ayo-ayo aja, tapi ini masalahnya gue belum tau, di izinin apa enggak sama nyokap gue, nanti gue izin deh. Kapan lagi ye kan kita bisa kemping sama sama gini, gak kayak di acara sekolah kemarin, kepencar kitanya, gak seru."
...***...