My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 7


__ADS_3

"Ini kita mau ke mana?" tanya Vio yang ingin menancap gas, amun tidak tau ingin ke mana.


"Lah, iya. Gue lupa ngasih tau," sahut Natha.


"Lo, tau Kafe Impian gak?" lanjutnya.


Vio menganggukkan kepalanya. "Iya, tau."


"Nah, itu dia tempatnya!" seru Natha.


"Oh, oke!"


Vio menancap gas menuju cafe tersebut dan sesampainya mereka di sana, mereka pun segera memasuki cafe tersebut. Memesan minuman lalu berjalan ke arah meja yang sudah ditempati oleh teman-temannya. Natha sudah tau di mana Gabriella dan Laura duduk, karena mereka sudah bilang di grup wa.


"Noh, mereka di sana!" ucap Natha sembari menunjuk ke meja yang ditempati oleh Gabriella dan Laura.


"Eh, sebentar! Bukannya itu Aksa? Benar bukan, si?" tanya Vio ketika menyaksikan bahwa Aksa, Gibran dan yang lainnya ternyata juga ada di tempat itu.


"Iya. Itu Aksa, Gibran sama temen temennya juga," jelas Natha. Mereka berdua lalu duduk di kursi kosong yang sudah tersedia di sana.


"Udah jam segini baru nyampe, ke mana aje lo?" tanya Zeze, ketika kedua gadis itu mendudukkan bokong mereka di kursi tersebut.


"Sorry, gue sempet ketiduran tadi," sahut Natha singkat.


"Oh, iya. Ini Vio, yang gue ceritain tadi, ga papa lah ya dia ikut gabung sama kita?" ucap Laura yang memberitahu Zeze dan Mecca.


"Ga papa lah. Biar nambah member," sahut Mecca sambil tertawa keras.


"Eh, busyet!" Vio tersentak kaget setelah mendengar tertawaan Mecca.


"Eh, sorry-sorry," sahut Mecca dan mereka pun kembali tertawa bersama-sama.


Beberapa menit kemudian.


"Ini, minumannya," ucap Pelayan yang bekerja di kafe itu. Menaruh minuman lalu meletakkannya di hadapan Natha dan Vio, setelah itu ia pun bergegas pergi untuk melayani pengunjung lainnya.


"Diem-diem baek. Lo ngapa, si?" tanya Gabriella kepada Natha yang sejak tadi hanya diam dengan bibir tertutup rapat.


"Ga kenapa-napa," jawab Natha dengan malas.


"Ish, gak mungkin. Kita-kita ini sudah kenal sama elo, Nat. Pasti lo ada masalah kan?" sela Zeze.


"Ga ada, seriusan!" balas Natha lagi dengan wajah tanpa ekspresi apa pun.


"Mulut lo bisa bohong, tapi mata lo, gak," sela Zeze lagi.


"Huh, kalo gue bilang gue gak kenapa-napa, itu artinya gue emang gak kenapa-napa. Gimana, si!" celetuk Natha dengan wajah sedikit menekuk.


"Ga usah bohong, Natha. Lo gak inget, ya? Di antara kita gak boleh ada rahasia apa pun, jadi kalo ada masalah cerita aja sama kami. Kami siap jadi pendengar yang baik buat elo," jelas Zeze.


"Cerita aja, Nat," sahut Mecca juga.


Natha akhirnya menyerah. Ia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali.


"Biasa, nyokap gue!" ucap Natha dan seketika tempat itu menjadi hening, tidak ada yang berbicara setelah mendengar kata Natha. Vio hanya menatap wajah Natha dengan raut wajah yang sedih.


"Kok, pada diem? Gue ga papa kali," ucap Natha sambil tertawa kecil lalu menatap mereka semua secara bergantian.


"Gue tau perasan lo, Nat. Lo tertawa hanya tidak ingin bikin kami semua ikut sedih, kan?" ucap Gabriella.


"Lo semua kenapa, dah? Orang gue beneran ga papa. Heh, kita nongkrong ini buat rame-rame, bukan malah jadi sad gini ya, anjirr!" Natha terkekeh.


"Iya anjir, gimana sih," sahut Gibran yang dari tadi cuman menyimak pembicaraan para gadis-gadis tersebut.


"Emang nyokap lo, kenapa? Maaf lancang," tanya Aksa, yang dari tadi juga ikut bingung.


Natha menatap Aksa, "Gak ada."


Aksa hanya mengangkat kedua alisnya, masih terlihat bingung.


Jarum jam menunjukkan jam ke 23.15. Mecca, Zeze, Alex, Felix, Rafa dan Cakra sudah pulang lebih dulu, yang tersisa hanya Aksa, Gibran, Gabriella, Laura, Vio dan Natha.

__ADS_1


"Eh, kami berdua pulang duluan, ya," ucap Gabriella kepada Natha dan lain-lain.


"Ya, hati-hati di jalan, ya!" sahut Gibran.


"Yoi." Gabriella dan Laura pun pergi meninggalkan Natha dan yang lainnya.


"Mau pulang?" tanya Natha kepada Vio yang masih terdiam di samping tubuhnya sambil menatap Gabriella yang sudah menjauh.


"Gue sih, terserah aja. Lo mau pulang?"


"Ya udah, ayo! Lagian ini udah larut," sahut Natha.


"Lo berdua gak pulang?" tanya Natha lagi kepada Aksa dan Gibran yang masih asik duduk di kursi mereka masing-masing.


"Ini, mau pulang," sahut Gibran.


"Ya udah, bagaimana kalau kita barengan aja?" ajak Natha.


Gibran mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dan mereka berempat pun segera pergi keluar dari kafe lalu menuju parkiran.


"Lo aja yang bawa ya, Vi," ucap Natha kepada Vio dan Vio pun mengiyakan permintaan Natha barusan.


"Eh, mending gini deh, gue sama Natha, Vio sama Aksa. Takutnya ada om-om hidung belang yang godain," celetuk Gibran sambil tertawa kecil.


"Halah, modus aja loh!" ucap Natha yang menertawakan Gibran.


"Gak lah, gila. Tapi beneran, kalian mau gak?" tawar Gibran sekali lagi.


"Gue sih, terserah. Entah sama Vio. Lo mau, Vi?" tanya Natha.


"Gue sih oke-oke aja." Vio menganggukkan kepalanya.


"Gue sama Natha, lo sama Gibran," sela Aksa yang menyela pembicaraan mereka.


"Lah?" ucap Gibran bingung.


"Bilang aja lo, seneng," goda Aksa sambil terkekeh kecil kepada Gibran.


"Hehe, oke baiklah. Lo mau gak, Vi?" Gibran bertanya kepada Vio dan Vio pun mengiyakan permintaan lelaki itu.


"Yoi dah!"


Gibran dan Vio menaiki motornya lalu melaju mendahului Aksa dan Natha. Sepeninggal mereka,


"Naik" ucap Aksa kepada Natha. Natha pun mengangguk lalu menaiki motornya. Setelah Natha duduk manis di belakangnya, Aksa pun segera menancap gas menuju rumahnya.


Di perjalanan.


"Ta," panggil Aksa kepada Natha yang sedang asik dengan pikirannya sendiri. Natha tersentak kaget. Ia juga bingung karena Aksa memanggil namanya dengan sebutan 'Ta'. Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang biasa memanggil dengan sebutan Nat atau Nanat.


"Iya?"


"Gue boleh manggil lo dengan nama sebutan dari gue sendiri, gak?"


"Terserah, asal jangan yang aneh-aneh," sahut Natha.


"Bocil, boleh?"


"Eh, pala lo bocil, yang bener aja ngapa anjir!" kesal Natha.


Aksa terkekeh kecil mendengar reaksi Natha. "Ya udah, kalo gitu gue panggil lo Ache aja."


"Lah, dari mana tu nama, kok Ache? Aneh bener, perasaan di nama gue gak ada kata seaneh itu, deh!"


"Ada lah! Nama lo kan Rachel Nathalia, so gue ambil kata Ache dari Rachel-nya itu," jelas Aksa, masih dengan terkekeh.


"Asyem banget dah! Terserah lo aja deh," sahut Natha pasrah.


"Serius, gak papa gue panggil lo begitu?" tanya Natha lagi, mencoba meyakinkan.


"Ya," jawab Natha singkat dan jelas.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Natha dan Aksa telah sampai di depan rumah Aksa. Lelaki itu menghentikan laju motor tersebut lalu menurunkan standarnya.


"Buset, lama bener. Ke mana aje loh?" ucap Vio yang ternyata memperhatikan mereka di teras rumah dengan kedua tangan bersilang di dada.


"Gak ke mana-mana. By the way, Gibran di mana?"


"Udah pulang lah, gue yang anterin."


"Ya udah, gue pulang, ya!" sela Natha sembari menaiki motornya, menggantikan posisi Aksa sebelumnya.


"Eh, eh, anak cewe ga boleh pulang sendirian! Ini udah jam 12 malem. Aksa, anterin dia!" titah Tante Gita yang tiba-tiba berada di balik pintu dan tak sengaja mendengarkan ucapan mereka. .


"Terus Aksa pulang gimana, Bunda?"


"Ga usah, Tan. Ngerepotin aja, Natha biasa pulang jam segini kok."


"Gak, gak! Pokoknya harus dianterin. Ga boleh nolak. Motor kamu tinggal di sini aja, Aksa yang nganterin kamu pake mobilnya Bunda," lanjut wanita itu lagi.


"Hah?!" Natha tersentak kaget sekaligus bingung.


"Ga boleh nolak, oke??" titah Gita lagi kepada Aksa.


"Ga papa, Tan?" tanya Natha yang tampak tidak enak.


"Ga papa. Anggap saja sebagai tanda terima kasih Tante sama kamu, karena udah nolongin Tante waktu itu," jelas Gita sambil tersenyum lebar.


***


Aksa dan Natha pun akhirnya setuju.Aksa bergegas menaiki mobil sang bunda lalu melajukan benda beroda empat itu menuju kediaman Natha.


"Lo ngape sih?" tanya Aksa yang memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Apa? ga ada, kok!"


"Lo pasti heran kan, lihat gue yang diperbolehkan membawa mobil baru bunda."


"Iya, sih. Emangnya udah boleh, ya?"


"Entahlah, lagian gue bawa sekitaran sini doang, kalo jalan raya gue gak mau, takut kena tilang," celetuk Aksa sambil kembali terkekeh. Natha hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Aksa.


"Tuh, itu rumah gue!"


Natha menunjukkan kediamannya yang kini sudah terlihat. Setelah Aksa menghentikan mobilnya, ia pun bergegas turun dari mobil tersebut. Aksa membuka kaca mobil yang berada di samping kirinya sambil tersenyum menatap Natha.


"Makasih, ya, Aksa," ucap Natha sembari membalas senyuman Aksa. .


"Sama-sama. Ya udah, sana masuk! Nanti nyokap lo nyariin," ucap lelaki itu.


"Hati-hati di jalan, ya!" balas Natha lalu memasuki rumahnya meninggalkan Aksa yang masih berada di depan rumahnya. Setelah memastikan Natha sudah memasuki rumahnya, Aksa pun segera pergi meninggalkan kediaman Natha.


Beralih ke Natha.


Natha tak sengaja menatap ke arah sofa yang ada di ruang tamu. Dia melihat Lian tengah tertidur pulas di atas sofa tersebut dengan televisi yang masih menyala.


"Ngapain, mama tidur di situ?" batin Natha.


Natha menghampiri sang ibu yang masih tertidur. Ia meraih remote tv yang tergeletak di atas meja kemudian mematikan televisi tersebut.


Natha beranjak pergi meninggalkan Lian, menuju kamarnya. Ia meraih sebuah selimut lalu membawanya lagi keluar dari kamar.


Natha menghampiri Lian yang masih tertidur pulas kemudian menyelimuti badan ramping Lian dengan selimut yang ia ambil dari kamarnya. Menurunkan suhu AC, setelah itu ia pun kembali ke kamar.


Namun sebelum memasuki kamarnya, dia melihat pintu kamar Keenan yang masih sedikit terbuka. Natha berjalan ke arah kamar Keenan lalu mengintip dari balik celah pintu tersebut. Tampak Lian yang masih asik belajar di dalam kamarnya.


"Bang!" Panggil Natha.


Keenan tersentak kaget. Ia sontak menoleh lalu tersenyum setelah mengetahui siapa yang berdiri di balik pintu kamarnya. "Kenapa baru pulang, Nat? Siapa yang nganterin?"


"Temen gue, Bang!"

__ADS_1


"Natha, gue mau bicara sama lo sebentar!"


...*****...


__ADS_2