
"Ya udah, ayo kita bayar," ujar Aksa, mereka membawa sepatu Oxford yang tadi mereka pilih lalu berjalan ke arah kasir toko sepatu tersebut.
"Ini," ujar Natha sembari menaruh ke meja kasir lalu di box oleh kasir wanita tersebut.
"Ini kak, keduanya empat ratus enam puluh lima ribu." ujar kasir tersebut lalu menyerahkan sepatunya yang sudah di box dan di bungkus memakai tas dari toko itu.
"Nih," ujar Aksa dari belakang menyerahkan kartu ATMnya kepada kasir tersebut,
"Pinnya kak," ucap wanita itu sembari menyerahkan mesin edcnya.
"Terimakasih telah berbelanja di toko kami," ujar kasir itu lalu menundukkan badannya.
"Iyaa," ujar Natha, mereka berdua keluar dari toko tersebut dan langsung saja mereka menaiki motor Aksa, Natha melihat ke arah jam tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan jam sebelas malam. Sudah hampir dua jam mereka berbejalanja, Aksa mengantarkan Natha kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Natha, mereka berbarengan dengan Keenan yang juga baru pulang, entah dari mana.
"Simpan di kamu aja dulu ya, nanti aku ambil," ujar Aksa,
"Iya, hati hati, jangan ngebutt," ujar Natha, Aksa mengangguk dan tersenyum kepada Natha. Setelah tak terlihat lagi Aksa di dekat kompleknya, ia menutup pagar rumahnya. Ia berjalan untuk masuk ke rumah sembari menenteng paper bag belanjaan mereka tadi.
"Dari mana aja lo," ujar Keenan,
"Jalan lah, kemana lagi emang," jawab Natha,
"Masih ingat jalan pulang juga lo, gue pikur enggak," ujar Keenan sembari senyum menyeringai.
"Lah, iya dong. Ngomong ngomong gue udah izin, lah dari pada lo, masih make baju dari kampus, jam segini baru pulang." jawab Natha
"Izin sama siapa? Bibi? Lea? Mama?" tanya Keenan,
"Kepo amat sih, cowok apa cewek?" jawab Natha,
"Dih, ya udah sih wir" ujar Keenan, mereka sudah berada di depan pintu rumah, Keenan berkali kali memencet bel, namun tak ada yang membukai pintu rumah.
"Lo bawa kunci rumah gak?" tanya Keenan kepada Natha,
"Enggak, kuncinya kan gue gantung di kunci motor." jawab Natha,
"Bentar, sini, temenin gue ke dalam mobil bentar, nyari kuncinya, kalo gak salah gue taruh di dalem mobil." ujar Keenan, Natha menggiring Keenan yang berjalan lebih dulu dari dirinya.
Keenan masuk ke dalam mobilnya yang masih berada di halaman tanpa memasukkan ke dalam garasi. Ia membuka pintu mobil sebelah kanan dan menyalakan Smart Flashlightnya, mencari cari di dalam mobil, begitu juga dengan Natha, ia mencari di pintu mobil sebelah kiri.
__ADS_1
"Nah, ketemu," ujar Aksa sembari menenteng kuncinya, ia memelempar kunci mobil miliknya ke arah Natha,
"Tolong sekalian masukin ke dalam garasi ya," ujar Aksa lalu pergi meninggalkan Natha yang masih duduk di dalam mobil,
"Bang tunggu, bawain ini dong," suruh Natha, Keenan menghentikan langkah kakinya, dan mengambil paper bag yang di berikan oleh Natha.
"Thanks bro," ujar Natha, Keenan mendengus pelan,
"Bra bro bra bro, gue abang lo," jawabnya lalu berlari lari kecil untuk kembali ke depan pintu rumahnya.
Natha sudah di perbolehkan oleh mama Lian untuk membawa mobil, karena ia juga sudah cukup umur dan juga sudah memiliki KTP, SIM, dan lainnya. Natha juga belajar membawa mobil dengan Keenan, sebenarnya Keenan mengajari Natha mengendarai mobil sejak kelas sebelas, namun mama Lian tak mengetahuinya.
Setelah selesai Natha menaruh mobil di dalam garasi, ia bergegas berlari ke arah pintu rumah. Ia memasuki pintu rumahnya yang agak terbuka karena Keenan sengaja tak menutup pintunya.
"Bang, mama belum pulang rupanya, gak ada ngasih tau lo gitu?" ujar Natha setelah memasuki rumahnya.
"Bentar, ada nih, berkali kali di telpon sama mama juga, kenapa ya?" tanya Aksa, Natha menggeleng, ia juga ikut melihat ke layar hpnya, ternyata benar saja, mama Lian juga menelpon dirinya, bahkan Bibi Mela juga.
"Bang, ayoo!" teriak Natha sedikit panik, Keenan yang juga tau ia mengambil kunci mobil di tangan Natha, dan Natha mengunci kembali pintu rumahnya.
Natha menunggu di depan pagar, setelah Keenan keluar dari halaman rumah, ia menutup pagar rumahnya dan tak lupa di kunci. Natha memasuki mobil Keenan dan duduk di sebelah kursi Keenan, Keenan melajukan mobilnya di atas rata rata. Ia bergegas ke tempat yang di share lock oleh mama Lian, Rumah Sakit. Entah siapa yang sakit, namun wajah Natha dan Keenan sangat amat panik.
"Ma....." ucap Natha lirih di depan kasur rumah sakit yang ada di kamar itu. Bibi Mela menunggu di dalam kamar itu bersama Lea dan juga pak harto, satpam di rumah Natha yang baru saja kembali, karena ia dulu pulang kampung.
"Mama....." ujar Keenan ia tak bisa menahan tangisannya, ia sekarang sedang menangis di samping kasur yang mama Lian baringi, ia menangis menyembunyikan wajahnya di kasur itu.
Mama Lian, mama Lian lah yang sekarang berada di rumah sakit, dan berbaring lemas, yang memanggil Natha dan Keenan menggunakan hp mama Lian itu ialah pak Harto. Natha menghampiri Keenan yang sedang menangis, bahkan Keenan sesegukan. Natha tak pernah melihat Keenan menangis hingga senyesek ini, ia mendekap badan Keenan untuk menangis di pelukannya. Natha masih bisa menahan air matanya agar tidak keluar dari pelupuk mata.
"Nak, Bibi tinggal sebentar ya, mau nyari makanan, sekalian buat kalian," ujar bibi Mela, Natha mengangguk,
"Natha gak usah bi, tadi udah makan, beliin buat bang Keenan aja." jawab Natha, bibi Mela mengangguk lalu keluar dari kamar itu bersama dengan Lea dan pak Harto.
"Taa...." ucap Keenan lirih di dalam dekapan Natha, Natha sedikit menunduk untuk melihat Keenan, sembap. Itulah yang pertama kali di lihat oleh Natha, mata yang sembap, dan sayu.
"Mama pasti sembuhkan ya," ujar Keenan sembari memeluk pinggang Natha, Natha mengangguk pasti.
"Pasti bang, mama bakalan sembuh," jawab Natha sambil mengelus elus rambut Keenan, Keenan kembali ke dalam dekapan Natha, ia tak sanggup melihat Mamanya yang terbaring lemas di atas kasur rumah sakit.
Ting! Ting! Ting!
Banyak notif yang bergetar di hpnya Natha, ia mengambil hpnya yang berada di saku celana, bahkan mereka tak sempat menggantikan pakaian, Keenan yang masih menggunakan baju yang ia pakai tadi pagi, dan Natha menggunakan pakaian yang tadi ia pakai.
__ADS_1
Natha mengabaikan semua pesan yang ada di hpnya, ia sekarang mencari nomor telepon bibi Mela.
Di telpon.
"Bii, bisa tolong bawain baju Bang Keenan gak?" tanya Natha setelah telponnya tersambung.
"Iya, nak, ini bibi juga di rumah, mau ngambil barang barang ibu. Baju apa nak?" tanya sekaligus jawab si Bibi Mela,
"Baju kaos aja bi, sama celana panjang," jawab Natha,
"Kalo nak Natha?" tanya Bibi Mela,
"Gak bi, baju bang Keenan aja," jawab Natha,
"Ya sudah, bibi tutup ya, telponnya, itu saja kan?" ujar Bibi Mela,
"Iya bi, makasih ya," jawabnya, lalu telpon nya di putuskan sambungan oleh sepihak.
"Bang, Natha mau lepas cardigan dulu," ujar Natha, Keenan melepaskan pelukannya, Natha berdiri sembari melepaskan cardigannya dan di gantung di kamar rumah sakit itu. Di sana sudah terdapat beberapa gantungan untuk menggantung barang barang.
"Bang, sini gih," ujar Natha, ia menepuk nepuk sofa putih yang berada di situ. Keenan berdiri dari duduknya, mendudukkan dirinya di samping Natha, merebahkan dirinya dan menjadikan paha Natha sebagai bantalan.
Mama Lian masuk kerumah sakit karena dirinya kecelakaan, saat hendak pulang ke rumah. Padahal ia menjalankan mobilnya pelan, setelah di perempatan jalan, mama Lian hendak belok ke kanan, tetapi ada mobil lain yang jalan terus tanpa nge rem mobilnya. Tiba tiba mama Lian tertabrak sama mobil yang satu tadi agak keras bahkan mama Lian pun terpental keluar dari mobil. Ia tergeletak tak sadarkan diri di jalanan samping mobilnya sendiri. Sedangkan yang menabrak, ia juga kaget, tapi ia baik baik saja, hanya terluka di bagian dahi, lengan dan kaki. Ia bergegas keluar dari mobil dan menyamperin mama Lian, dan mama Lian segera di rujukkan ke rumah sakit terdekat.
Polisi bahkan para medis juga ada, dan satu orang polwan mencari keluarga dari mama Lian dan yang hanya ketemu nomor Bibi Mela. Mobil yang di gunakan mama Lian juga rusak parah, bahkan mobil yang menabrak juga sama, bibi Mela dan pak Harto ke rumah sakit tempat mama Lian menggunakan mobil yang satunya.
Begitu lah kronologinya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Keenan tertidur masih dengan posisi yang sama, menjadikan paha Natha sebagai bantalannya. Natha ingin bergerak karena kakinya terasa kram, tetapi ia tak tega melihat wajah Keenan yang sangat lelah bahkan sembab. Ia mengurungkan niatnya untuk bergerak, ia menunggu Bibi Mela datang dan minta tolong untuk mengambilkan bantal.
Tak lama kemudian, Bibi Mela masuk bersama dengan Lea,
"Bi, boleh minta tolong ambilin bantalan itu gak?" tanya Natha sembari menunjukkan bantal yang berada tak jauh dari ranjang yang mama Lian tempati, bibi Mela mengambilnya dan menyerah 'kannya kepada Natha. Natha mengambil dan sedikit mengangkat kepala Keenan, menaruh bantalnya di bawah kepala Keenan. Akhirnya ia bisa menjauh dari Keenan, ia hendak mengambil hpnya yang terletak di atas meja samping ranjang Lian.
Ia keluar dari kamar itu dan ia mendudukkan dirinya di kursi tunggu depan kamar mama Lian. Ia membuka layar ponselnya, banyak sekali notif dari Aksa dan teman temannya. Aksa hampir dua puluh kali menelpon dirinya, hp Natha tak berdering, makanya ia tak tahu bahwa Aksa sedang menelpon dirinya.
Natha memberi foto lewat chat kepada grub teman temannya, dan di kirim ke chat pribadi Aksa. Fotonya berisikan bahwa ia sedang di rumah sakit.
[Loh, ngapain di rumah sakit, siapa yang sakit?]
...*****...
__ADS_1