
"Ta, maaf ya, dulu gue pernah jahatin lo...." ucap Dera lirih sembari menahan tangan Natha, Natha yang tadinya berjalan, ia menghentikan langkahnya karena ucapan Dera.
"Dan maaf, gue pernah mau ngambil hp lo. Gue gak tau lo mau maafin gur apa enggak, gue gak masalah kalo emang lo gak mau maafin, karena gue tau, kesalahan gue memang tak pantas untuk di maafkan." ucap Dera lagi, ia berdiri di depan Natha, menatap mata Natha dengan lekat.
"Kata maaf gue memang sudah telat, tapi gue bener-bener tulus untuk meminta maaf ke lo. Gue ingin memperbaiki semuanya, gue gak mau lo sama gue musuhan lagi. Dulu di kelas sepuluh, lo kalo ketemu gue senyum, tak pernah membully gue. Entah setan dari mana yang datang ke pikiran gue di kelas sebelas, gue ikut apa kata-kata Nita, gue malah membully lo, gue gak sadah jika dulu gue hanyalah seorang gadis culun yang selalu di bully. Gue juga gak pernah sadar jika dulu di kelas sepuluh lo pernah belain gue di saat gue kena bully oleh kakak kelas. Sekali lagi, gue minta maaf..." ucap Dera lagi, kali ini di kelopak mata Dera sudah ada air yang menggenang. Yang tadi awalnya di dalam kelas berisik, sekarang malah diam, semua mata tertuju kepada Natha dan Dera.
"Gak untuk Natha, buat kalian semua juga, maaf, maaf gue pernah jahat ke kalian." ucap Dera lagi berbicara kepada semua teman kelasnya. Tiba-tiba ada murid kelas sebelah yang mengatakan pesan dari pak Nunus untuk kelas IPS 2.
"Guys, kata pak Nunus, kalian ganti baju dulu, kalo udah selesai langsung kumpul di lapangan belakang." ucap Seorang gadis cantik, mereka membalas hanya mengangguk. Siswa-siswi langsung bergegas pergi keluar untuk menggantikan pakaian di ruang ganti.
Natha tersenyum ke arah Dera, lalu melepaskan tangan Dera yang masih berada di pergelangan tangannya. Ia berjalan ke arah tempatnya lalu mengambil baju olahraga di dalam tas, lalu berjalan bersama Vio untuk pergi ke ruang ganti siswi.
"Lo maafin Dera?" tanya Vio, Natha tersenyum,
"Gue tau semua orang pasti bakal bisa berubah saat waktunya tiba. Begitu juga dengan kita berempat, kita juga pasti akan berubah jika waktunya telah tiba." jawab Natha, Vio menyeritkan alisnya,
"Jadi, lo maafin Dera?" tanya Vio lagi,
"Nanti aja, gue masih mikirin, siapa tau nanti dia bakal kembali kayak dulu, yang selalu membully orang tanpa sadar dia juga bahan bullyan orang lain." jawab Natha, Vio hanya mengangguk, ia menunggu antrian di ruang ganti. Sampai dimana di dalam ruang ganti sudah tak ada siapa-siapa, Natha dan Vio memasuki ruang ganti itu, baru saja Vio ingin menutup pintunya, tapi pintu itu di halang oleh seseorang.
"Boleh ikut masuk gak?" tanya Dera, Natha dan Vio saling pandang, Natha mengangguk, Dera ikut masuk dan menutup pintu ruang ganti itu.
Selesai berganti pakaian.
Semua murid kelas IPS 2 sudah berada di lapangan, semua pakaian olahraga lengan pendek, Natha dari tadi memperhatikan lengan Dera.
Mereka pemanasan dulu sebelum berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali putaran. Setelah selesai pemanasan, mereka berbaris sebanyak lima barisan, Natha, Vio, Cakra, Gibran, Dera, Saddam dan Nana berada di barisan pertama. Mereka berlari lebih dulu, setelah selesai barisan pertama, sekarang giliran barisan ke dua, ketiga, keempat dan kelima, secara bergantian.
"Kalian boleh pergi kekantin, untuk istirahat. Setelah selesai nanti kalian ganti pakaian olahraganya ya, bapak tinggal dulu." ucap Pak Nunus, mereka mengangguk, Natha, Vio, Nana, Gibran, Cakra dan Saddam pergi kekantin berbarengan.
Setelah selesai membeli pesanan makanan mereka, mereka mendudukkan diri di tempat tengah-tengah kantin. Natha hanya membeli risol mayo dan pop ice rasa Cokelat.
__ADS_1
Setelah selesai memakan makanannya mereka pergi kembali ke dalam kelas, yang di dalam kelas hanya ada Dera sedang merebahkan kepalanya di atas meja. Natha mengambil seragamnya, baju putih, rok abu, sabuk, dan juga dasinya. Mereka berjalan ke luar kelas untuk mengganti pakaiannya sebelum istirahat semua murid.
***
Istirahat pun telah tiba, di dalam kelas sedang ribut karena anak cowok yang bermain game di dalam kelas. Aksa, Rafa, Gabriella dan Laura berjalan ke kantin, Natha dan Vio tak ingin ikut karena ia sudah pergi ke kantin.
Tiba-tiba Nita dan dua temannya masuk ke dalam kelas Natha, mendekat ke arah Dera, lalu menjambak rambut Dera dengan keras hingga membuat Dera menjerit karena kesakitan. Natha dan teman kelasnya terkejut karena suara jeritan Dera yang lumayan keras, semua mata tertuju ke arah Nita yang sedang menjambak rambut Dera.
"Brengsek! Dasar miskin! Apa apaan maksud lo bicara ke guru bk bahwa gue yang pernah naruh rokok di dalam tasnya Tania?!" umpat Nita dengan nada yang tinggi, wajahnya sangat terlihat emosi,
"Gue gak bilang! Gue aja gak tau kalo diri lo yang naruh bungkus rokok ke dalam tasnya Tania!" jawab Dera dengan nada yang kesakitan, Natha merasa kasihan karena Dera sudah mengeluarkan air matanya menahan sakit merasakan jambakan dari Nita. Natha menepuk mejanya dengan keras,
"Nita! Lo bisa diem gak?! Istirahat kami srmua jadi terganggu gara-gara lo!" ujar Natha, Nita melepaskan jambakannya dari rambut Dera, ia berjalan mendekati Natha,
"Siapa lo ngatur-ngatur gue? Lo gak berhak untuk ngatur hidur gue, lo bukan orang tua gue! Dan lo juga gak tahu apa apa, jadi jangan ikut campur." jawabnya,
"Gara-gara si miskin ini, point gue jadi berkurang sebanyak dua puluh. Sekarang sisa point gue hanya tersisa lima belas, itu semua gara-gara dia yang cepu kepada guru!" ujar Nita kembali membentak Natha, Natha tak takut sama sekali, ia hanya menatap wajah Nita dengan datar.
"Gue gak ikut campur, dan gue juga gak larang lo buat berantem sama Dera, yang gue minta cuman satu, jangan membuat jam istirahat kami semua terganggu gara-gara lo!" jawab Natha sembari menunjukkan jari telunjuknya ke depan wajah Nita.
"Lo punya bukti kalo gue yang bilang ke guru bk bahwa gue yang bilang, hah!" emosi Dera memuncak, Nita ingin menampar pipi Dera, tetapi tangannya tertahan karena Dera sendiri yang menahannya.
"Dan juga, emang benar gue miskin, tapi bukan berarti lo semena-mena ngatain gue miskin! Emang bener ya, lo itu manusia gak punya hati!" ujar Dera sekali lagi, tetapi dari belakang, Eve menarik rambut Dera hingga Dera terjatuh ke belakang. Nita memukuli wajah Dera tanpa ampun, Natha benar-benar tak bisa menahan emosinya, emang benar dia tak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka, tapi ia juga punya hati, ia tak tega melihat wajah Dera yang sudah banyak luka di akibatkan tinjuan dari Nita.
"Brengsek!!" umpat Natha lalu mendorong badan Nita hingga ia terhantup ke dinding kelas, sepertinya dorongan Natha sangan kuat hingga membuat Nita tak berdaya untuk berdiri.
"Gue belum selesai sama lo berdua!" teriak Nita lalu pergi dengan di gandeng oleh dua temannya.
"Dera, Dera, lo gak apa? Cepan ke UKS, obatin luka luka lo, nanti infeksi." ucap Natha dengan wajah yang masih emosi,
"Ta, makasih, dan maaf, gara-gara gue lo jadi terbawa-bawa dalam perkelahian tadi." ujar Nita, Natha mengangguk,
__ADS_1
"Len, bawa dia ke UKS, lo petugas kesehatan kan?" tanya Natha kepada Lena, Lena mengangguk ia membantu Dera untuk berdiri lalu membimbingnya untuk pergi ke UKS. Natha terkaget-kaget oleh kehadiran teman-temannya yang entah kapan sampainya.
"Gila, ini baru temen gue!" ucap Laura, sembari menepuk-nepuk pundak Natha,
"that's my girl!" semangat Aksa, ia memeluk tubuh Natha,
"Kamu gak apa kan? Gak ada yang sakit kan? Dia gak mukul kamu kan?" tanya Aksa, Natha mengangguk,
"Iya, aku gak apa," jawab Natha sembari membalas pelukan Aksa.
"Iri gue men," ucap Salah satu teman kelas Natha,
"Saae lo, sini sama gue," jawab salah satu teman kelasnya lagi,
"Dih, ogah gue sama lo, mending gue sama bias gue!" jawabnya. Natha dan teman-temannya hanya tertawa mendengar perkataan mereka.
"Kan tadi kata si Nita dia hanya tersisa lima belas point kan, kok malah bikin masalah baru? Mau di keluarin dari sekolah kali ya?" tanya Teman sekelas Natha, Tio.
"Ya kan, aneh aneh aja, udah tau point tinggal lima belas, bukannya di perbaiki, malah menjadi jadi." jawab Gibran, mereka semua sekarang fokus ke pekerjaan mereka masing-masing, ada yang melanjutkan permainan game, ada yang bucin, ada yang mencatat pr, dan juga ada yang tertidur.
Sekarang bel sudah berbunyi pertanda mereka memasuki pelajaran ke empat. Semuanya masuk kembali ke dalam kelas masing-masing, begitu juga Dera, kini ia sudah berada di kelas dengan wajah yang penuh dengan salep.
***
//pulang sekolah//
Aksa sekarang sudah di jalan pulang untuk mengantarkan Natha ke rumahnya. Sesampainya di rumah Natha, Aksa langsung saja pamit pulang karena ia harus menjemput neneknya di bandara. Natha masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sepi, karena Bibi Mela, Mama Lian, dan Lea tak ada di rumah. Sedangkan Keenan? Mungkin ia sedang tidur di kamarnya, Natha langsung saja masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Natha sudah selesai, ia menggunakan celana hotpants berwarna hitam, dan sweater oversize menutupi pahanya. Ia turun ke lantai bawah, di sana ternyata sudah ada Keenan yang sepertinya baru bangun tidur.
Natha duduk di samping Keenan, sepertinya Keenan masih ngantuk, ia merebahkan kepalanya di paha Natha dan kembali terlelap.
__ADS_1
"Punya celana yang panjang kan lo? Ngapain harus pake celana kayak ginian, kekurangan bahan."
...***...