
"Tapi dari kelas sepuluh dulu, Dera bukannya memang jadi bahan bullyan kakak kelas, ya?" tanya Gabriella,
"Lah, iya juga ya, tapi semenjak naik ke kelas sebelas mereka berteman dan malah ngebully orang, kan?" jawab sekaligus tanya Laura,
"Mana gue tau," jawab Vio,
"Diem, lo dulu murid baru di kelas sebelas, gak di ajak." ujar Aksa,
"Heh ngaca dong, lu juga murid baru," jawab Vio,
"Diam deh lo berdua, sama sama murid baru di kelas sebelas juga." jawab Natha,
"Dih, jahat banget kamu," ujar Aksa,
"Biarin," jawab Natha lagi.
Sekarang bel sudah berbunyi, mereka memasuki kelas masing-masing. Natha, Vio, Cakra dan Gibran memasuki kelasnya, menempati tempat duduk mereka masing-masing sambil menunggu guru pengajar masuk. Natha melihat kesana kemari, mencari keberadaan Dera, mungkin?
"Nyari apaan?" tanya Vio,
"Dera," jawab Natha,
"Ngapain nyariin dia? Ada urusan?" tanya Vio lagi, Natha menggeleng,
"Nah, terus ngapain lo nyariin dia, udah lah, mikirin dia mulu, naksir lu?" ujar Vio,
"Dih paan, enggak ya," jawab Natha, mereka mengeluarkan buku mata pelajaran jam sekarang. Guru pengajar masuk dan juga Dera yang berada di belakang guru itu, ia berjalan ke tempat duduknya dengan menundukkan kepalanya sampai ia duduk pun ia masih menunduk.
"Oke anak-anak, mari kita mulai pembelajaran ini." ujar Guru,
"Iya, bu!" jawab Anak murid di kelas itu serentak.
***
//saatnya jam pulang sekolah//
Semua anak murid sudah siap untuk pulang, tinggal menunggu bel berbunyi.
Kring! Kring!! Kring!!! Kring!!!!
Bel pun berbunyi, mereka semua keluar dari kelas untuk keluar dari halaman sekolah dan pulang ke rumah Masing-masing. Kini, Natha dan teman-temannya berada di parkiran sekolah, mereka menunggu Laura jalan pertama, karena hanya dirinya yang tau jalan ke tempat wisata baru itu.
"Guys, ayo," ucap Laura yang menyuruh agar semua temannya mengikutinya dan Rafa. Laura berboncengan dengan Laura, Gibran dengan Vio, Cakra dengan Gabriella, Natha dan Aksa memakai motor sendiri-sendiri.
Setibanya mereka di wisata itu, ternyata di sana banyak permainan seperti di dufan, cuman ini lebih sedikit, banyak orang yang pergi bersama dengan kekasihnya. Mereka memarkirkan motornya dan membeli tiket untuk masuk ke wisata itu.
"Mau naik wahana?" tanya Aksa kepada Natha, Natha menggeleng,
"Kamu mau naik wahana? Naik aja, aku lagi males, maaf ya," jawab Natha,
"Enggak, aku mau nemanin pacar aku aja," jawab Aksa juga, Natha tersenyum ia melihat lihat di sekitar, Natha melihat ada sejenis permainan bebek air, sepertinya ia tertarik untuk menaiki itu.
"Ay, mau naik itu deh," ucapnya kepada Aksa sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah dimana permainan bebek air itu berada.
"Boleh, ayo," jawab Aksa, mereka berjalan untuk menyewa bebek air tersebut. Aksa bertanya kepada orang yang menyewakan bebek itu,
__ADS_1
"Mau nyewa dek?" tanya Bapak itu, Aksa mengangguk,
"Berapa pak?" tanya Aksa,
"Dua puluh ribu, tiga puluh menit, dek, mau?" jawab Bapak itu, Aksa dan Natha mengangguk. Mereka perlahan menaiki bebek-bebekan itu, setelah itu, Natha dan Aksa mengayuh bebek-bebekan itu bersama.
Sesampainya mereka di tengah-tengah danau, mereka berhenti, berfoto berdua, Aksa memfoto Natha diam diam, di saat Natha memainkan hpnya untuk melihat Foto-foto dia bersama Aksa tadi.
"Ay, coba nengok sini," panggil Aksa, Natha melihat ke arah Aksa dan berbunyilah hp Aksa 'cekrek' Aksa memfoto Natha, tetapi hasilnya sedikit blur karena Natha bergerak.
"Kasian, blur yaa," ejek Natha,
"Sini deh, yang bener," ujar Aksa, Natha berpose dengan gaya andalannya, dua jadi dan senyum lebar.
"Nah, gitukan cantik," ujar Aksa setelah melihat fotonya,
"Sini, gantian, aku lagi yang motoin kamu," jawab Natha, Aksa juga ikut berpose mengikuti Natha,
"Dih, ngikut bae," ujar Natha, Aksa hanya terkekeh,
Sekitar dua puluh menit berlalu, Natha dan Aksa mengayuh bebek-bebekannya kembali untuk pergi ke Bapak pemilik bebek ini.
Di saat mereka sampai di tepi, pas juga waktunya tiga puluh menit, Natha dan Aksa turun dari bebek-bebekan itu, dan berterima kasih lalu pergi untuk mencari teman-temannya.
"Mana Vio sama yang lain?" tanya Natha kepada Gabriella yang bersama Cakra duduk di kursi bawah pohon.
"Dari tadi si Laura naik wahana mulu, gue cape, jadi gak ngikutin, makanya nunggu mereka selesai aja." jawab Gabriella, Natha dan Aksa ikut mendudukkan dirinya di kursi itu.
Jam sudah menunjukkan jam enak sore, Laura dan yang lain tidak ada terlihat, Natha, Gabriella, Aksa dan Cakra berjalan mencari empat temannya lagi. Setelah ketemu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Dah guys, makasih yaa, gue duluan," ujar Laura dan Rafa,
"Duluan," ucap Vio dan Gibran. Di sana hanya tersisa Gabriella, dengan Cakra, dan Natha dengan Aksa.
"Ayo," ucap Natha mengendarai motornya lebih dulu. Mereka saling berpencar karena jalan ke rumah yang berbeda beda, sebenarnya Natha dan Cakra satu jalan, tapi karena Cakra mengantar Gabriella dulu, jadi mereka berpencar. Natha sudah sampai di rumahnya, ia masuk ke dalam rumah, melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang tamu. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Natha mendudukkan dirinya di sofa, mengeluarkan hpnya yang berada di dalam saku lalu menchat Aksa.
[Aku udah sampe] - Natha
"Ta!" panggil Keenan dalam kamarnya sendiri, Natha berjalan menaiki anak tangga untuk menemui Keenan.
"Apa?" tanya Natha dari ambang pintu,
"Nanti malam temenin gue, bisa gak?" tanya Keenan,
"Kemana?" tanya Natha juga,
"Reunian sama temen SMA gue," jawab Keenan,
"Gak ah, banyak teman lo," jawab Natha,
"Teman gue juga ada yang bawa adeknya, ada juga yang bawa pacarnya, ikut yaa, temanin gue, yaa?" tanya Keenan dengan tatapan memohon, Natha berjalan ke arah kasur milik Keenan, duduk di sisian kasur, sedangkan Keenan rebahan.
"Makanya punya cewek, gue mulu yang di ajak, apa gak malu nanti, kalo di tanya sama temen lo, 'mana cewek lo, masa sama adek terus' Haha!" ejek Natha lalu ia berdiri lagi dan berjalan menuju pintu kamar Keenan,
"Males pacaran, kalo bisa sendiri ngapain harus nyari sumber penyakit?" jawabnya,
__ADS_1
"Hah?" cengo Natha, ia membalikkan badannya ke arah Keenan.
"Gak apa, udah, temenin gue yaa, sana gih lo siap siap, nanti jam delapan kita berangkat." jawab Keenan, Natha menatap Keenan sinis lalu keluar dari kamar Keenan. Ia berjalan ke kamar miliknya sendiri lalu mengambil handuk untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi menemani Keenan.
***
Natha sudah siap untuk pergi, ia menggunakan baju crop top berwarna hitam, jaket levis biru muda, celana panjang hitam, dan sepatu putih, rambut gelombang terurai.
Natha mengambil hp dan dompetnya berwarna hitam yang berada di atas nakas, lalu keluar dari kamarnya untuk menghampiri Keenan yang tengah duduk di ruang tamu menunggu dirinya.
Setelah melihat Natha berada di depannya, Keenan melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala Natha. Sekarang Keenan menggunakan kemeja hitam, celana hitam dan sepatu putih.
"Apa lo, liat liat?" tanya Natha, Keenan tak menjawab, ia memilih untuk keluar dari rumah mengambil mobil. Natha mengikuti Keenan yang pergi ke mobilnya yang ada dihalaman rumah, ia berdua masuk ke dalam mobil lalu Keenan menyetir mobilnya. Pagar rumah di bukakan oleh Pak Harto,
"Makasih, pak," ucap Natha dan di angguki oleh pak Harto.
Sesampainya Natha dan Keenan di tempat reunian, Keenan turun dari mobil dan begitu juga dengan Natha. Keenan dan Natha berjalan beriringan, mereka mengadakan tempat reuniannya di restoran, lumayan jauh dari rumah Natha dan Keenan.
"Nah, dateng juga," ucap salah satu teman Keenan,
"Cewek lo, Nan?" tanya teman cewek Keenan, Keenan menggeleng,
"Adek gue," jawab Keenan jujur,
"Kirain cewek lo," ujar Cewek itu lagi,
"Kenapa, naksir lo, sama Keenan?" tanya teman cowok Keenan lagi,
"Enggak," jawabnya sembari menggeleng, ia duduk di seberang Keenan, ia menatap Natha dengan tersenyum, Natha membalas senyumnya.
Mereka berbincang-bincang, berfoto bersama, makan bersama, sedangkan Natha berdiam-diam saja, jika ada yang mengajaknya berbicara, baru dia berbicara. Kini Natha berada di toilet, ia ingin buang air kecil dan ingin bercermin.
"Asli dah, gue cape banget, mana ngantuk lagi," ucap Natha kepada dirinya sendiri di cermin toilet.
"Masih lama gak, ya?" tanya Natha pada dirinya lagi, ia kembali untuk menyusul Keenan ke tempat mereka tadi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Keenan dan teman-temannya memutuskan untuk pulang. Sekarang Natha dan Keenan sudah berada di mobil, Natha sangat kelelahan,
"Tidur aja kalo ngantuk, mayan lama juga baru sampe rumah," ucap Keenan, melihat mata Natha yang sayu karena ngantuk. Natha mengangguk, Natha membuka laci dashboard mobil lalu menaruh hpnya, dan menutup kembali. Keenan mulai mengendarai mobilnya, Natha memejamkan matanya, ia benar-benar mengantuk, bahkan ia sekarang sudah terlelap.
Sekitar tiga puluh menitan, akhirnya mereka sampe rumah, Natha juga terbangun dari tidurnya, Natha mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Gue masuk duluan bang," ucap Natha setelah mengambil hpnya di dalam laci dashboard mobil. Keenan mengangguk, mereka berdua keluar dari mobil, Natha mengetuk pintu rumahnya dan juga memencet bel rumah. Pintu terbuka dan terlihatlah Mama Lian yang berada di depan pintu, Mama Lian lah yang membuka kan pintu rumah. Karena Mama Lian berada di ruang tamu,
"Malem banget baru pulang," ujar Mama Lian,
"Maaf ma, nunggu yang lain pulang juga, baru kami pulang," jawab Keenan,
"Ya sudah, sana cuci muka, terus tidur, jangan begadang ya, terutama kamu, Keenan." ujar Mama Lian, Natha dan Keenan mengangguk, mereka berdua menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamar mereka masing masing.
"Abis ini tidur, jangan main hp, besok masih sekolah." ucap Keenan kepada Natha yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, iya, bawel banget lu."
__ADS_1
...***...