My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 146


__ADS_3

"Kalau gue suka sama Cewek, kenapa? Ada masalah sama lo?" tanya Keenan balik.


"Enggak. Gue cuman nanya, y-ya udah ah, gue mau ke kamar." jawab Natha, ia bangkit dari duduknya, tapi setelah itu tangannya lebih dulu di cengkal oleh Keenan. Keenan membawa Natha ke atas, Natha di tarik Keenan, di bawanya ke dalam kamar Keenan. Natha yang bingung hanya bisa pasrah, ia mendudukkan dirinya di kursi belajar Keenan.


"Siapa yang nyuruh lo duduk di sana? Sini." ucap Keenan, Natha menghampiri Keenan yang rebahan di atas kasurnya. Natha duduk di tepi kasur Keenan, ia menatap wajah Keenan yang juga sedang menatap dirinya. Keenan yang tadi rebahan mengganti posisinya untuk duduk di samping Natha dan menyandarkan punggunya ke Headboard.


"Kenapa?" tanya Natha, Keenan menyandarkan kepalanya di pundak Natha, Natha memegang dahi Keenan. Panas, Keenan sakit, Natha melirik ke arah Keenan yang bersandar di pundaknya.


"Lo sakit?" tanya Natha, Keenan menggeleng, ia mengelak.


"Jangan ngelak lo, ngapain aja lo jadi sampai sakit?" tanya Natha, Keenan tak mau membuka suara, ia bingung, apa Keenan ada salah makan? Atau jangan jangan, ia kebanyakan ngerokok lagi? Kayak dulu dulu, Keenan sakit karena kebanyakan menghisap rokok.


"Habis berapa?" tanya Natha, Keenan melirik ke Natha. Bibir Keenan melengkung ke bawah, ia takut untuk bilang, takut jikalau Mama tau bahwa ia sangat banyak menghisap rokok.


Natha menangkup rahang Keenan, mendekatkan nya ke depan wajahnya, "Jujur. Kalau gak jujur, gue gak mau ngobatin lo, jangan minta peluk." ucap Natha, ia tau jika Keenan sedang sakit, ia pasti akan manja, minta di peluk lah di saat gak bisa tidur.


Keenan mengangkat Dua jarinya, jari telunjuk, dengan jari tengah, Natha mengerucut kan alisnya, "Dua apa? Dua batang, atau dua bungkus?" tanya Natha bingung.


"Bungkus," jawab Keenan makin mebuat raut wajahnya yang sedih.


"Hah? Anjir, lo apa apaan?! Kapan lo ngerokok sebanyak itu? Perasaan lo keluar selalu sama gue dah akhir-akhir ini." tanya Natha bingung. Sungguh, ia bingung dengan Keenan, kapan ia menghisap rokok sebanyak itu??


Bukannya menjawab, Keenan memeluk tubuh Natha dari samping, ia malah menangis, Natha bingung. Tadi di ruang tamu dia dingin banget, lah sekarang? Malah merengek. Bener bener punya dua ke pribadian.


"Kapan? Gak ada yang nyuruh lo nangis, Keenan. Ayolah, jawab, kalau gak gue tinggalin keluar aja ya?" ucap Natha mengancam. Keenan menggeleng, Natha tersenyum, meyakinkan Keenan agar menjawab jujur pertanyaan Natha.


"Tadi," jawab Keenan,


"Kalau ngejawab jangan setengah setengah bisa? Gue gak ngerti. Yang jelas. Tadi pagi lo ngampus kan? Dari mana lo bisa nge habisin rokok di kampus? Bolos ya lo? Gak mungkin kalau lo ngampus tapi bisa nge habisin rokok sebanyak itu." Natha bertanya berturut-turut.


Keenan tak menjawab, melainkan ia hanya mengangguk lalu kembali memeluk tubuh Natha erat. Natha sedikit membuka mulutnya, ia kaget, Keenan ngebolos lagi. Natha menarik nafasnya, ia melepaskan pelukan Keenan, namun percuma. Keenan makin mengeratkan pelukannya, ia membenamkan kepalanya di dada Natha.


"Bang." panggil Natha, dengan keberanian, Keenan dengan perlahan melepaskan pelukannya, menatap Natha yang juga sedang menatap dirinya.


"Jangan gitu, serem." ucap Keenan tak suka, ia tak berani jika Natha sedang mode serius. Keenan saja takut, apalagi teman-temannya, Gabriella yang sudah lama berteman saja masih takut jika Natha mode serius seperti ini.


"Siapa aja yang lo ajak bolos? Siapa aja temen temen lo yang ngerokok bareng lo? Siapa?!" tanya Natha tegas, Keenan menjawabnya gugup.


"T-Tala, J-Jaden, sama Ikhsan." jawab Keenan terbata bata. Natha menatap mata Keenan dengan seksama.


"Ngapain bolos bolos gitu?" tanya Natha, "Tadi di ajakin sama Tala" jawabnya.


"Terus lo mau? Kenapa gak di tolak aja?" lagi lagi Natha bertanya.


"Tadi karena ada materi pak Denra, Belum ngerjain tugasnya, jadi dari pagi gak ke kampus, langsung pergi ke rumah Jaden. Udah ihh, jangan tanyain lagii, udah jelas itu... Jangan marah..." jawab Keenan, ia kembali memeluk tubuh Natha dan membenarkan wajahnya di perut Natha. Natha mengusap surai lebut Keenan, Natha kasian juga kepada Keenan.


"Ada obat gak?" tanya Natha, Keenan menggeleng. Natha hanya memutarkan bola matanya malas, jika bukan abangnya, mungkin ia tak akan seniat ini untuk kembali keluar membeli obat di warung. Untuk sementara beli di warung dulu, kalau masih gak mempan, Nanti belinya di apotik.


"Lepasin dulu, gue beliin obat." ucap Natha, "Ikut..." ucap Keenan lirih. Natha memegang kembali dahi Keenan, makin panas, Natha menggeleng.


"Di sini aja, gue bentar doang. Nanti ke sini lagi juga." jawab Natha, akhirnya Keenan mengangguk, ia mengganti posisinya menjadi telentang di atas kasur. Natha keluar dari kamar Keenan, berjalan ke luar untuk membeli obat.

__ADS_1


Sesampainya di warung, Natha membeli obatnya, untung saja sempat, jika ia lambat, warungnya pasti tutup. Ini saja penjualnya sudah ingin menutup warung nya.


Setelah selesai membeli, Natha langsung kembali ke rumahnya. Dirumah, Natha mengambil satu cangkir air putih di dapur, setelah itu ia naik ke kamar Keenan.


"Nah, minum obat dulu, gue mau nutup jendela kamar gue," ucap Natha, Keenan mendudukkan dirinya, ia menelan satu biji obat dengan air putih yang di bawakan oleh Natha tadi.


"Jangan kemana mana..." rengek Keenan, Natha memutarkan bola matanya malas, "Bentar doang, mau ganti baju, terus sekalian nutup jendela kamar gue." jawab Natha.


Natha mengganti bajunya menjadi baju tidur berwarna biru malam, lengan panjang dan celana panjang. Ia malam ini mungkin tidur di kamar Keenan, di lihat dari keadaan Keenan. Biasanya kalau Keenan sakit, ia manja dan pasti akan menyuruh Natha untuk tidur bersamanya, jika tidak ada yang memeluknya ia tidak akan tidur, bahkan sampai semalaman pun ia tahan.


"Bi, kalau Mama datang, nanti panggil Natha yaa, Natha aja yang bukain pintu." ucap Natha dari lantai atas berbicara kepada Bibi yang membereskan sofa yang berantakan karena Natha dan Keenan tadi.


"Iya, nak. Nanti bibi panggil." jawab Bibi Mela, "Natha di kamar Keenan bi, nanti ketok aja pintunya." ucap Natha lagi, Bibi Mela mengangguk. Natha berjalan ke arah kamar Keenan, ia membuka pintu kamar Keenan, melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 07.45 PM Natha mendudukkan dirinya di kursi belajar Keenan.


Keenan melirik ke arah Natha, ia hendak memanggil Natha, tapi ia ragu, jadi ia mengurungkan niatnya untuk memanggil Natha dan memilih untuk memejamkan matanya saja walau tak bisa tidur.


Natha memainkan hpnya, notif dari Aksa membuat hpnya berisik.


"Apaa, Aksaa" ucap Natha di saat teleponnya tersambung. Aksa menelponnya, tidak tau untuk apa.


"Kamu, sibuk gak?" tanya Aksa


"Kenapa emang?" bukannya menjawab, Natha malah balik bertanya.


"Yaa, akuu, ituu, mau ke rumah kamu, hehe. Di rumah gak ada siapa siapa ini, Bunda sama Ayah lagi keluar kota, Vio jalan sama Gibran." jawab Aksa.


"Lo udah sembuh total?" tanya Natha, "Heem, sudah. Kata dokter, aku udah boleh ngelakuin kegiatan kayak dulu, main basket juga udah di perbolehkan." jawab Aksa.


"Nanti aja deh ya, Sa? Kapan kapan. Aku sibuk," jawab Natha. "Oh, ya sudah, semangat ya, lain kali aja deh, nanti aku kabarin lagi." ucap Aksa, Natha hanya mendehem lalu memutuskan sambunga teleponnya.


Ia masih asik memainkan HP, tapi sesekali melirik Keenan dari pantulan cermin yang tepat berada di samping meja belajar.


Natha membuang nafasnya kasar, ia melihat Keenan yang menatap dirinya, Keenan tak menyadari jika Natha mengetahui bahwa ia sedang menatapnya.


"Ck! Bilang kek kalau lo belum tidur. Gue mana tau kalau lo bersembunyi dalam selimut gitu." ucap Natha, ia bangkit dari duduknya, menghampiri Keenan dan ikut merebahkan dirinya disamping Keenan. Ia berbagi selimut yang menutupi tubuh Keenan. Natha merentangkan tangannya, Keenan masuk ke dalam dekapan Natha, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Natha.


"Tidur." suruh Natha, Keenan mengangguk di dalam dekapan Natha.


Natha memainkan hpnya untuk membalas pesan dari Gabriella.


[Woi! Pap dong, kangen nich 😋] - Gabriella


[Alay.] - Natha


[Dih, gitu banget, sini pap maniesss] - Gabriella


Natha memfoto wajahnya, tapi karena posisi Keenan sperti tadi, alhasil Keenan juga terbuat dalam foto itu, walau tak terlalu jelas karena gelap.


[Anjir! Tidur sama siapa lo heii! Gue aduin emak lu yeee, sekalian gue aduin Keenan lo!!] - Gabriella


[Ck. Keenan itu. Demam dia, biasa, manja.] - Natha

__ADS_1


Gabriella juga sudah tau dengan sikap Keenan kalau sakit, jadi Gabriella tak perlu terkejut lagi dengan Keenan yang manja ke Natha.


[Oh, kirain cowok lain 😅] - Gabriella


[Bentar nih ya, gimana kalau Keenan tu punya cewek, terus dia sakit, dia manjanya masih ke lo, atau ke ceweknya? Tapi gue rasa nih yaa, Si Keenan gak mungkin juga nyuruh ceweknya nginap di rumah, terus tidur berdua dalam kamarnya kayak lo sekarang ini. Yang ada nanti di gibahin sama tetangga tetangga lo yang lemes itu.] - Gabriella


[🤷🏻‍♀️] - Natha


[Gue juga gak tau. Gue takutnya kalau dia sakit, tapi masih manja ke gue, gimana kalau Ceweknya tau? Gimana perasaannya? Iya tau sii, kalau gue adek kaka. Tapi dia pasti cemburu, ya walau pun itu adek kakak. Itu yang gue akutin dari dulu.] - Natha


[Yang ada nanti gue dikira mau ngerusak hubungan mereka lagi.] - Natha


[Nah, mungkin ini kali alasan dia gak mau nyari cewek lagi. Nanti dia gak bisa manja manja syantik ke elo.] - Gabriella


[Sembarangan.] - Natha


[Dih bener kok, Cakra pernah nyeritain ke gue waktu ada cewek yang ngungkapin isi hatinya, tapi di tolak langsung oleh Keenan.] - Gabriella


[Padahal ceweknya cantik. Kata si Cakr sih 😒] - Gabriella


[Hah? Anjir? Yang bener? Kapan?] - Natha


[Beneran elah, taun kemarin sih, udah lama, kaga percayaan amat.] - Gabriella


[Udah dulu deh yaa, bye~] - Gabriella


Natha hanya membaca pesan itu, a mematikan hpnya, ia memeluk tubuh Keenan yang lebih besar dari tubuh mungil nya.


'Beneran? Kenapa Keenan gitu? Terus si Bita? Bita suka sama Keenan saat ia baru masuk kampus. Berarti, setelah Bita ngungkapin, itu Keenan masih ngasih kesempatan buat luluhin hati Nyokap sama hati gue dulu kan? Tapi taun kemarin? Ini kenapa pikiran gue jadi ngelantur dah. Masa Keenan suka gue? Bego. Jangan sampai deh, dia sama gue saudara kandung. Ahh, udah lah, jangan mikirin yang enggak enggak.' batin Natha.


Natha berfikiran bahwa Keenan menyukai dirinya, yang kenyataannya mereka satu darah dan mereka juga saudara kandung.


Semoga saja yang di pikirkan Natha tidak terjadi. Ia berusaha membuang pikirannya jauh jauh, tapi tak bisa, ia masih memikirkan hal yang sama.


'Ih anj*ng apaan sih, kok gue mikir gitu. Ala gue perlu ngejauhin Keenan lagi? Oke, gue coba, kalau Keenan ngajak jalan, gue bakal nolak, apapun yang di ajak Keenan, gue harus mencoba di saat Keenan nanti sudah sembuh.' batin Natha.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 9.56 PM. Natha masih belum bisa tidur, ia masih asik memainkan hpnya, posisi Keenan sudah tidak memeluk tubuhnya lagi, tapi lengan Natha yang di peluk oleh Keenan.


"Nak, itu Ibu di depan pintu." ucap Bibi Mela, Natha mengangguk. Ia perlahan melepaskan tangannya dari Keenan, untungnya Keenan tidak bangun. Ia berjalan turun ke bawah, ia membuka pintu rumah untuk mama Lian.


"Masih belum tidur? Tidur gih, nanti besok telat bangun lagi loh." ucap Mama Lian masuk ke dalam rumah, Natha mengangguk, "Abang mana? Udah tidur?" tanya Mama Lian.


"Iya ma, udah. Ya sudah, Natha masuk ke kamar lagi yaa?" jawab Natha, Mama Lian mengangguk, Natha tak lagi masuk ke dalam kamar Keenan, ia masuk ke kamarnya sendiri. Natha mematikan lampu kamarnya dan lampu tidurnya, di dalam kamarnya sangat gelap, hanya sinar bulan yang tembus dari jendela kamarnya yang menerangi.


Natha menutup pintu kamarnya tanpa di kunci dan merebahkan dirinya di atas kasur, ia men-charger kedua hpnya di atas nakas, lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, setelah itu ia memejamkan kedua matanya.


Di lain sisi, Keenan terbangun dari tidurnya, ia duduk di atas kasur, ia terbangun karena tidak merasakan adanya Natha di samping tubuhnya.


Ia berharap agar Natha kembali ke kamarnya, ternyata tidak, ia sudah menunggu Natha, padahal Natha sudah tertidur nyenyak di kamarnya. Keenan memutuskan untuk berjalan ke kamar Natha.


Di ruang tamu sudah gelap, yang tandanya tak ada lagi yang belum tidur, smua orang di rumah sudah pasti tidur, ia membuka knock pintu kamar Natha. Natha tak mengunci pintunya, ia masuk, di kamar Natha gelap, ia melihat ke arah kasur, terlihat Natha yang sudah tidur dengan tertutup selimut dan hanya tersisa kepalanya yang tidak masuk ke dalam selimut berwarna putih itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2