
"Lo udah tau, kalau gue suka sama lo? Iya?! Jawab Ta?!" ucap Saddam dengan nada tegas. Cakra menghampiri dua temannya itu, "Saddam, kalau lo mau bicara, bicarain baik baik. Natha masih dalam keadaan gak baik baik aja." saran Cakra bicara kepada Saddam.
"Ikut gue, Ta." ucap Cakra sekali lagi dengan menarik lengan Natha yang di cengkal oleh Saddam, Cakra membawa Natha ke rooftop dengan Natha yang hanya pasrah meninggalkan Saddam.
"Cakra, gue, gue harus apa?! Gue juga gak mau kalau bisa memilih, gue gak mau di posisi ini! Gue gak mau, Cakra, Gak mau!! Gue mau nyerah aja sekarang!!" teriak Natha, ia menangis, padahal tadi di rumah, ia sudah berniat untuk tidak akan menangis di sekolah nanti. Tapi sekarang? Ia malah menangis di hadapan Cakra.
"Natha, jangan nyerah gitu aja. Ini semua pasti ada jalan keluarnya, lo pasti bisa keluar dari masalah lo sendiri. Lo gak salah atas semua kejadian yang sekarang terjadi, mereka hanya tak merasakan apa yang sekarang sedang lo rasakan." jawab Cakra menenangkan Natha yang sedang menangis.
"Ta, are u okey?" ucap Laura dengan Gabriella yang baru saja datang ke sekolah. Kedua gadis itu duduk di samping kanan dan kiri Natha, Cakra duduk di samping Kiri Gabriella.
"Udah Ta, jangan nangis, kami masih ada disini, bersama lo, kami akan terus bersama lo, kami gak akan kemana mana." ucap Gabriella memeluk Natha, dan tak lama kemudian, Rafa pun datang menye orang diri, menghampiri Teman-teman nya itu, duduk di samping Cakra, ia sedikit melirik ke arah Laura, setelah itu kembali menatap Natha yang sedang menangis di pelukan Gabriella.
"Natha, please, don't cry. Kami di sini sama kamu, udah ya, tenang ya? Kami yakin, kamu pasti bisa menemukan jalan keluar dari masalah ini, kami akan terus membantu mu untuk keluar dari masalah mu." ucap Laura yang ikut memenangkan Natha, padahal ia juga sedang tak baik baik saja. Tapi bagaimana pun juga, Natha lebih besar masalahnya dari pada dirinya yang hanya tak baik baik saja bersama Rafa.
***
"Waktunya istirahat pertama, silahkan kalian manfaatkan waktu istirahat kalian baik-baik. Jika kalian sudah selesai makan makan, buang sampahnya ketempat sampah, jangan kalian buang sembarangan!" ucap guru pengawas harian di lobby sekolah menggunakan mikrofon.
__ADS_1
Natha setelah bel sekolah berbunyi, ia menghapus air matanya untuk masuk ke dalam kelas. Dan sekarang sudah istirahat, Saddam meminta waktunya untuk berbicara empat mata dengan Natha. Natha meng iyakan ajakan Saddam, sekaligus ia juga ingin berbicara ke Saddam.
Kini, mereka sedang berada di taman halaman belakang sekolah. "Ta, lo udah tau kalau gue suka sama lo? Ya kan? Lo ngejauhin gue, karena gue suka sama lo, iyakan Ta?" tanya Saddam kepada Natha yang hanya menatap dirinya dengan mata yang sembap di karenakan menangis di pagi hari tadi.
"Iya, gue udah tau, maaf, gue gak bisa balas perasaan lo. Gue ngejauhin lo bukan karena lo suka sama gue, dan gue gak mau lo suka sama gue, gak. Bukan karena itu, gue ngejauh karena gue ngerasa bersalah kalau lo suka sama gue." jawab Natha jujur, ia menjawab dengan sejujurnya. Ia menjauh dari Saddam bukan karena Saddam menyukai dirinya, ia menjauh karena masalah yang menimpanya.
"Maaf, gue gak bisa. Gue mohon, buang jauh jauh perasaan lo ke gue, gue gak bisa bales perasaan lo, Dam." ucap Natha sekali lagi, Saddam menatap Natha dengan tatapan yang tajam dan setelah itu, ia menganggukkan kepalanya.
"Gue an buang perasaan gue jauh jauh, tapi gue mohon, jangan jauhin gue, kita masih bisa berteman kayak dulu sebelum lo tau gue suka sama lo. Anggap saja kalau gue gak pernah suka sama lo, gue akan buang jauh jauh perasaan gue." jawab Saddam yang diangguki oleh Natha, Saddam juga mengangguk lalu pergi meninggalkan Natha sendirian di halaman belakang sekolah itu.
Natha juga ikut menjauh dari halaman belakang sekolah, ia pergi ke kelas dan tak ingin ke kantin. Ia sudah kenyang karena sarapan tadi pagi, dan ia juga membawa air dari rumah, jadi ia tak perlu membeli air ke kantin lagi.
"Apa?" tanya Natha kepada Dera dengan menaikkan salah satu alisnya. "Kamu gak kekantin?" tanya Dera balik, Natha menggeleng.
"Lo sendiri, kenapa gak ke kantin?" tanya Natha lagi, Dera juga ikut menggeleng, "Aku bawa bekal, aku juga gak mau ke kantin, takut ketemu Nita sama yang lain." jawab Dera, sejak ia tidak berteman lagi dengan Nita, Dera jarang untuk ke kantin, bahkan, keluar kelas juga tidak, terkecuali jika guru yang menyuruh untuk belajar di luar kelas. Ia juga sekarang menjadi rajin, tidak pernah telat dalam berangkat sekolah, PR juga selalu di kerjakannya.
"Kapan kapan, lo mau ngantin bareng gue gak? Istirahat ke dua deh. Gimana?" ajak Natha, tercetak jelas senyuman di bibir Dera. "Benerkah? Emang gak apa? Apa kamu gak di gibahin yang lain karena temenan sama aku? Kan dulu aku pernah bully kamu." jawab Dera ragu.
__ADS_1
"Gak ah, apa apaan. Orang gue yang ngajak, lagi pula yang dulu itu udah gue lupain." jawab Natha, Dera tersenyum lebar lalu mengangguk.
"Istirahat ke dua kan? Hehe, okee!" semangat Dera, Natha tersenyum melihat Dera yang bahagia, Dera membalikkan kembali badannya ke arah depan. Begitu juga dengan Natha, ia memainkan hpnya untuk membalas pesan whatsapp dari Keenan yang baru saja di kirimnya beberapa menit lalu.
[Ta, nanti pulang sekolah ke rumah Tala, jemput gue, motor gue ke bengkel lagi, haha!] - Keenan
[Motor lo mogok mulu perasaan bego, makanya, motor yang baik itu jangan di bongkar bongkar, kan jadi rusak melulu.] - Natha
[Ye suka suka gue lah, sewot ae lo. Udah ah, jangan banyak bacot, jemput gue nanti di rumah Tala.] - Keenan
[Males, lo ngeselin. Lagian lo punya uang kan banyak, gojek lah, atau minta antar sama Tala kek, gitu doang, temen lo kan banyak.] - Natha
[Astaga, tinggal jemput doang loh adek ku sayangg. Nanti gue traktir MCD deh.] - Keenan
[Oke, jam lima kan? Oke oke.] - Natha
[Gitu aja, cepet lo. Udah ah, dosen gue udah masuk, bye bye adek manis ku. Semangat sekolahnya, jangan kebanyakan nangis 😘] - Keenan
__ADS_1
[Emot lo alay najis.] - Natha
...***...