My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 6


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Natha melihat mobil nyokapnya di depan rumah. "Ish, tumben pulang cepet? Biasanya ga pernah pulang jam segini." Natha membatin.


Gadis cantik itu memarkirkan sepeda motornya di samping mobil sang ibu lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Nah, kan. Tumben banget jam segini sudah pulang." Natha kembali membatin, kemudian segera memasuki rumahnya.


"Abang, Natha pulang!" teriak Natha di balik pintu rumah. Rumahnya itu memiliki dua lantai. Di lantai atas terdapat balkon dan tiga kamar. Satu kamar buat Natha, satu kamar lagi buat Keenan, dan satunya buat sang ibu. Sementara di lantai bawah, ada dapur, kamar mandi, ruang tamu, serta ruangan lainnya.


"Gak usah teriak-teriak, Sayang." Terdengar suara seorang wanita dari dapur. Natha bergegas menuju dapur, di mana tempat asal terdengar suara dan di sana ia melihat seorang wanita yang sedang sibuk memasak makanan.


"Tumben," ucap Natha dengan wajah dingin.


"Tumben kenapa, Nak?" jawabnya dengan wajah bingung menatap ke arah Natha.


"Tumben pulang cepet, biasanya larut malam," sahut Natha kemudian.


"Pekerjaan Mama udah selesai, Sayang, jadi Mama bisa pulang cepat hari ini. Mama kangen sama anak-anak mama yang di rumah," ucap Lian sembari tersenyum manis kepada Natha. Lian adalah ibu kandung Natha dan juga Keenan.


"Abang udah pulang?" tanya Natha kemudian.


"Udah, tuh dia lagi mandi," jawab sang ibu.


"Oh." Natha hanya menjawab singkat, lalu pergi meninggalkan Lian yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Lian hanya tersenyum sedih melihat Natha yang pergi begitu saja.


"Maafin Mama, Nak," batin Lian yang mengerti kenapa sikap Natha begitu kepada dirinya.


***


Natha berjalan menuju kamar. Ia masuk lalu menghampiri tempat tidur. Meletakkan tasnya di lantai secara sembarang dan membaringkan dirinya ke atas kasur tersebut.


"Bisa gak ya, Mama kalo pulang, selalu cepat kayak hari ini?" gumamnya, bermonolog sendiri.


"Haha, ngarep banget! Gak bakalan deh kayaknya." Natha kembali berdiri lalu berjalan menuju lemari pakaiannya. Mengambil bathrobe berwarna abu-abu kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Natha berjalan menuju lemari pakaian, mengambil baju lengan pendek berwarna putih serta celana panjang berwarna hitam.


Mengenakan pakaiannya, setelah itu dia berjalan menuju meja yang di depannya terdapat cermin, di meja terdapat peralatan make up milik natha. Mendudukkan dirinya di kursi itu, mengeringkan rambutnya yang tidak terlalu kering. Setelah selesai dirinya merias wajahnya.


"Natha, Keenan, ayo ke bawah! Kita makan barenh!" teriak Lian dari lantai bawah.


"Duluan aja!" balas Natha sembari memainkan hp miliknya. Gadis itu bahkan belum beranjak dari meja riasnya.


"Dek, ayo ke bawah!" panggil Keenan yang berdiri di belakang pintu kamar milik Natha.


Natha menghembuskan napas berat. "Bentar!"


Keenan meninggalkan Natha yang masih setia menatap layar hpnya. Dia berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang makan, di mana Lian sudah menunggu mereka.


"Mana Natha, Bang?" tanya Lian kepada Keenan yang melangkah sendirian, tanpa Natha.


"Bentar lagi katanya," jawabnya dan Lian pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Selang beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Natha berjalan keluar dari kamar. Berjalan menuruni anak tangga lalu menuju ruang makan. Di mana Keenan dan Lian sudah menunggunya untuk makan bersama.


"Nanti jam delapan Natha keluar, ya?" ucap Natha sembari mendudukkan dirinya ke salah satu kursi yang ada di samping Keenan.


"Loh, mau ke mana?" tanya Lian


"Jalan sama temen-temen," jawab Natha sembari meraih piring kosong lalu mengisinya dengan makanan yang baru saja dimasak oleh sang ibu.


"Baiklah, tapi jangan pulang larut malam. Kamu itu perempuan," ucap Lian mencoba mengingatkan Natha.


"Mama sendiri perempuan, kenapa pulang selalu larut malam?" tanya Natha tanpa menatap ke arah Lian. Tangannya masih sibuk mengambil makanan yang sudah tersaji di meja makan.


"Natha!" sela Keenan yang agak kesal setelah mendengar ucapan Natha barusan kepada sang ibu.


"Ga papa, Bang. Lagian bener kok kata Natha," sahut Lian sembari tersenyum kepada Keenan. "Udah, ayo makan!" lanjutnya lagi, lalu mengambil nasi untuk di taruh ke piring kosong Keenan dan juga miliknya.


"Setidak suka itukah Natha kepada Mama?" gumam Keenan dalam hati.


'Maafkan Natha," batin Natha yang tetap merasa bersalah kepada ibunya.


Mereka bertiga pun segera menikmati makan malam mereka. Untuk beberapa saat, ruangan itu hening, tak ada suara siapa pun terdengar. Hanya suara sendok serta piring yang beradu di antara mereka.


"Gimana sekolahnya? Seru?" tanya Lian yang membuka suaranya, memecah keheningan di ruangan itu.


"Seru," sahut Keenan.


"Biasa aja," sela Natha yang masih asik menyantap makanannya.


"Maafin Mama, ya. Karena selama ini ga pernah ada waktu buat kalian. Mama janji, kalo pekerjaan Mama udah gak numpuk, kita akan jalan-jalan," ucap Lian kemudian sambil tersenyum menatap kedua anaknya itu secara bergantian.


"Ga usah janji terus, Ma. Mama dulu juga pernah janji mau ngajak kami jalan-jalan kalo Bang Keenan lulus sekolah. Namun, sampe sekarang, Mama tidak juga menepati janji Mama. Bahkan Natha sudah memasuki semester kedua," celetuk Natha yang berhasil membuat Keenan marah.


"Terserah," sahut Natha acuh tak acuh.


Natha menghentikan makan malamnya lalu bangkit dari posisinya dengan wajah datar. Ia lalu pergi dari ruangan itu tanpa peduli bagaimana reaksi Keenan dan mamanya.


Gadis itu berjalan menaiki anak tangga lalu menuju kamarnya. Membuka pintu lalu membantingnya dengan sangat keras. Natha menangis, membaringkan badannya ke kasur empuk miliknya sembari menutup wajah cantiknya dengan bantal.


"Terlalu banyak janji yang tidak pernah Mama tepatin," gumam Natha yang menangis di balik bantal.


Di sisi lain, Keenan ingin beranjak pergi untuk menyusul Natha di kamarnya. Namun, tiba-tiba Lian menahan langkahnya sembari menggelengkan kepala pelan.


"Biarin Natha, Bang. Lagian Natha ada benarnya," ucap lian sambil tersenyum kecut menatap kedua bola mata Keenan. Keenan memeluk tubuh ramping Lian dan Lian pun segera membalas pelukan anak lelakinya itu.


"Maaf, maafin Mama, keenan. Maafin Mama, karena gak pernah ada waktu buat kalian berdua," ucapnya sambil menahan rasa sakit di dadanya.


"Ga! Mama gak salah, kok. Mama gak perlu minta maaf," sahut Keenan sambil menggelengkan kepalanya.


"Natha udah terlalu kecewa sama Mama, apa dia mau maafin Mama?" tanya Lian kepada keenan.


"Mau! Dia pasti mau maafin Mama," balas Keenan yang meyakinkan sang mama yang sedang terisak di dalam dekapannya.


***


Ting!

__ADS_1


Hp Natha bergetar sejak tadi. Gadis itu menangis sampai melupakan bahwa dirinya ada janji sama teman-temannya. Dia bergegas membuka hp dan membaca pesan dari Vio.


[Nat, kalo mau ke rumah, langsung aja, nanti bakal dibukain sama bibi. Gue mau nyari baju putih gue dulu.]


Begitulah pesan dari Vio. Natha mengusap air mata yang berjatuhan di kedua sudut matanya. Natha merasa sedikit pusing. Dia lalu beranjak dari kasurnya, berjalan kearah meja rias, mendudukkan dirinya ke kursi kemudian merias wajahnya agar tidak terlihat bahwa habis menangis.


Natha berdiri, memakai sepatu berwarna putih, mengambil jaket kulit berwarna hitam yang tergantung di dalam lemari lalu mengambil kunci motor yang berada di atas nakas, di samping kasurnya.


Natha berjalan menuju pintu kamar, keluar lalu mengunci pintu kamar tersebut. Dia menuruni anak tangga, berjalan menuju pintu rumahnya,


"Hati-hati, jangan pulang terlalu malam, ya!" Terdengar suara teriakan Lian yang sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu. Ia tersenyum menatap Natha yang melewatinya.


"Ya!" Natha keluar dari rumah, menaiki sepeda motornya lalu menancap gas menuju ke rumah Vio.


Sesampainya di rumah Vio, Natha memencet bel yang ada di samping pintu dan tak lama setelah itu terdengar suara seorang wanita menjawab panggilannya.


"Sebentar!"


Ceklek! Pintu terbuka.


"Silakan masuk. Vio nya ada di dalam. Lagi memasang sepatu," ucap wanita itu sambil tersenyum. Natha hanya mengangguk sambil memperhatikan wanita itu dengan seksama. Begitu pun sebaiknya, wanita itu juga memperhatikan Natha dengan raut wajah bingung.


"Sebentar, kamu, Natha kan, ya?" tanya wanita itu.


"Ehm, iya, Tante. Saya Natha, temennya Vio."


"Kamu yang bantuin Tante waktu di taman itu kan?" lanjutnya dengan begitu antusias. Ternyata wanita itu adalah Tante Gita, wanita yang pernah ia tolong ketika di taman. Yang merupakan ibu kandung Aksa.


"Oh, iya bener! Tante Gita, kan? Astaga, pantesan tadi Natha mikir, kayak pernah ketemu," ucap Natha sambil tertawa kecil.


"Wah, gak nyangka Tante. Ternyata kamu bisa temenan sama Vio. ya udah, ayo masuk." Gita mempersilakan Natha masuk ke dalam rumahnya.


"Vio, ini Natha udah di bawah," teriak Tante Gita.


"Iya, Tan, bentar!" Vio bergegas menuruni anak tangga sembari berlari kecil.


"Aduh, Vio! Jangan berlarian seperti itu, nanti kamu jatuh!" pekik Tante Gita yang gugup melihat aksi Vio.


"Hehe, iya maaf, Tan. Emh, Vio berangkat dulu, ya Tante," ucap vio dan berpamitan kepada wanita itu.


"Iya, hati-hati di jalan."


"Natha berangkat dulu, Tan," ucap Natha yang ikut berpamitan kepada tante Gita.


"Iya, hati hati, ya jangan ngebut, pulang juga jangan terlalu malam."


Natha dan Vio hanya menganggukan kepalanya. Mereka berdua berjalan mengeluari rumah itu,


"Lo, bisa bawa motor, Vi?" tanya Natha kepada Vio.


"Bisa," jawab Vio dengan mantap.


"Nih, lo bawa motornya. Aku pengen nyantai di belakang,?" celetuk Natha kepada Vio, sahabat barunya.


"Emang ga papa gue yang bawa motor lo??"

__ADS_1


"Ga papa" Natha menyerahkan kunci motornya kepada Vio dan Vio pun segera meraihnya.


...*****...


__ADS_2