My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 163


__ADS_3

Jam sembilan pagi, Natha dan teman-temannya berada di rumah Aksa untuk membantu beberes beres rumah. Sore hari ini, orang tua Aksa akan pergi ke singapur lebih dulu.


Setelah mereka selesai beberes mereka duduk di halaman rumah dengan karpet milik Bunda Gita. Mereka minum dan makan yang di siapkan oleh Bunda Gita sebagai tanda terimakasih.


Skip sore hari.


Kini Natha sudah berada di rumahnya sendiri. Ia bingung karena hpnya selalu berbunyi. Natha melihatnya, Bunda Gita menelpon nya, Vio, Aksa juga menelponnya. Bingung, Natha mengangkat telepon dari Aksa terlebih dahulu karena ia kembali menghubungi Natha.


"Iya Sa? Kenapa? Maaf baru angkat, dari ngambil jemuran." ucap Natha,


"Ayo ikut ke bandara! Gak pake lama, sini!" jawab Vio, Natha terkejut. "Hah? Ngapain?" tanya Natha bingung.


"Udah ayo cepet. Gue sama Aksa otw nih, gamau tau, lo harus ikut, cepat! Ini gue udah otw" ucap Vio


"Aduh, sabar! Heh gue belum ganti baju!!" jawab Natha tergesa-gesa mengganti bajunya. Setelah selesai, untung saja pas pasan Natha selesai, Aksa dan Vio sampai.


Natha baru ingat, ia di ajak untuk mengantar Bunda Gita dan Papa Narendra ke Bandara. Sungguh ia lupa, makanya Natha hanya santai saja di rumah.


Natha masuk ke dalam mobil, ia bingung, Vio dan Aksa bukannya sedih di tinggal ke Singapur, malah senang.


"Lo pada kenapa? Senyam senyum. Orang tu sedih kalau ortu pergi, lah ini senyam senyum gak jelas." ucap Natha memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Sedih kok tadi, tapi setelah itu bahagia lagi. Kata Bunda nanti ke sini lagi, buat datang ke perpisahan terus sekalian nge jemput gue sama Aksa." jawab Vio.


"Dih, bisa gitu." Mereka langsung saja menuju ke bandara, Bunda Gita dan Papa Narendra sudah menunggu.


Sesampainya di bandara. Mereka turun, mereka bersalaman sambil menunggu penerbangan ke singapur.


Sekitar dua puluh menit menunggu, akhirnya penerbangan ke Singapur datang. Mereka masuk ke dalam pesawat setelah berpelukan bersama.


"Hati-hati, Bun! Jangan lupa kabarin kalau udah sampai!" teriak Aksa setelah mereka sudah berjalan di tangga hendak masuk ke dalam pesawat.


Pesawat sudah terbang, Aksa mulai sedih kembali, walau hanya tiga minggu ia di tinggal, tapi ia juga senang bisa berkumpul bersama temannya selama satu minggu.


"Udah, ayo kita balik?" ucap Natha membujuk Aksa, Aksa mengangguk lalu senyum. Mobil Bunda Gita di bawa oleh supirnya, dan Aksa, Natha, Vio tak langsung pulang, mereka makan sebentar sekalian refresing.


"Mesan apa? Biar gue yang mesanin." tanya Natha di saat mereka sudah masuk di dalam rumah makan sederhana di dekat bandara itu.


"Samain kamu aja." jawab Aksa, Natha mengangguk. "Lo, Vi?" tanya Natha.


"Gue mesan sendiri aja dah, ayo, ikut gue. Tungguin lo disini, Sa." jawab Vio, Aksa mengangguk.


Mereka memesan, Natha dan Vio langsung memesan di tempat pemesanan.


"Cumi asam manisnya dua plus nasi. Minumnya teh es dua" ucap Natha memesan, "Ada lagi?" tanya mba penjualnya.


"Saya udang goreng tepung plus nasi, minumnya juga teh es." ucap Vio, penjualnya mengangguk.


"Kami di meja nomor 5 ya, mbaaa" ucap Natha pergi ke meja kembali. Natha duduk di smping Aksa, Vio duduk di depan Natha.


Natha memainkan hpnya karena Keenan menchatnya.


[Ta, gue gak langsung pulang ke rumah. Nanti jemput gue di rumah Jaden, gue mampir di sana, mau kumpul dulu.] - Keenan


[Ya. Ini gue gak ada di rumah, gue di luar, nemanin Aksa sama Vio nganter Bunda ke Bandara.] - Natha


[Iya] - Keenan


Aksa tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundak Natha, Natha melirik ke samping, melihat Aksa yang juga menatap mata Natha dengan Mendongak kan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Natha, Aksa hanya menggeleng lalu menjauhkan kepalanya dari pundak Natha.


Sekitar lima belas menit kemudian, pesanan mereka sudah tiba, mereka menyantap makanan yang mereka pesan. Sungguh enak, sebanyaknya Natha mencicipi Cumi asam manis, ini yang paling enak.

__ADS_1


Mereka setelah selesai makan, mereka membayar lalu langsung pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Natha, Vio dan Aksa tak langsung pulang, mereka mampir dulu di rumah Natha. Natha mengambilkan minuman dan juga snack di dapur untuk kedua temannya itu.


"Oh ta, Ta. Kapan kapan ajak yang lain nginap di rumah Aksa? Gimana? Ya siapa tau mau ngapain gituu, mau seru seruan. Kan bentar lagi gue udah gak bisa sama kalian lagi, tinggal nunggu harinya doang." ucap Vio, Natha tersenyum lalu mengangguk.


"Terserah, gue ngikut aja. Sekalian bikin memories." jawab Natha yang di angguki oleh Vio dan Aksa yang asik makan snack.


Sekitar satu jam lebih mereka berdua di rumah Natha, setelah itu mereka memutuskan untuk pulang.


"Hati-hati! Makasih yaa, udah mau mampir!" ucap Natha melambai di depan pagar kepada Aksa dan Vio yang berada di dalam mobil hendak pulang.


"Iya! Makasih jugaa! Dadah!!" jawab Aksa dan Vio. Kini Natha hanya sendirian di rumah, sebentar, Natha seperti teringat sesuatu.


Ah! Keenan, Natha tak memegang HP dari tadi, apakah Keenan ada menghubungi nya, atau tidak, tadi Natha hanya men charger hpnya di saat Aksa dan Vio di rumah. Natha dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah untuk mengambil hpnya. Benar saja, Keenan banyak sekali menghubungi nya, Natha kembali menelpon Keenan.


"Bang! Maaf ye! Tadi hpnya gue charger, lupa sumpah." ucap Natha di saat teleponnya tersambung.


"Halo? Siapa ini?" tanya orang di seberang sana, bentar, ini Natha tak salah hubungi orang, kan? Bener kok, ini nomor Keenan, namanya aja Abangku. Terus? Yang jawab ini siapa? Suaranya perempuan? Hah? Bentar, bukannya Keenan sedang berantem dengan Kak Bita?


"Kamu yang siapa? Keenan mana?" tanya Natha balik, dia tak menjawab pertanyaan dari orang itu.


"Keenan tadi ke toilet. Jawab dulu, lo siapanya Keenan?" jawabnya, "Gue Natha, adek Keenan. Emang lo gak liat apa, nama kontaknya, ha?" tanya sekaligus menjawab.


"Mana gue tau, orang nama kontak lo di HP dia cuman emoticon peri." jawabnya, Natha lupa. Keenan cuman memberi nama kontak Natha dengan emoticon itu.


"Oh, ok. Ya sudah." ucap Natha lalu menutup teleponnya. Ia bingung, itu bukan Kak Bita, Natha kenal dengan suara Kak Bita.


"****. Siapa sih? Masa Keenan ngeduain Kak Bita? Udahlah, positif thinking aja. Mungkin lagi kerkom" ucap Natha pada dirinya sendiri, Natha berniat untuk menghubungi Kak Bita.


[Kak, lagi di luar?] - Natha


[Enggak nih, lagi di rumah aja, kenapa?] - Bita


[Nanya doang, hehe. Ngomong-ngomong, Kak Bita sama Abang udah baikan belum?] - Natha


[Loh, kak, kenapa? Sini cerita.] - Natha


[Gak apa nih, kalau aku cerita?] - Bita


[Santai kak, lagi gabut juga ini.] - Natha


[Jadi gini, kan tadi di kampus, aku udah baikan, tapi ya gitu, di saat waktu istirahat, dia jalan ke kantin bareng cewek lain. Gak tau siapa, gak kenal juga, awalnya udah berfikir positif kalau itu cuman ada yang di omongin atau apa. Ya udah, aku ngantin bareng temen cewek aku, padahal aku udah lewat samping dia, tapi dia gak nengok sama sekali ke arah aku.] - Bita


[Ya udah, aku diemin juga, terus setelah aku selesai makan juga, aku lewat samping dia, tapi tetap aja, dia gak negur aku jangankan negur, nengok ke arah aku aja enggak.] - Bita


[Ya udah, aku diamin juga di ruangan, dia juga asik main HP doang. Terus waktu pulang, tadi dia sempat manggil aku, ya udah, aku samperin, dia cuman bilang kalau dia gak bisa ngantar aku, soalnya dia gak pake motor, dia ikut Jaden sekalian mampir ke rumah Jaden, katanya. Ya udah, aku iyain, tadi aku pulang juga naik gojek karena gaada yang jemput.] - Bita


[Aku beneran gak mau dia ngeduain aku? Semoga dia cuman ada urusan sama cewek tadi, ya. Aku udah berfikir positif, tapi tetap aja, pikiran ku selalu bilang kalau mereka ada hubungan secret.] - Bita


[Kak? Jangan sedih yaa? Aduh kalau gak kecapean udah aku ajak jalan kamu, kak. Nanti aku tanyain Abang ya? Sekalian minta jelasin siapa cewek tadi, jangan sedih dongg, nanti cantiknya ilangg.] - Natha


/Natha send pict


/Bita send pict


[Nah, jangan nangis dongg.... Nanti aku bantuin kak, tenang aja. Kalau dia macam macam sama kaka, nanti aku aduin Mama, biar dia di marahin sama mama 🤣🤣🤣] - Natha


[Jangan atuh, kasian dia nanti kena marah 😂] - Bita


[Biarin aja, ngapain orang kayak gitu di kasianin 😏] - Natha


[Eh, nanti lagi yaa. Ini di suruh bantuin ibunda tercinta, haha] - Bita

__ADS_1


[Iya kak, semangat!] - Natha


[Iya, adek manieeeesss] - Bitaa


[Udah sana, jangan di balas lagi. Nanti di marahin ibunda tercinta loh, haha!] - Natha


"Makin curiga." lirih Natha, ia mendapatkan telpon dari Keenan. Natha mengangkatnya.


"Apa lo!" Natha berucap dengan Nada yang marah, "Dih, kesambet apan lo? Sini jemput gue cepet. Lama banget gue nunggu, yang lain udah pulang, tinggal gue doang. Gak pake lama, eh, sekalian bawain jaket gue di balik pintu di gantung dah." jawab Keenan.


"Bacot. Pulang sendiri, punya HP, ada aplikasi gojek, ngejojek aja lah lo. Atau gak, sekalian jangan pulang." jawab Natha malas lalu menutup telepon nya.


"Lah? Ta! Tai, kenapa dah?" ucap Keenan, ia kembali menelpon Natha berkali kali, ia tidak ingin pulang menggunakan gojek.


"Ta? Kenapa dan lo? Jemput gue doang. Sini dah, di tuku coffee, atau gak lo gue aduin Mama kalau lo gak mau jemput gue." ancam Keenan di saat Natha mengangkat teleponnya.


"Lo ngadu ke mama, ya paling lo juga yang di marahin sama mama." jawab Natha, "Hah? Lo kenapa sih? Udah ah, kesini cepet, ak ada temen gue." ucap Keenan.


"Ck! Ya." final Natha, ia mengambil kunci motor, sekarang sudah menunjukkan jam setengah delapan malam.


"Bilangnya tadi di rumah Jaden, kok malah nyasar di tuku, tolol emang punya Abang." ucap Natha pada dirinya sembari menutup pintu rumahnya pelan.


Natha langsung saja menuju ke Tuku Coffee yang di bilang oleh Keenan.


***


Natha tiba di Tuku Coffee, ia mencari keberadaan Keenan, karena ia males masuk ke dalam, jadi ia hanya menunggu di parkiran.


[Gue di parkiran, cepet lo, lama gue pulang duluan.] - Natha


[Sabar ege, sensi amat. Pms lo?] - Keenan


[Bacot] - Natha


Keenan sudah tiba di parkiran, ia mencari Natha, ketemu, ia melihat raut wajah Natha yang sepertinya kesal.


"Aneh bat tu bocah, PMS kah? Marah marah mulu." ucap Keenan lirih kepada dirinya sendiri.


"Sini, mana jaket gue?" tanya Keenan setelah berada di depan Natha. "Gak gue bawa. Udah cepet anjir, lama lo, gak perlu pake jaket jaket segala, pake baju lengan panjang juga, gak dingin ini. Gue aja make lengan pendek." jawab Natha dengan Nada yang ngegas.


Keenan tak ingin ribut dengan Natha, sepertinya benar, Natba sedang datang bulan, ia tak ingin tambah menghancurkan mood sang adik, jadi ia langsung saja naik dan men jalankan motor nya di saat Natha sudah naik di belakang.


Sesampainya di rumah, Natha langsung masuk ke dalam rumah, mendudukkan dirinya di sofa, menunggu Keenan masuk, ia ingin mempertanyakan hal tadi.


"Siapa cewek yang sama lo di tuku tadi?" tanya Natha langsung di saat Keenan baru saja masjk dan mendudukkan dirinya di sofa.


"Hah? Apaan? Gak ngerti gue." tanya Keenan balik, ia bingung.


"Ngomong yang bener, manisss. Kalau lo nanya gitu, mana gue ngerti, sini deketan, ngapain ngejauh coba? Kayak gue bawa virus aja." sambung Keenan.


"Ck! Tadi gue nelpon lo balik, tapi yang angkat cewek. Siapa? Selingkuhan lo?" ucap Natha menatap Mata Keenan.


"Sherly angkat telepon dari lo?" tanya Keenan, "Mana gue tau namanya. Mana ngangkat telepon dari gue ngegas banget, jujur lo, nyelingkuhin Shabita ya lo? Tadi di kampus juga gak negur Bita sama sekali katanya." jawab Natha sekaligus bertanya.


"Ta? Lo nuduh gue selingkuh gitu?" tanya Keenan, Natha mngangkat salah satu alisnya.


"Kalau iya, kenapa? Mau marah? Sini. Gue gak takut." tanya Natha balik, ia malah mendekati Keenan.


"Apaan sih Ta? Lo dapet dari mana coba kalau gue selingkuh? Sherly itu anak pindahan, dia cuman minta temenin di kampus. Ya udah gue temenin, dia gak ada temen sama sekali di kampus. Gue gak ngelihat Bita, jadi gue gak negur, gue asik ngomong sama Sherly mungkin." jawab Keenan.


"Brengsek. Lo nyakitin hati Bita tau gak? Minimal lo ajak noh si Bita buat temenan bareng, bukan cuman lo sama si Sherly Sherly itu. Lo gak mikirin gimana perasaan Bita? Dia nangis gara-gara lo lebih meratiin si Sherly itu dari pada dia yang berstatus sebagai pacar lo." ucap Natha.


"Gue cewek. Gue tau betul gimana perasaan Bita sekarang, kalau emang dari awal lo gak ada niatan buat macarin Bita, mending gak usah ngajak dia pacaran kalau ujung ujungnya lo nyakitin dia, baru berapa hari loh, lo berdua pacaran. Gimana kalau Mama tau? Lo pasti di marahin, Ken. Udah lah, males gue sama lo." sambung Natha, bahkan Natha saking kesalnya, ia tak manggil Keenan dengan sebutan Abang, melainkan dengan Nama saja.

__ADS_1


"Ta? Argh!!!" Keenan frustasi, ia mengacak acak rambutnya. Benar kata Natha, seharusnya ia berfikir dulu sebelum mengambil tindakan. Bisa bisanya Sherly gak ngasih tau ke Keenan kalau Natha nelponnya di saat ia sedang ke toilet.


...***...


__ADS_2