My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 51


__ADS_3

[Loh, ngapain di rumah sakit, siapa yang sakit?] - Gabriella


[Kok gak ngasih tau, sakit apaan lo?] - Laura


[Bukan gue, nyokap gue yang masuk rumah sakit] - Natha


[Sakit apa?] - Vio


[Sakit hati] - Gibran


[Jangan bercanda lo, Gib] - Laura


[Yee, maaf] - Gibran


[Kecelakaan saat mau pulang kerja] - Natha


[Rumah sakit mana? Mau jenguk dong] - Gabriella


[Besok aja pulang sekolah, udah malem] - Natha


[Iya, share lock dulu deh] - Gabriella


[Jl. Raya Indah - Rumah Sakit Raya] -Natha


[Nomor berapa kamarnya? Lantai berapa?] - Vio


[Lantai tiga, nomor empat belas] - Natha


Sekarang ia keluar dari chat grub, membuka chat dari Aksa yang ternyata belum dibalas, bahkan pesannya hanya centang satu.


[Ay, maaf ya, tadi aku gak sempat ngabarin kamu.]


[Besok kalo mau ke sini, ke sini aja. Sekalian bareng temen-temen, tapi kalo gak mau juga gak apa.]


[Kamu kemana? Tidur ya?]


[Ya udah, good night, ay.]


Chat dari Natha untuk Aksa, sekarang Natha beralih ke pesan chat untuk Gabriella.


[Laa, besok izinin gue ya, gue mau ngejaga nyokap.] Tulis Natha.


[Oke oke!] Balas Gabriella.


***


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul satu malam, bahkan di rumah sakit itu sepi, Natha masih berada di Koridor rumah sakit. Ia masuk kembali ke dalam kamar yang mama Lian tempati, ia melihat Bibi Mela dan Lea tertidur di lantai, menggunakan alas yang di bawa dari rumah. Di sisi lain, Keenan masih tertidur menggunakan baju yang ia pakai sejak pagi tadi, Natha menghampiri Keenan,


"Bang, bangun dulu, ganti baju, terus makan, gue tau lo belum makan," ujar Natha sedikit menggoyang goyangkan badan Keenan. Keenan membuka kelopak matanya perlahan, mendudukkan dirinya, di sofa itu. Natha berdiri untuk mengambil tas yang di gantung oleh bibi Mela, mengeluarkan baju Keenan, dan menyerah 'kannya kepada Keenan.


Sambil menunggu Keenan ganti baju, Natha menyiapkan makanan yang di bawakan oleh bibi, ia mengambil sendok dan juga piring di dalam paper bag itu.


Beberapa menit kemudian.


"Makan dulu," ujar Natha, Keenan bukannya memakan makanannya, ia malah duduk di samping Natha, bersender di bahu Natha,


"Suapin," ujarnya lirih,


"Kek bayi aja lo, ya udah sini," jawab Natha, ia mengambil satu sendok nasi dan lauknya lalu memasuk 'kannya ke dalam mulut Keenan.

__ADS_1


"Besok gue gak sekolah, nyuruh Gabriella buat ngizinin gue besok," ujar Natha sembari menyuapi Keenan,


"Gue juga-" belum sempat Keenan selesai bicara, ucapannya sudah di potong oleh Natha,


"Gak, besok lo ngampus aja, biar gue yang jaga mama, awas lo gak masuk besok," ujar Natha, ia tahu bahwa Keenan juga akan meminta izin agar tidak masuk besok.


"Tapi gue juga mau ngerawat mama," jawabnya,


"Gue bilang gue aja, lo besok ngampus aja, besok Bibi gak ngerawat mama, bibi, Lea sama pak Harto gue suruh jaga rumah aja, biar gue yang jaga mama," ujar Natha,


"Gak, gue juga mau jaga-" lagi lagi ucapannya di potong oleh Natha,


"Jangan keras kepala bisa gak? Lo kata mama udah sering jarang masuk kampus, karena keseringan bolos. Lo pikir gue gak tau?" ujar Natha dengan nada yang sedikit membentak, Keenan kaget dengan ucapan Natha, bagaimana ia bisa tahu bahwa Keenan sering bolos ngampus?


"Dari mana lo tau?" tanya Keenan,


"Lo gak perlu tau, pokoknya, besok lo ngampus, tetep gak akan mau ngampus? Gak mau tau, gue yang anter lo ngampus." jawab Natha sedikit tegas,


"Iya iyaaa, gue ngalah, bawel banget deh," ujar Keenan sembari mencubit pipi kiri Natha, ia membuka mulutnya, mengode Natha untuk kembali menyuapinya, Natha yang mengerti langsung mengambil sesendok nasi lalu menyodorkannya kepada Keenan.


Beberapa menit kemudian.


Keenan sudah selesai makan,


"Lo dari tadi gak tidur?" tanya Keenan, ia baru menyadarinya, Natha membangunkan dirinya jam satu malam, dan sekarang sudah hampir jam dua malam.


"Gak bisa tidur." jawabnya, Natha lupa untuk meminta Bibi Mela untuk mengambilkan charger hpnya. Sekarang hpnya sudah lowbat, ia tak ada kerjaan selain memainkan rambut Keenan.


"Ya udah, sini tidur," ujar Keenan sembari menepuk nepuk pahanya, menyuruh Natha untuk tidur di atas sofa dan menjadikan paha Keenan bantalan, tetapi Natha menggeleng.


"Pulang jam segini, berani gak bang?" tanya Natha,


"Berani berani aja, kenapa?" menjawab sekaligus bertanya kepada Natha,


"Pake hp gue aja, masih banyak kok baterainya masih banyak kok," jawab Keenan, iaiaengambil hpnya yang berada di saku celana panjangnya. Natha mengambil hpnya, merebahkan badannya dan menjadikan paha Keenan sebagai bantal.


Beberapa menit kemudian, Natha sudah terlelap, Keenan tak tega melihat wajah lesu Natha. Dia bahkan kuat menahan agar tidak menangis, Keenan mengusap usap rambut Natha,mengambil hpnya yang masih menyala dan mematikannya lalu di taruh di atas meja kecil di samping sofa. Keenan juga ikut memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dengan posisi seperti ini.


***


Jam menunjukkan ke angka setengah enam, Natha mendudukkan dirinya, melihat ke arah Keenan yang tertidur dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Natha menggoyang goyangkan badan Keenan,


"Bang, ayo ke rumah, mandi, terus berangkat," ujar Natha, Keenan mengerjapkan matanya berkali kali, melihat Natha sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah mama Lian.


Natha berdiri mengambil cardigan yang ia gantung, tak jauh dari mereka duduk. Natha mencari Bibi Mela, tak ada, yang ada hanya Lea masih tertidur. Natha keluar dari kamar rumah sakit itu, dan di Koridor ada Bibi Mela yang berjalan,


"Bi, Natha sama Bang Keenan pulang dulu, nanti abis selesai baru kembali ke sini," ujar Natha,


"Iya nak, hati hati," jawab Mela,


"Eh, Bibi gak masak di rumah, kalian sarapan apa, mau bibi beliin?" tanya Mela, Natha menggeleng,


"Nanti Natha aja yang beli bi, sekalian pulang." jawab Natha, bibi Mela mengangguk,


"Ya sudah, bibi masuk dulu," ujar bibi Mela, ia masuk ke dalam kamar yang di tempati Mama Lian.


Natha dan Keenan berjalan ke lantai bawah untuk mengambil mobil dan pulang.


Sesampainya mereka di rumah, jam sudah menunjukkan setengah tujuh pagi, Keenan tergesa gesa memasuki rumah dan mandi. Sedangkan Natha, ia berada di dapur, ia memasak sarapan untuk Keenan.

__ADS_1


Di dapur hanya ada ayam, dan telur, Natha mengambil beberapa potong ayam dan menggorengnya. Ia juga menggoreng nasi, jadi sarapan pagi hari ini adalah nasi goreng dengan ayam goreng.


Beberapa menit kemudian, Keenan sudah selesai mandi, ia juga sudah rapi, memakai celana panjang hitam, baju kaos putih, kemeja yang tak di kancing dan sepatu putih. Ia mendudukkan dirinya di kursi meja makan, di sana tak ada Natha,


"Natha!" panggil Keenan setengah berteriak, jam sudah menunjukkan jam tujuh pagi, Natha yang merasa di panggil pun mengintip di ambang pintu kamar mandi yang tak jauh dari ruang makan.


"Apa?" tanya Natha, setelah itu ia keluar dari kamar mandi, menghampiri Keenan dan duduk di sebelahnya.


"Gak mandi?" tanya Keenan, Natha menggeleng, ia mengambil dua buah piring dan memasukkan nasi ke dalam piring itu. Mengambil dua potong ayam dan menaruhnya satu piring satu, menyerahkan satu piring ke Keenan.


"Nih, gue cuman masak ini, cuman ada ayam sama telor, jadi gue mau masak nasi goreng aja," ujar Natha, Keenan mengangguk, ia memakan sarapannya.


"Udah lama gue gak masak makanan buatan lo," ucap Keenan setelah memakan satu sendok nasi.


"Udah cepet abisin, terus berangkat ke kampus," jawab Natha, ia juga memakan sarapannya,


"Antar gue dong, nanti pulangnya jemput," ujar Keenan, Natha mengangguk.


Mereka selesai memakan sarapannya, Keenan memanaskan mesin mobil, dan Natha mengambil hpnya yang di charger dalam kamar. Ia membawa hpnya sekaligus chargerannya, mengambil paper bag besar yang berisikan sedikit barang barang Natha.


Natha dan Keenan berangkat ke kampus Keenan. Sesampainya, Keenan turun dari mobilnya begitu juga dengan Natha,


"Awas lo kalo bolos," ujar Natha sembari bersalaman dengan Keenan,


"Iya iya, bawel banget, udah sana," jawab Keenan, ada dua cowok yang seumuran dengan Keenan, ia menghampiri Keenan,


"Tumben di anter, biasanya juga sendiri," ujar Tala, Gentala Wijaya kakak laki laki Kate sekaligus teman Keenan.


"Buset, mantan Jaden rupanya," ujar teman satunya, Ikhsan.


"Udah udah, sana pulang, jangan ngebut," ujar Keenan menyuruh Natha,


"Iya iya," jawab Natha, ia kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit.


"Cakep juga adek lo, sabi nih," ujar Ikhsan,


"Gak gak, udah punya cowo dia," jawab Keenan, lalu meninggalkan dua temannya masuk ke dalam kampus,


"Buset, baru juga naksir, udah nt aja," ejek Tala kepada Ikhsan.


Kembali ke Natha,ia sekarang sudah berada di rumah sakit, memasuki kamar inap Mama Lian. Ia mendudukkan dirinya di sofa, di dalam kamar itu hening, tak ada suara sedikit pun, hingga saatnya ada seorang perawat yang memeriksa Mama Lian.


"Gimana kondisi mama saya, sus?" tanya Natha kepada perawat itu,


"Sudah mulai membaik, mungkin hari ini mama kamu akan sadar," jawab perawat itu dengan lembut,


"Ah, terimakasih suster," jawab Natha juga,


"Ya sudah, nanti jika mama kamu sudah sadar panggil saja perawat ya, saya tinggal dulu," ujar perawat itu, ia keluar dari kamar inap itu.


Natha mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Mama Lian. Ia membuka layar hpnya,


[Ay, nanti aku pulang sekolah ke rumah sakit, mau ketemu kamu, sekalian ngejengukin mama,] - Aksa


[Iya, semangat sekolahnya, hati hati ada yang genit] - Natha


[Iya, gak akan ada yang menarik juga selain kamu kok] - Aksa


Natha mematikan layar hpnya,

__ADS_1


"Maa, mama harus sembuh, yaa, mama gak boleh sakit,"


...*****...


__ADS_2